On Everything

Mei 25, 2007

Menjadi Katolik, Pengalaman Seorang Cina

Filed under: Tentang Agama,Tentang Budaya — Oni Suryaman @ 6:41 am
Tags: , ,

incense.jpgAku dilahirkan di sebuah pulau di pinggiran selatan Laut Cina Selatan. Sebuah pulau yang indah dan sangat kubanggakan. Di pulau inilah semua pribadi awalku dibentuk dan nanti akan tertempa di dalam tungku dunia. Sebagai seorang Cina[1], pengalamanku mungkin agak unik karena aku dibesarkan justru di tengah masyarakat Melayu muslim, sedikit kontras dengan keluarga Cina yang lain yang biasanya berkumpul tidak jauh dari rekan satu etnisnya (di sebuah pecinan semacam Glodok misalnya). Pengalaman ini sangat kusyukuri karena sedari usia sangat muda aku sudah mulai mencicipi perbedaan dan pluralisme yang nantinya akan sangat mempengaruhi pandanganku.

Sebagaimana dalam sebuah keluarga Cina tipikal, aku dibesarkan tanpa mengenal Tuhan. Kebetulan kedua orang tuaku memang tidak menganut salah satu dari lima agama yang direstui negara meskipun di KTP-nya tertulis beragama Buddha. Itu sudah menjadi praktek yang biasa di era 70-an, entah sekarang. Mereka masih menyembah leluhur dan sembahyang di kelenteng. Ada yang berkata bahwa itu kepercayaan (bukan agama) Kong Hu Chu, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu di sekolahku diajarkan bahwa Kong Hu Chu bukanlah sebuah agama melainkan hanyalah sebuah aliran kepercayaan. Sebagai seorang murid yang baik kutelan saja mentah-mentah informasi itu. Sewaktu kecil aku kadang kala dibawa ke kelenteng yang dominan berwarna merah dan penuh asap hio. Kesan pertama yang aku peroleh adalah hawa yang panas oleh api dari tunggu pembakaran hio dan kertas sembahyang. Dan selaku seorang anak kecil yang dilarang bermain api, pengalaman itu bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Aku pun diajarkan untuk bersembahyang, kepada dewa yang sekarang aku sudah lupa namanya, memohon berkah dan mohon perlindungan agar selamat dalam hidup. Selaku seorang anak yang taat kuturuti saja perintah itu. Aku juga boleh mengajukan permohonan kepada dewa melalui doa-doa. Doa-doa itu aku ucapkan dalam bahasa ibuku, bahasa Kek (atau Hakka dalam dialek Mandarin). Asyik juga kupikir memiliki sesosok yang entah apa namanya tempat kita bisa meminta permohonan, karena kupikir memohon kepada orang tua tidaklah cukup, karena sering tidak dikabulkan.

Setelah masuk sekolah, pertama kali aku bertemu dengan istilah Tuhan. Karena aku sekolah di sekolah negeri di kampung, aku pun mengikuti pelajaran agama Islam. Di kelasku yang berjumlah sekitar empat puluh anak ada sekitar lima anak keturunan Cina yang tentunya tidak beragama Islam. Dengan alasan praktis untuk mengisi nilai agama di rapor kami semua pun ikut pelajaran agama Islam di dalam kelas. Guru agama kami cukup pengertian, selama kami tidak terlalu bandel ia akan memberi kami nilai enam walaupun kami tidak mengerti akan apa yang ia terangkan, karena toh itu bukan agama kami. Kami? Tidak, bukan kami, karena sesungguhnya aku sangat mengerti akan apa diajarkan oleh guru agama kami. Aku bisa menjawab pertanyaan-pentanyaannya, meskipun kadang jawabannya dalam bahasa Arab. Hanya saja karena alasan “praktis” kembali, nilai agamaku tetap saja enam. Aku tidak terlalu ambil pusing selama aku menikmati pelajaran itu sendiri. Di sinilah pertama kali aku bertemu dengan konsep Tuhan, sesuatu yang tidak pernah diajarkan kepadaku oleh kedua orang tuaku. Konsep Tuhan sungguh membuat aku terkagum-kagum. Tuhan yang satu ini lebih sip dari sekedar dewa di kelenteng yang butuh diberi sesajen. Tuhan yang satu ini tidak butuh apa-apa karena ia sudah sempurna. Ia pun punya nama yang lebih mantap dan berhawa mistis (mungkin karena menggunakan bahasa asing), Allah. Aku selalu memperhatikan dengan serius apa yang diterangkan oleh guru agamaku, melebihi teman-teman muslimku sendiri. Saking seriusnya aku belajar agama, guru agamaku sampai pernah menduga aku tertarik untuk masuk agama Islam. Mungkin ini ada benarnya, sampai aku tahu bahwa untuk masuk Islam aku harus disunat, dan tentu saja aku ogah.

Di sekolah ini pula aku berkenalan dengan agama-agama lain, agama versi pemerintah, agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Buddha. Lucu, aku tahu agama Buddha bukan dari teman-teman yang di rapornya tertulis beragama Buddha, melainkan dari pelajaran sekolah, tentu saja dalam versi resmi pemerintah yang belakangan setelah dewasa aku tahu ternyata banyak sekali distorsinya. Guruku bahkan tidak bisa menjawab apa bedanya Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Ia sendiri bingung karena tertulis di buku pelajaran PMP (sekarang PKn) bahwa masing-masing mempunyai kitab suci yang sama yaitu Injil. Kalau aku masih bisa bertemu dengannya mungkin aku akan iseng dengan nada bercanda bertanya kepadanya apakah ia tahu tentang Reformasi oleh Martin Luther. Bisa ditebak bahwa pelajaran sekolah ini agak bias karena ada kecenderungan mengelompokkan agama Islam dan Kristen sebagai agama kelas satu, sedangkan Hindu dan Buddha kelas dua, karena dianggap masih menyembah dewa. Pandangan ini sedikit banyak mempengaruhi aku dalam memilih agama apa yang kuanggap paling hebat.

Pengalaman di sekolah ini membuat aku bertanya-tanya akan identitas aku sendiri, beragama apakah aku, karena meskipun jelas-jelas di raporku tertulis beragama Buddha, aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Kutanyakan ini kepada kedua orang tuaku, dan mereka nampaknya memberikan jawaban yang kurang memuaskan. Maka kuputuskanlah untuk menentukan sendiri agama apa yang akan aku anut nantinya. Akhirnya orang tuaku bercerita, bahwa kakekku yang sudah meninggal adalah seorang Katolik, meskipun seluruh keluarganya, termasuk anak istrinya tidak beragama Katolik. Sebagai seorang Katolik, kakekku adalah seorang yang sangat baik hati, menurut ukuran umum. Ia cenderung tidak memikirkan dirinya sendiri. Ada semacam aura kekudusan yang selama ini tidak kujumpai pada siapa pun dalam cerita tentang kakekku itu. Nama permandiannya yang beraroma asing, Yosef, memperkuat aura itu. Di saat kebakaran melanda di dekat rumahnya, ia lebih berkonsentrasi untuk membantu tetangga yang kebakaran ketimbang mengamankan rumahnya sendiri. Ia pun pernah menunggui perhiasan yang jatuh di tengah jalan sampai pemiliknya datang kembali mencarinya. Hal-hal seperti yang dilakukan oleh kakekku jelas-jelas melebihi standar moralitas seorang Cina. Bagi seorang Cina, sudahlah dianggap baik jika tidak mencuri, menghormati orang tua dan taat pada peraturan pemerintah. Dan yang terpenting adalah mind your own business. Pandangan hidup seperti inilah yang membuat seorang Cina umumnya tidak mau terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Mereka hanya peduli pada keluarganya, kerabatnya dan usahanya. Yang lain, silahkan urus urusanmu sendiri. Terkagum-kagum akan kisah kakekku sendiri, kuputuskan untuk menjadi seorang Katolik, memiliki nama keren di depan yang belakangan aku tahu disebut nama baptis, dan menjadi orang “kudus” seperti dia, kalau bisa malah lebih. Meskipun demikian impian ini belum bisa menjadi kenyataan karena di kampung tidak ada seorang pun yang beragama Katolik, sehingga tidak ada tempat bertanya bagaimana caranya menjadi seorang Katolik. Untuk langkah awal sudah cukup puaslah aku setelah merubah agama di raporku menjadi Kristen Katolik. Keren kelihatannya, berbeda dengan teman-temanku yang lain. Untung tidak ada yang bertanya kepadaku tentang ajaran Katolik, karena aku sendiri pun tidak tahu apa-apa.

Pengalaman pertamaku bersentuhan dengan ajaran Katolik adalah setelah aku pindah sekolah ke kota kabupaten. Di sana aku masuk sekolah negeri, bukan ke sekolah Katolik karena alasan jauh dari rumah, yang menyediakan guru agama khusus untuk anak yang tidak beragama Islam. Kami keluar kelas saat pelajaran agama Islam dan mendapat pelajaran agama di saat teman-temanku yang muslim shalat Jumat. Pengalaman pertamaku ikut pelajaran agama Katolik sebenarnya cukup lucu karena begitu guru masuk kelas ia langsung memimpin doa dengan membuat tanda salib. Tentu saja aku gelagapan karena aku tidak pernah tahu cara membuat tanda salib! Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa sebelum dan sesudah berdoa seorang Katolik membuat tanda salib! Untung saja dalam pelajaran agama Katolik di sekolah kami mempelajari hal-hal yang cukup umum sehingga tidak terlalu sulit untuk kuikuti. Kalau ia langsung membahas sakramen Misalnya, aku akan semakin gelagapan. Belakangan aku baru tahu bahwa banyak di antara teman sekelasku yang juga belum dipermandikan, baru sebatas simpatisan. Untuk alasan “praktis” itu pula kupikir pelajaran agama di sekolah menjadi lebih umum, yang khusus diberikan pada katekese[2].

Setelah aku di kota itu pula aku pergi ke Gereja Katolik pertama kali. Aku diajak oleh saudara jauhku yang memang beragama Katolik. Lumayan, tidak separah pengalaman pertama di kelas, karena aku sudah bisa membuat tanda salib! Waktu penerimaan hosti aku sedikit merasa aneh kenapa tidak semua orang, termasuk aku karena dilarang saudaraku, maju untuk menerimanya. Aku kemudian dijelaskan bahwa untuk menerima hosti, seseorang harus dibaptis terlebih dahulu. Aku baru tahu, bahwa sesungguhnya aku berhak menyandang status beragama Katolik sesudah dibaptis. Dan untuk bisa dibaptis aku harus menerima pelajaran katekese selama satu tahun. Tanpa banyak menunggu aku pun dengan rajinnya datang setiap minggu untuk belajar dengan harapan dapat dipermandikan secepatnya.

Puaskah aku akan ajaran agama Katolik? Sangat puas. Sewaktu aku belajar agama Islam aku selalu ketakutan kalau sampai pada topik neraka, karena terkesan Tuhan begitu menakutkan, menghukum semua yang berdosa. Sementara ajaran Katolik menyebutkan, bahwa kita semua diampuni, dan cukup percaya saja maka semua dosa kita dihapuskan, karena Yesus telah mati untuk menebus semua dosa kita. Ini yang kutunggu-tunggu, ajaran yang pas buatku. Bisa dibilang easy ticket ke surga. Lagi pula Katolik tidak mengenal sunat dan puasa seperti puasa Ramadhan. Belakangan aku baru tahu bahwa ternyata Katolik ada puasanya juga, meskipun hanya pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Dasar Islam di dalam diriku membuat aku mudah untuk menerima kenabian Yesus, lebih gampang dari teman-teman lain yang tak bersentuhan begitu dalam dengan Islam, lagi pula kupikir mereka tidak terlalu peduli. Yesus bukanlah sosok yang asing bagiku karena sudah kukenal lewat Isa Al Masih, begitu pula Maria dalam sosok Maryam. Begitu banyak nabi-nabi di Perjanjian Lama yang sudah kukenal: Musa, Daud, Sulaiman, Yahya, Elia, dan lain-lainnya. Aku tidak butuh kerja keras ketika membaca Perjanjian Lama. Meskipun demikian mau tidak mau aku membandingkannya dengan ajaran Islam yang telah terlebih dahulu aku serap. Tidak demikian halnya dengan Perjanjian Baru. Ini adalah sesuatu yang benar-benar baru bagiku. Kesan pertama adalah liberating. Ujaran-ujaran Yesus begitu membebaskan, tidak menghakimi. Ajakannya adalah sebuah ajakan cinta bukan ancaman. Tuhan yang ingin kukenal memang Tuhan yang seperti ini, sebuah sosok yang tidak menakutkan, yang menghitung dosa dan kesalahan kita, dan akan menagihnya kemudian.

Pengalamanku menjadi seorang Katolik dengan permandian dewasa (lebih tepat remaja sebetulnya) memberi aku sebuah makna yang unik. Hampir tidak ada teman-teman seangkatan permandianku yang menganggap serius pelajaran agama di kelas katekese, kecuali seorang bapak tua yang kelak menjadi teman akrabku. Bagi mereka jangan-jangan permandian hanyalah sebuah tiket untuk menyandang sebuah agama secara legal, dan menikmati keuntungan yang tidak dimiliki pemeluk Kong Hu Chu. Penganut Katolik dengan gampang dapat mensahkan perkawinan mereka di gereja. Begitu pula dengan keanggotaan otomatis pemakaman Katolik. Sebuah pemakaman dengan memakai adat Cina dapat menghabiskan sekitar sepuluh juta rupiah, bahkan lebih. Menjadi seorang Katolik berarti tidak lagi perlu mengeluarkan biaya sebanyak itu karena banyak biaya yang sudah ditanggung gereja. Penggali kubur, pembawa jenasah, mobil jenasah, semuanya diusahakan oleh gereja tanpa meminta uang sepeser pun. Tentu saja ini sebuah tawaran yang menarik yang tidak boleh dibiarkan lolos begitu saja. Lagi pula menjadi seorang Katolik tidak terlalu sulit, cukup belajar setahun, tidak perlu disunat. Begitu pula dengan fasilitas sekolah Katolik. Seorang Katolik bisa saja diprioritaskan untuk masuk ke dalam sebuah sekolah Katolik,[3] yang biasanya adalah sekolah unggulan di daerahnya masing-masing.

Di daerahku, seorang Cina menjadi Katolik umumnya melalui jalur sekolah. Seorang anak keturunan Cina, selama ia belum memeluk suatu agama, entah bagaimana caranya, umumnya berakhir di kelas katekese. Bisa jadi ini karena saran orang tuanya sendiri. “Nak, masuklah Katolik, siapa tahu kamu akan dapat perlakuan lebih baik,” misalnya.[4] Aku hampir pasti yakin bahwa tidak ada tekanan dari pihak sekolah Katolik untuk mengajak anak-anak keturunan Cina non Katolik untuk menjadi Katolik. Sebuah kemungkinan yang lebih masuk akal adalah peer pressure. Hal ini dapat diamati dengan sangat mudah: anak-anak muda, baik yang sudah dibaptis atau pun belum, selalu datang ke gereja secara bergerombol. Dan kita semua tahu bahwa diterima dalam sebuah peer group adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan seorang remaja. Dengan kata lain, seorang anak menjadi Katolik, karena teman-temannya beragama Katolik, that simple. Dengan pola yang sama seorang anak keturunan Cina yang bersekolah di sekolah negeri, dan berteman dengan anak Katolik, juga terikut belajar sebagai seorang katekumen dan akhirnya menjadi Katolik. Pada gilirannya ia menjadi penyebar virus untuk membawa teman-temannya sendiri di sekolah negeri untuk menjadi Katolik. Luar biasa bukan? Kecil-kecil mereka sebenarnya sudah melakukan pekerjaan seorang misionaris. Bukankah kita perlu berbangga hati atas mereka karena sudah menjalankan ajaran Yesus untuk membaptis seluruh bangsa sampai ke ujung bumi? Nanti dulu teman, ceritanya masih panjang…

Sekarang mari kita lihat, apa yang aku temui di gereja selaku seorang OKB, Orang Katolik Baru. Pertama, orang Katolik ramah-ramah, karena sepulang gereja kami selalu ada acara ramah-tamah informal sesama warga di halaman gereja. Bila terlihat ada orang baru, orang tersebut diajak ngobrol. Luar biasa pikirku. Di mesjid tidak ada yang seperti itu, sehabis shalat Jumat, biasanya langsung bubar, syukur-syukur kalau sendalnya tidak hilang. Kedua, ada semacam kebersamaan yang agak sulit dijumpai di luar gereja, di mana orang Cina dapat dengan akrab berkelakar dengan orang Flores dan orang Jawa pun demikian dengan orang Batak. Ini luar biasa juga pikirku. Last but not least, gereja adalah tempat cuci mata. Sungguh cewek-cewek Katolik seumurku penampilannya cantik-cantik, entah karena memang sudah cantik dari sononya atau mereka berdandan lebih untuk menghadap Tuhan. Apa pun realitasnya, ternyata pilihanku untuk menjadi seorang Katolik memang tidak salah.

Setelah pergi ke gereja kurang lebih setahun dan juga belajar katekese di sana, aku mulai melihat pola-pola menarik di sana. Misa di daerahku diadakan dua kali setiap minggunya, malam minggu jam enam sore dan minggu pagi jam tujuh pagi. Umat di daerahku lebih suka datang ke gereja pada Misa malam minggu ketimbang pada minggu pagi. Kupikir mulanya, Misa resmi itu memang pada malam minggu, dan Misa minggu pagi hanyalah tambahannya. Buktinya adalah pada hari minggu lebih sering diadakan ibadat sabda yang dipimpin seorang diakon awam ketimbang sebuah Misa yang dipimpin seorang pastor. Belakangan aku baru tahu bahwa itu dilakukan hanya sebagai sebuah solusi praktis karena pada hari Minggu pastor kepala paroki kami, yang hanya sendirian menggembalai sebuah paroki seluas satu pulau sendirian, harus berkeliling ke stasi-stasi yang jaraknya bisa mencapai seratus kilometer dari kota kabupaten. Jadilah umat lebih afdol hadir pada Misa malam minggu, dan pada minggu pagi. Ibadat minggu pun sepi dan dihadiri umumnya oleh orang-orang berusia lanjut yang tidak suka pergi pada malam hari karena alasan kesehatan. Apalagi anak muda, yang malas bangun pagi, hampir pasti mereka hadir pada Misa malam minggu. Jadilah demikian, Misa malam minggu penuh sesak, dan perayaan di minggu pagi hanya terisi paling setengahnya.

Perhatianku yang lain tertuju pada ibadat di kring dalam paroki kami. Di dalam kota kami ada tujuh kring. Setiap kring melakukan kegiatan pada malam Rabu setiap minggunya, kami menyebutnya doa kelompok. Umumnya acara ini diisi dengan doa rosario bersama, apalagi pada bulan Maria. Di bulan kitab suci, September, diisi dengan renungan kitab suci. Di masa Adven dan Pra-paskah diisi dengan tema yang sudah disiapkan dari keuskupan atau KWI. Ada beberapa kring yang memiliki ciri khusus. Kring Don Bosco Misalnya, banyak dihadiri guru Katolik, karena terletak di wilayah asrama guru-guru Katolik. Kring Yosef berada di pusat kota dan meliputi juga pecinan, sehingga dihadiri orang-orang Cina yang berada. Begitu pula dengan kring-kring lainnya. Entah karena memang iseng atau ingin mengenal suasana berbeda di masing-masing kring, aku selalu berkeliling menghadiri doa kelompok di kring yang berbeda, ketimbang hanya menghadiri kringku sendiri, lagi pula jarak antar kring tidak terlalu jauh untuk sebuah kota kecil seperti kotaku. Ibadat di kring-kring mana pun umumnya dihadiri ibu-ibu tua. Sampai sekarang aku masih kagum dengan polosnya iman mereka dan kesetiaan mereka. Mereka berjalan kaki bersama, kadang cukup jauh untuk hadir dalam pertemuan kring, yang kadang berakhir menjelang pukul sembilan malam. Bapak-bapak hampir tidak pernah hadir, kecuali aktivis dewan paroki dan guru sekolah. Anak muda tidak menentu datangnya. Anggota Legio Mariae biasanya cukup rajin, entah karena memang niat, atau ditugaskan oleh presidiumnya. Jadilah aku cukup dikenal sebagai tukang jalan-jalan di parokiku, dan akrab dengan anggota semua kring. Aku menjadi favorit para ibu-ibu karena aku “menghargai” hidangan yang mereka buat pada setiap pertemuan kring. Kadang muncul pikiran nakal dalam diriku, alangkah mudahnya aku untuk berkenalan dengan putri mereka karena aku sudah terlanjur akrab dengan ibu mereka. Tapi itu semua hanya dalam pikiranku. Pertemuan-pertemuan ini biasanya dipimpin oleh para pemuka umat, umumnya guru-guru di sekolah Katolik, ditambah beberapa anggota dewan paroki. Ibu-ibu, meskipun sangat rajin menghadiri setiap pertemuan, hanya menjadi pendengar yang baik. Salah satu kendalanya kupikir adalah kemampuan berbahasa Indonesia mereka yang terbatas. Kehadiranku terus terang menjadi semacam anomali, bayangkan, seorang anak SMP yang pola kehadirannya di pertemuan kring lebih mirip seorang anggota dewan paroki. Dan terus terang aku menikmati keanehan itu.

Ibu-ibu sendiri tergabung dalam Wanita Katolik, yang selintas terlihat sebagai tenaga catering bagi pastor paroki. Mereka secara bergantian mengirimkan makanan setiap hari untuk pastor paroki. Untung saja pastor kami tidak cerewet dalam urusan makanan, masakan favoritnya hanyalah tumis kangkung. Aku tidak tahu banyak tentang kegiatan mereka yang lainnya, karena tentu saja tidak mungkin bagiku untuk bergabung dalam Wanita Katolik tanpa merubah jenis kelamin!

Tidak puas dengan hanya hadir dalam Misa mingguan, aku pun mencari aktivitas yang lain. Di paroki kami ada Putera Altar (awalnya boys only), Legio Mariae, dan Mudika (Muda-mudi Katolik). Aku mulanya menjadi seorang putera altar, karena kupikir keren tampil beda dengan jubah seragam di hadapan umat. Setiap remaja kupikir memang punya keinginan untuk tampil beda, dan itu wajar. Mudika sempat kuhadiri pada awal mulanya, dan cepat kutinggalkan karena aku melihatnya hanya sebagai tempat kongkow-kongkow tanpa arah yang jelas. Lebih mirip sebuah ajang cari jodoh sepertinya, dan aku mendapatkan konfirmasi dari seorang pastor bahwa Mudika memang didesain untuk mencari jodoh demi menghindari kemungkinan kawin campur dalam masyarakat yang memang minoritas beragama Katolik. Legio Mariae mulanya tidak kusentuh karena nampaknya terlalu serius. Pencarianku juga membawaku untuk menghadiri Misa harian. Kebiasaan menghadiri Misa harian bukanlah kebiasaan umat di gereja kami, kecuali untuk beberapa orang ibu tua yang tinggal di dekat gereja. Sering kali Misa tersebut hanya dihadiri oleh kurang dari lima orang, kadang hanya pastor sendirian. Terus terang, semakin sedikit yang hadir, semakin senang diriku. Kesannya eksklusif. Bayangkan semua seruan dalam Misa menjadi semacam dialog berdua antara aku dan pastor. Kesannya begitu akrab dan mendalam.

Aku mulanya tidak habis pikir kenapa sebagian besar umat, khususnya bapak-bapak, tidak turut dalam kegiatan kring dan kerasulan awam. Orangnya selalu itu-itu saja. Kota kami tentunya tidak seperti Jakarta yang begitu luas dan macet luar biasa. Seorang pegawai sudah bisa sampai di rumah menjelang pukul lima sore. Ia punya banyak waktu luang di rumah, yang tentunya tidak menghalanginya untuk hadir dalam pertemuan kring. Hingga aku sampai pada satu kesimpulan, mereka malas atau malah tidak peduli dengan perkembangan gereja. Sudahlah cukup bagi mereka untuk hadir pada Misa mingguan sebagai jaminan menjadi seorang Katolik yang baik. Lagi pula bukankah di dalam katekese diajarkan bahwa Anda cukup menghadiri Misa pada hari Minggu dan perayaan-perayaan besar. Ini mungkin paralel dengan seorang muslim yang cukup hadir pada shalat Jumat, yang memang wajib hukumnya, dan tidak perlu shalat berjamaah pada hari-hari lainnya. Bedanya setiap muslim yang taat melakukan shalat lima sehari walaupun tidak di mesjid. Seorang Katolik? Bukankah menghadiri Misa harian bisa menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Tapi kenapa menghadiri Misa harian bukan menjadi sesuatu yang populer di daerahku? Pertanyaan itu terus terang belum bisa kujawab dengan tuntas.

Belakangan aku lebih terkejut lagi setelah banyak bergaul dengan para biarawan biarawati. Mereka mempunyai sebuah buku yang berisi doa harian, brevir. Ada doa pagi, siang, sore dan malam. Lho, kok aku tidak pernah tahu ada yang seperti ini. Kata mereka dulunya umat juga melakukan doa harian seperti ini, tapi sekarang hanya tinggal biarawan dan biarawati yang menjalaninya. Kenapa? Mereka tidak menjawab. Mungkin ia tidak tahu, lagi pula mereka hanyalah suster sederhana yang taat mengabdi, dan aku sangat menghargai ketaatan mereka. Begitu pula dengan puasa pantang daging setiap Jumat, bukan hanya pada masa puasa, yang dulunya dilakukan oleh umat. Sekarang banyak umat yang tidak tahu bahwa dulu kebiasaan seperti itu ada.

Timbul pikiran nakal dalam diriku bahwa cara beragama Katolik, di tempatku paling tidak telah dipermudah untuk menghilangkan rintangan orang untuk menjadi Katolik. Sebagai sebuah strategi marketing hal seperti itu sangatlah wajar untuk dilakukan. Kecurigaanku ini makin diperkuat dengan “diijinkannya” umat Katolik Cina untuk tetap mempertahankan kebiasaan sembahyang kepada leluhur. Berdoa kepada leluhur dalam pengertian seorang Cina adalah sama dengan meminta berkat. Seorang yang telah mati dianggap dapat melindungi dan memberkati keluarganya. Otakku langsung berputar, bahwa ini bertentangan dengan inti ajaran Kristiani bahwa hanya kepada Tuhanlah kita memohon. Hal ini menjadi sebuah stereotyping dalam masyarakat Cina di daerahku, bahwa menjadi Protestan berarti tidak boleh lagi menyembah leluhur, dan menjadi Katolik boleh. Jelaslah bahwa seorang Protestan menjadi seorang Kristen yang lebih militan, sedangkan seorang Katolik umumnya pragmatis.

Apakah ini semua berarti sebuah akulturasi yang kebablasan. Aku tidak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan itu. Lagi pula aku cuma curhat, tidak bermaksud untuk menggagas sebuah teori.


[1] Aku tidak memiliki fobia akan sebutan Cina, oleh karena itu dalam seluruh tulisanku aku tidak memakai kata “Tionghoa” untuk menggantikan “Cina”

[2] Di daerahku, umat tidak dikenal istilah katekese, mereka menyebutnya belajar katekumen, yang sesungguhnya sedikit salah kaprah. Katekumen adalah orang dewasa yang mendapat pelajaran katekese.

[3] Pernyataan ini hanyalah dugaan yang masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

[4] Lagi-lagi ini perlu diverifikasi

14 Komentar

  1. Suat pergolakan iman dalam menetapkan suatu agama, dan semuga saja tidak berpindah dari katolik untuk mencoba agama lain.
    Aku merasa penulis cukup kritis dalam menanggapi sebuah panggilan iman.
    Dapat menentukan suatu pilihan bahwa katolik memiliki tuhan yang lebih sabar dan tidak menakutkan dibansing islam.
    Aku yang seorang katolik sejak kecil tidak pernah memikirkan kenapa aku harus menjadi seorang katolik?tapi menurutku ini merupakan suatu anugrah karena aku tidak perlu meragukan iman katolik yang selama ini aku imani, tapi apakah karena aku takut bahwa sebetulnya ada agama lain yang lebih baik?
    kalo boleh kasih pendapat tentang komentarku ini ya..
    aku tunggu di emailku.

    Komentar oleh mamut — Juli 3, 2007 @ 2:31 am

  2. Yth. Saudara Penulis
    yang budiman

    Perlu menjadi catatan, bahwa agama islam sebenarnya TIDAK hanya menakutkan saja, yang menyenangkan juga banyak. Jika saya amati tulisan saudara :
    1. nampaknya saudara dalam membandingkan (islam dan agama “lainya”) tidak seimbang, artinya pendidikan agama islam yang sauadara kenal sebatas di sd saja, sementara kajian tentang agama kristen anda lakukan sampai pendidikan khusus, shg. penilaiannya tidak seimbang untuk dapat memberikan penyataan bahwa agama islam adalah agama menakutkan.
    2. diagama islam diajarkan tidak hanya berdoa pagi, sore, malam saja; tetapi setiap apa yang akan dilakukan oleh seorang hamba selalu berdoa.
    3. pemikiran bahwa agama islam itu sulit, sebenarnya tidak juga; andai saudara menempatkan sumber informasi agama islam yang benar; artinya informasi agama islam pada ahlinya; yang mampu berfikir kritis tentang agama islam

    Salam

    Nur Subchan

    Komentar oleh cak nur — Juli 4, 2007 @ 8:29 am

  3. menjadi katolik memang berbeda ketika sudah dibaptis masih kanak-kanak, dengan jika menjadi katolik ketika sudah dewasa.
    ada suatu sikap yang kritis ketika usia telah dewasa menjadi katolik, merupakan sebuah pilihan keputusan yang mengandung konsekuensi.
    ya artinya menjadi katolik diajarkan mengenal aplikasi KASIH dalam berbagai bentuk perbuatan (KARYA), dan apakah akulturasi merupakan bentuk Sebagai sebuah strategi marketing??

    pasti jawabnya tidak. mungkin banyak gereja gereja saat ini mengejar, merebut umat gereja lain dengan dalih bahwa ajaran Kekristenan merekalah yang paling murni sehingga terkesan memang menjadi militan (usaha-usaha kristenisasi).

    katolik merupakan jawaban hidup untuk bersekutu dengan Tuhan yang hanya satu. dan katolik adalah kristen. menghargai budaya lokal, ajaran kearifan lokal adalah bentuk-bentuk penghargaan akan kemanusiaan itu sendiri yang memang telah ada lebih dulu.

    pluralisme dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang Agung dan memiliki substansi sebagai maksud misteri rencana Tuhan ALLAH.
    kata kunci kita diajarkan untuk mengasihi dengan KASIH seperti Tuhan telah mengasihi kita manusia berdosa.

    Komentar oleh gangsar — Juli 8, 2007 @ 4:25 pm

  4. Buat saudara penulis,

    Saya bisa memahami jalan pemikiran saudara, setidaknya ambil praktis, simpel (simple), dan gampangnya menurut pemikiran saudara.

    Saya tidak menggurui karena itu tidak akan berarti apa-apa bagi saudara yang sudah dewasa dan anugerahi akal fikiran.

    Tetapi dalam agama app pun pasti ada konsep yang sulit diterima oleh akal pikiran saudara sendiri sekali pun, mengapa? Karena akal pikiran manusia sesungguhnya sangat terbatas, dan tidak mampu menjangkau semua dimensi kehidupan yang sangat luas. Dalam hidup ini Banyak hal yang kita suka tidak terjadi dan sebaliknya yang kita tidak suka itu terjadi. Anda mengalaminya bukan? Anda tidak pernah menginginkan sakit tapi anda pernah sakit bukan? Anda tidak suka gagal, tapi anda pernah gagal bukan? Yah … meskipun bisa di gubah sedemikian rupa sehingga anda dapat menemukan hikmahnya Lalu apa ini artinya?

    Artinya apa yang kita pikirkan benar sebetulnya belum tentu baik dan benar serta sebaliknya apa yang kita pikirkan salah belum tentu itu buruk/salah di mata Tuhan. Mengapa? Karena kita bukan yang maha benar, dan bukan yang maha tahu.

    Nah sekarang mari kita sama-sama berpikir awam, tetapi saya membalik pikiran itu menjadi begini… Kalau misalnya (maaf, sekali lagi misal), anda mengimani katolik, setelah saudara meninggal ternyata tidak masuk surga (seperti yang anda yakini mendapat semacam tiket ke surga, bahkan ternyata mendapat siksa yang menurut keyakinan anda seharusnya sudah tidak mungkin terjadi karena dosa anda sudah diampuni, “ditebus”) apa yang akan saudara lakukan?

    Di sisi lain ada agama yang anda takuti, karena ancaman dosa/siksa sehingga cukup sulit untuk mendapat tiket ke surga (ternyata kenyataannya di “sana”/ setelah meninggal ternyata benar adanya, siksa atas dosa dan pahala/ganjaran/sorga atas amal baik, bagaimana?)

    Tuhan minta tanggungjawab atas perbuatan manusia selama di dunia, bukankah di dunia saja kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada pemerintah/hukum bila kita melanggar hukum dan tertangkap/terbukti).

    Mana yang lebih saudara pilih dijanjikan di depan mudah, enak dan gampang tetapi ternyata tidak terbukti, atau surga bagi kebaikan dan neraka bagi kejahatan yang sangat menakutkan tapi kenyataannya memang begitu?)

    saya hanya sharing saja, dan mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan, karena saya pernah mengalami hal-hal yang seperti saudara rasakan dan saya dengan mantap meskipun tidak pintar dan ahli untuk berada pada iman saya yang saya senantiasa berdaoa untuk sepanjang hayat saya dalam keadaan iman dan islam.

    Tidak semua pemeluk agama dapat menjalankan ajaran agama yang saya tahu semuanya mengajarkan kebaikan, yah … tetapi kembli ke manusianya, jadi tidak bisa menilai ajaran agama hanya melihat perilaku pemeluknya yang salah, tidak adil bukan? saya percaya anda cukup bijaksana

    salam,

    Komentar oleh pujihariyono — Agustus 7, 2007 @ 8:20 am

  5. mengenai tulisan anda. anda hanya mencari sensasi dengan mencitrakan diri anda sebagaimana tulisan anda.
    penilaian terbaik adalah anda tidak perlu menilai itu semua.

    Komentar oleh zia — Agustus 13, 2007 @ 3:22 am

  6. tuhan membekati anda dan lihatlah ibu teresa yang menjadi perpanjangan tuhan. anda diutus menjadi perpanjanganNya juga……………………….

    Komentar oleh pietro — September 17, 2007 @ 3:26 pm

  7. kritikan memang banyak saya lihat dalam komentar yang ditampilkan. bersikaplah optimis dan jangan pesimis. komentar yang dilakukan oleh zia adalah komentar orang yang tidak mempunyai harapan jiwanya sudah tertutup oleh sikap individualisme. orang yang berharap adalah orang yang penuh cinta dan kasih. jangan berhenti berharap optimislah selalu. sikap pesimis hanya bisa menghancurkan perasaan saja karena sikap itu kita tidak akan diselamatkan. berbahagialah mereka yang mengharap Allah. amin

    Komentar oleh pietro — September 17, 2007 @ 3:34 pm

  8. Wah… murtadin neh…. ati-ati ada yang sakit hati ne….

    Komentar oleh brodin — September 19, 2007 @ 10:24 am

  9. Saudaraku seiman dalam Kristus,

    Tulisan anda cukup bagus dan bisa menggugah hati setiap pembaca bahwa anda sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi umat katolik yang baik.tapi ingatlah bahwa menjadi umat katolik yang baik tidak perlu menjadikan agama yang lain menjadi tolok ukur untuk pilihan masuk katolik.Rahmat Tuhan itu bagi semua orang yang percaya kepada-Nya,kecuali dia itu bukan ciptaan_nya.karena itu sharing anda sangat bagus tapi tidak perlu dengan menyebutkan agama2 tertentu untuk pembanding ketika anda ingin menjadi Katolik.Salam dan doaku,semoga Tuhan Yesus tetap berkati kita untuk tetap setia kepada-Nya dalam suka dan duka,Amen

    Komentar oleh Aloisius Bria Nahak — September 23, 2007 @ 10:23 pm

  10. Percayalah bahwa hanya ada satu Tuhan. Tiada yang dapat menyamainya. Tuhan tidak mempunyai anak dan bukan merupakan anak. Tuhan tidak mempunyai bapak ataupun ibu. Karena Dia adalah Tuhan sang Maha Pencipta bukanlah makhluk seperti manusia. Dia Tuhan yang kekal abadi. Tiada sesembahan yang layak selain Dia.

    Silahkan untuk mempelajari agama, dan rasakan kebenarannya.

    Kita wajib beribadah kepada-Nya. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya.

    Lihatlah kebenaran yang sebenar-benarnya yang terkandung dalam Kitab Suci, yang selalu terpelihara kesuciannya, yang selalu terpelihara setiap kalimatnya. Tiada pernah ternodai oleh pikiran-pikiran manusia yang kadang disertai penambahan logika dan egoisme.

    Kitab yang selalu dicari kebenaran pembuktiannya sepanjang zaman. Kebenaran Pembuktian dalam ilmu perbintangan, Kedokteran, Ilmu Pasti, Ilmu Alam, Kelautan, Hukum hingga tanda-tanda kehidupan sampai akhir zaman.

    Tiada orang yg sanggup membuat buku sedemikian lengkap seperti kitab suci. Tiada buku yang tidak membutuhkan revisi kecuali kitab suci. Tiada kitab suci lain yang dijamin oleh Tuhan kesuciannya melainkan hanya satu kitab suci yaitu Al-Quran. Karena Tuhan-lah yang menjamin Al-Quran. Tuhan-lah yang menjaga Al-Quran sehingga terpelihara dari awal diturunkannya hingga dunia ini hancur

    Ikutilah nabi akhir zaman, yang akan mengantarkan kita kepada keselamatan dunia dan akhirat. Nabi yang namaNya tertulis ditiap pintu-pintu surga. Nabi yang kemuliaanNya terdengar di dunia dan di akhirat. Nabi yang sebenar-benarnya mengemban tugas untuk meluruskan semua hal yang diperintahkan oleh Tuhan dan yang dilarang oleh Tuhan. Dialah nabi Muhammad Rassulullah.

    Allah Maha Besar, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah mendalami agama yang benar, agama yang diridhoi oleh Allah dunia akherat. Agama yang akan mengantarkan kita menuju keselamatan dunia dan akherat dengan Nabi Muhammad Rasullullah yang namanya tertulis ditiap pintu-pintu surga karena kemuliaan amalNya.
    Ingatlah bahwa Tuhan hanyalah satu, tiada yang dapat menandingi-Nya. Adzab-Nya sungguh tidak akan ada satu makhlukpun yang dapat menahan-Nya kecuali jika Allah menghendaki.

    Komentar oleh Widhi — September 26, 2007 @ 11:19 am

  11. kawan,nilai-nilai Katolik itu telah pun ujud di agama leluhur kita,cuma tidak dikaji.berbaliklah pada agama leluhur untuk kesejahteraan hidup- karena “pada setiap bangsa diutuskan untuknya seorang rasul”. semoga saudara berbahagia

    Komentar oleh sampuna — Oktober 31, 2007 @ 4:51 am

  12. Ketika seorang curhat, mengapa kita jadikan sebuah ajang apologetik? Biarlah dirinya dan Tuhan yang berelasi, dan semoga ia dapat menangkap jawabnya…

    Komentar oleh Kris — November 5, 2007 @ 2:46 am

  13. Apapun..Kesaksian nya itu adalah Anugrah..( Menurut Kepercayaan Masing2 )
    Apapun Kepercayaan kita ,tetapi kita tetap Saudara….
    Tapi saya..sarankan dalam memberikan kesaksian jangan Membanding-bandingkan..Agama satu dan yang lain ok…GBU…
    Gbu all….

    Komentar oleh meli — November 13, 2007 @ 2:48 am

  14. Untuk kolom komentar, saya tutup dengan beberapa alasan.

    1. Komentarnya banyak yang gak nyambung. Yang ngerti semangat tulisannya kelihatannya hanya komentar pertama (mamut).

    2. Blog ini bukan blog curhat, atau kesaksian. Ini adalah sebuah esai. Inti dari tulisan ini adalah kekritisan orang dalam menilai imannya masing2, bukan kesaksian untuk mengajak orang masuk agama tertentu, atau menjelek-jelekkan atau membandingkan dengan agama lain. Tulisan ini juga bermaksud menunjukkan bisa begitu pragmatisnya seseorang di dalam memilih suatu agama, bukan memeluk agama karena alasan rasional atau teologis. Tolong dibaca lebih teliti.

    3. Untuk lebih memahami posisi dari esai ini, silakan baca tulisan2 lain di blog ini.

    4. Kalau emang pengen benar2 kasih komen silakan kirim ke email. Kalau emang pas, akan saya posting.

    Komentar oleh Oni Suryaman — November 13, 2007 @ 3:19 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

The Rubric Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: