Kuliah adalah bagian yang tidak terhindarkan dalam sebuah proses belajar. Kuliah adalah sebuah proses satu arah dalam transfer ilmu, dari yang memberi kuliah, guru atau dosen, kepada murid. Kuliah bisa jadi adalah pintu masuk pertama dari sebuah pembelajaran.
Sebagai pintu masuk pertama, ia memegang sebuah peranan yang sangat penting. Di satu pihak ia dengan sifatnya yang satu arah, seolah membawa murid kepada pembelajaran pasif. Di lain pihak ia sebagai pintu masuk ke pembelajaran mandiri, harus membuat siswa menjadi seorang pembelajar yang aktif. Jadi ada semacam konflik kepentingan dalam sebuah penyelenggaraan kuliah. Konflik inilah yang harus dikelola oleh pemberi kuliah supaya ia bisa menjadi sebuah kuliah yang baik.
Apa yang harus ditularkan seorang pengajar
Pengajar adalah pemberi contoh utama bagi seorang siswa yang baru mulai belajar. Ia akan digugu dan ditiru oleh anak muridnya. Untuk itu seorang pengajar harus sangat berhati-hati dalam bersikap karena sikap itulah yang akan ditularkan kepada anak muridnya.
1. Antusiasme
Antusiasme dalam belajar adalah hal pertama yang bisa ditularkan guru kepada muridnya. Seorang guru harus mempunyai minat kepada apa yang ia ajarkan. Tanpa mempunyai minat terhadap apa yang ia ajarkan, ia hanya akan menularkan ketidakminatannya kepada murid-muridnya, dan ini adalah pintu yang pasti untuk mematikan proses pendidikan.
Seorang yang penuh minat akan menularkan antusiasme kepada orang di sekitarnya. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan bahwa “barang” yang dibawanya adalah sebuah barang yang bagus.
2. Cara belajar
Seorang guru, selain pengajar, tentunya juga seorang pembelajar juga. Ia adalah seorang yang tidak pernah berhenti belajar. Hanya dengan cara demikian ia bisa menjadi pembimbing para pelajar, karena ia mengajarkan dari pengalamannya sendiri.
Apa yang harus dilakukan seorang pengajar di kelas
Kelas adalah ibarat sebuah panggung bagi seorang pengajar. Di sana ia harus berusaha semaksimal mungkin menarik perhatian siswa, supaya mereka tertarik pada apa yang diajarkan. Kalau tidak berhasil, entah kelasnya berubah menjadi sebuah kuburan yang semuanya diam tak mengerti atau menjadi pasar di mana semua orang punya kegiatan sendiri-sendiri.
1. Guru harus menjadi jembatan
Ia harus tahu batas pengetahuan anak muridnya. Dengan demikian ia dapat menarik mereka dari apa yang mereka sudah tahu ke hal baru yang mereka belum tahu. Jika seorang guru hanya mengajarkan hal yang sudah diketahui muridnya, kelasnya hanya akan menjadi pengulangan yang membosankan. Jika ia mengajarkan hal yang sepenuhnya baru, para muridnya tidak akan bisa menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan pengalaman belajar mereka. Ini adalah hal yang sangat penting, sehingga hampir seluruh perhatian sang guru harus diletakkan pada hal ini.
2. Guru harus merangsang siswa untuk mau tahu lebih banyak
Guru di kelas adalah ibarat seorang artis di atas panggung. Ia harus menunjukkan betapa menariknya apa yang sedang ia bawakan. Ia bisa membawakannya dengan gaya retoris atau memberikan beberapa informasi yang berhubungan dengan materi yang dibawakan untuk menarik perhatian, misalnya biografi orang yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, aplikasinya pada masa kini atau fakta-fakta lain yang menarik.
3. Mengefektifkan penggunaan waktu
Kelas bisa dibuka dengan pengarahan singkat tentang apa yang akan dipelajari saat itu. Dengan demikian siswa tahu apa yang akan mereka peroleh saat itu dan semua perhatian diarahkan ke sana. Pengarahan satu arah atau kuliah tidak boleh memakan waktu terlalu lama sehingga terlalu banyak informasi yang harus diserap dalam satu waktu, yang hanya akan membuatnya sia-sia. Kira-kira hanya setengah dari waktu, yang lain bisa diisi dengan tanya jawab baik dari guru ke siswa untuk menguji pemahaman atau siswa ke guru untuk pendalaman.
4. Mengarahkan siswa untuk memperhatikan isi kuliah
Kuliah adalah waktu terbaik untuk menambah ilmu baru. Jika kegiatan kuliah disibukkan juga untuk mencatat, perhatian akan terbagi menjadi dua sehingga tidak efektif. Teknologi percetakan dan elektronik sekarang tidak lagi perlu membebankan siswa untuk mencatat. Tentu saja siswa bisa membuat coretan kecil mengenai hal-hal yang ia anggap penting atau hal yang tidak ia mengerti untuk ditanyakan kemudian, selama itu tidak membuat perhatiannya terpecah. Seluruh perhatian para siswa dengan demikian tertuju pada pengajar yang sedang memberikan kuliah, bukan atas buku teks yang ada di meja mereka, atau malah sibuk mencatat. Bila ada hal penting yang memang ingin ditekankan dan harus dicatat oleh siswa, pengajar bisa memberikan jeda sejenak bagi mereka untuk mencatat.
Demikianlah sebuah kuliah yang baik bisa terselenggara. Adanya peralatan elektronik seperti proyektor maupun audio-visual tentunya bisa membantu tapi tidak harus. Tugas membaca terlebih dahulu juga bisa membantu, terutama untuk tingkat yang lebih atas seperti sekolah menengah atas, tapi tetaplah bukan sebuah keharusan. Yang menjadi pusat dari sebuah kuliah tetaplah sang guru.
tulisan ini disadur secara bebas dari buku Paideia Program karya Mortimer Adler
harusnya ini berlaku juga untuk lembaga2 pendidikan sejak SD
Komentar oleh esensi — Juni 6, 2008 @ 4:53 pm
Semoga para guru, dosen dan para pengajar membaca rubrik ini.
Komentar oleh Singal — Juli 9, 2008 @ 8:03 am
[...] Ini perlu dibaca oleh pada pendidik. Bukan main-main nich…pemikiran ini produk import lho…kita kan seneng dan mendewakan produk impor tow..Niich tak kasih link yang sip untuk dibaca. [...]
Ping balik oleh Try to be Wise | Pemikiran Impor — November 6, 2008 @ 7:59 am
Terimakasih atas artikelnya semoga bermanfaat bagi kita semua.
Komentar oleh Romi A — April 29, 2009 @ 5:30 pm
Guru atau dosen itu sebaiknya berperan sebagai fasilitator atau motivator aja ya. Kalo hanya mengandalakan ilmu dari otak atau catatan guru atau dosen aja sih kayaknya masih kurang ya. Belum lagi bisa terjadi deviasi atau distorsi selama proses transfer ilmu dari guru/dosen ke siswa/mahasiswa
Komentar oleh Student — September 26, 2009 @ 12:37 pm