On Everything

Maret 31, 2009

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sebuah Tirani Bahasa?

Diarsipkan di bawah: Tentang Bahasa, Tentang Budaya, Tentang Indonesia — Oni Suryaman @ 4:52 am
Tags: ,

Aku tergelitik untuk menulis ini untuk menanggapi resensi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 4 yang tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, di Majalah Tempo edisi 30 Maret 2009.

bisa diklik di sini

Lengkapnya saya kutipkan di sini:

Kamus Besar yang Agak Terlalu Sempurna

Nikolaos van Dam
Duta Besar Belanda untuk Indonesia

kkbi-3MEREKA yang mengira bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah akan segera menyadari betapa rumitnya jika mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari sastra dan bentuk tulisan lainnya.

Salah satu hambatan bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia adalah luasnya kosakatanya. Kenyataan bahwa bahasa ini memiliki 20 ribu kata serapan dari berbagai bahasa, yang tersusun dalam Loan-Words in Indonesian and Malay (2008) karya Russell Jones, bisa mengarah pada kesimpulan yang salah, seolah-olah bahasa Indonesia adalah bahasa yang relatif miskin dengan kosakata asli yang agak terbatas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) dengan 90 ribu butir masukan dan subbutir masukan jelas memperlihatkan justru sebaliknya, dan menggarisbawahi kekayaan linguistik dan budaya bahasa Indonesia. (lagi…)

Februari 5, 2009

Hermeneutika, Sekilas Pandang

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 3:32 pm
Tags: ,

hermesSalah satu arus besar dari filsafat kontinental adalah hermeneutika. Kata hermeneutika sendiri sering kita dengar dalam studi sastra dan teologi. Di dalam Kamus Webster’s Third New International Dictionary hermeneutika didefinisikan: “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi biblika.” Terlihat dari definisi tersebut bahwa kata hermeneutika lebih banyak dipakai di seputar tafsir kitab suci.

Di dalam tradisinya, hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani, Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa, mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan, sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios, yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut. (lagi…)

Januari 16, 2009

Antiklerikalisme dan Ateisme

Diarsipkan di bawah: Tentang Agama, Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 3:42 am
Tags: , ,

*Berdasarkan tulisan Anticlericalism and Atheism, Richard Rorty dalam buku The Future of Religion

futureofreligionAbad keduapuluh bisa digambarkan sebagai abad penolakan terhadap metafisika dan ontoteologi. Di abad ini orang-orang mulai berhenti untuk mempertanyakan apa yang paling benar sebagai gambaran realitas. Salah satu akibat dari gerakan antiesensialisme ini adalah ditinggalkannya apa yang disebut Lecky sebagai perseteruan antara sains dan agama. Akibat dari ini adalah seperti klaim dari William James bahwa ilmu alam dan agama tidak perlu lagi berkompetisi satu sama lain.

Dengan ditolaknya ontoteologi, perdebatan antara ateis dan teisme menjadi tidak berarti, atau malah tidak bermakna. Sebagaimana ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan Tuhan, ia juga tidak bisa membuktikan tidak adanya Tuhan. Seperti halnya musik, orang yang menyukai musik tertentu tidak bisa memaksakan selera musiknya kepada yang lain. Begitu juga halnya dengan filsafat. Klaim-klaim metafisika filsafat pun tidak bisa dipaksakan. Cara pandang ini seperti menaruh masalah metafisika dan ontoteologi ke wilayah “estetika”. Tetapi dengan memakai istilah estetika sendiri berarti kita menerima trikotomi Kant: kognitif, moral, estetik. Salah satu target dari para antiesensialis justru adalah trikotomi tersebut. Para filsuf lebih memilih untuk meletakkan suatu klaim tertentu untuk konteks tertentu yang tepat untuk klaim tersebut; yang dilakukan adalah klaim partikular ketimbang klaim universal. (lagi…)

Januari 5, 2009

Newton dan Leibniz, dan Konstruksi Baru Sains

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat, Tentang Ilmu Alam — Oni Suryaman @ 4:23 am
Tags: , , , , , ,

newton_by_blake

Perseteruan antara Newton dan Leibniz telah sering diceritakan di dalam banyak buku teks maupun buku-buku ilmiah populer lainnya. Yang dibahas di dalamnya biasanya adalah mengenai klaim penciptaan kalkulus. Sebuah perdebatan lain sering kali lolos dari perhatian banyak orang, dan perdebatan inilah yang diangkat oleh Cassirer di dalam sebuah tulisannya di dalam Jurnal The Philosophical Review. Perdebatan ini adalah mengenai posisi epistemologis kedua raksasa filsafat ini dalam melihat ilmu alam atau—di dalam bahasa yang dipakai di zaman itu—filsafat alam.

Untuk melihat perbedaan yang mendasar di antara kedua filsuf alam tersebut bukanlah sebuah perkara yang mudah. Sentimen-sentimen yang menyertai perdebatan tersebut mengaburkan esensi dari perdebatan itu sendiri. Surat menyurat yang terjadi di tahun 1715 dan 1716 antara Leibniz dan Samuel Clarke yang membela Newton juga tidak banyak membantu untuk melihat masalah ini lebih jelas. Bahkan tuduhan-tuduhan yang saling dilontarkan satu sama lain malah melebar pada masalah agama. Untuk itu kita perlu masuk ke dalam pemikiran kedua filsuf ini secara mendasar supaya bisa memahami betul inti perdebatan mereka.[1] (lagi…)

Desember 18, 2008

Fundamentalisme Kristen

Diarsipkan di bawah: Tentang Agama — Oni Suryaman @ 8:23 am
Tags: , ,

reading_bibleFundamentalisme telah menjadi fenomena masyarakat modern, terutama sekali setelah peristiwa 9/11. Fundamentalisme seolah menjadi bintang panggung, entah sebagai seorang tokoh protagonis atau antagonis. Perhatian orang terhadap agama pun meningkat pesat. Semua orang memakai kata itu, namun sedikit orang yang memahami apa sesungguhnya arti kata fundamentalisme. Sebelum kita masuk lebih lanjut ada baiknya kita melihat terlebih dahulu makna kata fundamentalisme itu sendiri.

Arti Kata Fundamentalisme

Kata fundamentalisme berasal dari kata fundament, yang berarti fondasi atau dasar. Ada juga kata lain yang kerap kali dipakai sebagai sinonim fundamentalisme, yaitu radikalisme, yang berasal dari kata radix, yang berarti akar. Karena itu fundamentalisme bisa diartikan sebagai sebuah gerakan kembali ke dasar atau kembali ke akar. Dengan demikian, fundamentalisme agama berarti gerakan kembali ke ajaran semula, pada ajaran awal agamanya. Pengertian ini memiliki makna positif, karena jika kita menerima bahwa ajaran agama pada dasarnya adalah baik, maka gerakan kembali ke ajaran semula tentunya juga baik adanya. Pandangan ini pulalah yang banyak dipahami oleh para fundamentalis. Pengertian ini juga kerap disertai makna kembali pada masa keemasan di zaman dahulu di mana agama menduduki posisi sentral, dan umumnya masa yang diacu adalah masa umat pertama yang terbentuk di bawah bimbingan nabinya.[1] (lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.