On Everything

Mei 7, 2007

Determinisme Geografis

Filed under: Resensi Buku,Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 4:15 am
Tags: , , , ,

World MapMengapa peradaban begitu beraneka ragam di seluruh dunia? Kita bisa melihat variasinya dari yang paling maju, dengan menguasai teknologi informasi, elektronika, dan ruang angkasa, sampai yang paling terbelakang, yang bahkan tak mengenal panah dan logam dan masih bertahan hidup dengan alat dari batu. Inggris masuk ke abad industri pada abad ke-18, dan Indonesia baru pada abad ke-20. Amerika masuk ke abad luar angkasa pada abad ke-20, dan kita masih mimpi untuk itu.

Beberapa teori mencoba untuk menjelaskan pertanyaan di atas. Salah satunya adalah teori ras. Teori ini berkembang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Teori ini adalah salah satu kelanjutan dari teori evolusi. Teori evolusi menjelaskan tahap-tahap perkembangan manusia modern (homo sapiens). Ras-ras pun dibagi-bagi berdasarkan tahap perkembangannya. Suku Aborigin di Australia bahkan didakwa sebagai the missing link alias paling rendah di antara manusia modern. Teori ini mencapai puncaknya pada Perang Dunia II yang pecah karena Partai Nazi yang mengagungkan ras Arya sebagai ras manusia paling unggul, sehingga ditakdirkan untuk menguasai ras lain yang lebih rendah darinya.

Sekilas teori ini tampak benar. Kita bisa melihat bahwa orang Jawa tentunya lebih pintar dari orang Papua, sehingga peradaban di Jawa lebih maju dibandingkan di Papua. Pernyataan ini harus didekonstruksi terlebih dahulu. “Pintar” itu apa? Di jaman ini “pintar” sendiri sudah bias. Bill Gates kita anggap pintar. Para nobelis juga kita anggap pintar. Kepintaran ini dipandang dari sudut pandang peradaban kita. Kalau Bill Gates harus tinggal di pedalaman Papua, ia sama sekali tidak bisa dianggap pintar, karena segala macam ilmu komputernya tidak akan akan berguna untuk bertahan hidup di tengah liarnya alam. Di hutan liar itu seorang Papua, yang tahu mana buah yang beracun atau tidak, tahu bagaimana membuat api, membuat gubuk sederhana, adalah yang dianggap pintar. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan hasil yang mengejutkan, bahwa manusia beradab di dunia pertama tidaklah lebih pintar dari seorang suku terasing. Jika ada dua orang, satu dari Amerika, dan satu dari Papua, diberi pendidikan yang sama, besar kemungkinan yang berasal dari Papua akan lebih unggul dari dari Amerika. Hidup di alam liar membuat mereka lebih kreatif dan mampu berpikir cepat. Secara genetis mereka pun lebih unggul. Alam yang liar hanya memberikan peluang bagi gen yang terbaik untuk bertahan hidup, sedangkan orang terbodoh pun di Amerika dapat hidup layak disokong departemen sosial. Sekarang terlihat bahwa teori rasis ini sangatlah lemah.

Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan kita yang pertama dengan melihat faktor lain, yaitu faktor geografis. Faktor geografis ini membawa kita ke beberapa konsekuensi yang tidak bisa dihindari oleh suatu peradaban yaitu iklim, musim, temperatur rata-rata, ketinggian, bentang alam, jenis dan populasi flora dan fauna, biosfer air (sungai, danau, laut, samudera), curah hujan, dan luas daratan. Hal-hal di atas inilah yang akan dikupas sehubungan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan sebuah peradaban di dalamnya.

Mengapa peradaban berkembang lebih awal dan lebih pesat di Eurasia?

EurasiaEurasia adalah daratan terbesar, gabungan dari benua Eropa dan Asia, terbentang dari Eropa Barat sampai ke Selat Bering. Sebagian besar terletak dalam iklim subtropik. Iklim yang relatif seragam ini adalah konsekuensi dari terbentangnya Eurasia dari barat ke timur, bukan dari utara ke selatan. Daratan yang luas tanpa hambatan alam berarti memberikan ruang yang luas bagi flora, fauna dan juga manusia untuk berkembang biak.

Daerah sub-tropik mempunyai empat musim sepanjang tahun. Hal ini berpengaruh pada siklus hidup tanaman di daerah ini. Tanaman melalui proses evolusi menyesuaikan diri dengan sekitarnya. Di musim dingin, tanaman tidak akan tumbuh, hanya menyisakan sedikit daya hidup untuk bertahan. Di musim semi, biji-biji mulai bertunas, daun-daun mulai tumbuh lagi. Curah hujan di musim panas memberikan cukup air untuk tanaman. Dan di musim gugur, tanaman bersiap untuk menghadapi musim dingin dengan menggugurkan daunnya. Semuanya ini terprogram secara genetis pada tanaman. Beberapa species tanaman yaitu tanaman rumput berbiji besar (sereal) dan kacang-kacanganan beradaptasi sangat baik dengan kondisi alam ini. Tanaman-tanaman ini adalah tanaman tahunan, yang siklus hidupnya hanya setahun. Karena hanya tumbuh setahun, usaha terbesar tanaman ialah membuat biji yang sebesar mungkin yang akan meneruskan kelangsungan gen pada tahun berikutnya. Tanaman-tanam inilah yang nantinya akan menjadi makanan pokok dan memicu tumbuhnya sebuah peradaban.

Eurasia adalah daratan terbesar. Daratan yang luas berarti tempat tinggal yang luas bagi flora, fauna dan juga manusia tentunya.Tempat yang luas berarti besarnya populasi dan memberikan ruang bagi keanekaragaman. Populasi dan keanekaragaman species ini nantinya akan sangat berpengaruh bagi munculnya pertanian.

Eurasia yang terbentang dari barat ke timur membawa konsekuensi iklim yang seragam sepanjang daratan. Iklim yang seragam ini membuat penyebaran flora, fauna dan manusia menjadi lebih mudah. Makhluk hidup cenderung lebih suka tinggal di daerah yang tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya.

Hal yang kontras bisa kita lihat jika kita membandingkan Eurasia dengan Afrika dan Amerika. Meskipun kedua benua tersebut juga termasuk besar, namun peradabannya kalah jauh dari Eurasia. Afrika dan Amerika terbentang dari utara ke selatan yang membawa konsekuensi perbedaan iklim di sepanjang garis lintang. Penyebaran menjadi lebih lambat karena butuh waktu untuk menyesuaikan diri yang lebih lama. Selain itu terdapat hambatan alami yang secara langsung membatasi penyebaran. Hambatan itu adalah Gurun Sahara yang membatasi Afrika bagian utara dan selatan, serta gurun di Mexico dan tanah genting Panama yang sempit, yang membatasi Amerika bagian utara dan selatan. Secara alamiah Afrika dan Amerika terbagi menjadi dua wilayah yang relatif terisolasi sama lain. Hal ini sangat berpengaruh pada penyebaran peradaban yang akan dibahas lebih lanjut pada bab yang lain.

Dari semua faktor di atas dapat disimpulkan membawa Eurasia pada konsekuensi di bawah ini:
• Populasi dan keanekaragaman species yang besar
• Penyebaran species yang lebih mudah sepanjang daratan

Mengapa manusia meninggalkan cara hidup tinggal berpindah-pindah, berburu dan meramu lalu menetap dan bercocok tanam?

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini kita harus mengubah sudut pandang kita menjadi sudut pandang orang yang hidup di jaman prasejarah. Sekarang dengan enaknya kita bisa menjawab bahwa pertanian lebih menguntungkan karena menghasilkan lebih banyak dari pada berburu. Orang di jaman itu tentunya tidak berpikir demikian. Mereka tidak bisa melihat hasil dari bertani karena memang tidak ada. Lagi pula hasil dari bertani tidak bisa terlihat langsung seperti halnya hasil buruan. Kita harus menunggu beberapa bulan bahkan tahun untuk bisa melihat hasil melimpah dari sebuah lahan pertanian.

Manusia tidak akan pernah mulai bertani bila tidak mengalami masalah kekurangan pangan dari “gaya hidup” berburu dan meramu. Bertambahnya populasi berarti juga makin berkurangnya populasi hewan buruan. Hal ini terlihat jelas sekali pada penduduk di Polinesia yang baru mulai bertani setelah populasi moa berkurang drastis akibat perburuan. Hal yang sama terjadi di Selandia Baru, di mana penduduk baru mulai bertani setelah berkurangnya populasi anjing laut yang menjadi buruan mereka. Lambatnya perkembangan pertanian di Amerika Utara juga disebabkan karena melimpahnya populasi hewan buruan. Budaya setempat dengan banyak “tabu” sengaja yang diciptakan untuk menjaga jumlah populasi hewan buruan membuat “gaya hidup” berburu tetap bertahan sampai menjelang kolonisasi Eropa.

Perubahan iklim di akhir Pleistocene membuat melimpahnya tanaman sereal dan kacang-kacangan. Hal ini memungkinkan orang di jaman itu untuk mengumpulkan biji-bijian dan kacang-kacangan dalam jumlah besar sebagai makanan alternatif selain hasil buruan.

Lalu bagaimana mereka mulai bertani? Pertama-tama jangan kita bayangkan pertanian di jaman prasejarah sebagaimana pertanian jaman sekarang. Kebun mereka yang pertama kemungkinan besar adalah halaman belakang perkemahan mereka, yaitu tempat buang air besar. Biji-bijian yang mereka makan, beberapa di antaranya punya kulit biji yang kuat sehingga bertahan dari pencernaan, tumbuh di atas kotoran manusia. Mungkin juga ada beberapa orang iseng, yang dalam sejarah sering disebut penemu, mengumpulkan beberapa tanaman dan tanpa tujuan yang jelas menanamnya di sekitar perkemahan mereka. Mereka bisa jadi anak-anak, perempuan yang tidak berburu, atau orang yang punya waktu berlebih untuk main-main karena jumlah makanan yang terkumpul untuk keluarganya berlebih. Merekalah petani pertama. Setelah ratusan bahkan ribuan tahun pertanian mulai terlihat sebagai sebuah alternatif yang menghasilkan jumlah makanan lebih banyak dari pada berburu.

Mulanya pertanian hanyalah sebagai penghasil sumber makanan alternatif dari berburu. Seiring waktu terlihat bahwa hasil dari bertani memberikan hasil yang lebih pasti, sehingga menggantikan kegiatan berburu sebagai cara memperoleh makanan. Berburu berbalik menjadi alternatif dari bertani, yang memberikan protein lezat sewaktu-waktu sebagai selingan yang mengasyikkan.

Pertanian secara tidak langsung memicu berkembangnya teknologi pertama yaitu teknologi bertani. Manusia mulai membuat alat-alat sederhana untuk mengolah tanah, menuai dan juga merontokkan biji-bijian, serta gerabah untuk menyimpan makanan.

Hal kedua yang perlu diperhatikan ialah bertani tidak langsung membuat manusia tinggal menetap. Beberapa suku di Papua mempunyai kebun pepaya yang mereka tanam lalu mereka tinggal untuk dilihat hasilnya berbulan-bulan kemudian. Suku Indian Apache juga bertani di musim semi dan pergi berburu ke tempat lain untuk berburu di musim dingin. Menetap adalah perkembangan berikut sehubungan dengan bertambahnya populasi yang makin mempersulit kehidupan berpindah-pindah. Teknologi juga menghasilkan banyak alat-alat yang menyulitkan untuk selalu dibawa-bawa sewaktu berpindah. Seiring meningkatnya hasil pertanian, panenan yang banyak juga membuat mereka enggan berpindah, dan memilih untuk menetap dan menjaga tanah bertani mereka dan juga hasil panennya.

Di manakah manusia mulai beternak dan apa konsekuensinya?

Kapan manusia mulai beternak? Untuk itu kita perlu melihat ke belakang. Hewan pertama yang dijinakkan adalah anjing sewaktu manusia masih berburu. Konsep penjinakan atau domestikasi adalah membuat hewan menurut pada keinginan manusia. Beberapa hewan lebih mudah dijinakkan dari hewan lain. Hewan yang hidup bergerombol dan memiliki pemimpin cenderung lebih mudah dijinakkan. Seekor anak anjing liar (serigala) yang dipelihara sejak bayi akan menunjukkan kesetiaan seperti ia setia pada pemimpin gerombolannya. Anjing sebagai hewan domestik pertama sangatlah berguna, selain membantu berburu juga sebagai hewan penjaga rumah.

Pola yang sama diikuti untuk menjinakkan hewan lain, untuk berbagai keperluan. Salah satunya tentunya adalah sebagai makanan. Hewan tersebut harus menurut, mudah dipelihara, dan tentunya dagingnya cukup banyak. Bagaimana mulanya proses domestikasi dimulai? Satu hal yang sangat berpengaruh adalah kesukaan manusia akan hewan peliharaan. Mulanya tentu hewan-hewan tersebut lebih mirip binatang piaraan ketimbang ternak. Tetapi untuk dibiakkan dalam jumlah besar adalah masalah lain. Faktor yang harus dipertimbangkan tentunya adalah bagaimana cara menanganinya. Binatang itu harus cukup menurut, mudah dikawinkan, tidak mudah kabur dan tentunya tidak berbahaya. Dari semua binatang, hanya beberapa saja yang bisa memenuhi semua syarat di atas. Binatang tersebut adalah sapi, domba, onta, babi, kuda, llama, keledai dan kerbau. Binatang-binatang tersebut memenuhi semua kriteria di atas. Beberapa binatang lain yang meskipun berguna sulit sekali dijinakkan. Beruang grizzly dengan berat 800 kilogram tentunya sangat berguna bila bisa dijinakkan. Daging yang banyak dan lezat tentunya membuatnya masuk sebagai pilihan. Namun bagaimana caranya menjinakkan beruang grizzly? Hal yang sama berlaku pada zebra. Zebra adalah binatang yang suka menggigit, sehingga korban gigitan zebra di kebun binatang lebih banyak dari pada cakaran harimau. Begitu juga kangguru, yang kalau mau diternakkan harus dibangunkan pagar setinggi tiga meter, supaya tidak kabur.

Peternakan sangat cocok dengan pertanian yang telah dikembangkan sebelumnya. Kotoran hewan biasa dimanfaatkan sebagai pupuk yang meningkatkan hasil pertanian. Tenaganya bisa dipakai untuk membajak sehingga tanah yang sebelumnya tidak layak ditanam menjadi bisa ditanam. Walhasil tanah bertani semakin luas. Beberapa binatang bahkan memiliki nilai strategis yang bisa mengubah sejarah. Yang dimaksud adalah kuda yang dijadikan sarana militer, yang dipakai untuk menaklukkan peradaban lain. Kuda telah dipakai sejak 4000 SM sampai menjelang Perang Dunia I. Beberapa jendral sebelum Perang Dunia I malah berkeras bahwa kavaleri masih akan menjadi primadona dalam 50 tahun ke depan.

Kombinasi dari diet yang lebih baik dengan ternak sebagai sumber protein, and teknologi pertanian dengan memanfaat ternak sebagai pembajak, membuat populasi bertambah dengan pesat dan akan membawa pada konsekuensi yang akan dibahas di bab berikutnya.

Hal lain yang sangat berpengaruh namun sering dilupakan adalah penyakit yang muncul dari ternak lalu menjangkiti manusia. Penyakit-penyakit pembunuh massal tersebut adalah cacar, cacar air, TBC, batuk rejan, flu, dan malaria. Bagaimana hal ini bisa terjadi akan dibahas di bab berikutnya.

Kuman terbukti menjadi pembunuh yang lebih sukses ketimbang senjata. Sebanyak 50% populasi Aztec tewas akibat wabah cacar yang dibawa orang Spanyol di tahun 1520. Pada tahun 1618, populasinya tinggal 1.6 juta dari semula 20 juta.

Apa yang terjadi setelah populasi suatu daerah berkembang?

Beberapa hal akan menjadi konsekuensi dari bertumbuhnya populasi, antara lain:

1. Teknologi
Berkembangnya pertanian menyebabkan hasil yang melimpah. Panen melimpah membuat manusia mempunyai waktu luang untuk tidak bekerja. Beberapa orang bahkan tak usah bekerja di ladang sama sekali, melainkan hanya bertukang membuat dan memperbaiki alat-alat pertanian. Merekalah cikal bakal para insinyur. Sebuah kelas baru muncul, yaitu tenaga ahli.

Perlu diperhatikan bahwa teknologi muncul bukanlah sebagai sebuah aksi heroik seorang penemu sebagai yang sering kita kira. James Watt bukanlah penemu mesin uap di tahun 1769 seperti yang kita duga. Ia hanya mengembangkan mesin uap dari model yang dibangun Thomas Newcomen 57 tahun sebelumnya. Newcomen rupanya mengembangkan mesin uap Thomas Savery yang dipatenkan tahun 1689. Savery sendiri mendasarkan modelnya pada desain Denis Papin tahun 1680 yang tak sempat dibuat oleh Papin sendiri. Papin mendapat ide tersebut dari ide ilmuan sebelumnya yaitu Christiaan Huygens. Hal yang sama bisa kita lihat pada semua penemuan lainnya.

Penemuan teknologi sebenarnya adalah serangkaian penemuan ketimbang satu penemuan besar. Hal ini hanya bisa tumbuh dalam sebuah peradaban yang memiliki jumlah populasi “spesialis intelektual” yang cukup besar. Jumlah kelas ini hanya bisa dicapai dengan intensifikasi pertanian. Faktor kedua adalah pertukaran ilmu antar peradaban. Hal ini hanya dimungkin dengan adanya kontak antar peradaban. Kontak ini bisa berarti perdagangan atau peperangan. Pada masa awal sejarah batas antara perdagangan dan peperangan adalah tipis. Pedagang bisa juga adalah penakluk, tergantung situasi dan kondisi.

Eurasia dengan luas daratan yang besar tanpa isolasi geografis yang berarti memberikan peluang yang besar untuk kesemuanya itu. Penyebaran teknologi bisa melalui jalan damai atau lewat penaklukan. Dalam waktu tak lama hampir seluruh Eurasia telah mengenal bertani dan beternak dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Melalui perdagangan atau penaklukan, teknik pun makin disempurnakan.

Jika peradaban Mesoamerika (Aztec) tidak terisolasi dari peradaban Inca di Andes, mungkin ceritanya akan berbeda. Jarak keduanya hanya 1200 mil, kurang lebih sama dengan jarak Balkan dan Mesopotamia. Balkan dalam jangka waktu 2000 tahun telah mengadopsi pertanian dan peternakan dari Mesopotamia. Aztec tak pernah mengenal ternak yang lebih besar dari anjing, padahal llama dikembangkan di Inca. Dataran rendah yang panas dan bergurun di Amerika tengah secara efektif mengisolasi kedua peradaban ini. Dengan ternak besar seperti llama yang cocok sekali dikembangkan di Mexico, tidak mustahil, Aztec mampu mencapai peradaban semaju di Eurasia. Hal yang sama dialami peradaban di Sahel dan peradaban di Afrika bagian selatan yang terisolasi sempurna oleh Gurun Sahara.

2. Kuman
Sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, kuman bisa membawa pada konsekuensi mencengangkan yang tak terpikirkan sebelumnya. Hampir semua penyakit pada manusia pada mulanya adalah penyakit pada binatang. Kontak rutin dengan hewan tersebut mentransfer kuman ke manusia. Peternakan mulanya tentu tidak seperti sekarang. Hewan ternak tinggal bersama di antara manusia. Kontak antara manusia dan hewan sering terjadi. Perpindahan kuman menjadi sangat biasa dalam lingkungan yang belum mengenal sanitasi. Beberapa malah menyebar melalui hubungan seks antara manusia dan ternaknya. Beberapa di antaranya berkembang menjadi wabah. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Untuk bisa berkembang menjadi wabah sebuah kuman perlu memenuhi beberapa syarat. Yang pertama adalah penduduk yang menetap. Masyarakat berburu yang berpindah-pindah, bukanlah pilihan yang cocok karena mereka meninggalkan kotoran mereka dengan berpindah. Masyarakat bertani tinggal bersama kotoran mereka. Inilah tempat yang disukai kuman. Populasi yang banyak menjamin tersedianya banyak inang baru, setelah inang semula yang mati terserang penyakit. Populasi sebagai rumah bagi perkembiakan kuman epidemik tidaklah harus sebuah peradaban. Eurasia yang dihubungkan oleh perdagangan dan perang berfungsi sebagai sebuah rumah besar bagi berbagai kuman epidemik.

Populasi yang terjangkit kuman epidemik akan secara genetis mengembangkan kekebalan alami. Peradaban lain yang tidak pernah mengembangkan populasi dalam jumlah besar tidak mepunyai antibodi ini. Dan bila terjadi kontak antara kedua peradaban, yang terjadi adalah perang biologi alami, yang dahsyatnya melebihi perang konvensional di waktu itu.

3. Birokrasi

Ledakan penduduk yang dimungkinkan setelah munculnya pertanian menjadi salah satu faktor utama dari munculnya birokrasi. Ledakan penduduk ini dimungkinkan karena adanya surplus dari cara hidup dengan bertani. Surplus ini, bersamaan dengan gaya hidup menetap, memungkinkan mereka untuk menambah jumlah populasi yang dapat didukung.

Birokrasi tidak diperlukan dalam sebuah kawanan yang katakanlah terdiri dari sebuah keluarga besar beranggotakan 20-an orang. Setiap orang saling mengenal satu-sama lain. Kekerabatan membuat semacam daya ikat yang menyatukan mereka sekaligus untuk meredam konflik yang muncul di antara mereka. Selain itu pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan mudah secara egaliter karena jumlah yang relatif tidak banyak. Sistem pengambilan keputusan mereka sering dilakukan dengan pertemuan di mana setiap orang memiliki hak yang sama untuk berbicara dan secara bergiliran.

Seringkali memang di antara kawanan muncul orang kuat yang berpengaruh. Biasanya karena keberaniannya atau prestasinya dalam berburu maupun berperang. Tapi lagi-lagi birokrasi belum muncul karena sistem kehidupan mereka yang hanya berburu tidak menghasilkan surplus untuk diperebutkan. Orang kuat tersebut meskipun memiliki status tidak memiliki harta ekstrinsik untuk dikuasai. Ketiadaan surplus inilah yang membuat tidak munculnya birokrasi untuk mengaturnya (atau menguasainya).

Kerumitan pertama yang muncul dengan bertambahnya populasi adalah meningkatnya potensi konflik di antara anggotanya. Jumlah yang semakin besar membuat orang semakin sulit untuk saling mengenal. Konflik ini perlu dimediasi, dan ini memberikan peran kepada orang kuat. Penyelesaian secara kekeluargaan digantikan dengan penyelesaian secara hukum dan norma.

Kerumitan kedua yang dimunculkan dari surplus adalah bagaimana melakukan transaksi. Kerumitan ini bertambah dengan meningkatnya jumlah populasi. Sistem informal saling memberi saling menerima tidak lagi dapat diandalkan. Untuk mempermudah transaksi ini seluruh surplus dikumpulkan dan kemudian dikelola oleh satu orang kuat. Orang kuat sekarang memiliki instentif, karena ia tentunya bisa memperoleh bagian yang besar dari surplus tersebut.

Kemunculan orang kuat di puncak birokrasi sendiri memunculkan kerumitan tersendiri. Otomatis dia harus menciptakan sesuatu untuk mempertahankan keuntungan yang dia peroleh. Hal inilah yang mendorong munculnya hak waris. Hak waris tidak akan banyak gunanya untuk orang yang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit surplus, tapi akan sangat berguna bagi yang memiliki surplus berlimpah.

Dengan semakin bertambahnya populasi ia juga harus menciptakan sistem pemerintahan dan pengawasan. Ini memunculkan hirarki birokrasi yang melahirkan elit di dalam masyarakat. Para elit ini juga memperoleh kemudahan seperti halnya sang penguasa di puncak birokrasi dan sebagai imbalannya menjadi perpanjangan tangannya.

Untuk mempertahankan kekuasaannya ia membuat dua spesialis baru: tentara dan pendeta. Tentara diciptakan dengan menarik hak melakukan kekerasan dari masyarakat (dengan menarik senjata), dan memberikannya kepada satu golongan yang memonopoli kekerasan dengan alasan untuk menjaga ketertiban. Tentu saja tentara juga dipakai untuk menjaga surplus supaya tidak direbut. Golongan kedua adalah pendeta, yang membuat hukum adat dan norma. Ini adalah sebuah cara yang lebih halus untuk mengelola konflik, dan memberikan sebuah rasa puas bila seseorang telah menjalankan kewajibannya sebagai anggota dari sebuah kelompok.

Hal seperti di atas memungkinkan pengaturan sampai ribuan atau puluh ribuan populasi, kurang lebih sebuah suku besar. Suku besar yang mampu mengelola dirinya sendiri dan memiliki surplus yang cukup banyak memiliki waktu luang yang dapat dimanfaatkan untuk hal lain. Hal itu misalnya adalah untuk membangun (tembok pertahanan, irigasi, tempat ibadah, istana) atau untuk melakukan perang ekspansi mengalahkan suku lain.

Penaklukan melahirkan sebuah kemungkinan baru, yaitu terbentuknya sebuah kesatuan dari berbagai macam suku. Penaklukan tanpa membunuh suku taklukan dilakukan karena adanya kebutuhan tenaga kerja yang bisa diberikan dari suku taklukan. Ini hanya mungkin dilakukan karena adanya surplus yang cukup besar yang memberikan ruang untuk spesialisasi.

Pengaturan kekompok masyarakat yang terdiri dari suku yang berbeda-beda tidaklah sama dengan yang berasal dari satu suku. Suku yang berbeda tidak memiliki akar yang sama. Untuk itu mereka perlu dikelola dengan cara batu. Hukum dan norma pun dibuat menjadi makin formal. Ia berubah bentuk menjadi ideologi dan agama. Kelompok pendeta di sini memiliki peran yang semakin penting. Ideologi dan agama yang diciptakan haruslah bisa memayungi kepercayaan asal mereka yang berbeda-beda.

Monoteisme dengan sebuah Tuhan tunggal yang mampu memayungi seluruh umat manusia tanpa membedakan suku dan ras adalah sebuah pilihan yang logis. Inilah yang membuat negara yang paling sukses sampai saat ini dalam menyebarkan pengaruhnya baik dengan penaklukan maupun perdagangan adalah negara dengan faham monoteisme, karena ia mampu memberikan sebuah frame kepercayaan yang dapat mengakomodasi daerah taklukan.

4. Tulisan

Tulisan semula dipakai sebagai alat oleh birokrasi sebagai pengontrol massa. Tulisan hanya bisa dibaca oleh elit tertentu yang menjadi perpanjangan tangan birokrasi. Tulisan dibuat menjadi sesuatu yang suci yang hanya boleh dipelajari oleh kelas tertentu saja. Ini memungkinkan terjadinya pengelolaan informasi yang sentralistis dan elitis, yang tentu saja dipakai untuk kepentingan penguasa.

Kemudian tulisan berkembang lebih lanjut bukan hanya sebagai alat birokrasi melainkan alat komunikasi secara umum. Tulisan yang mulanya dipakai sebagai alat kontrol menjadi alat penyimpan informasi yang lebih efektif ketimbang sekedar bahasa lisan. Ini memungkinkan akumulasi dan juga menyebarluasan informasi yang lebih efektif. Hal ini penting sekali dalam sebuah struktur masyarakat yang kompleks dan besar.

Masyarakat modern sekarang sangat tergantung pada tulisan karena masifnya akumulasi informasi yang telah kita hasilkan. Ini membuat tingkat literasi suatu bangsa menjadi salah saty syarat utama untuk kemajuan bangsanya. Kemampuan baca tulis ini memberikan kemampuan penyerapan maupun penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menentukan kemajuannya di masa depan.

guns-germs-steel.jpegtulisan ini disadur dari buku Guns, Germs, and Steel, karangan Jared Diamond

5 Komentar »

  1. Wah bagus sekali tuturan dalam tulisan ini. Andai ada versi cetak lengkap dengan ilustrasi gambarnya, tentu akan lebih menarik untuk disimpan sebagai bahan bacaan.

    Komentar oleh zakiakhmad — Mei 7, 2007 @ 10:22 am

  2. Ooo…bagus!!!

    Komentar oleh evi — April 10, 2008 @ 6:14 am

  3. keren bnget….

    tengkyu. mudah2an tulisan ini berguna

    Komentar oleh aldhy ihuw — September 23, 2008 @ 6:07 am

  4. ooohh… baguusss…

    Komentar oleh cruzthlette — Februari 1, 2009 @ 2:32 pm

  5. resensi yang menarik..

    thanks

    sama-sama

    Komentar oleh danu — Juli 16, 2009 @ 3:26 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: