Selingkuh, ah biasa! Semua sinetron, film dan buku cerita sudah menceritakannya. Apa yang akan saya tulis di sini adalah yang “agak” tidak biasa tentang selingkuh. Mengapa tidak biasa? Karena di sini, saya justru membela yang berselingkuh. Lho bagaimana bisa begitu? Baca saja sendiri lebih lanjut.
Selingkuh memang biasa. Lebih biasa dari pada yang Anda bayangkan. Saya malah percaya bahwa selingkuh justru adalah tindakan yang normal. Kalau kita memuat survei dengan pertanyaan berapa kali orang selingkuh semasa hidupnya, lalu kita buat kurva distribusinya, yang tidak pernah selingkuh sama sekali nampaknya akan berada di luar batas normal.
Mengapa selingkuh itu normal? Di dunia binatang, selingkuh memang adalah normal. Manusia, sebagai binatang yang lebih kompleks, bisa saja menganggap selingkuh itu juga normal. Bagi binatang, kelangsungan hidup dari suatu spesies tergantung sekali dari kemampuannya beranak pinak. Bila binatang, seperti manusia yang menganut norma monogami, mempunyai pasangan yang tidak subur, tidak beruntunglah dia karena tidak akan menghasilkan keturunan. Selain harus beranak pinak, keturunannya pun harus sehat, sehingga mampu bertahan hidup. Dengan demikian, individu yang paling sehat dan subur seyogyanya mendapatkan pasangan yang paling banyak. Seekor pejantan yang tangguh akan sangat disayangkan kalau ia hanya membuahi satu betina, suatu cara yang sangat tidak alamiah dan tidak menguntungkan pada spesiesnya. (lagi…)