On Everything

Juli 25, 2008

Pancasila sebagai Masalah

Filed under: Tentang Filsafat,Tentang Indonesia — Oni Suryaman @ 3:58 am
Tags: , , ,

tulisan di bawah ini berdasarkan buku karangan HS Gazalba, dalam buku Pantjasila dalam Persoalan, diterbitkan Tintamas Djakarta, 1957

Tulisan ini mungkin dirasa aneh karena kurasa tidak banyak orang yang merasa Pancasila bermasalah. Bagi sebagian besar orang, yang menjadi akar masalah dari krisis yang dihadapi bangsa ini adalah belum diterapkannya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kenyataan seperti ini terjadi karena dua hal: bangsa kita a-historis alias tidak memperhatikan sejarah, dan yang kedua suksesnya cuci otak Orde Baru dengan asas tunggalnya yang membuat semua generasi yang lahir pasca Orba melihat Pancasila sebagai sebuah kenyataan mutlak, seperti kitab suci yang tidak bisa diganggu gugat.

Apakah dari sononya bangsa ini sepakat dengan Pancasila? Tidak. Masalah Pancasila-lah yang paling hangat didebatkan dalam sidang Konstituante. Di waktu itu bangsa Indonesia masih berada pada fase ideologis sehingga memperdebatkan ideologi adalah hal yang lumrah. Era itu adalah sebuah era kebebasan berpendapat, sebelum akhirnya dibelenggu oleh Dekrit Presiden yang mengawali era Demokrasi Terpimpin.

Untuk bisa melihat Pancasila sebagai lebih jernih kita perlu melihat sejarah awalnya Pancasila. Pancasila adalah sebuah istilah yang diciptakan Bung Karno dalam pidatonya di siang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, sehingga dikenal sebagai hari lahirnya Pancasila. Sedikit dari kita yang masih mengingat bahwa Pancasila versi Bung Karno di BPUPKI berbeda dengan Pancasila yang kita kenal sekarang. Pancasila yang kita kenal sekarang adalah Pancasila versi Piagam Jakarta, dengan revisi sila pertama. Pancasila versi Bung Karno adalah seperti ini:

1. Kebangsaan

2. Internasionalisme atau kemanusiaan

3. Mufakat atau demokrasi

4. Kesejahteraan sosial

5. Ke-Tuhanan yang Maha Esa

Bung Karno melihat bahwa yang paling penting sebagai fondasi berbangsa adalah kita harus menjadi sebuah bangsa yang satu. Setelah itu baru menyusul kemanusiaan, kerakyatan, keadilan, dan ke-Tuhanan. Dulu sewaktu masih sekolah aku sempat mempertanyakan kenapa Bung Karno menempatkan ke-Tuhanan sebagai sila terakhir. Apakah Bung Karno menganggap Tuhan tidak penting? Bung Karno melihat sila ke-Tuhanan sebagai sebuah penutup untuk melengkapi. Beliau menyadari bahwa agama-agama yang berbeda di Indonesia juga bisa membawa benih perpecahan. Sebagai penutup, sila ke-Tuhanan versi Bung Karno berarti toleransi beragama, janganlah keempat sila sebelumnya tercerai-berai hanya karena pertikaian agama. Itulah versi Bung Karno.

Lain lagi dengan versi Mohammad Yamin. Beliau menempatkannya seperti ini:

1. Peri Kebangsaan

2. Peri Kemanusiaan

3. Peri Ke-Tuhanan

4. Peri Kerakyatan

5. Keadilan Sosial

Kemudian Yamin merevisinya menjadi:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Rasa persatuan Indonesia

3. Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Mohammad Yamin menempatkan Tuhan di sila pertama. Yamin memaknai sila ke-Tuhanan berbeda dengan Bung Karno. Baginya ke-Tuhanan bukan menjadi dasar negera melainkan pengakuan akan ke-Tuhanan yang Maha Esa. Yamin juga melihat potensi sila ini sebagai pemecah bangsa. Tiap-tiap agama monoteis memiliki konsepsi Tuhan yang berbeda-beda. Belum lagi yang animis, politeis apalagi ateis. Oleh karena itu di dalam pidatonya ia mengatakan bahwa ke-Tuhanan hanya mengikat bagi bangsa Indonesia, tidak mengikat bagi masing-masing pribadi. Namun tawaran ini juga memberikan masalah baru, karena kalau sila pertama tidak mengikat, begitu pula sila berikutnya, dengan demikian peri kemanusiaan juga tidak mengikat, begitu pula kebangsaan, kerakyatan dan keadilan. Ini menjadi masalah besar.

Sementara itu golongan Islam umumnya mempunyai tafsir yang lain. Kelompok ini dapat diwakili oleh pemikiran Hatta, Natsir dan Hamka. Mereka semua berpendapat bahwa sila pertama adalah fondasi bagi sila-sila lain. Karena jika seorang mengakui Tuhan yang Maha Esa, ia juga otomatis menjadi seorang yang berperikemanusiaan, kebangsaan kerakyatan, dan tentunya juga berkeadilan sosial. Sila pertama adalah inti dari Pancasila. Golongan agama, khususnya monoteis, setelah digantinya versi Piagam Jakarta yang berbunyi Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi penganutnya, dapat menerima versi ini.

Akhirnya adalah Pancasila dari Piagam Jakarta-lah yang kita pakai sampai saat ini, minus sila pertama:

Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya; menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi selurah rakyat Indonesia.

Penyusun Piagam Jakarta ini adalah panitia kecil yang terdiri dari Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakkir, Agus Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim dan Mohammmad Yamin. Kelompok ini memang didominasi oleh golongan Islam, sehingga tidak aneh hasilnya seperti demikian. Dan bisa dipahami bahwa Ke-Tuhanan yang Maha Esa versi Piagam Jakarta mengacu pada ke-Tuhanan versi Islam, atau paling tidak versi agama monoteis. Agama politeis seperti Hindu dan agama ateis seperti Buddha tidak mendapat tempat. Begitu pula penganut animisme, dinamisme, dan banyak kepercayaan menurut adat lainnya. Penganut paham materialis seperti komunisme juga tidak mendapat tempat. Jumlah mereka yang diabaikan memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan penganut monoteisme tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka juga berdiam di tanah Indonesia.

Di sinilah akar permasalahan Pancasila, di sila pertama. Sila-sila yang lain relatif tidak bermasalah dan dapat diterima semua pihak. Persoalan ini kemudian dibawa ke Konstituante yang bertugas merumuskan sebuah undang-undang dasar yang tetap, mengingat semua undang-undang dasar sebelumnya (UUD 45, UUD RIS, UUD Sementara) adalah bersifat sementara. Masalah perumusan dasar negara adalah penting sebelum penyusunan konstitusi karena diperlukan pijakan filosofis bagi konstitusi: apakah ia berdasar agama, atau yang lain misalnya. Pancasila yang tercantum di UUD 1945 adalah sebuah kesepakatan sementara yang diterima dalam keadaan darurat, dimana perbedaan-perbedaan diabaikan demi kegentingan situasi. Adalah tugas Konstituante untuk menyelesaikan masalah ini, begitu besar masalah yang diemban oleh Konstituante. Di lain pihak Konstituante adalah badan paling demokratis yang pernah ada di bumi Indonesia. Ia dibentuk oleh pemilu yang paling demokratis dalam sejarah Indonesia. Semua orang menaruh harapan besar pada Konstituante.

Di dalam Konstituante terdapat pertentangan yang kuat tentang tafsir Pancasila ini. Penafsiran kelima sila lima tersebut tidak mencapai kesepakatan mengenai sila apa yang paling mendasar. Golongan agama melihat sila yang pertama, Ke-Tuhanan yang Maha Esa sebagai yang paling utama dan mendasari sila yang lain. Golongan komunis, yang cukup besar waktu itu sebagai pemenang ke-4 Pemilu tentu tidak bisa menerima ini. Mereka mau mengubah sila pertama menjadi “Kebebasan Beragama”. Secara implisit sebenarnya mereka mau memasukkan tafsir bahwa bebas beragama juga berarti bebas tidak beragama, yang menjadi landasan berpikir bagi paham mereka. Ini tentu saja tidak bisa diterima oleh golongan agama, karena melihat ini sebagai pintu masuk bagi komunis untuk mengambil alih negara ini. Pihak nasionalis yang diwakili PNI juga memiliki pemikiran yang lain. Mereka mengikuti pemikiran Bung Karno yang menempatkan kebangsaan sebagai sila yang utama. Bung Karno jika dipaksa menyarikan Pancasila menjadi satu sila, ia menamakannya Ekasila, yaitu “Gotong Royong”. Golongan agama tentu tidak bisa menerima ini juga, karena sila utamanya menjadi bukan sila ke-Tuhanan. Perdebatan tiga golongan ini cukup untuk membuat sidang Konstituante panas. Sayangnya masalah ini tidak pernah selesai. Pada saat Konstituante sedang masa reses, mereka ditelikung dari belakang lewat persekutuan di belakang antara Soekarno lewat PNI, tentara melalui IPKI (Ikatan Partai Pendukung Kemerdekaan Indonesia) dan PKI memboikot Konstituante. Akhir ceritanya sudah kita ketahui semua, Dekrit Presiden yang mengakhiri era paling demokratis dalam sejarah Indonesia.[1]

Sebuah kesempatan emas untuk menyelesaikan masalah bangsa yang paling besar, masalah dasar negara, seperti yang diamanatkan UUD 1945, telah lewat, digantikan dengan masa diktatorial Soekarno. Sejak itu pintu perdebatan dasar negara ditutup, digantikan oleh ideologi Nasakom yang diajukan Soekarno. Hal yang sama pun dilakukan oleh Soeharto dengan ideologi Pancasila (versi Orde Baru) dengan P4 dan 36 butir pengamalan Pancasila. Pancasila yang belum selesai ini pun menjadi alat penguasa, bukan lagi menjadi dasar negara.

Pancasila yang belum selesai ini menyimpan masalah yang sewaktu-waktu bisa terbuka kembali. Seperti kata Sutan Takdir Alisyahbana dalam pertemuan Perhimpunan Pendidikan Indonesia di Bandung tanggal 27 Desember 1950, Pancasila hanyalah kumpulan faham-faham yang berbeda-beda untuk menenteramkan semua golongan pada rapat. Dengan demikian golongan agama dalam ditenteramkan dengan sila pertama. Mereka yang humanis dapat dipuaskan dengan sila kedua. Yang nasionalis dengan sila ketiga, yang demokrat dengan sila keempat dan sosialis dengan sila kelima. Mengenai apakah semuanya bisa berkesinambungan menjadi satu ideologi negara adalah persoalan lain, karena masing-masing golongan mempunyai tafsirnya masing-masing terhadap Pancasila.

Pater Djajaatmadja dalam ceramahnya “Mencari Bidang Pertemuan sebagai Budaya Indonesia” di Balai Budaya Jakarta November 1956 juga berpendapat kurang lebih sama. Menurutnya, suatu sifat yang baik dari bangsa Indonesia adalah pandai mengelakkan kesulitan, bahkan terlalu pandai. Bangsa Indonesia pandai mencari jalan tengah. Salah satu bukti keahliannya adalah Pancasila. Pancasila adalah sebuah jalan tengah, untuk mengelakkan pertikaian. Karena itu menurut Pater Djajaatmadja baik kiranya jika Pancasila dipertimbangkan sebagai bidang pertemuan Kebudayaan Nasional.

Kita memang tidak bisa memutar kembali jarum sejarah. Masa demokrasi terpimpin apalagi masa Orde Baru dengan sukses membuat tidak saja bangsa ini a-historis tapi juga a-ideologis. Lihat saja partai-partai yang berlaga di era reformasi ini, tidak ada yang mengusung ideologi partai yang jelas, apalagi kalau melihat sepak terjang mereka di parlemen. Persekutuan mereka bukanlah persekutuan kebangsaan dan persekutuan ideologis melainkan persekutuan kepentingan, itu pun kepentingan jangka pendek. Hanya segelintir partai saja yang menunjukkan garis politik yang jelas, entah itu agamis, kanan atau kiri. Sisanya cuma melihat angin politik, mana yang bertiup lebih kencang.

Bangsa ini dengan ideologi yang tidak jelas juga terlihat banci. Ideologi kita tidak jelas, kiri atau kanan. Di dalam teks book Pancasila, atau PMP atau PPKn, disebutkan bahwa ideologi kita tidak komunis dan juga tidak liberal. Hal ini sulit diterima oleh akal khususnya bagi mereka yang terdidik, karena tidak kiri atau tidak kanan sama saja dengan tidak berideologi, alias berfondasi di atas pasir longgar. Dan ini di era Orde Baru malah membuat bangsa ini mengambil semua keburukan liberal barat (swastanisasi dan liberalisasi perdagangan) dan semua keburukan komunisme (represi dan sensor informasi). Kebancian ideologi seperti inilah yang membuat bangsa ini bisa terombang-ambing, tergantung pihak mana yang memainkannya.

Mempersoalkan kembali Pancasila memang ibarat membuka kotak pandora. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Di lain pihak sulit untuk melihat bangsa ini maju ke depan tanpa menyelesaikan masalah ideologi bangsa. Nampaknya bangsa ini memang terjepit seperti memakan buah simalakama. Hal seperti ini memang sering terjadi di dalam sejarah. Bangsa Amerika saja harus mengalami perang sipil yang memakan korban sangat banyak untuk menyelesaikan masalah ideologinya. Mudah-mudahan bangsa ini bisa belajar dari sejarah bangsa lain sehingga kita bisa menyelesaikan masalah ideologi bangsa ini dengan gontok-gontokan di alam pemikiran saja, tidak di level fisik. Meskipun kalau melihat perkembangan belakangan ini sulit diharapkan bangsa ini bisa menyelesaikan masalah sepeka ini tanpa gontok-gontokan fisik. Mungkin memang tepat para bapak bangsa kita dulu sebelum merdeka yang lebih menitikberatkan pada bidang pendidikan, untuk membuat anak-anak bangsa ini melek. Tanpa itu kita hanya menjadi bulan-bulanan sejarah.


[1] Adnan Buyung Nasution, Dasar Negara Islam tak bisa Dipaksakan, dalam TEMPO, Edisi 14-20 Juli 2008

18 Komentar »

  1. Wah saya tidak tahu tentang Sejarah pancasila…., tapi klo coba-coba ber-filsafat (Maap klo ngga valid, maklum maklum mahasiswa Fakultas Pertanian).

    sekedar komentar/info dari Salatiga…

    Saya agak pesimis bahwa itu murni pemikiran M. Yamin. saya rasa itu sudah hasil diskusi2. Karena klo menurut yg saya dapat dari belajar filsafat dikampus saya, waktu itu kami diminta untuk mencari siapa yang mendasari tiap2 sila. misalnya, sila ke-2 itu ada pemikiran karl marx…
    Memang lebih mendalam tentang sejarah pancasila, ada di jurusan PPKN

    sekian komentar saya…

    Pak Oni, kirim opini dong ke Pers Mahasiswa Kami, http://www.scientiarum.com, topik bebas

    best regards
    Geritz :-)


    anda benar, para bapak bangsa kita sangat dipengaruhi oleh filsuf2 dunia. salah satunya adalah adam mueller yang menjadi dasar pemikiran negara kesatuan, yang mungkin akan saya bahas di kali lain. mengenai karl marx dan sila ke-2, saya belum berani bilang. kalau ada waktu saya akan pelajari dokumen sidang2 PPKI dan BPUPKI, mudah2an bisa ditelusuri dari sana

    Komentar oleh Geritz — Juli 25, 2008 @ 6:12 am

  2. Sewaktu masih SMP, saya pernah bertanya diluar pelajaran pada guru PMP tentang Pancasila yang katanya tidak kiri dan tidak kanan alias berada ditengah. Dulu saya berpikir berada ditengah adalah yang terbaik. Tapi semakin dewasa saya malah merasa berada ditengah itu bagaikan menanti angin baik alias plin-plan. Jika angin kekiri kuat, ikutlah kita kekiri, begitu juga sebaliknya.

    Penafsiran Pancasila sendiri menjadi PR (Pekerjaan Rumah) tersendiri, belum lagi pelaksanaan dan pengamalannya. Terus terang saja, saya cukup kagum pada pemerinta ORBA yang dengan beraninya mengeluarkan 36 butir pengamalan Pancasila, walaupun hanya sebagai alat penguasa. Saya telah mengikuti penataran hingga 2 kali saja tidak dapat menghapal walaupun cuma satu kalimat, tak usah komentarlah mengenai pengamalannya.

    NB.
    Jadi ingat pada guru PMP yang sama ketika saya bertanya mengenai para penguasa yang notabene jenderal2 berbintang, mengapa mereka memiliki rmah besar dengan harta berlimpah. Jawabannya sederhana saja: Khan malu pada tamu2 negara yang berkunjung kerumah para pemimpin. Bukankah kondisi para pemimpin negara adalah cerminan kondisi rakyatnya.
    Sekarang, saya cuma bisa tertawa kalau ingat hal tersebut. Dalam hati saya berpikir,”itulah gaya para pemimpin negara penghutang”.


    sekedar komentar lucu2an saja. saya tahu kenapa yang di tengah disebut yang terbaik. kan waktu itu golkar ada di tengah, diapit PPP dan PDI. Haha…

    Komentar oleh yusahrizal — Juli 25, 2008 @ 9:02 am

  3. Menurut saya, kita harus berhati-hati pula dengan “kepentingan” penyaji sejarah. Apalagi ketika kita pernah mengenyam dengan masa keemasan orde baru. Memberi saja sedikit segala pikiran kita dipolakan oleh doktrinasi, sangatlah berbahaya.

    Akan tetapi, sajian diatas mantap!!!

    Komentar oleh rudylatuperissa — Juli 26, 2008 @ 12:12 pm

  4. Masalahnya apakah dari sila pertama dapat diinterpretasikan bhw bangsa Indonesia “harus” beragama (satu dari 5 (atau 6) agama yg diakui)?. Saya kurang mengerti masalah politik & hukum shg saya tidak bisa mengerti asal muasal dari pemaksaan hrs pilih satu dari 5 agama spt yg skrg ini.


    tidak otomatis seperti itu. sila pertama bisa menjadi celah bagi negara untuk mencampuri urusan beragama warganegaranya. kemudian ini lebih diperjelas oleh pasal 29 UUD 45 yang menjadi landasan hukum bagi departeman agama, dan dengan itu mengamini cengkeraman negara atas agama yang dipeluk oleh warganya. masalah itu sendiri bisa dibuat sebuah tulisan panjang yang lain.

    Komentar oleh Karl Karnadi — Juli 27, 2008 @ 9:02 am

  5. @Bangsa ini dengan ideologi yang tidak jelas juga terlihat banci. Ideologi kita tidak jelas, kiri atau kanan. Di dalam teks book Pancasila, atau PMP atau PPKn, disebutkan bahwa ideologi kita tidak komunis dan juga tidak liberal. Hal ini sulit diterima oleh akal khususnya bagi mereka yang terdidik, karena tidak kiri atau tidak kanan sama saja dengan tidak berideologi, alias berfondasi di atas pasir longgar. Dan ini di era Orde Baru malah membuat bangsa ini mengambil semua keburukan liberal barat (swastanisasi dan liberalisasi perdagangan) dan semua keburukan komunisme (represi dan sensor informasi). Kebancian ideologi seperti inilah yang membuat bangsa ini bisa terombang-ambing, tergantung pihak mana yang memainkannya.

    Saya nggak jelas apa mau anda. Menurut anda yang anda anggap ideal yang seperti apa ???


    Saya tidak menawarkan solusi ideal dalam hal ini. Yang saya katakan hanyalah, ideologi bangsa kita adalah sebuah perdebatan yang belum selesai. Sidang Konstituante membuktikan itu. Ini adalah PR besar bagi kita, disadari atau tidak.

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 2, 2008 @ 6:43 am

  6. Kalau kita bicara sesuatu yang melibatkan opini sedemikian banyak orang, saya rasa tidak ada perdebatan apapun yang selesai. Kalo anda bilang Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah perdebatan yang belum selesai. Ya menurut anda bagian mana yang perlu kita selesaikan? Cara menyelesaikannya bagaimana ? Apakah anda bisa menjamin penyelesaian model anda itu juga bisa dianggap selesai oleh pihak lain lagi. Masalahnya kan nggak sesederhana ngomong : Pancasila itu ideologi banci. Lha anda sendiri ditanya solusi nggak bisa njawab. Ditanya apa ideologi yang menurut anda baik juga nggak bisa njawab.

    Kalo nggak bisa njawab ya untuk sementara sambil menunggu anda mikir : Kita sepakati saja Pancasila adalah idelogi terbaik untuk kita bersama pada saat ini. Terlepas dari kekurangannya menurut anda. Anda sepakat dengan saya ? Atau anda punya ide lain lagi?

    ada beberapa hal yang bisa saya komentari
    1. bangsa indonesia, seperti yang telah saya jelaskan di tulisan di atas adalah bangsa yang a-ideologis. ditambah dengan pancasila yang gak jelas dan serba kompromis, lengkaplah itu. gaya kompromis seperti ini sebenarnya ada ideologinya sih, itu namanya ideologi jawa (bisa dibahas ditulisan lain). jawa selalu menyerap semua, islam diserap, hindu dan buddha diserap. kalau ada perbedaan diakomodir, walaupun perbedaan itu sebenarnya kontras dan harus diselesaikan. yang penting harmoni dan tenggang rasa. lama2 karena ada konflik internal yang tak terselesaikan (mendem jero), ujung2nya meledak menjadi amuk. itulah ideologi yang kita pegang. saya memilih kata2 bung karno bahwa REVOLUSI BELUM SELESAI. bangsa kita belum selesai nation building-nya.
    2. di lain pihak mengungkit masalah ideologi adalah masalah besar, ibarat membuka kotak pandora. membawa masalah ini ke akar rumput sama saja dengan bunuh diri. saya pikir, lebih baik masalah ini diselesaikan di kalangan akademik terlebih dahulu, kemudian menyebar ke politisi, ke massa partai dan ormas, baru ke rakyat. keseluruhan proses bisa mencapai 50-an tahun. tapi begitulah, kalau dilakukan dengan cepat, bisa menimbulkan gejolak yang besar. ingat, ideologi itu bukan barang tabu untuk dibicarakan dan dibahas.

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 4, 2008 @ 11:02 am

  7. @ jawa selalu menyerap semua, islam diserap, hindu dan buddha diserap. kalau ada perbedaan diakomodir, walaupun perbedaan itu sebenarnya kontras dan harus diselesaikan. yang penting harmoni dan tenggang rasa. lama2 karena ada konflik internal yang tak terselesaikan (mendem jero), ujung2nya meledak menjadi amuk

    Perbedaan itu kontras dan harus diselesaikan. Kalo harus diselesaikan kan perlu kita pikirkan menyelesaikannya bagaimana. Jawa menyerap semua – saya rasa itu bagus. Kompromi juga bagus dalam keadaan negeri kita sekarang ini.

    Lha kalau solusinya bukan kompromi lalu bagaimana ??? Dengan keanekaragaman, kemajemukan yang demikian besar di negeri kita ini, solusi yang menurut saya paling masuk akal ya kompromi.

    Bahwa kompromi pun tidak bisa memuaskan semua pihak. Tentu saja itu benar. Tetapi saya rasa tanpa adanya kompromi, negara ini lebih parah lagi.

    Masalah kata-kata Bung Karno : Revolusi belum selesai. Saya rasa konteksnya bukan untuk mengubah ideologi negara. Tetapi perjuangan berkelanjutan terus menerus. Jadi saya rasa nggak tepat kalau anda kaitkan dengan Pancasila yang anda anggap ideologi banci.

    perlu dilihat bahwa saya menjawab ini dalam konteks modernisme. semua persoalan diselesaikan dengan rasional. saya pikir, semua bapak bangsa kita juga adalah para modernis, melihat latar belakang pendidikan mereka dan tulisan2 mereka.

    kritik saya ini memang mengarah pada kritik pada filsafat jawa yang kental sekali mewarnai ideologi bangsa kita pada prakteknya. ini akan saya bahas dalam tulisan lain, yang belum selesai karena banyak sudut yang harus dilihat terlebih dahulu.

    saya tidak tahu persis apa yang ada di dalam benak soekarno. tapi dengan ideologi nasakom yang beliau usulkan, beliau ingin (seperti dalam filsafat jawa) menyatukan semua. sayangnya komunis tidak mungkin disatukan dengan agama. gaya jawa gak bisa dipakai untuk menyerap islam sekaligus komunis! soekarno boleh punya impian demi menyatukan bangsa indonesia. namun impian tersebut tidak realistis. kompromi gaya jawa mungkin dulu bisa dipakai untuk menyatukan hindhu, islam dan buddha. tapi untuk menyatukan islam dan komunis, gak deh kayaknya…

    pancasila saya sebut banci karena terlalu terbuka untuk penafsiran. silahkan baca tulisan saya. semua sudah saya jelaskan disitu.

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 5, 2008 @ 9:34 am

  8. Ketika Soeharto membuat 36 butir P4 – banyak juga akademisi yang ngomel karena dianggap Soeharto membatasi tafsir Pancasila. Atau dianggap memonopoli tafsir. Banyak pihak yang ingin agar tafsir Pancasila itu dibebaskan, bukan disetel oleh pemerintah. Tapi anda malah berpikir sebaliknya. menurut anda Pancasila banci karena tafsirnya terlalu terbuka.

    Kalau terlalu terbuka. Apa menurut anda, harus ada pihak-pihak tertentu yang memegang otoritas atas satu tafsir terhadap Pancasila. Begitu ???
    Atau anda menganggap ada ideologi lain yang tafsirnya relatif lebih tertutup yang bisa menggantikan Pancasila ???

    @silakan baca tulisan saya. Ya tentu saja saya sudah membaca tulisan anda. Kalau belum, masak iya saya komentari sedemikian panjangnya. Hi Hi Hi.

    SALAM YA

    justru itu, masalahnya. kalau pancasila multitafsir, jadi suka2 dong. yang harus disalahkan bukan hanya soeharto yang membuat tafsir sendiri, pancasila sendiri membuka celah untuk itu.
    permasalahnya bukan di siapa yang punya otoritas menafsirkan pancasila. dalam hal ini saya sepakat dengan sidhi gazalba, yang bukunya saya kutip dalam tulisan ini, bahwa pancasila sebagai ideologi adalah bermasalah.
    mengenai ideologi bangsa, itu adalah beban yang harus diemban bangsa ini bersama, yang mestinya bisa diselesaikan dalam konstituante, yang ditelikung dari belakang sehingga gagal bekerja.

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 6, 2008 @ 6:37 am

  9. Masalah konsituante yang ditikung dari belakang, saya rasa itu masa lalu. Yang ingin saya tahu adalah bagaimana ide anda dalam mengatasi Pancasila yang anda anggap bermasalah itu. Kalau Pancasila sebagai ideologi , anda anggap bermasalah. Alangkah eloknya bila anda ikut menyumbangkan pikiran anda bagaimana cara mengatasi permasalahan Pancasila tersebut. Apakah caranya dengan konstituante seperti keinginan anda ??? Kalau iya , yang bisa kita anggap konsituante sekarang ini apa ? DPR kah ??? Kalau DPR sekarang ya saya sangat tidak yakin bisa mengganti Pancasila. Atau setidaknya bisa membuat rumusan tunggal tentang Pancasila. Itupun jika memang maksud anda bahwa tafsir tunggal is a must.

    Intinya : bagaimana mencari solusi untuk hal yang anda anggap bermasalah tersebut.

    Apakah lewat DPR ? Referendum mungkin ? Diskusi terbatas elit tertentu atau ????
    Terus anda sendiri punya ide apa untuk mengatasi permasalahan Pancasila ini ? Gambaran ideologi yang anda anggap ideal itu kurang lebih seperti apa sih ?

    saya tidak berani beranjak terlalu jauh. yang ingin saya tunjukkan dari tulisan ini adalah bangsa ini kehilangan arah karena ada sejarah yang putus. yang bisa kita lakukan adalah melihat kembali pergulatan yang telah dimulai bapak2 bangsa kita. saya baru menemukan pidato bung karno tentang pancasila dalam sidang BPUPKI (nanti saya posting di sini ringkasannya). mereka punya pikiran yang jelas tentang mau dibawa kemana bangsa ini. kita tidak (atau malah gak mikir). sudah saatnya kita menyambung kembali tongkat estafet yang sudah dimulai dari bapak2 bangsa kita, yang sudah putus beberapa dekade ini.

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 6, 2008 @ 9:11 am

  10. Oke deh. Agar diskusi kita ini lebih jelas arahnya dan saya bisa menangkap maksud anda secara lebih tegas. Saya tunggu deh postingan anda berikutnya tentang pidato Bung Karno. Tentu saya juga kepengin tahu opini atau pendapat atau interpretasi anda, terhadap pidato itu seperti apa. OK. SALAM buat anda. Sukses selalu…-

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 8, 2008 @ 2:29 am

  11. Tadinya, setelah cukup kenyang dengan realitas ironisme keberagamaan yang jauh dari nilai-nilai agama itu sendiri, saya berpendapat bahwa tak ada hal yang sulit dan kompleks ditafsirkan kecuali teks-teks suci Agama. Tapi ternyata tidak. Sebuah ideologi, ternyata memiliki potensi ala bom juga saat ditafsirkan kembali.
    .
    Mengamati diskusi Anda dengan mas Lovepassword, saya mencoba menjadi mediator saja. Antara Pak Suryaman dengan mas lovepassword, yang terjadi hanya masalah perpedaan perspektif saja, dengan catatan, “gugatan” mas lovepassword amat rasional, dimana substansi postingan Anda yang menyajikan suatu potret buram yang harus ditinjau kembali, ternyata tidak disertai poin-poin alternatif atas statemen “Pancasila as a Problem”. Dengan sendirinya, bisa dikatakan bahwa postingan Anda kali ini, tak ada beda dengan seseorang yang hanya mampu menulis berbagai realita dan kepincangan sosial tanpa memberikan jawaban-jawaban alternatif atas segenap masalah yang dipaparkannya.
    .
    Namun tentu, apapun itu, suatu gagasan/opini macam apapun, boleh dan bebas diekspresikan (kita punya hak bersuara dan mengeluarkan pendapat toh?). Terlebih ini adalah blog pribadi Pak Suryaman. Mestinya hal ini pula yang dipertimbangkan oleh mas lovepassword.
    .
    Atau kalau tidak, kenapa tidak mas lovepassword sendiri yang memberikan argumen jawaban atas “kegalauan” Pak Suryaman. Sebab bisa jadi orang menulis sederet masalah di blog pribadinya, adalah justru agar ada orang lain yang memberikan jawaban solusi, bukan kritik isi tulisan.
    .
    Jadi, akurlah. Mas Lovepassword anggap saja Pak Suryaman sebagai “minoritas” baru dengan sudut pandangnya yang berbeda dengan mainstream. Dan Pak Suryaman juga hendaknya menganggap mas lovepassword sebagai seorang yang tidak mau masalah/beban mental bangsa ini ditambahi dengan pertanyaan/pernyataan Anda yang memiliki sedikit “bahaya” laten jika dilempar kepada publik.
    .

    Salam,


    terima kasih anda bisa melihat bahwa ideologi juga menyimpan kepelikan yang tidak kalah jika dibandingkan dengan teks agama.
    mengenai mengapa saya “tidak” memberikan alternatif sebenarnya adalah sebuah penundaan. saya tidak mau tergesa2 untuk memberikan jawaban, melainkan ingin melihat masalahnya secara jelas terlebih dahulu, melihat jawaban2 yang telah diberikan oleh para pemikir sebelumnya dan mengomentarinya sebelum memberikan jawaban versi saya sendiri. saya sekedar mengikuti tradisi berfilsafat saja yang tidak mau terburu melainkan menunda dan mengambil jarak.

    Komentar oleh esensi — Agustus 29, 2008 @ 6:46 pm

  12. @Esensi : Hik hik masalah akur, ya saya rasa sedari kemarin juga sudah akur. Kita kan cuma berdialog, nggak bawa pentungan, nggak bawa golok . He he he. Masalah setuju atau tidak setuju ya saya rasa biasa saja.

    Masalah pemikiran Pak Oni Suryaman yang anda anggap minoritas ? Saya nggak pernah membuat dikotomi pikiran mayoritas atau minoritas. Kalau setuju ya tak dukung, kalau nggak ya nggak tak dukung. Saya bertanya itu kan dalam rangka mencari tahu : Soalnya saya malah jadi bingung harus setuju atau nggak setuju.

    Saya menghargai bahwa ini blog pribadi beliau, saya tidak mengatakan kata-kata kasar apapun di sini. Cuma ngajak tukar pikiran saja, boleh kan ? Toh ada kotak komentar gunanya kan emang untuk diisi bagi yang mau kan.

    Lagi pula bagi saya pemilik blog memiliki hak sepenuhnya, mau diapakan komentar saya.

    Hik hik…Saya serius, saya tinggalkan komentar di mana-mana. Kalo dimuat ya syukur, kalo perlu ditindaklanjuti komentarnya ya saya bales lagi. Kalo nggak dimuat ya saya nggak pernah protes. Pemilik blog tentu punya pemikiran sendiri-sendiri terkait komentar saya.

    Masalah bahaya “laten”, saya serius juga nih : Saya sama sekali tidak menganggap postingan Pak oni Suryaman sebagai bahaya laten. Saya cuma pengin tahu saja kelanjutannya. Masalah kritik terhadap negara, dsb – dalam negara ini yang mengaku berdemokrasi , saya rasa wajar-wajar saja.

    Masalah saya harus memberikan solusi terkait Pancasila : Dalam kasus kita kali ini terlepas dari adanya noda-noda sejarah yang dipaksakan oleh IR Soekarno, saya berpendapat Pancasila masih yang terbaik untuk bangsa ini pada saat ini. Jadi saya tidak merasa perlu memberikan alternatif solusi.

    Bahwa ada dekrit presiden 5 juli 59 yang bisa kita anggap mencederai demokrasi itu benar. Saya juga setuju itu. Saya barusan baca buku biografinya Pak Mahfud MD, mantan MenHan kita. Di buku itu sedikit di bahas mengenai Dekrit karena kita tahulah pada jaman Pak Mahfud, Gusdur juga sempat mengeluarkan dekrit.

    Dekrit apapun pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap konstitusi. Masalah darurat atau nggak – urusan selanjutnya adalah di tangan rakyat dan militer. Kalo semuanya mendukung ya OK, kalau nggak ya presiden malah bisa dianggap mengkudeta negara. Itu pendapat Pak Mahfud dan didukung oleh koleganya yang juga pakar-pakar hukum.

    Terlepas dari apapun alasan Soekarno, saya pribadi juga setuju bila dekrit presiden dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap Undang-undang yang berlaku saat itu. Tetapi : ada tapinya lho ya .

    Bagi saya pribadi nggak ada relevansi yang signifikan antara dekrit presiden pada masa lalu dengan idelogi apa yang kamu anggap ideal pada saat ini.

    Bahwa ada noda dalam proses itu – kalau sekarang kita tidak bisa menemukan alternatif lain yang lebih masuk akal, ya kita terima saja dong. Kecuali kalo anda merasa punya alternatif idelogi yang menurut anda relatif bersih dari noda.

    Jadi sorry saja Mas Esensi, saya nggak memberikan alternatif solusi karena pada saat ini saya masih merasa Pancasila masih yang terbaik untuk bangsa ini yang begitu majemuk.

    Oke, SALAM Hangat untuk Anda dan Pak Oni Suryaman.

    saya sebenarnya setuju dengan anda bahwa pancasila masih yang terbaik saat ini. mengutak-atik pancasila di dalam politik kita adalah membuka kotak pandora, seperti yang kutulis di esai ini.
    tulisan ini adalah semata2 tulisan akademis yang ingin melihat masalah dengan jelas, dan mencoba melihat apakah pancasila adalah sebuah dasar negara yang cukup kukuh. kalau pun nantinya ada kesepakatan baru, saya pikir pancasila juga tidak akan diganti karena memiliki nilai historis. yang diganti hanya tafsir akan pancasila yang lebih utuh, yang disahkan dengan amandemen konstitusi.

    sedikit preview aja buat tulisan berikutnya, saya baru mendapatkan tulisan2 bung karno yang memberikan tafsir pancasila dengan manipol usdek, dan juga tulisan yamin dan soepomo. tulisan hatta belum ketemu. ini akan saya tampilkan beserta komentar saya pribadi. menarik bahwa tafsir2 ini tidak pernah kita ketahui lewat sekolah. dan banyak yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini

    Komentar oleh lovepassword — Agustus 30, 2008 @ 11:01 pm

  13. Bahan pustaka yang Anda gunakan untuk mentafsir Pancasila dirasa kurang tepat sehingga Anda sebagai penulis blog ini pun menjadi gambang akan tafsir Pancasila itu sendiri dan cendurung untuk memperdebatkan isi Pancasila.Kalaupun sudah tepat,satu-satunya yang sebaiknya Anda pertimbangkan dalam pemaksaan ide kepada publik adalah sampai sejauh mana ide pemikiran Anda bisa mengeksplorasi,mentafsir,dan sebagainya sehingga dapat diterima oleh ide pemikiran milik individu lain?
    Komentar-komentar Anda tentang Pancasila juga sedikit dipengaruhi oleh konspirasi yang terkandung dalam wacana/teks dari bahan-bahan pustaka yang Anda baca sebagai bagian dari sumber informasi untuk menulis blog ini.Padahal menyaring informasi dari bahan-bahan pustaka itu harus tepat dan harus mampu memilah-milah informasi yang baik dan tidak ada kecenderungan konspirasi di dalamnya.mengapa pula harus memaksakan konspirasi itu kepada rakyat Indonesia?
    Cobalah untuk tidak pesimistis terhadap falsafah negara ini,gali lagi lebih dalam tentang Pancasila.Setelah dipelajari dan dipahami lebih mendalam tentang Pancasila,nantinya Anda bisa menyimpulkan bahwa Pancasila memang cocok dijadikan sebagai falsafah NKRI.
    Bahasa Indonesia ini indah,jadi diperlukan pemikiran yang tidak sederhana untuk mengartikan sebuah kalimat.itu lah mengapa saya cinta terhadap bahasa Indonesia meskipun bahasa Indonesia murni bahasa asli penduduk Indonesia melainkan adopsi dari bahasa Sansekerta,Rumania,Belanda,dan bahasa lainnya.Siapa yang peduli?ini lah bahasaku,bahasa ibuku.
    Terakhir komentar saya tentang isi blog ini—Pancasila Sebagai Masalah,lebih baik ditilik kembali apakah bahan pustaka yang Anda baca mengandung makna gamang atau tidak,ada konspirasi atau tidak,dan beri kesimpulan atau pendapat yang murni dari ide pemikiran Anda sendiri.
    Masih semangatkah Anda dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI?Semangat kan?

    bisakah anda to the point, pernyataan mana yang tidak anda setujui, sehingga kita bisa berdialog dengan logis. literatur yang saya baca adalah dari masa demokrasi parlementer yang lebih jujur dan berani membahas pancasila secara rasional. justru literatur di jaman ordebaru dan orde lama lebih banyak pengagungan dengan melupakan beberapa konsekuensi logis. pancasila buatan manusia, wajar kalau tidak sempurna.

    tujuan saya menulis ini justru karena cinta kepada indonesia. saya kuatir, pancasila tidak cukup “sakti” seperti yang kita bayangkan, karena ada beberapa kelemahan logis di dalamnya. kita menerima pancasila hanya sebagai sebuah kompromi, alias menyimpan bom waktu yang sewaktu2 bisa meledak.

    Komentar oleh revuesuper — September 12, 2008 @ 12:15 am

  14. Tapi ini memang sungguh topik sulit : @Pancasila mirip bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.

    Hmmm Apa bagusnya kita ledakkan sekarang saja, ya ??? Minimal kita kan sudah tahu kapan waktu meledaknya. Tetapi Masak solusinya gitu sih. Kalo muncul reaksi berantai bagaimana ???

    tetapi kalo kita pake penjinak bom? Lha caranya menjinakkannnya gimana ? Pusing kan ??? Iya sama. Saya juga pusing.

    SALAM YA

    meledak atau tidak, beberapa pihak sudah memanfaatkannya. yang liberal mengusung pasar bebas yang sebenarnya bertentangan dengan sila ke5. yang fundamentalis dengan mudah membuat perda syariah dengan memanfaatkan kelemahan sila1. seperti yang saya bilang pancasila bisa ditunggangi siapa saja tanpa konsekuensi hukum.

    Komentar oleh lovepassword — September 13, 2008 @ 8:35 pm

  15. [...] December 25, 2008 Pancasila sebagai Masalah [...]

    Ping balik oleh Pancasila adalah masalah dasar « Basrihasan’s Blog — Desember 25, 2008 @ 5:55 pm

  16. pancasila idiologi tipu-tipu, ga tegas dan ga jelas, hanya berorientasi pada kehidupan fana, pikiran sang “pembuat” hanya kehidupan dunia makanya moralnya lemah-lemah

    Komentar oleh reza prima matondang — Juni 17, 2010 @ 7:33 am

  17. sebelumnya saya minta maaf, saya bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. melainkan orang yang mempunyai cita cita yang setinggi bintang. kita sebagai warga negara indonesia, yang termasuk orang2 berprestasi terutama orang orang yang bergegas di dalam pemerintahan janganlah menggoyahkan sebuah asal usul ideologi negara. melainkan harus menguatkan, dan mengkokohkan dasar negara, sebagaimana yang menjadi tiang sebuah rumah.
    bagaimana bisa berdiri sebuah bangunan kalau tiangnya pun tidak ada ???
    sebenarnya kekacauan di negeri kita itu bukan lah karena faktor kemiskinan, melainkan roboh nya yang melanda dasar negara kita…
    lebih baik miskin terhormat daripada kaya melarat…!!!
    ingatlah…!!! “PANCASILA”…!!!

    Komentar oleh asep kana — September 29, 2010 @ 12:36 pm

  18. sebelum terlalu jauh menganalisanya, saya hanya ingin bertanya.. ” mengapa haru pancasila yang artinya dasar itu ada lima, mengapa tidak enam atau tujuh saja?”

    Komentar oleh Doni — Oktober 14, 2010 @ 3:57 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Get a free blog at WordPress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: