On Everything

September 1, 2008

Teodisea: Tuhan dan Masalah Kejahatan

Filed under: Tentang Agama,Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 1:39 am
Tags: , , ,

Teodisea adalah pembelaan akan adanya Tuhan. Teodisea berasal dari kata theos (Tuhan) dan dike (keadilan), jadi digabungkan menjadi mengadili adanya Tuhan, atau pengadilan akan adanya Tuhan.

Tantangan paling besar di dalam teodisea adalah menjawab tentang adanya kejahatan dan penderitaan di dunia. Kenyataan bahwa kejahatan dan penderitaan ada, mempertanyakan eksistensi Tuhan yang mahabaik, mahakuasa, mahatahu, mahaadil.

Pertanyaan tersebut dapat diringkas menjadi pertanyaan Epikuros: adanya kejahatan dan penderitaan di muka bumi kontradiktif dengan kenyataan bahwa Tuhan mahabaik dan mahakuasa. Adanya kejahatan dan penderitaan logis jika dijelaskan dengan Tuhan yang mahabaik namun tidak mahakuasa, atau mahakuasa tetapi tidak mahabaik; yang jelas tidak keduanya sekaligus.

Filsafat sejak semula mencoba untuk memecahkan masalah tersebut, namun itu bukan hal yang mudah. Meskipun demikian filsafat dapat dipakai untuk mendekati masalah tersebut dan memeriksa argumen-argumen yang telah dikemukakan.

Malum Morale dan Malum Physicum

Masalah tentang adanya kejahatan di muka bumi dapat diringkas menjadi dua, yaitu malum morale dan malum physicum. Malum morale adalah kenyataan bahwa adanya kejahatan, secara harfiah berarti keburukan moral, yaitu kenyataan bahwa di dunia ini ada keburukan dalam moralitas; kejahatan benar-benar ada. Malum physicum adalah kenyataan bahwa adanya penderitaans secara harfiah berarti keburukan fisik, yaitu kenyataan bahwa dunia ini tidak selalu berjalan baik khususnya bagi makhluk berperasa (sentient being); ia bisa mendatangkan penderitaan.

Masalah malum morale di dalam teodisea adalah bagaimana Tuhan yang mahabaik membolehkan adanya kejahatan di muka bumi ini. Jika ia sungguh mahabaik, semestinya seluruh dunia ini baik adanya. Masalah malum physicum mirip logikanya dengan malum morale. Jika Tuhan mahabaik dengan mudah ia dapat menghilangkan semua penderitaan dari muka bumi ini.

Orang kemudian mulai mencoba menjelaskan mengapa kejahatan dan penderitaan ada tanpa menghilangkan eksistensi Tuhan. Beberapa di antaranya adalah:

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Penderitaan adalah hukuman akibat dosa. Pernyataan ini umumnya diajukan oleh penganut monoteis. Penyataan ini bisa dibantah dengan pertanyaan: bagaimana dengan penderitaan yang dialami oleh seorang bayi yang tak berdosa? Nyatalah bahwa pendekatan ini tidaklah cukup. Sementara para penganut agama timur biasanya mengajukan pendapat lain. Mereka menjelaskannya dengan reinkarnasi, penderitaan adalah akibat dari perbuatan sebelumnya atau hukum karma. Maka dengan demikian penderitaan yang dialami oleh seorang bayi dapat dijelaskan dengan akibat dari perbuatan jahat pada kehidupan sebelumnya. Penjelasan yang kedua ini relatif lebih baik daripada penjelasan pertama walaupun tetap tidak memberikan jawaban final. Penderitaan seorang bayi akibat cacat atau bencana alam mungkin bisa dijelaskan secara demikian (meskipun sulit untuk dibuktikan), namun penderitaan seorang bayi akibat siksaan yang dilakukan oleh orangtuanya lebih sulit untuk dijelaskan secara demikian, karena orangtuanya secara hakiki dapat melakukan pilihan untuk tidak menyiksa bayi tersebut.

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Penderitaan di dunia akan dibalas dengan ganjaran di surga. Penjelasan ini lebih lemah dari penjelasan yang pertama. Tuhan dengan model yang demikian Tuhan yang sadis, yang mau melihat orang menderita terlebih dahulu sebelum menganugerahkan kebahagiaan. Tuhan seperti ini adalah Tuhan yang gila kuasa, yang lebih dekat dengan seorang megalomania ketimbang sebuah entitas maha.

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Ada juga yang menyebutkan bahwa penderitaan adalah cobaan untuk menguji mutu manusia. Dalam versi lain juga dikatakan penderitaan memurnikan hati. Pernyataan ini sama saja dengan pernyataan sebelumnya, Tuhan sebagai makhluk yang suka mempermainkan ciptaan-Nya, alias pencipta yang kekanak-kanakan.

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Dunia dengan penderitaan lebih baik daripada dunia tanpa penderitaan; Pendekatan seperti ini adalah utilitaris seakan-akan dibutuhkan adanya penderitaan supaya secara total dunia lebih baik.

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Berhadapan dengan Tuhan, semua harus diam tanpa protes. Ini adalah pendekatan gaya fundamentalis yang tidak memakai rasio dalam beriman. Cara beriman seperti ini adalah beriman dengan mematikan nalar, dan dengan demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan rasio, dan gagal memenuhi keinginan manusia untuk menggali lebih jauh kemanusiaannya.

Penjelasan yang paling masuk akal adalah seperti ini: Adanya kejahatan dapat didekati dari kenyataan bahwa manusia diciptakan menjadi makhluk yang bebas. Pemahaman ini diambil dari kejatuhan manusia dari firdaus. Kejatuhan ini jangan dipandang sebagai jatuh ke dalam dosa, melainkan manusia jatuh menjadi ciptaan. Seperti kita ketahui kejatuhan itu disebabkan karena manusia makan buah terlarang—buah yang membuka pikiran manusia sehingga mengerti baik dan buruk. Buah tersebut adalah kehendak bebas. Adanya kejahatan adalah sebuah konsekuensi dari kebebasan manusia.

Adanya penderitaan dapat dilihat dari kenyataan bahwa ciptaan secara hakiki tidak sempurna seperti Pencipta, yang digambarkan sebagai diusirnya manusia dari taman firdaus. Ini tidak harus berarti bahwa pencipta dan ciptaan terpisah selama-lamanya, Untuk bebas dari penderitaan manusia harus lulus dari pencobaan di dunia. Bebas dari penderitaan dengan demikian menjadi tema sentral semua agama, dalam bahasanya masing-masing. Ada yang menyebutnya mencapai surga, nirvana atau moksa, masing-masing dengan penjelasan yang berbeda-beda. Kenyataan bahwa penderitaan ada memang harus dijawab oleh agama, dan ini akan dijabarkan di bagian akhir tulisan ini.

Dengan demikian penderitaan adalah kodrat. Penderitaan adalah implikasi dari penciptaan itu sendiri.

Penjelasan tentang adanya kejahatan tidak semudah itu. Dari manakah kejahatan itu? Bukankah Tuhan mahabaik. Kalau Ia mahabaik, dari mana datangnya kejahatan. Apakah Tuhan yang menciptakannya?

Penjelasan simplisistis dari agama abrahamaik-monoteis adalah kejahatan berasal dari setan, ciptaan Tuhan yang memberontak. Ini adalah jawaban yang menyesatkan, dan cenderung tidak bertanggung jawab. Manusia dengan mengatakan kejahatan berasal dari setan telah menumpahkan kesalahan yang ia buat sendiri kepada setan. Setan ia jadikan kambing hitam, dengan mengatakan ia berbuat jahat karena digoda oleh setan. Penjelasan seperti ini malah berbahaya karena seakan memberikan kuasa yang setara kepada setan, yang menguasai kejahatan, berhadapan dengan Tuhan yang menguasai kebaikan, dan jatuh ke dalam faham dualisme.

Tentunya ada penjelasan yang lebih baik dari agama moneteis, yaitu bahwa kejahatan tidaklah mutlak pada dirinya. Ia ada hanyalah karena kondisi jauh dari Tuhan. Ibarat cahaya, semakin jauh kita dari sumber cahaya, akan semakin gelap. Kondisi gelap seperti itulah yang menjadi kejahatan, kondisi tiadanya Tuhan di dalam hati manusia.

Tuhan yang Personal

Di pihak lain penjelasan di atas nampaknya tidak memuaskan jika kita melihat melimpahnya penderitaan dan kejahatan di dunia ini yang seolah tidak bisa didamaikan dengan keberadaan Tuhan yang personal. Sangat sulit untuk dipahami bagaimana Tuhan yang mahakasih dapat mengijinkan perang yang luar biasa brutal dan membantai jutaan orang berdosa. Tuhan yang personal yang ikut campur dalam hidup manusia dan mencintai manusia sulit didamaikan dengan konsep ini.

Masalah ini dengan demikian adalah masalah yang unik dialami oleh agama yang menganut Tuhan yang Personal, Tuhan-Nya agama monoteis. Tuhan dalam konsep agama yang lain: dualisme dan panteisme, tidaklah demikian.

Penganut dualisme melihat bahwa pada dasarnya dunia adalah sebuah dualisme: bukan sebuah realitas yang tunggal, melainkan dua kutub yang selalu bertentangan. Tegangan antara dua kutub itulah yang melahirkan dunia memelihara kehidupan. Dengan demikian kejahatan sama saja dengan kebaikan, sebagai salah satu sisi dari koin yang sama. Jika kejahatan tidak ada, maka kebaikan juga tidak ada, dengan demikian dunia ini juga menjadi tiada.

Contoh dari dualisme adalah Zoroaster dari Parsi dan filsafat Yin Yang dari Cina. Zoroaster melihat bahwa dunia ada karena ada tegangan antara penguasa siang Ahura Mazda dan penguasa malam Ahriman. Masing-masing adalah penguasa yang setara. Di belakang Ahura Mazda ada barisan malaikat dan di belakang Ahriman ada barisan setan, sebagai pendukungnya. Mereka akan bertarung sampai pada pertarungan terakhir di akhir zaman, yang akan dimenangkan oleh Ahura Mazda.

Begitu pula dengan Yin Yang: Yin menggambarkan kekuatan yang pasif, gelap dan menerima, dan Yang menggambarkan kekuatan yang aktif, terang, dan memberi. Yin sering digambarkan dengan kekuatan feminin dan Yang dengan maskulin. Masing-masing kekuatan memiliki dewanya sendiri-sendiri. Manusia ibarat terantang dalam pertarungan abadi antara kedua unsur tersebut. Namun yang penting adalah justru keseimbangan. Seperti yang digambarkan dalam lambangnya: di dalam Yin juga ada Yang, dan di dalam Yang juga ada Yin. Di saat kedua unsur berpadu dalam keseimbangan, di situlah ada harmoni, di situlah kehidupan berjalan dengan baik.

Sementara itu panteisme melihat masalah kejahatan ini secara berbeda. Panteisme melihat bahwa hanya ada satu yang mutlak, yaitu Tuhan (meskipun sesungguhnya mereka enggan memberi nama pada realitas mutlak ini, karena pemberian nama sudah merendahkan realitas yang mutlak yang tak terkatakan). Segala macam kenyataan di dunia ini, termasuk adanya kejahatan dan kebaikan, adalah maya. Dunia yang maya ini masih terkena hukum sebab akibat, berbeda dengan realitas mutlak yang satu dan tidak ada pertentangan. Jika ada sebuah perbuatan yang berakibat buruk, kita sebut jahat; jika ada perbuatan yang berakibat baik, kita sebut kebajikan. Padahal semuanya itu maya, yang terjadi adalah konsekuensi saja yang ditentukan oleh hukum alam.

Contohnya begini: penemuan penisilin bisa kita anggap kebajikan pada mulanya karena dengan demikian banyak jiwa bisa diselamatkan. Tetapi penemuan antibiotik ini juga membuat kuman semakin ganas, dan membuat penyakit juga semakin ganas. Begitu pula dengan industri yang pada mulanya terlihat sebagai kebajikan karena mempermudah kehidupan manusia. Tetapi kita semua tahu sekarang bahwa industrialisasi membawa masalah baru yang tak kalah besar, yaitu polusi dan krisis energi yang bisa melumpuhkan peradaban.

Ada sebuah cerita kuno yang bisa lebih menjelaskan perihal ini:

Ada seorang petani bijak yang istrinya sedang mengandung. Para tetangganya memberi selamat kepadanya karena ia sebentar lagi akan memiliki seorang anak. Ia hanya berkata, “Kita lihat saja nanti.” Setelah lahir ternyata anaknya seorang laki-laki, namun cacat kakinya. Para tetangganya melihatnya dengan sedih dan mengasihaninya. Ia hanya berkata, “Kita lihat saja nanti.” Beberapa tahun kemudian setelah anaknya beranjak remaja terjadilah perang. Semua anak muda yang sehat dipanggil untuk menjadi tentara. Karena anaknya cacat, maka ia tidak ikut perang. Kini para tetangga berbalik melihat bahwa petani itu beruntung, karena anaknya tidak harus ikut perang. Dan ia seperti biasa hanya berkata, “Kita lihat saja nanti.”

Masalah Manusia

Di lain pihak perlu dipahami bahwa penderitaan dan kejahatan adalah konsep yang sangat manusiawi. Sebuah batu tidak dapat membedakan mana yang jahat dan mana yang baik. Secara anatomis manusia bisa merasakan penderitaan karena manusia memiliki urat syaraf. Dengan keluar dari kacamata manusia, sebenarnya pembicaraan tentang penderitaan tidaklah terlalu relevan. Seorang yang syarafnya putus pun tidak dapat merasakan penderitaan dan rasa sakit. Dengan demikian penderitaan bukanlah sesuatu yang mutlak melainkan relatif.

Begitu pula dengan penderitaan psikologis, ini terjadi karena manusia memiliki jiwa (psyche), yang dapat merasakan. Seorang yang jiwanya beku juga tidak bisa merasakan penderitaan. Ia tidak bisa merasakan bahagia dan juga duka.

Dengan demikian jelas bahwa masalah penderitaan dan kejahatan adalah masalah manusia yang melihat dari kaca mata manusia atau antropomorfis. Dari sudut pandang bumi, gempa bumi adalah kehidupan baginya. Tanpa gempa bumi, berarti proses geologis bumi sudah berhenti dan bumi sudah mati. Dari sudut pandang tatasurya, apa yang terjadi di bumi baik perang maupun kelaparan tidaklah relevan. Semuanya itu tidak berpengaruh pada jalannya tata surya. Ia akan terus berjalan dengan hukumnya sampai suatu saat matahari menjadi raksasa merah dan padam. Apalagi dari sudut pandang galaksi bimasakti dan alam semesta. Apa yang terjadi di bumi seperti tsunami yang merenggut jutaan jiwa, tidaklah relevan. Contoh lain, dari sudut pandang bakteri, penderitaan bagi manusia karena sakit adalah kehidupan bagi mereka. Bagi bakteri pengurai kematian manusia justru adalah pesta bagi mereka karena mereka menguraikan mayat sebagai makanan bagi mereka.

Konsolasi

Masalah kejahatan dan penderitaan ini menjadi penting, karena kita sebagai manusia mengalami keduanya. Agama memberikan penghiburan akan kenyataan ini. Paling tidak ada dua kaca mata untuk melihat masalah ini, yaitu menurut agama monoteis-Abrahamistik dan agama timur. Penganut monoteisme akan melihat dengan kaca mata iman. Bagi mereka hanya dengan iman seorang bisa melihat penderitaan di dalam naungan Ilahi, dan melihat Tuhan yang mahabaik dan pada akhirnya semuanya akan baik adanya. Sedangkan agama timur melihat penderitaan sebagai akibat dari keterikatan manusia dengan dunia, dan oleh karena itu adalah maya. Untuk bisa lepas dari penderitaan seseorang harus tercerahkan, yaitu mampu melihat apa yang mutlak sesungguh, dan dengan demikian ia terlepas dari sebab akibat dan mencapai nirwana.

Kiranya lebih tepat agama memposisikan diri pada bagian ini saja, yaitu bagaimana menghadapi penderitaan dan kejahatan. Klaim tentang bagaimana munculnya penderitaan dan kejahatan adalah spekulasi metafisika yang tidak banyak kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berarti spekulasi itu tidak penting, melainkan biarlah spekulasi itu dijalankan oleh mereka yang memang mau menempuh jalan filsafat sebagai jalan hidupnya. Untuk mereka yang mau hidup dengan tenang, yang penting agama bisa memberikan penghiburan bagi mereka, bila menghadapi kesusahan. Bagi Karl Marx, mungkin ini bisa disebut candu. Tetapi biarlah, toh orang yang mau dioperasi butuh dibius juga, biar tidak sakit.

11 Komentar »

  1. Mungkin penderitaan itu memang karena keterikatan kali ya ???

    Dalam masalah ini sebenarnya antara agama Ibrahimik dengan agama Timur ada titik temunya juga. Meskipun mungkin tampilan luarnya kesannya memang lain. Misalnya saja kita bandingkan Islam dan Budha.

    Dalam Budha saya rasa cukup jelas kelihatan kalo penekanannya ada pada ketidakterikatan. Mengapa manusia menderita ? karena adanya perasaan memiliki. manusia diikat oleh perasaan semacam itu.

    Dalam Islam konsep seperti itu kelihatannya juga ada. Misalnya konsep hidup zuhud atau kepasrahan yang dalam khotbah-khotbah sering diumpamakan seperti kehidupan tukang parkir.

    Tukang parkir kan mobilnya banyak tuh. Semenit sekali dia dapat mobil baru. Dan ada mobil yang keluar juga. Tapi biarpun banyak mobil yang keluar “yang nggak jadi miliknya” lagi tukang parkir nggak pernah keberatan. Malahan seneng karena berarti tanggung jawabnya sudah selesai. Adanya mobil yang keluar juga menyenangkan karena berarti ada ruang untuk mobil baru yang masuk.

    kalo manusia menyadari sama seperti tukang parkir menyadari kondisinya mungkin nggak ada yang namanya penderitaan. Toh segalanya bukan milik kita. hanya titipan dari yang memiliki.

    Teorinya memang enak. Tapi prakteknya : Duh ??? Nggak perduli agamanya apa juga – memang nggak gampang melakukan ini.

    SALAM PAK Oni Suryaman.


    memang untuk menjelaskan penderitaan lebih mudah. yang paling sulit adalah menjelaskan adanya kejahatan.

    Komentar oleh lovepassword — September 1, 2008 @ 10:21 am

  2. Menjelaskan mengenai kejahatan ya ? Harus berpikir keras menghadapi pertanyaan klasik si Epikuros itu ? Kelihatannya memang bakal nambah koleksi rambut ubanku nih. Hik hik.

    Sebenarnya kejahatan dan penderitaan itu kan lumayan dekat yah ?

    Pertanyaannya : Mengapa terjadi kejahatan ? ya karena ada pelaku kejahatan atau karena ada manusia yang melakukan kejahatan. Di sini saya pake persepsi umum sehingga manusia yang saya jadikan contoh.

    Mengapa ada kejahatan ? karena ada manusia yang melakukan kejahatan.
    Mengapa manusia melakukan kejahatan ? Ya karena manusia tidak bisa menemukan jalan untuk lepas dari belenggu penderitaan. Tidak bisa lepas dari belenggu keterikatan.

    Lalu kaitannya dengan Tuhan apa ? Ya saya setuju dengan anda tentang kehendak bebas itu. Meskipun jujur kalau diulas terlalu dalam bisa nyeremin juga bagi banyak pihak.

    Beberapa pemikir mengibaratkan kejatuhan manusia dalam dosa atau makan buah larangan itu seperti cerita kotak pandora. Ceritanya kan emang mirip : Ada larangan, ada rasa ingin tahu untuk melanggar larangan. So mengapa dewa memberikan hal yang kontradiksi itu untuk manusia. Kalo dalam cerita Pandora ya semacam balas dendam. Tetapi ada juga dewa yang bermaksud menolong manusia, sehingga kemudian endingnya sebelum dunia ini mau ditenggelamkan manusia berhasil membuat perahu. Mirip bener ceritanya sama perahu Nabi Nuh. Kalo ditelusuri endingnya lagi : Biarpun dunia yang lama itu musnah total tenggelam karena rasa ingin tahu manusia, tetapi ada hikmahnya yaitu munculnya dunia baru (Manusia menemukan dunia baru).
    Yang kita bahas ini dongengnya Pandora yang mirip dengan kejatuhan Hawa dan mirip juga dengan cerita Nabi Nuh.

    Karena jujur saja, saya bingung menjawab pertanyaan anda yang sangat klasik itu, maka anggap saja saya setuju dengan cerita kotak Pandora di atas.

    Rasa ingin tahu yang diberikan Tuhan membuat manusia berdosa. Tetapi dengan rasa ingin tahu itu pulalah manusia bisa memberbaiki dosa-dosanya.

    SALAM PAK Oni Suryaman.

    Saya nggak yakin jawaban ini memuaskan anda, tapi yah, emang topik sulit ini. Hik hik.

    SALAM YA ?


    topik ini memang diakui sebagai topik yang paling sulit di dalam filsafat ketuhanan. jangankan kita, filsuf beneran aja nyerah :p tulisan ini sekedar latihan otak saja, tidak bermaksud sebagai solusi final masalah yang memang rumit. sekedar mencoba berbagi perspektif saja. omong2 ada ateis yang baru jadi jadi religius, saya penasaran cari bukunya, belum ketemu.

    Komentar oleh lovepassword — September 2, 2008 @ 6:53 pm

  3. oni
    perkenalkan nama ku adhiet

    Ku lg butuh banyak informasi berkenaan dengan teodice nih!!
    Bleh tahu info buku-buku teodice??

    Kamu asli mana??
    Aku di surabaya??

    saya di jakarta. kejauhan ya. saya gak hanya baca dari satu buku. belum punya satu buku utuh yang menjelaskan teodisea. argumen saya banyak diilhami buku MENALAR TUHAN, romo magnis, ditambah dengan buku2 biologi evolusioner, buku2 dawkins, stephen j gould, ernst mayr, jared diamond, dll. dan tentu saja baca tafsir kitab suci, buku2 yang membahas agama secara kontemporer seperti karen armstrong dan elaine pagels

    Kalau bisa kita ketemu??
    Bleh gak??

    kalau butuh diskusi lebih privat email saja.

    Thank’s

    Salam kenal

    Adhiet

    Komentar oleh wong2ateis — September 5, 2008 @ 2:37 pm

  4. Hik Hik, atheis yang anda maksud pasti bukan Daeng Fatah.

    Hik Hik, Daeng-daeng entah apa yang ada di hatimu ?

    Maksudku adalah anthony flew, orang inggris. baca bukunya yang paling anyar “There is a God”. tapi belum beli, gak masuk sini, dan kalau beli lewat amazon kelewat mahal :p udah baca?

    Komentar oleh lovepassword — September 7, 2008 @ 5:14 am

  5. coba baca MEMBONGKAR DERITA karangan Paul Budi Kleden. Atau Teologi Bencana karangan Zakharia Ngelow dkk.

    makasih, akan saya cari

    Komentar oleh argo — September 11, 2008 @ 7:37 am

  6. teodise : usaha untuk mendamaikan dua kenyataan yang bertentangan. pertama, iman kepada Tuhan yg mahakuasa dan mahabaik serta mahatahu. kedua, kenyataan adanya (begitu banyak) penderitaan di muka bumi ciptaan-Nya.

    kelihatannya sederhana, namun sulitnya minta ampun. dan kalo sampai pada keputusan, bisa jadi pegangan hidup yang oke. justru dengan mendalami mslh keburukan dan penderitaan, manusia bisa kembali mendalami imannya secara kritis. bagaimana pemahaman tentang Tuhan, tentang penciptaan, tentang manusia dna tentang alam semesta itu sendiri.

    bicara tentang kejahatan manusia barangkali lebih pendek jalannya, karena kita langsung bisa mengatakan bahwa kejahatan itu akibat KEHENDAK BEBAS manusia. namun, bicara tentang malum physicum agak rumit, karena penderitaan itu terjadi di luar kuasa dan tanggung jawab manusia. bagiamana berbicara tentang Tuhan yang mahabaik di tengah penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya karena hanyut oleh tsunami atau tertimbun rumah akibat gempa, misalnya.

    apakah melimpahnya keburukan di dunia ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak mahakuasa dan (atau) mahakasih?

    SAYA MENAWARKAN SEBUAH ALTERNATIF PEMAHAMAN TENTANG TUHAN, yaitu TUHAN YANG KONSISTEN DENGAN CIPTAANNYA. bahwa ciptaan ini memang memiliki keterbatasan, jadi ada kemungkinan terjadi keburukan. dan ini tidak perlu menafikan kemahakuasaan atau kemahabaikan Tuhan.

    ada tanggapan ?

    silakan kemukakan pemikiran anda di sini, kalau agak panjang akan saya posting jadi satu tulisan terpisah

    Komentar oleh argo — September 11, 2008 @ 7:49 am

  7. Menurut saya, kejahatan dan kebajikan adalah sudut pandang manusia; relatif. Manusia lebih banyak meniru atau mewarisi perilaku peradaban manusia sebelumnya dan/atau lingkungan yang diserap atau mengkombinasikannya dalam menentukan sikap atau perilaku. Evolusi manusia lebih cenderung ke arah evolusi berpikir eko kultural ketimbang evolusi fisik. Otak manusia berkembang dari sekedar untuk bertahan hidup, mengikuti keinginan seksual; yang menjadikan manusia berketurunan, sampai kepada keinginan masalah sosial yang kompleks, dan hasilnya membuat manusia menjadi berbudaya. Manusia juga bisa memasukkan berbagai macam analogi dalam pikirannya, mengkategorikannya menjadi logis dan tidak logis, rasional dan irasional, benar atau salah. Semakin luas pertimbangan semakin bijak keputusan yang diambil. Luasnya jagad raya adalah tempat semua organisme untuk belajar.

    Komentar oleh Adam — Oktober 16, 2008 @ 4:35 pm

  8. [...] Baca pula: Teodisea: Tuhan dan Masalah Kejahatan [...]

    Ping balik oleh Mencoba Memahami Tuhan Lewat Nalar « Esensi — Januari 3, 2009 @ 1:29 pm

  9. hehehe, topik klasik yang masih belum ketemu titik terangnya dalam agama samawi.

    Oni: yang paling sulit adalah menjelaskan adanya kejahatan.

    Betul sulit menjelaskannya jika memakai kacamata agama samawi, tapi tidak sulit menurut tradisi agama/filsafat timur.

    Akar kejahatan adalah ketidaktahuan/ketidakmengertian, dalam bahasa Inggris sering dipakai istilah ignorance, dalam bahasa Pali avijja Termasuk salah satu mental defilement (kilesa) menurut penjabaran Siddharta Gautama.

    Misalnya, kejahatan membunuh. Manusia tidak mengerti bahwa untuk bisa membunuh dia perlu akumulasi dulu kemarahan, kebencian yang sangat banyak dalam dirinya sendiri, baru kemudian bisa dia ‘arahkan’ ke obyek di luar dirinya. Padahal, akumulai kemarahan/ kebencian dalam diri sendiri itu merusak luar biasa. Daya rusaknya lebih besar bagi diri sendiri daripada bagi orang lain. Orang-orang yang praktek meditasi, lambat-laun akan mengerti bahwa emosi negatif (marah, benci, takut, cemas) pertama-tama menyakiti dirinya sendiri dulu. Otomatis saat ketidaktahuan ini ‘tercerahkan’, tanpa disuruhpun dia dengan sendirinya menjauhi kejahatan.

    betul. ini adalah duri dalam daging dalam agama samawi. di dalam filsafat timur hanya ada vidya (tahu) dan avidya (tidak tahu atau ignorant) kalau pakai sansekerta. arus yang sama sebenarnya pernah ada di dalam aliran gnostik; mereka membedakan antara gnostik, dan a-gnostik, yang kurang lebih sama dengan vidya-avidya.
    aku sendiri belum begitu paham dengan pendekatan filsafat timur, lagi belajar. makanya aku lebih banyak menulis dari yang paling aku pahami.

    Komentar oleh illuminationis — Januari 17, 2009 @ 10:50 pm

  10. Saya pernah jalan-jalan ke blog yg nyeletuk kaum gnostik adalah musuh purba orang kristen. Saya terus terang aja ga mudeng… bukannya pendekatan mistik jaman kuno itu malah semangat Kristen awal? Orang Kristen pada praktek asketik ke gurun dll itu ngapain kalo bukan gnostik?

    Mungkin orangnya musti saya suruh berkunjung ke sini yah…

    boleh-boleh saja.
    kalau aku sih lebih melihat gnostik sebagai salah satu varian kristen awal, di antara banyak varian lainnya. tak satu pun yang bisa mengklaim siapa yang paling asli. cuma pada akhirnya hanya satu varian yang bertahan, yaitu versi pauline.

    Komentar oleh illuminationis — Januari 19, 2009 @ 9:49 am

  11. eh pak Oni, kenapa thread komentar di blog anda kok ga muncul di dashboard saya? *aneh*

    waduh. gak ngerti aku. bukan ahli komputer aku

    Komentar oleh illuminationis — Januari 19, 2009 @ 9:51 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: