On Everything

Mei 7, 2007

Demi Masa Depan

Filed under: Tentang Pendidikan — Oni Suryaman @ 4:46 am
Tags: ,

future.jpgBeberapa hari yang lalu ada sebuah judul di halaman muka Koran Tempo “Mengintip Masa Depan”, sebuah tulisan tentang anak sekolah yang sedang melihat apakah mereka diterima di sebuah sekolah atau tidak, yang menggelitik saya untuk membuat tulisan ini. Memang, sekarang ribuan anak sekolahan sedang mempertaruhkan masa depan mereka dalam sebuah ritual yang disebut pendaftaran murid baru. Begitu pula dengan calon mahasiswa yang bergulat dengan penerimaan mahasiswa baru. Entah berapa banyak uang dan energi yang dicurahkan demi memperoleh secercah harapan akan masa depan yang lebih baik.

Mari kita melihat persoalan ini sedikit lebih mendalam. Benarkan sekolah memberikan masa depan yang lebih baik? Bukankan banyak sekali pengangguran intelektual di negara kita ini? Untuk apa sekolah kalau nanti menganggur juga. Tetangga saya ada yang lulusan fakultas hukum dan sekarang menjadi ojek motor. Bukannya saya merendahkan profesi seorang ojek, tetapi Anda tidak perlu sekolah susah-susah untuk menjadi ojek. Asal bisa mengendarai sepeda motor, jadilah Anda seorang ojek sepeda motor.

Kembali ke masalah semula, mengapa semua orang nampaknya menganggap pendidikan sebagai gerbang emas untuk perbaikan nasib di masa depan. Semuanya hanyalah masalah persepsi. Jika semua orang menganggap demikian, jadilah ia sebuah kebenaran. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak berkorelasi secara langsung dengan masa depan yang lebih. Untuk kasus Indonesia, masih ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan. Faktor-faktor tersebut antara lain kepemilikan modal (dari orang tua atau keluarga besar), relasi, usaha keras dan tentu saja nasib baik.

Hal berikutnya adalah persepsi di kalangan dunia kerja sendiri, bahwa pendidikan adalah syarat mutlak bagi penerimaan calon pekerja baru. Semua iklan lowongan pekerjaan selalu mencantumkan syarat pendidikan. Hal ini juga tidak seratus persen bisa diterima. Keahlian tidak selalu berkaitan dengan pendidikan formal. Orang bisa saja ahli dalam suatu bidang tanpa harus menempuh pendidikan formal di bidang tersebut. Beberapa pekerjaan malah lebih membutuhkan syarat sikap ketimbang keahlian. Untuk menjadi seorang pramuniaga misalnya tidak perlu syarat pendidikan khusus melainkan membutuhkan orang yang mempunyai kemampuan persuasi. Lebih tepat kiranya jika iklan lowongan mencantumkan keahlian yang dibutuhkan ketimbang syarat pendidikan.

Dengan persepsi di atas berebut-rebutlah orang mencoba masuk ke sekolah dengan harapan memiliki masa depan yang lebih baik. Memang pendidikan adalah salah satu jalan, namun bukan satu-satunya jalan. Masih ada jalur lain yang tidak membutuhkan pendidikan, khususnya pendidikan formal. Menjadi pengusaha misalnya. Anda tentu saja tidak perlu punya MBA terlebih dahulu sebelum membuka suatu usaha. Anda hanya butuh modal (bisa meminjam), peluang dan yang paling penting visi. Anda juga bisa mencoba peruntungan di dunia hiburan dan olahraga. Intinya pendidikan bukanlah syarat mutlak.

Kalau begitu kenapa perlu ada wajib belajar? Mestinya ada sebuah alasan yang lebih mulia dari pendidikan ketimbang sekedar sarana untuk perbaikan nasib. Banyak dari kita sudah lupa akan alasan awal mengapa sekolah didirikan. Sekolah (school) berasal dari kata scholae yang berarti waktu luang. Manusia adalah spesies unik yang membebaskan anak mudanya dari kewajiban mencari makan dan mempertahankan hidup. Mereka diharuskan untuk belajar di waktu luang, mempelajari warisan budaya yang telah membuat manusia bisa bertahan sampai saat ini. Mulanya sekolah tidak ada secara formal, hanya ada wejangan dari anggota masyarakat yang lebih tua secara informal kepada yang muda. Ada pula bentuk-bentuk pengajaran secara magang. Hingga akhirnya budaya manusia menjadi semakin kompleks sehingga dirasa perlu untuk melahirkan suatu profesi khusus yaitu guru dan membentuk sebuah sistem khusus yang dikenal sebagai sekolah.

Sejak itu pula sekolah telah mengalami banyak perubahan sampai menjadi bentuk yang kita kenal selama ini. Sayangnya kita seolah menganggap semua ini sudah sewajarnya tanpa perlu mengkritisi lebih lanjut. Sekolah sekarang lebih menjurus kepada pabrik manusia yang menciptakan tenaga kerja untuk kebutuhan industri. Pemikir-pemikir besar saat ini nampaknya lahir dari kecelakaan-kecelakaan sejarah ketimbang sebuah usaha sistemik. Sebagai sinyal dari kecurigaan saya ini adalah makin berkurangnya muatan ilmu humaniora di sekolah. Persepsi di masyarakat pun berkembang bahwa ilmu yang paling elit adalah ilmu teknik. Ilmu sosial apalagi bahasa dan budaya menjadi ilmu kelas teri.

Ilmu teknik memang diperlukan untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Tapi perlu disadari bahwa ilmu teknik tidak menjawab ke mana masa depan umat manusia akan dibawa. Saat ini kita berada pada kondisi kritis di mana kita telah kehilangan pedoman ke mana kita akan beranjak. Dan yang lebih memprihatinkan adalah kita tidak sadar akan hal itu. Business as usual. Selama aku menerima gaji dan bisa makan semua akan baik-baik saja. Tidak! Kita semua bertanggung jawab akan kelangsungan hidup kita sebagai umat manusia. Betapa banyak masalah yang menghantui kita: pengrusakan lingkungan, perang, ketidakadilan ekonomi, wabah penyakit baru, perubahan iklim, dan masih banyak lagi. Kita tidak baik-baik saja!

Untuk itulah kita sekolah. Untuk membangun sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa kita adakah manusia dan kepekaan akan apa yang terjadi di sekitar kita. Tanpa itu kita hanyalah binatang berbaju yang hanya memuaskan naluri pribadi kita masing-masing. Kiranya memang benar bahwa sekolah adalah untuk masa depan. Hanya saja lebih tepat untuk dikatakan bahwa masa depan tersebut adalah masa depan kita sebagai umat manusia, bukan sekedar masa depan kita secara pribadi, karena kita semua hidup di bumi yang satu-satunya ini.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: