On Everything

Maret 31, 2008

Ateisme sebagai Kritik Agama

Filed under: Tentang Agama,Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 12:09 am
Tags: , , ,

atheism.jpg

Ateisme adalah sebuah momok di negeri ini, hampir sejelek sang iblis itu sendiri. Ia disamakan dengan pemadat, pelacur, pembunuh, dan pemerkosa. Ia tak punya tempat hidup di negeri yang “beragama” ini. Di lain pihak, negeri yang sangat agamis ini tidaklah menjadi sebuah negeri yang makmur, aman dan tentram. Justru beberapa negara yang kecenderungan ateistiknya berkembang menunjukkan ciri-ciri negara maju yang makmur, aman, tentram bahkan manusiawi.[1] Apa yang salah di sini?

Untuk itu marilah kita mundur dalam sejarah. Ateisme lahir dari sejarah yang panjang, sebagai salah satu anak dari modernisme. Meskipun cikal bakal ateisme sebenarnya sudah muncul dari Xenophanes di zaman Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang ada hanyalah gambaran manusia saja dan tidak mungkin dewa yang agung kelakuannya sama dengan manusia, modernisme tetap menjadi ibu kandung dari ateisme, terlebih ateisme yang menjadi lawan dari teisme, khususnya teisme versi Yudeo-Kristiani.

Modernisme lahir di dalam sebuah kondisi di mana dogma merajalela, dan manusia tidak mempunyai tempat. Semua segi kehidupan dilihat dari sudut pandang agama yang dogmatis. Manusia tidak memiliki tempat di dunia ini, sebuah panggung sandiwara di mana ia menjadi pemain di dalamnya. Hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Tuhan yang menilainya, yang memberinya surga bila ia memainkan perannya dengan sesuai, dan neraka untuk yang menentangnya, tanpa berpikir mengapa sesuatu boleh atau tidak boleh dilakukan.

Modernisme, dipicu juga oleh gerakan Reformasi Protestan, yang melahirkan subjektivisme, yaitu percaya pada pemikiran sendiri, seperti tercermin dalam semboyan pencerahan “sapere aude”, aku berpikir untuk diriku sendiri. Protestanisme, walaupun pada dirinya masih dogmatis dengan hanya percaya pada kitab suci, ia telah membuka jalan ke subjektivisme dengan memberikan kebebasan dalam mengartikan kitab suci. Tafsir kitab suci yang mulanya hanya menjadi hak kaum pendeta, menjadi milik semua umat beriman karena Tuhan diyakini menyapa setiap orang secara sama melalui kitab suci.

Kemajuan ilmu pengetahuan yang terpicu oleh pencerahan juga ikut menyuburkan lahan untuk tumbuhnya ateisme. Alam semesta yang mulanya dianggap dijalankan oleh Tuhan, kini tidak memerlukan Tuhan lagi sebagai pemelihara, melainkan dapat berjalan sendiri begitu hukum-hukum alam diciptakan, yang dikenal dengan faham deisme. Meskipun deisme masih mengakui bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan, mereka telah menjadi pembuka jalan bagi ateisme, yang melihat bahwa Tuhan tidak perlu ada..

Tuhan adalah Angan Ciptaan Manusia

Ateisme secara rasional dilahirkan oleh seorang filsuf Jerman abad ke-19 bernama Ludwig Feuerbach. Ia melihat, seperti halnya Xenophanes, bahwa Tuhan hanyalah angan-angan ciptaan manusia. Ia menyebutnya dengan istilah proyeksi. Tuhan hasil produk proyeksi manusia ini, mirip dengan manusia, ia adil, baik, kasih, namun juga cemburu, dan pemarah, dan ditambahkan dengan kualitas maha, maka ia mahaadil, mahabaik, mahakasih, juga mahacemburu dan mahapemarah. Celakanya manusia lupa bahwa Tuhan ini adalah ciptaannya sendiri. Ia kagum akan ciptaannya sendiri, bahkan merasa tunduk dan menyembahnya.

Manusia memang dilahirkan dengan kemampuan memproyeksikan dirinya. Dengan memproyeksikan dirinya keluar, ia lebih mampu mengenal dirinya sendiri. Dan ia bisa memproyeksikan dirinya sampai tak hingga. Jika ia baik, ia bisa membayangkan sesuatu yang mahabaik. Jika ia jahat pun, ia bisa membayangkan sesuatu yang mahajahat. Masalahnya, menurut Feuerbach adalah, bahwa ia lupa bahwa itu adalah proyeksi, cermin, dari dirinya sendiri. Ia malah seperti kagum, bahkan takut, pada bayangannya sendiri.

Feuerbach dengan ateismenya ini sebenarnya mengkritik praktek beragama yang kerdil. Ia melihat bahwa Tuhan yang disembah manusia, banyak di antaranya adalah bayangan yang diciptakan manusia sendiri. Ini bisa dilihat dengan jelas dari ciri-ciri Tuhan yang mirip dengan manusia: bertahta, mendengar, melihat, mendengar, mencinta, cemburu, membalas, dll. Apakah ini memang Tuhan yang sebenarnya, atau Tuhan ciptaan manusia.

Pada mulanya bisa jadi Tuhan digambarkan secara manusiawi supaya bisa lebih dijangkau oleh awam, berbeda dengan Tuhan filosofis dan mistik yang biasa diperbincangkan para filsuf dan mistikus yang jauh dari pemahaman biasa. Di satu pihak bisa mendekatkan orang biasa kepada Tuhan, tetapi di pihak lain beresiko menggambarkan Tuhan secara kurang tepat.

Tuhan Membuat Manusia Mandul

Kritik model ini dikembangkan oleh seorang filsuf Jerman lain yang lebih terkenal yaitu Karl Marx. Karl Marx melanjutkan logika yang dikembangkan Feuerbach dengan mengatakan bahwa bukan saja agama yang demikian membuat manusia takluk pada ciptaannya sendiri, melainkan membuat ia mandul dalam membuat perubahan sosial. Ia berserah diri pada Tuhan, memohon dan berdoa, ketimbang turun tangan sendiri membenahi ketidakadilan.

Tuhan mahakuasa yang diciptakan manusia ini begitu kuatnya sehingga membuat manusia tidak berdaya di hadapannya. Manusia lupa bahwa merekalah yang menciptakan bayangan itu. Mereka bukan sekedar takut, melainkan menyerahkan seluruh hidupnya kepadanya. Mereka tidak berbuat apa-apa untuk mengubah nasibnya melainkan pasrah kepada Tuhan ciptaannya.

Marx seperti Feuerbach juga mengkritik praktek agama yang kerdil. Agama tidak menjadi penyelamat, melainkan menjadi tempat pelarian orang-orang tidak berdaya. Marx dengan filsafatnya yang materialis, yaitu filsafat berguna selama bisa dipraktekkan dalam ranah sosial, tentu saja melihat agama tidak cocok dengan filsafatnya.

Seperti yang sering dikutip dari Marx bahwa “agama adalah candu”. Agama yang menjanjikan penyelamatan di hari akhir telah memandulkan manusia untuk melakukan perubahan di bumi ini. Mereka hanya menipu diri mereka sendiri bahwa penderitaan mereka di dunia ini tidak akan sia-sia dan akan diganjar dengan surga di kehidupan mendatang.

Kritik Marx ini mau mengatakan bahwa agama telah melupakan salah satu nilai dasarnya, yaitu sebagai pembebas revolusioner. Semua agama adalah sebuah revolusi, yang mengubah cara pandang lama. Tetapi institusi agama setelah itu biasanya kehilangan nilai revolusi tersebut, dan cenderung menjadi mapan. Agama yang seharusnya memberikan energi untuk bertindak malah menjadi candu yang melemahkan.

Tuhan Membuat Manusia Tidak Dewasa

Pukulan berikutnya diberikan juga oleh seorang Jerman, kali ini seorang dokter jiwa bernama Sigmund Freud. Lewat teori psikoanalisis yang dikembangkan olehnya ia melihat bahwa manusia yang beragama secara kolektif adalah sekumpulan orang yang tidak dewasa, yang seperti seorang anak kecil yang terus merengek kepada orang tuanya. Sebagai seorang dewasa semestinya ia mengambil hidupnya sendiri, mengupayakan sendiri, ketimbang menggantungkan diri kepada Tuhan di atas sana.

Freud sampai pada kesimpulan ini melalui penelitian mitologi. Dari mitologi ia menteorikan bahwa di zaman dahulu, laki-laki yang kuat berkuasa dan memiliki seluruh perempuan. Laki-laki yang lain, yaitu anaknya, semuanya tunduk kepadanya. Meskipun mereka tunduk namun sebenarnya mereka iri pada kedudukan itu dan ingin mengalahkan sang ayah. Hingga suatu saat ia berani memberontak melawan ayahnya dan membunuhnya. Kisah seperti ini bisa dilihat seperti pada mitologi Yunani Oedipus yang membunuh ayahnya sendiri dan mengawini ibunya, atau pada pemberontakan Zeus bersaudara yang melawan Kronus ayahnya, dan membunuhnya dan menggantikan posisinya sebagai pimpinan para dewa.[2]

Selanjutnya manusia tenggelam dalam alam bawah sadar ini, dan menjadikan Tuhan sebagai suatu super-ayah yang selalu mengawasi dan menekan, dan kita tunduk kepadanya. Tindakan menjadi dewasa bisa dilihat sebagai semacam “membunuh ayah”, dan tidak tergantung kepadanya. Ia menjadi mandiri. Dan Freud melihat bahwa manusia beragama sama aja seperti anak kecil bila ia tidak melewati fase ini.

Ateisme sebagai Kritik Agama

Dapat dilihat dari penjelasan di atas bahwa ateisme dalam versi demikian[3] sebenarnya bukanlah ateisme yang melawan Tuhan secara langsung melainkan sebagai sebuah reaksi balik atas kebobrokan agama-agama. Adalah Tuhan ciptaan (institusi) agama yang dilawan oleh ateisme.

Institusi agamalah, bukan Tuhan (kalau Tuhan memang ada), yang membuat praktek beragama yang kerdil dan tidak membebaskan. Institusi agama telah mengembangkan Tuhan yang menggunakan teror untuk mengendalikan masyarakat. Logikanya mudah dilihat, orang yang dipenuhi teror menjadi mudah dikendalikan. Ini tentu saja berarti kelanggengan kekuasaan bagi mereka yang memegang institusi agama. Tuhan, yang tidak terjangkau keagungannya, tetap belum tersentuh oleh kritik ini.

Ateisme di Indonesia

Indonesia sendiri, memiliki sejarah yang berbeda dengan bangsa Eropa yang telah mengalami abad pencerahan dan modernisme. Modernisme belum pernah menyentuh Indonesia, kecuali pada beberapa tahun menjelang kemerdekaan yang menyentuh kalangan elit terpelajar Indonesia. Sesudah Indonesia merdeka, gerakan modernisme malah mandek berganti dengan pertikaian politik dan diikuti oleh industrialisasi. Dengan kata lain tidak ada lahan subur untuk berkembangnya ateisme.

Gerakan komunisme di Indonesia yang mewakili garis perjuangan progresif revolusioner sempat mewakili gerakan ateisme di Indonesia. Namun mereka hanyalah sekelompok orang yang juga masih elitis yang belum merasuk ke dalam rakyat yang belum tersentuh modernisme. Apalagi setelah penghancuran gerakan komunisme setelah peristiwa G-30-S. Ateisme yang diidentikkan dengan komunisme benar-benar tidak mempunyai tempat lagi di bumi Indonesia.

Di pihak lain, golongan agama di Indonesia dari dulu memegang posisi yang kuat, lebih kuat dari para intelektual sekuler di awal kemerdekaan Indonesia. Ini tercermin dari sila pertama di Pancasila yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa, yang merupakan hasil kompromi golongan nasionalis dengan para pengusul syariat Islam. Ini membuktikan sentimen beragama yang memang kuat di Indonesia, walaupun ia tidak menjadi sebuah negara Islam. Ini berbeda sekali dengan negara-negara di Eropa yang setelah pencerahan mengalami pemisahan antara gereja dan agama yang menjadi landasan yang kukuh untuk sebuah pemerintahan oleh akal sehat, bukan atas dasar agama apa pun.

Semua hal di atas membuat Indonesia boleh dibilang mandul dalam semangat berpikir bebas. Setelah generasi pemikir pertama yang memang sempat bersentuhan dengan gerakan modernisme Eropa, hampir tidak ada lagi pemikir yang dilahirkan di Indonesia. Ateisme bisa dibilang musnah di Indonesia. Agama tumbuh subur, dengan mesjid dan gereja bertebaran di mana-mana. Di pihak lain, penghargaan atas kemanusiaan sangat rendah. Korupsi merajalela, hak-hak sipil tidak dihargai, orang bisa dibunuh dengan sentimen agama atau ras. Kita seperti hidup di abad pertengahan Eropa sebelum modernisme. Industrialisasi yang membawa kemajuan tidak berjalan seiring dengan pola pikir masyarakat yang pra-industrialisasi. Jadilah sebuah masyarakat yang timpang, dengan alat-alat modern dan cara pandang yang terbelakang.

Di sinilah peran ateisme dapat masuk. Ia memang tidak benar dengan sendirinya. Tapi ia memaksa kaum beragama untuk berpikir keras untuk mempertanyakan seperti apa Tuhan mereka sebenarnya. Siapakah sebenarnya Tuhan yang mereka sembah, Tuhan yang sebenarnya atau Tuhan yang mereka ciptakan. Ketidakhadiran ateisme di Indonesia telah menjadi salah satu penyebab kebuntuan berpikir para agamawan yang tidak memiliki lawan. Agama pun merajalela. Ateisme memang belum tentu benar, namun ia menjadi pisau bedah yang membuang sel-sel kanker yang berkembang dari agama-agama, supaya menyisakan sel-sel sehat untuk bisa berkembang menjadi agama yang baik.


[1] Ini jangan diuniversalkan, sebab di beberapa negara yang cenderung ateis seperti Rusia dan Cina, toh kemakmuran tidak menjelang.

[2] Kondisi seperti ini masih bisa dilihat pada kawanan gorila dengan seorang gorila jantan dewasa terbesar yang berkuasa atas seluruh kawanan dan memiliki harem gorila betina yang semuanya menjadi miliknya. Gorila jantan muda yang lain tunduk kepadanya, hingga suatu saat seekor gorila muda berani menantang sang pemimpin dan bila menang menggantikan posisinya, dan ia pun akan berkelakukan seperti yang sudah dikalahkannya.
[3] Ada ateisme versi lain yang memang menyerang Tuhan secara langsung seperti pada Sartre yang mengatakan bahwa tidak mungkin ada Tuhan, karena bila Tuhan ada manusia tidak bisa bebas.

17 Komentar »

  1. Wah, sudah lama saya cari-cari tulisan mengenai ateisme yang didedah dalam perspektif spirituil-kontemporer. Pemahaman dan keyakinan saya mengenai ateisme ter-update lewat tulisan Anda.

    Salam,.

    Komentar oleh esensi — April 4, 2008 @ 7:44 pm

  2. Sepakat – atheisme adalah antitesa – tesanya sendiri adalah agama. Saya baru mau mulai membaca buku yang sudah lama terbit “God is not great” – ttg bagaimana agama meracuni segala hal – mestinya sejalan dengan tulisan anda ini

    salam

    Komentar oleh Lucas — April 14, 2008 @ 8:27 am

  3. Terimakasih, tulisan Anda sedikit membantu saya memahami sedikit tentang sejarah ateisme. Ada yang lebih lengkap ga? Maklum, saya tergolong masih pemula dalam studi tentang ateisme.


    maaf, untuk membuat yang lebih lengkap cukup sulit. sering2 saja tengok blog ini, mudah2an dalam waktu dekat, review saya tentang buku GOD DELUSION sudah selseai saya kerjakan. sekarang saya masih ngerjain tulisan tentang Hinduisme.

    Komentar oleh M. Subhan Zamzami — Juni 16, 2008 @ 7:20 am

  4. Mas Oni, kalau begitu saya akan berusaha mengunjungi blog ini sesempat mungkin. Terimakasih Mas Oni, saya benar-benar terbantu oleh tulisan-tulisan Anda.

    Komentar oleh msubhanzamzami — Juni 19, 2008 @ 2:56 am

  5. Blog yang sangat bagus!!

    Salam

    Komentar oleh wong2ateis — Juli 30, 2008 @ 4:58 am

  6. Blog yang bagus. Hi Hi Hi….-
    Salam semuanya. Komentar lainnya entar kapan-kapan ya ?
    Hi Hi Hi….La la la la.

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 2, 2008 @ 6:36 am

  7. @Oni

    Benarkah ateisme selalu identik dengan komunisme??

    Setahu saya ateisme di Amerika justru menentang komunisme!!

    Sepengetahuan saya ateisme di Indonesia saat ini tidak selalu berfokus dengan komunisme.

    @Lovepassword
    Hi hi hi juga…

    ateisme tidak identik dengan komunisme. pembahasan mengenai keduanya harus dipisah. banyak orang beragama yang komunis, lihat di amerika latin. saya setuju dengan anda kalau di indonesia ateisme juga tidak selalu identik dengan komunisme. namun di kalangan bawah, bahkan di beberapa kalangan atas yang malas berfikir, ateisme=komunisme=penghuni kerak neraka.

    Komentar oleh wong2ateis — September 22, 2008 @ 5:01 am

  8. Menurut saya masalahnya bisa dilihat bukan dari religiusitas masyarakat, melainkan ketakutan masyarakat itu sendiri pada ireligiusitas. Tidak masalah bila seseorang beragama dengan beradab dan memegang nilai-nilai penghormatan atas orang lain, namun yang terjadi sekarang tidak demikian. Cara pandangan masyarakat adalah cenderung defensif dalam masalah agama—ini sisi paling jelek dari konservatisme.

    Jadi yang penting itu buat saya adalah bagaimana masyarakat bisa hidup tenteram dengan spiritualis, naturalis, dan segala macam paham yang tidak rigid lainnya. Tapi kelihatannya kok terlalu jauh. Sebab melihat dari insiden Islam Ahmadiyah, sepertinya memang kita kecanduan uniformitas.

    @ Lucas

    Itu buku yang bagus, walau saya kira belum semenarik tiga buku “saudaranya”, yaitu The God Delusion, The End of Faith, dan Breaking the Spell.

    saya setuju dengan anda. susahnya paham monoteis pada dasarnya memang penolakan akan banyak tuhan, dan mengatakan bahwa hanya tuhan merekalah yang benar. politeis lebih toleran. there is always a room for a new god. nanti saya akan bahas ini lebih khusus dalam politeisme vs ateisme.
    untuk buku god is not great memang lebih kayak “bable” penulisnya saja, kurang terstruktur pemikirannya.

    Komentar oleh K. geddoe — September 22, 2008 @ 2:37 pm

  9. Blognya si atheis Daeng menghilang, alamat aku kehilangan tempat ngobrol

    Komentar oleh lovepassword — Desember 3, 2008 @ 10:57 am

  10. Saya tidak tahu apakah ini mempunyai kualitas penyadaran yang baik, tetapi kalaupun tidak, bukan masalah yang penting ada niat untuk membahas dengan serius demi meningkatkan kesadaran akan kebenaran, entah apapun itu kebenaran menurut anda. Ini adalah tambahan tentang pembuktian Tuhan itu ada di http://seremonia.net THERE IS GOD

    Komentar oleh seremonia — Maret 14, 2009 @ 12:26 am

  11. Terima kasih atas ulasannya.
    Saya juga sudah membuat artikel serupa tentang Feuerbach, Freud, dan Sartre.

    http://hirekaeric.wordpress.com/category/ateisme/

    Komentar oleh Hireka — Juli 29, 2009 @ 8:40 am

  12. Skripsi (untuk meraih gelar S. Th.)saya berjudul “Ateisme: Kritik Agama”. Kajian atas kritik ateisme ini, saya relevansikan dgn paradigma ketuhanan dan perilaku umat beragama di Indonesia. Hal ini saya ungkapkan, guna menginformasikan bahwa tema ateisme, bukan tema yg asing lagi bagi saya.
    saya hendak mengomentari pandangan anda tentang korelasi ateisme dgn komunisme di Indonesia. Menurut saya, anda keliru, saat serampangan dalam menilai bahwa komunisme di Indonesia itu, serta merta dapat dikaitkan begitu saja dengan ateisme. komunisme di Indonesia–menurut saya–murni sebagai kegiatan politik-sosiologis, yang sama sekali tidak berhubungan dengan ateisme atau kritik agama (sekalipun ya, itu hanya sebuah asumsi, bukan fakta). Ateisme di Indonesia, menurut saya, adalah ateisme–yang secara konseptual–disebut “ateisme praktis”. konsep dari ateisme praktis adalah “orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi kepercayaannya kepada Tuhan itu, tidak memberi dampak dalam kehidupannya”. Semua orang Indonesia, minimal menganut salah satu agama yang dipandang resmi oleh negara. Semua orang Indonesia beragama dan percaya kepada Tuhan, tetapi keagamaan dan kebertuhanan mereka, tidak memberi dampak positif pada perilaku hidup warga bangsa ini. Pemimpin yang korup, warga yang korup, kejahatan kemanusiaan begitu merajalela di Indonesia, samasekali tidak mencerminkan bahwa mereka beragama dan bertuhan. Jadi, hampir seluruh masyarakat Indonesia, adalah penganut ateisme praktis. Masalah ateisme tidak lagi menjadi masalah teoritis belaka, tetapi masalah etis moral. Semoga komentar ini memberi angin segar buat anda.
    Salam.

    Terima kasih atas masukannya yang bermutu. Saya kira kita bisa bertukar pikiran dengan panjang, apalagi karena anda memang mengambil skripsi di bidang ini.

    Ada beberapa poin yang bisa kita bicarakan:

    1. Pertama2 saya ingin bertanya tentang apa yang anda maksud dengan ateisme sebagai kritik agama dalam skripsi anda.

    Di dalam tulisan saya, sebagaimana saya uraikan dalam tulisan saya, ateisme (di luar itu benar atau tidak, dan itu butuh perdebatan panjang dan saya rasa di luar konteks yang akan kita bicarakan) adalah petunjuk akan ketidaksempurnaan agama. Ateisme adalah sebuah antitesis, bukan sebuah tesis yang lahir dengan sendirinya. Ia lahir karena agama tidak memuaskan.

    2. Terus terang saya lemah dalam soal ini. Bacaan saya tentang ateisme di Indonesia belum banyak. Saya hanya melakukan ekstrapolasi asal usul ateisme di Barat dan mencoba menduga2 bagaimana kalau itu terjadi di Indonesia. Anda yang memang melihat praktek ateisme di Indonesia mungkin bisa membantu di sini.

    Di dalam tulisan saya, saya membuat sebuah dugaan, bukan penelitian faktual yang sulit karena pada kenyataannya gerakan ini mati sebelum berkembang, apakah jadinya kalau gerakan komunisme tidak mati di Indonesia. Apakah praktes ateisme (teoretis, bukan praktis) akan berkembang di Indonesia, apa sumbangannya, sekaligus apa kerugiannya.

    Dugaan saya adalah sekularisme akan lebih berkembang di Indonesia, dengan melihat pengalaman barat yang ateismenya berkembang lewat sains maupun politik (Di Indonesia munculnya ateisme lewat sains tidak terjadi, hanya lewat politik, dan ini tidak mutlak milik komunisme). Terus terang argumen ini juga belum kuat, karena mencampuradukkan antara sekularisme dan ateisme, dan saya belum menemukan pisau yang tepat untuk memisahkan keduanya.

    Perkembangan sekularisme dan ateisme, yang dari pengalaman di barat mengarahkan pada pemisahan antara negara dan agama tidak terjadi di Indonesia, dan menurut saya ini patut disayangkan. Di lain pihak, negara agama tidak terbentuk di Indonesia, jadilah kita terombang-ambing antara dua kutub dan tidak jelas kemana. Memang ada usaha untuk menyatukan agama dan komunisme seperti yang dilakukan Bung Karno, namun kupikir masih terlalu prematur pemikirannya. Nasionalisme religius juga sempat dimunculkan, namun kupikir nasionalisme religius pun (yang bisa kita lihat dalam sosok bung Hatta misalnya) lebih berat ke sekularisme ketimbang agamis. Silahkan baca tulisan saya di http://onisur.wordpress.com/2008/07/25/pancasila-sebagai-masalah/

    3. Saya mau bertanya lebih lanjut ke inti skripsi anda mengenai ateisme praktis. Bagaimana anda mengambil kesimpulan kalau ateisme di Indonesia adalah sebuah ateisme praktis. Saya pribadi agak kurang pas dengan istilah ini. Yang lebih tepat mungkin adalah agama abangan. Ateisme praktis kupikir belum terjadi di Indonesia, dengan negara pembanding seperti Jepang, misalnya. Di Jepang, agama hanya menjadi sekedar simbol, dan Tuhan tidak menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang Jepang lahir sebagai Shinto, menikah secara Kristen dan meninggal sebagai Buddha. Di Indonesia ini tidak terjadi. Agama merasuk ke segala sendi kehidupan. Dalam upacara bendera pun ada doa dengan agama tertentu. Bahkan dalam rapat RT ada doa bersama. Dalam upacara perayaan 17 Agustusan di RT-ku, sebuah acara nasionalisme, isi ceramahnya dipenuhi dengan agama, bukan tentang nasionalisme.

    Kalau yang anda maksud, segala korupsi dll adalah karena agama tidak menjadi praktis, kupikir ini benar. Tapi ini tidak berarti mereka ateis. Mereka tetap beragama, hanya tidak murni, suam-suam kukulah imannya.

    Sekali lagi terima kasih atas kritikannya. Saya sangat berterimakasih kalau kita bisa meneruskan diskusi ini.

    Salam

    Komentar oleh Oktoviandy Rantelino — Agustus 12, 2009 @ 11:03 am

  13. Blog yang bagus. Tidak ditulis secara sembarangan dan pemikiran anda cukup cemerlang buat saya. Saya setuju bahwa ateisme merupakan antitesis terhadap agama. Menurut saya kebanyakan orang yang beralih ke paham ateisme karena pemikiran mereka sendiri. Meskipun banyak pula yang menjadi ateis karena buku yang dibaca atau pemahaman yang diberikan oleh temannya. Saya tidak terlalu banyak tahu tentang ateisme. Hanya saja saya memang punya banyak teman yang tidak mengakui keberadaan tuhan. Ateisme bukan percaya pada ketidakberadaan tuhan, tapi tidak percaya pada keberadaan tuhan (begitu kata teman saya ).
    Teman2 saya yang ateis juga mengatakan bahwa beberapa dari mereka bukannya sama sekali tidak percaya akan keberadaan tuhan, tetapi kalaupun tuhan memang ada, lalu urusannya dengan saya apa? “I live my life and i don’t care whether there is God or not”, kurang lebih itu yang dia katakan.

    Saya sendiri masih percaya akan keberadaan tuhan. Tapi saya sangat terbuka terhadap pemikiran2 lain. Menurut saya orang2 Indonesia masih sangat tertutup terhadap pemikiran ateisme karena sejarah kelam ateisme dan mungkin (ini menurut saya pribadi) ajaran agama tertentu yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia sama sekali tidak memberi ruang terhadap pemikiran2 seperti ini (padahal mempelajari kan tidak harus meyakini, justru dengan mempelajari kita dapat memutuskan dan melihat sesuai pemikiran kita sendiri).

    Menurut saya ateisme tidak ada hubungannya dengan komunisme. Mohon dikoreksi karena saya bukan ahli sejarah atau teolog, hanya orang awam. Komunisme lebih menekankan pada penyetaraan dari setiap individu. Pencetus komunisme memandang konsep adanya tuhan sebagai salah satu hal yang memicu manusia menjadi “tidak efisien” (menyisihkan waktu untuk ibadah, memberi uang untuk gereja/ tempat ibadah jauh lebih besar daripada ke orang yang membutuhkan, memberi persembahan/upeti untuk menjadi upah pendeta yang jauh lebih makmur dari jemaatnya sendiri, uang untuk membangun tempat ibadah/ asrama bagi biksu/ pelayan gereja, dll). Makanya komunisme menolak konsep adanya tuhan. Tapi orang yang ateis tidak harus menganut paham komunisme. Jadi yang benar, komunisme itu ateis tapi yang ateis belum tentu seorang komunis.

    Saya akan senang jika pemikiran dibiarkan berkembang bebas di Indonesia. Pemikiran apapun. Biarkan masyarakat yang menentukan sendiri jalan hidupnya. Bagi saya, manusia itu hanyalah makhluk mati saat dia berhenti mempertanyakan kenapa dia hidup, untuk apa dia hidup, apa yang dia percayai dan apa yang tidak, kenapa dia percaya itu atau kenapa tidak, dan esensi lainnya dari kehidupan dia sendiri. Satu lagi, jangan membohongi diri sendiri, jika tidak, katakan tidak, tapi jika ya, katakanlah ya.

    Terima kasih untuk ulasannya. Membantu saya untuk lebih memahami ateisme.

    O ya, lihat2 blog saya juga tidak dilarang lo… :)

    Komentar oleh Bernand Simanjuntak — November 20, 2009 @ 9:21 am

  14. terima kasih sudah mau mengunjungi blog saya. silakan tunggu tulisan2 baru saya. sudah agak lama gak nulis nih. sibuk.

    btw blog anda apa, kok gak ada link-nya?

    Komentar oleh Oni Suryaman — November 20, 2009 @ 11:42 am

  15. b3rn4nd.wordpress.com
    isinya mungkin nanti anda temukan tidak lagi terlalu up to date sebab saya juga sudah mulai jarang menulis (tapi sesekali masih menulis), saya sedang sibuk menyelesaikan penelitian saya (deadline januari 2010)
    selamat melihat2 blog saya :)

    Komentar oleh Bernand Simanjuntak — November 24, 2009 @ 5:37 am

  16. saya langsung jatuh cinta dengan tatanan isi dalam eek otak anda….saya sungguh sungguh suka sekali…
    BEBAS BERPIKIR supaya otak kita tidak dikotomik yg membuat pemikiran sinetron macam indonesia \m/

    Komentar oleh nurify — Oktober 3, 2010 @ 8:34 am

  17. tengkyu, segala kecaman, kritik dan sanggahan diharapkan

    Komentar oleh Oni Suryaman — Oktober 4, 2010 @ 3:11 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: