On Everything

Mei 8, 2007

Selingkuh

Filed under: Tentang Cinta — Oni Suryaman @ 4:24 am
Tags: ,

selingkuh.jpgSelingkuh, ah biasa! Semua sinetron, film dan buku cerita sudah menceritakannya. Apa yang akan saya tulis di sini adalah yang “agak” tidak biasa tentang selingkuh. Mengapa tidak biasa? Karena di sini, saya justru membela yang berselingkuh. Lho bagaimana bisa begitu? Baca saja sendiri lebih lanjut.

Selingkuh memang biasa. Lebih biasa dari pada yang Anda bayangkan. Saya malah percaya bahwa selingkuh justru adalah tindakan yang normal. Kalau kita memuat survei dengan pertanyaan berapa kali orang selingkuh semasa hidupnya, lalu kita buat kurva distribusinya, yang tidak pernah selingkuh sama sekali nampaknya akan berada di luar batas normal.

Mengapa selingkuh itu normal? Di dunia binatang, selingkuh memang adalah normal. Manusia, sebagai binatang yang lebih kompleks, bisa saja menganggap selingkuh itu juga normal. Bagi binatang, kelangsungan hidup dari suatu spesies tergantung sekali dari kemampuannya beranak pinak. Bila binatang, seperti manusia yang menganut norma monogami, mempunyai pasangan yang tidak subur, tidak beruntunglah dia karena tidak akan menghasilkan keturunan. Selain harus beranak pinak, keturunannya pun harus sehat, sehingga mampu bertahan hidup. Dengan demikian, individu yang paling sehat dan subur seyogyanya mendapatkan pasangan yang paling banyak. Seekor pejantan yang tangguh akan sangat disayangkan kalau ia hanya membuahi satu betina, suatu cara yang sangat tidak alamiah dan tidak menguntungkan pada spesiesnya.

Tapi itu kan binatang, manusia kan lain. Lain? Lainnya di mana? Mau tidak mau saya harus memberi Anda kuliah biologi sedikit. Manusia adalah binatang yang sedikit unik, yaitu binatang yang tidak mengenal musim kawin., alias horny all the time.[1]Selain itu manusia juga mengenal apa yang disebut tabu incest, yaitu larangan untuk berhubungan seks dengan induknya.[2] Dan belakangan ini manusia mampu melakukan usaha untuk mencegah kehamilan, sesuatu yang justru bertentangan dengan kodrat alam.[3]Tapi di luar itu sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Meskipun kita bisa bilang bahwa dalam memilih pasangan kita melihat pribadi, namun kenyataannya faktor fisik tetaplah paling menentukan. Ingat, kita harus membedakan antara memilih pasangan seksual dan pasangan hidup bersama. Pasangan seksual berarti hanya sebatas hubungan seksual, dan pasangan hidup berarti ada pembagian sumber daya. Singkatnya hubungan seks hanya melihat fisik saja, dan pasangan hidup harus melihat harta.

Kembali ke pertanyaan semula, kenapa manusia selingkuh? Karena dari sononya manusia memang diprogram untuk berkembang biak, dan ini bisa diterjemahkan dengan mencari pasangan sebanyak mungkin dan kalau bisa yang unggul. Jadi kalau Anda termasuk bibit unggul, kemungkinan besar Anda juga jagoan selingkuh.

Tapi marilah kita lihat lebih detil dalam kehidupan masyarakat di sekitar kita, khususnya masyarakat urban. Meskipun selingkuh terjadi di mana-mana, namun harus kita akui bahwa norma monogami nampaknya menjadi pandangan sebagian besar masyarakat. Bahkan penganut poligami pun tidak mengijinkan hubungan di luar pasangan sahnya. Banyak sekali alasan yang diberikan untuk menyalahkan selingkuh. Yang pertama adalah alasan agama, pokoke dosa. Alasan ini tidak akan saya debat karena memang di luar kapasitas saya untuk menentukan mana yang dosa dan mana yang tidak. Biarlah itu menjadi hak prerogatif Tuhan saja. Yang kedua adalah alasan praktis, tidak bisa menentukan siapa bapak dari sang anak hasil hubungan selingkuh. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat alasan ini kehilangan validitasnya. Sekarang kita bisa dengan mudah melakukan tes DNA untuk menentukan ayah kandung dari sang anak. Yang ketiga, selingkuh adalah pengkhianatan dari janji setia perkawinan. Okelah, alasan ini sepertinya cukup oke. Selingkuh dianggap bisa meruntuhkan institusi keluarga. Keluarga adalah institusi sosial manusia yang paling primitif. Runtuhnya institusi ini bisa memberikan ganggauan yang cukup berarti dalam peradaban manusia. Salah satunya adalah ketergantungan anak manusia pada keluarga yang membesarkannya.[4] Meskipun demikian kita harus kembali mempertanyakan mengapa kesetiaan menjadi sesuatu yang niscaya dalam sebuah hubungan perkawinan.[5] Bagaimana pun perkawinan adalah sebuah lembaga ciptaan manusia yang tentu saja tidak abadi dan selalu bisa kita definisi ulang, kalau mau. Pendekatan ini, yaitu mencari alasan kenapa orang selingkuh saya rasa agak sulit. Oleh karena itu saya akan melakukan pendekatan dengan cara lain, yaitu mencoba memahami dorongan-dorongan yang membuat orang selingkuh.

Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, badan kita tidak diprogram untuk menjadi makhluk monogami. Jika norma kita abaikan, setiap kali kita menjumpai lawan jenis dan kita saling suka, secara teoritis hubungan seks bisa berlangsung. Ini mungkin yang sering disebut orang free sex.[6] Dorongan ini adalah dorongan lahiriah, yang dikontrol oleh otak kita yang paling primitif, bagian reptil complex, yang juga mengatur agresi dan rasa takut. Bagian ini sedemikian primitifnya sehingga ia benar-benar tidak rasional, karena ia dibutuhkan untuk pertahanan diri yang paling dasar, yaitu untuk kelangsungan hidupnya. Dorongan ini diatur oleh dua hormon seksual kita yaitu testosteron dan estrogen. Tanpa dorongan ini manusia akan punah.

Manusia juga tidak selalu membutuhkan “makanan” fisik, ia juga membutuhkan “makanan” mental seperti perhatian dan kasih sayang. Untuk hal ini kita juga masih diperbudak oleh hormon yang disebut monoamina seperti dophamine, norepinephrine dan serotonin, yang membuat kita merasa enak alias feeling good. Perasaan ini selalu ingin kita ulangi lagi dan lagi. Kekurangan makanan jenis ini dalam keluarga sendiri bisa memberikan dorongan untuk jajan di luar. Jadi sekali lagi selingkuh itu wajar.

Namun berbeda dengan binatang pada umumnya, kita memiliki otak luar yang disebut neo-cortex, yang berfungsi untuk berpikir rasional sehingga kita tidak selalu mematuhi dorongan-dorongan dari otak primitif kita. Norma-norma yang telah bertahan ribuan tahun telah membuktikan bahwa ia mampu membuat keteraturan dalam kelompok. Salah satu dari norma-norma itu adalah perkawinan. Perkawinan menghasilkan sebuah entitas sosial terkecil dalam masyarakat. Tanpa itu struktur masyarakat kita akan runtuh. Untuk itulah norma meredam kita, dengan hukuman-hukuman sosial atau dosa, yang membuat kita untuk berpikir dua atau tiga kali sebelum selingkuh.

Untuk beberapa ribu tahun larangan-larangan ini, baik adat maupun agama, cukup efektif. Namun perubahan sedang terjadi sekarang. Ada semacam perlawanan yang membuat orang mulai berpikir skeptis tentang agama maupun adat. Termasuk di antaranya adalah pertanyaan tentang kesetiaan. Dulunya larangan ini berguna untuk menghindari anak di luar pernikahan. Dengan alat pencegahan kehamilan, larangan ini menjadi berkurang validitasnya. Sementara teknologi berjalan maju terus, perdebatan tentang etika masih ketinggalan di belakang, karena memang tidak pernah diberi perhatian.

Sekarang mari kita lihat struktur masyarakat urban, di Jakarta khususnya. Pertama, pengeluaran alias konsumsi terus bertambah seiring dengan gaya hidup yang membuat suami isteri harus bekerja dua-duanya. Kedua, beban pekerjaan yang membuat orang harus nongkrong di kantor dari pukul sembilan sampai jam lima sore. Ketiga, macetnya Jakarta yang membuat persoalan kedua semakin parah. Kombinasikan ketiganya, kita mendapat sebuah keluarga yang jarang bertemu di rumah, kecuali mungkin hari Sabtu dan Minggu. Sebuah keluarga yang disfungsional, ditambah dengan mulai runtuhnya norma, jadilah selingkuh merajalela.

Contoh kasus begini: seorang bapak dengan satu orang anak bekerja sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan. Istrinya seorang manajer juga di perusahaan lain. Secara keuangan mereka mapan. Karena mereka berdua tinggal tinggal di luar kota, mereka harus berangkat pagi-pagi sekali kalau tidak mau terlambat. Dan pulangnya baru bisa berkumpul bersama menjelang pukul sembilan malam. Makan tidak pernah bersama-sama di satu meja kecuali akhir pekan. Pulang ke rumah sudah kelelahan, lalu langsung nonton TV dan tidak sempat untuk berkomunikasi. Kalau pun sempat berkomunikasi biasanya hanya seputar masalah pekerjaan. Di kantor sang suami punya teman dekat seorang staf perempuannya, tempat ia curhat sewaktu makan siang. Mula-mula hanya masalah pekerjaan. Lama-lama mulai curhat masalah isterinya yang ia rasa kurang memberikan waktu untuknya. Sementara itu sang staf merasa kasihan dengan atasannya yang kurang mendapat perhatian dan mencoba untuk mengisi ruang kosong di hatinya. Dan begitulah seterusnya. Seperti kata pepatah cinta lahir lantaran sering berjumpa.

Kesimpulannya, seperti kata Bang Napi, selingkuh terjadi bukan karena niat, melainkan karena ada kesempatan.


[1] Binatang lain yang juga tidak mengenal musim kawin adalah gibbon, dan uniknya gibbon juga menganut monogami seperti halnya manusia

[2] Simpanse bonobo juga mengenal tabu incest, sesuatu yang sangat jarang terjadi di kalangan binatang

[3] Di dunia binatang kadang terjadi infanticide, membunuh bayi dari pesaing seksualnya

[4]Ada yang berargumen bahwa jaminan sosial terhadap kesejahteraan anak yang diberikan kepada anak secara langsung bisa membahayakan institusi keluarga karena anak tidak perlu lagi bergantung lagi pada keluarga, cukup pada negara

[5] Di Italia, para prianya terkenal sangat setia pada istri dan keluarganya, namun itu sama sekali tidak menjamin ia untuk tidak mempunyai simpanan. Ibarat istri di rumah seperti pendamping yang selalu bisa diharapkan, dan simpanan hanya untuk melepas kepenatan. Mereka tidak akan pernah menceraikan istrinya, betapa pun sudah tua dan jelek, hanya untuk selingkuhannya yang berusia belasan tahun.

[6] Hati-hati dengan istilah free sex karena bisa mempunyai dua makna: free dalam arti bebas tanpa aturan, free dalam arti gratis alias tidak perlu membayar

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: