On Everything

Mei 15, 2007

Sekolah, Sebuah Feudalisme Baru

Filed under: Tentang Pendidikan — Oni Suryaman @ 7:58 am
Tags: , ,

noschool.jpgSekolah, awal mulanya dirancang sebagai sebuah sistem untuk membebaskan manusia dari kebodohan. Sampai sekarang pun, banyak orang masih tergantung pada sekolah sebagai jalan keluar dari kebodohan. Sekolah menjadi salah satu target dari Millenium Goal PBB, dan mendapatkan prioritas pembangunan di negara maju pada umumnya. Korelasi antara sekolah dan kemajuan suatu bangsa nampaknya tak terbantahkan.

Sekarang marilah kita lihat lebih jelas, apakah sekolah sekarang benar-benar membebaskan. Kebebasan sendiri tidak tunggal melainkan gabungan dari beberapa kebebasan: kebebasan berpikir, kebebasan bertindak, kebebasan ekonomi, dan kebebasan politik. Apakah sekolah mengacu pada kebebasan-kebebasan di atas?

Pertama, kebebasan berpikir. Sekolah, dengan universitas sebagai puncaknya, umumnya dianggap sebagai representasi dari kebebasan berpikir. Apakah demikian halnya? Sekolah, yang menganut sistem nilai (grading) terus terang sulit untuk menjunjung kebebasan berpikir. Yang berada di puncak kebenaran adalah guru, sang pemberi nilai. Kebenaran yang mestinya menjadi pencarian bersama, cenderung menjadi hak otoritatif guru. Nilai sesungguhnya tidaklah terlalu buruk selama ia tidak menjadi tujuan. Nilai sebagai tujuan dari sekolah hanyalah akan membawa bukan ke arah pencarian kebenaran, melainkan konformitas dengan apa yang diajarkan sang guru, demi sebuah nilai, yang menentukan lulus tidaknya seorang siswa.

Kedua, kebebasan bertindak. Sekolah umumnya dikenal sebagai pendidik disiplin, dan itu bukannya tidak berguna sama sekali. Namun ada sesuatu yang kita lupakan. Disiplin (dalam hal ini pengendalian diri) memiliki banyak bentuk. Sekolah, pada umumnya hanya mengajarkan satu bentuk, yaitu kepatuhan kepada guru. Guru menjadi simbol kebenaran (pembenaran?) yang tak terbantahkan. Begitu seorang anak masuk ke dalam sekolah, ia sesungguhnya telah kehilangan haknya sebagai seorang manusia yang bebas, melainkan masuk ke dalam sebuah sistem yang punya nilai tentang kebenaran tersendiri. Ada dua cacat yang luar biasa dalam peranan sekolah sebagai pendidik disiplin anak. Pertama, pendidikan tentang disiplin adalah tanggung jawab sekolah, dengan demikian peran orang tua sebagai pendidik anak yang utama telah diabaikan. Kedua, disiplin sesungguhnya adalah sebuah konsensus yang terjadi akibat persinggungan antar kepentingan pribadi. Konsensus tersebut baru bisa disebut adil bila kedua pihak yang bersinggungan kurang lebih memiliki kekuasaan yang setara. Syarat tersebut tidak terpenuhi di dalam sekolah. Guru, bagaimana pun adalah superior dari murid, kepala sekolah sebagai superior dari guru, dan begitu seterusnya. Sebuah sistem otoritatif tidak akan pernah bisa menjadi pendidik disiplin yang baik, melainkan hanya menghasilkan bebek-bebek penurut dan pengecut.

Ketiga, kebebasan ekonomi. Kebebasan ekonomi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk memilih cara hidup sesuai dengan keinginannya masing-masing. Apakah sekolah menjunjung ini? Sekolah sekarang hanyalah mengarahkan anak didik pada satu sisi, menjadi pekerja. Saya bukannya mengabaikan kebutuhan akan pekerja dalam sebuah sistem ekonomi. Yang saya tentang adalah tidak diajarkannya di sekolah-sekolah, bahwa ada cara hidup yang lain selain menjadi pekerja. Hampir semua sistem persekolahan diarahkan sebagai penyuplai tenaga kerja bagi industri, hampir tidak ada porsi yang mengajarkan mereka untuk menjadi dirinya sendiri.

Keempat, kebebasan politik. Berpolitik, berarti sebuah cara untuk menjadi warga negara. Kehidupan berpolitik umumnya mati di dalam kampus, karena ideologi (apalagi ideologi kiri) kerap dianggap sebagai barang haram dalam sekolah. Upaya untuk memberangus ideologi di sekolah kerap terjadi, apalagi di Indonesia. Mereka lupa bahwa pemberangusan ideologi sesungguhnya adalah juga sebuah ideologi, yaitu fasisme. Cara kasar seperti itu sekarang umumnya tidak terjadi lagi, namun bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih halus dan jauh lebih efektif. Para pelajar tidak lagi memiliki waktu luang untuk berpikir, karena beban pelajaran di sekolah. Mereka selalu dicekoki untuk menjadi lulusan terbaik, sehingga mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat dan terbaik, dan nantinya mampu menjadi orang yang sukses di masyarakat. Tidak ada waktu untuk berpikir, apalagi berpolitik!

Argumen di atas menunjukkan bahwa TIDAK ADA kebebasan di sekolah. Dengan kata lain sekolah telah mengkhianati ide asalnya sebagai alat untuk membebaskan manusia. Kebebasan yang ditawarkan sekolah hanyalah sebuah kebebasan yang semu. Kebebasan dari buta huruf misalnya hanya direduksi menjadi peluang untuk mencari lapangan kerja. Kebebasan ekonomi pun direduksi sebagai peluang untuk mengejar karir. Kebebasan sebagai manusia sejati tidak disinggung-singgung, atau malah terlupakan dan tertelantarkan.

Lantas apa peranan sekolah dalam kehidupan sekarang ini. Pertama, sekolah adalah alat untuk pencucian otak, berkolaborasi dengan media massa pada umumnya. Kedua, sekolah adalah pelayan untuk sebuah sistem yang lebih besar, yaitu kapitalisme. Ketiga, sekolah adalah tempat penghasil raja-raja feudal kecil dalam tatanan dunia sekarang ini. Marilah kita lihat lebih jelas tuduhan-tuduhan saya sebagai berikut.

Pertama, sekolah adalah tempat pencucian otak. Apa ciri-ciri dari sebuah tempat pencucian otak? Hanya ada SATU kebenaran! Standardisasi yang sekarang digembar-gemborkan sebagai alat untuk menaikkan mutu sekolah dalam kaca mata saya hanyalah alat pemberangusan keberanekaragaman. Standardisasi, apalagi standardisasi yang dipaksakan dengan otoritas, tak lain dari sebuah penindasan. Cara yang lain tidak dibiarkan hidup, baik dengan hukuman karena melanggar undang-undang, atau dibiarkan mati oleh hukum pasar yang terdistorsi karena otoritas mengatakan bahwa suatu sekolah tidak memenuhi standar yang ditentukan. Standardisasi sesungguhnya tidak sepenuhnya salah, sejauh hanya sebagai sebuah petunjuk umum dan pelaksanaannya tidak dipaksakan. Semakin khusus sebuah standar, semakin membunuh kreativitas, apalagi kalau pelaksanaannya dibarengi dengan pemaksaan.

Kedua, sekolah adalah penyedia pelayan bagi kapitalisme. Tuduhan ini nampaknya jelas dengan sendirinya. Sekolah teknik makin lama semakin populer karena lulusannya bisa cepat mendapatkan kerja. Ilmu-ilmu murni makin lama semakin kering sehingga ada jurusan-jurusan yang mesti dimerger atau malah dibubarkan. Semuanya ini menjadi pertanda bahwa sekolah telah kehilangan fungsinya sebagai mercu suar peradaban, melainkan hanya menjadi permainan dalam sebuah hukum rimba yang disebut hukum pasar.

Ketiga, sekolah adalah penghasil raja-raja kecil bagi tatanan saat ini. Raja-raja kecil adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh sebuah sistem yang opresif. Raja-raja kecil sekarang tidaklah diturunkan dengan darah seperti bangsawan-bangsawan dalam sistem feudal. Kastil-kastil mereka adalah universitas yang menghasilkan doktor, insinyur dan para MBA. Merekalah yang menjadi pelayan raja-raja yang sesungguhnya yaitu para pemilik modal. Dulu para bangsawan mengikuti suatu kode etik ksatria (chivalry)­, yaitu turut pada perintah tuannya apa pun yang terjadi. Kini kode etik tersebut berganti nama menjadi profesionalisme, yang kurang lebih berarti sama, yaitu melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya sesuai dengan kontrak, apa pun yang terjadi. Hati nurani sebagai benteng terakhir dari kebebasan manusia telah diabaikan, sejauh memenuhi kontrak kerja.

Bagaimana sesungguhnya sistem feudal baru ini, dan dimanakah peranan sekolah di dalamnya? Marilah kita lihat lebih jauh. Di dalam sistem feudal lama, terjadi kolaborasi antara pihak penguasa tunggal, raja-raja kecil, dan gereja. Tanah yang menjadi harta utama adalah milik Tuhan. Pihak gereja, selaku wakil Tuhan dan pemegang otoritas tafsir kebenaran memberikan wewenang untuk mengelola milik Tuhan ini kepada penguasa. Dengan kata lain penguasa mendapatkan mandat dari Tuhan melalui gereja. Kekuasaan ini turun-temurun berdasarkan garis keturunan, kecuali terhentikan oleh pemberontakan yang melahirkan sebuah dinasti baru. Gereja, yang dipegang oleh para pendeta, sebaliknya tidak dipegang secara turun temurun seperti halnya brahmana dalam tradisi Hindu. Kelompok pendeta dilahirkan dari sebuah sekolah yang disebut seminari. Mereka yang bisa menjadi pendeta adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya di seminari. Di satu pihak pendeta adalah anggota masyarakat yang paling terdidik, dan di pihak lain adalah orang yang paling tercuci otaknya. Untuk masuk ke dalam kelompok pendeta tidaklah mudah. Mereka harus melewati saringan yang ketat, dan tentu saja kalau ada yang nyeleneh akan cepat tersingkir. Mengapa sulit sekali untuk menjadi seorang pendeta? Karena (menurut para pendeta sendiri) untuk memahami perintah Tuhan dibutuhkan intelektualitas yang tinggi, dan tidak semua orang dapat melaksanakannya. Untuk lebih memperkuat posisi ini, hukum Tuhan, yang menjadi dasar semua hukum, yaitu Kitab Suci – Bible – hanya terdapat dalam edisi Latin, sebuah bahasa yang tidak dipahami oleh masyarakat umum. Dan upaya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari dapat membawa Anda ke tiang gantungan atau dibakar.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Kondisi seperti ini membuat mereka sebagai sebuah kelompok eksklusif yang menafsirkan apa itu kebenaran, dan tidak terbantahkan, karena sumbernya sendiri tidak dapat diakses khalayak ramai. Kesemuanya ini baru terpatahkan (dengan sederhana) ketika Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>, dan dapat dibaca oleh orang biasa. Begitu interpretasi tidak lagi eksklusif, terjadilah reformasi besar-besaran di Eropa yang menumbangkan dominasi gereja.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Fuedalisme telah ditumbangkan oleh para borjuis yang nantinya melahirkan kapitalisme. Tuan-tuan tanah telah berganti dengan pemilik modal. Gereja telah diruntuhkan dari kekuasaannya setelah Reformasi. Namun satu tetap bertahan: nafsu untuk menguasai orang lain. Kemajuan ilmu pengetahuan yang tertahan dalam abad kegelapan mengalami kemajuan pesat setelah Renaissance. Ilmu pengetahuan yang mulanya adalah pembebasan dari kebutaan akibat interpretasi harafiah dari Kitab Suci berbalik menjadi penindas. Abad imperialisme meneruskan penindasan abad kegelapan. Bedanya sekarang yang ditindas bukanlah lagi bangsa sendiri, melainkan bangsa lain yang tidak beradab. Mereka harus “diselamatkan” dari ketidakberadabannya, dan sebagai gantinya mereka boleh dieksploitasi. Cerita yang sama berulang kembali. Era kolonialisme pun dimulai. Penjajah menjadi puncak kekuasaan dalam struktur baru ini, karena mereka memiliki pengetahuan. Kekuasaan mereka ini didukung oleh kekuatan senjata, yang memiliki kekuatan yang setara sihir di mata orang jajahannya. Mereka menganggap diri mereka penyelamat, dan satu-satunya sumber kebenaran. Seperti halnya akhir dari abad kegelapan, cerita ini pun berakhir setelah beberapa anak pribumi yang memiliki akses akan ilmu pengetahuan mulai membuat interpretasinya sendiri. Kebenaran tidak lagi tunggal, dan mereka menjadi sadar bahwa mereka selama ini telah dikibuli oleh tuannya. Dan dimulailah fajar baru yang kita kenal dengan gerakan nasionalisme di awal abad ke-20.

Lalu cerita selanjutnya lebih akrab dengan kita, karena kita hidup di dalamnya. Negara-negara jajahan lalu memerdekakan diri. PBB didirikan sebagai sebuah alat untuk menyelesaikan konflik antar negara tanpa kekerasan. Namun kenyataannya kita juga ketahui. Hanya beberapa tahun setelah terbentuknya PBB terjadi Perang Korea. Menyusul kemudian gejolak di Sinai, Vietnam, Perang Iran-Irak, Malvinas, puluhan perang sipil, dan sekarang terorisme. Tanpa melupakan PBB sebagai penyelesai konflik di beberapa wilayah konflik, peranannya sebagai pencegah konflik bersenjata terus terang masih memprihatinkan. Namun ada peperangan lain yang berlangsung di bawah permukaan dan tidak kalah hebatnya, yaitu perang ekonomi. IMF yang dibentuk PBB untuk mengawasi perekonomian dunia bukan saja gagal, melainkan telah bertindak sebagai agen penindas. World Bank hanya bertindak sebagai Santa Claus. Ibarat orang yang sudah ditonjok habis-habisan dan kemudian diberi uang receh. Bantuan yang disalurkan melalui World Bank ke negara-negara berkembang hanya kurang lebih sepersepuluh dari kucuran uang dari negara berkembang ke negara maju dari pembayaran bunga utang, selisih valas dan ketidaksetimbangan ekspor impor. Akibatnya yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Itu saja? Tidak. Bahkan sebelum penjajahan ekonomi dapat dituntaskan, penindasan ini telah merambah sektor lain lagi, yaitu penjajahan ilmu pengetahuan. Di sinilah sekolah paling berperan.

Masih ingatkah Anda sekitar beberapa dekade yang lalu Anda masih dengan mudah mencari tetangga Anda untuk membetulkan radio Anda yang rusak? Sekarang jaman sudah berubah, kalau katakanlah DVD-Player Anda rusak, Anda harus membawanya ke service-center resmi. Apa yang membedakannya. Memang, ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian rumitnya sehingga teknologi semakin canggih dan semakin sulit dipelajari. Tapi sebenarnya bukan di situ masalahnya. Teknologi-teknologi baru yang dipakai pada umumnya adalah teknologi yang dipatenkan, artinya tidak bisa dipakai tanpa seijin pemiliknya. Pengetahuan tidak lagi bebas beredar. Para penjaganya adalah lembaga penelitian baik yang ada di industri maupun di universitas. Anda tidak bisa sembarangan masuk ke sana. Dan yang lebih penting lagi sebelum sampai ke jenjang yang paling tinggi, paling tidak Anda telah mengalami cuci otak selama duabelas tahun sehingga Anda tidak akan membantah apa yang dicekokkan kepada Anda. Misalnya, hasil penelitian untuk dipatenkan, karena kalau tidak dipatenkan akan ditiru orang dan kita tidak akan mendapatkan keuntungan ekonomi apa-apa darinya.

Dulu gereja memonopoli kebenaran, termasuk kebenaran ilmiah. Sekarang tentu saja Anda berpikir bahwa hal itu tidak terjadi lagi. Anda salah besar! Bedanya yang memonopoli kebenaran sekarang adalah guru-guru besar terhormat di kampus-kampus ternama. Dunia ilmiah kita masih jauh dari ideal, bahwa setiap ada temuan baru yang menjungkalkan ide lama dapat diterima dengan senang hati. Tidak, tidak sama sekali. Manusia selalu punya kecenderungan untuk tidak mudah menerima ide-ide baru, terutama manusia-manusia picik (yang sayangnya banyak duduk di tampuk perguruan-perguruan tinggi). Einstein sendiri butuh tiga puluh tahun untuk mendapatkan pengakuan atas teori relativitasnya. Mengapa demikian? Karena Einstein bukan siapa-siapa, hanya seorang pegawai kantor paten. Coba kalau Einstein seorang rektor universitas terkenal, pasti ceritanya akan berbeda. Teori relativitas Einstein sulit diterima karena Einstein tidak termasuk “orang dalam”. Namun tentu saja kebenaran pada akhirnya akan berbicara dengan sendirinya. Einstein jauh lebih beruntung dari Mendel, bapak genetika, yang temuannya baru diakui setelah dia meninggal! Siapakah Mendel? Ia hanyalah seorang biarawan yang hobi berkebun dan sedikit punya keisengan ilmiah yang akhirnya membuah teori hereditas. Mengapa semua ini terjadi? Institusi pendidikan telah menjadi gereja baru, dengan para guru besar sebagai uskup-uskupnya. Mereka yang duduk di jajaran tersebut memiliki apa yang disebut reputasi ilmiah. Apa yang mereka omongkan akan lebih diperhatikan orang dibandingkan dengan apa yang diomongkan seorang pegawai kantor paten misalnya. Untuk lebih mengukuhkan otoritas mereka mereka juga mengadakan sinode seperti yang dulu dilakukan uskup-uskup. Namanya konferensi ilmiah, yang hanya dihadiri oleh figur-figur tersohor dunia ilmiah. Mereka pun punya kitab suci yang disebut “Jurnal Ilmiah”, dan mekanisme yang mereka dewakan sebagai penguji kebenaran yaitu peer review. Peer review dilakukan oleh kolega mereka yang kurang lebih bereputasi sama. Awam umumnya tidak pernah tahu apa yang terjadi di dunia mereka. Pengetahuan telah direngkut dari masyarakat umum seperti halnya dulu Kitab Suci hanya boleh dibaca oleh para biarawan. Alasannya kurang lebih sama, pengetahuan ini terlalu sulit untuk dipahami awam. Bagaimana bisa dipahami kalau akses ke ilmu tersebut tidak tersedia secara mudah?

Supaya sebuah sistem penindas seperti ini berjalan, tidak boleh ada terlalu banyak raja kecil, karena bila semua menjadi raja, siapa lagi yang akan ditindas? Untuk itu, harus diciptakan penghalang bagi mereka yang ingin masuk ke dalam sistem. Penghalang itu adalah sekolah. Sekolah sekarang menjadi makin lama makin tak terjangkau. Kenaikan biaya sekolah di Amerika melebihi tingkat inflasinya. Alasan yang selalu dipakai adalah demi meningkatkan mutu pendidikan. Alasan sesungguhnya hanya mereka sendiri yang tahu. Alhasil pendidikan semakin tak terjangkau orang miskin. Namun bukan itu saja. Kadang-kadang mereka memberikan beasiswa miskin kepada siswa miskin yang berprestasi. Semua orang berterima kasih karena melihat kedermawanan itu dan si miskin bisa keluar dari jerat kemiskinan karena disekolahkan. Bagaimana akhir ceritanya. Si miskin umumnya menjadi bagian dari sistem, melupakan jati dirinya karena telah memperoleh banyak kemudahan semenjak “naik kelas” menjadi sejajar dengan borjuis lainnya. Dan semua orang melihat yang kaya murah hati karena telah menolong yang miskin. Ibarat orang yang membuat seratus kelaparan kelaparan, lalu menolong satu orang di antaranya, dan diberitakan ke mana-mana, sementara sembilan puluh sembilan yang lainnya mati tanpa berita.

Sekarang kurikulum sekolah di seluruh dunia hampir semuanya seragam. Semua ini berkat keberhasilan hegemoni budaya barat di seluruh dunia. Apa yang dipelajari seorang anak di Lincoln, New York hampir sama dengan apa yang dipelajari di Pacitan. Yang berbeda mungkin hanya fasilitasnya. Kesamaan itu dikukuhkan dengan segala macam perlombaan seperti olimpiade matematika, fisika, dan lain sebagainya, seolah-olah bahwa pendidikan hanya untuk mencetak orang-orang pintar seperti juaranya. Jadilah semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, dan melupakan nilai-nilai lain yang sebenarnya lebih luhur dari pendidikan. Nilai-nilai terbaik lainnya seperti kerja sama, kemurahan hati, kesetiakawanan tidak pernah mendapat tempat. Pernahkah Anda mendengar ada lomba kemurahan hati? Tidak pernah kan? Anda berniat untuk mengadakannya? Silakan, tapi begitu kemurahan hati dilombakan, dia bukan lagi kemurahan hati melainkan telah menjadi sebuah komoditas (seperti acara reality show murahan yang ditayangkan di televisi).

Semua sekolah mencuci otak semua anak didiknya untuk membawa bendera kompetisi. Semua anak berkompetisi dengan yang lain. Yang ada hanyalah pemenang, siallah Anda bila Anda kalah. Dunia ini terlalu sempit sehingga hanya menyediakan tempat bagi yang terbaik. Anda berkompetisi untuk mendapatkan nilai terbaik, lebih dari nilai teman-teman Anda. Padahal nilai terbaik tidak selalu berarti Anda yang terbaik. Nilai terbaik hanyalah berarti bahwa Anda adalah yang terbaik versi sang penilai. Versi sebenarnya, hanya Tuhan yang tahu! Kalau Anda menjadi yang terbaik berarti Anda punya kesempatan untuk masuk ke universitas yang terbaik. Lulusan universitas terbaik bisa bekerja di perusahaan terbaik, dengan gaji terbaik. Begitu seterusnya. Yang tidak lolos saringan adalah orang yang nantinya akan tertindas seperti para petani penggarap (peasant) dalam jaman feudal.

Supaya semua yang di atas berjalan dengan efektif, ada tiga jenis penghalang yang diciptakan. Pertama adalah biaya sekolah itu sendiri. Kedua adalah lamanya sekolah yang makin lama terus terang makin membingungkan. Ketiga, akses ilmu yang dibatasi hanya di sekolah formal.

Pertama, biaya sekolah menjadi tinggi bukan hanya karena biaya operasionalnya yang semakin tinggi, melainkan karena permainan ekonomi pasar. Semakin banyak peminat akan semakin tinggi harga yang bisa ditawarkan.

Institusi seperti sekolah dan rumah sakit haram untuk menjalankan usahanya dengan pertimbangan bisnis. Biaya yang mereka bebankan tidak boleh lebih besar dari biaya produksi mereka, malah bisa di bawah dengan subsidi. Bila sekolah sudah memakai pertimbangan bisnis, ia mengkhianati tujuannya sendiri. Sekolah hanya akan menghasilkan lulusan secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya. Pengabdian pada ilmu? Nanti dulu. Apakah mereka peduli bahwa lulusannya benar-benar menjadi manusia pembelajar. Mereka hanya peduli dengan apakah lulusannya bisa cepat terserap di lapangan kerja dan berapa gajinya. Mengapa? Karena data tersebut bisa dijual dan akan membuat peminat ke institusi mereka semakin membludak. Bahkan dalam penelitian mereka pun akan berpihak pada penelitian yang paling banyak menghasilkan uang, ketimbang penelitian yang membawa kesejahteraan pada masyarakat.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Sekolah sekarang semakin lama saja. Dulu lulusan SR (Sekolah Rakyat) yang bisa baca tulis saja sudah bisa menjadi carik desa. Sekarang paling tidak kupikir harus D3. Apakah ini berarti kita semakin pintar? Nanti dulu. Bayangkan bila dulu seorang lulusan SR, setaraf SD, sudah mampu menjadi carik, berarti intelektualitasnya memang sudah memadai untuk memahami kompleksitas pekerjaan seperti seorang carik. Persoalannya sekarang adalah siapa yang mau membayar seorang lulusan SD untuk menjadi carik desa sekarang? Tidak ada. Itu sudah menandakan bahwa lulusan SD sekarang tidak setara dengan lulusan SR dahulu. Untuk mencapai tingkat kematangan seorang lulusan SR dulu kita harus menambah beberapa tahun lagi, 9 tahun, sampai D3.

Bagaimana ini bisa terjadi? Ini terjadi karena pendidikan tidak menjalankan fungsinya sebagai pencerah manusia. Ia dipakai sebagai alat saringan manusia. Dulu seorang lulusan SR bisa jadi carik karena dia adalah lapisan teratas di masyarakat yang sebagian besar buta huruf. Sekarang seorang lulusan SD tidak lagi menjadi lapisan teratas. Insitusi pendidikan telah mengekalkan pengkastaan manusia ketimbang memangkasnya.

Pertimbangan berikut kenapa sekolah semakin panjang adalah pertimbangan bisnis. Ketidakmampuan untuk menyerap tenaga kerja baru lulusan sekolah ditutupi dengan menyuruh mereka kembali lagi ke bangku sekolah. Alasannya macam-macam, belum ada kualifikasi, belum siap pakai, dan lain-lain. Mereka yang mestinya sudah produktif, tiba-tiba menjadi pasar yang mampu menciptakan lahan ekonomi baru, yaitu sekolah lanjutan yang makin lama semakin panjang. Dulu lulusan SMA sudah mampu bekerja. Begitu kita kewalahan tidak mampu menampung mereka, kita suruh saja mereka sekolah lagi sampai D3. Setelah D3 jenuh populasinya, kita suruh mereka mengambil S1. S1 pun bernasib sama, sehingga banyak orang sekarang tertarik untuk melanjutkan ke S2. S2 belum jenuh populasinya, tapi percayalah begitu S2 jenuh, orang akan berlomba-lomba mengambil S3. Setelah S3? Tenang, mereka akan menciptakan jenjang baru lagi.

Pekerjaan ini selain merupakan akal-akalan, tentu saja pemborosan sumber daya. Seorang lulusan SMA yang mestinya sudah bisa memberikan kontribusi secara ekonomis malah harus menghabiskan uangnya untuk sekolah lagi. Berita ini adalah berita baik bagi insitusi pendidikan, penjual buku, pemilik kos di dekat sekolah dan bisnis terkait lainnya, tetapi berita buruk bagi masyarakat umum.

Semakin banyaknya lulusan S2 dan S3 jangan dikira berarti masyarakat kita semakin pintar. Membludaknya lulusan sarjana justru membuat inflasi sarjana. Mutu S3 sekarang jangan-jangan hanya setara S1 dulu. Dan lulusan D3 sekarang hanyalah setara lulusan SD dulu. Ini sama sekali bukan hal yang aneh. Sudah menjadi hukum alam bahwa semakin massal sebuah kegiatan, ia akan semakin kehilangan fokus. Dulu lulusan sarjana yang sedikit sekali memang adalah manusia terbaik di jamannya. Sekarang dengan mudahnya orang menjadi sarjana, tidak ada jaminan mereka adalah manusia terbaik. Sumber daya yang diberikan untuk menghasilkan seorang sarjana pun makin berkurang. Waktu bimbingan yang disediakan dosen kepada mahasiswa pun semakin berkurang. Jumlah kelas semakin besar sehingga perhatian dosen kepada mahasiswa semakin berkurang juga. Tak aneh bila kualitas lulusan sekarang semakin menurun.

Bila pendidikan setia pada tujuannya, sarjana memang tidak dibutuhkan banyak. Mereka yang menjadi sarjana hanya mereka yang benar-benar mampu secara intelektual. Mengapa tidak perlu banyak? Karena memang kita tidak butuh banyak sarjana. Sarjana adalah para pemikir. Ibarat sebuah tim bola kita hanya butuh satu orang pelatih. Sisanya adalah pemain. Bila semuanya melatih siapa yang akan bermain bola? Nantinya semua pelatih justru terpaksa bermain bola karena tidak tersedianya pemain. Kalau begitu kenapa dia harus susah-susah belajar jadi pelatih kalau ujung-ujungnya jadi pemain? Itulah yang terjadi sekarang. Banyak teller bank dan operator telepon yang lulusan sarjana. Kalau cuma untuk menghitung uang kas saya kira anak SMP pun sudah bisa. Buat apa kita susah-susah merekrut seorang sarjana ekonomi hanya untuk menjadi teller. Alasannya hanya satu karena jika dibuka lowongan teller dengan kualifikasi SMP, akan terlalu banyak peminat. Dengan membuka peluang hanya S1 yang boleh melamar, kita telah menutupi ketidakmampuan kita menyediakan lapangan kerja. Lihat saja nanti, jangan aneh kalau banyak teller yang S2, saking besarnya minat orang untuk mengambil S2 sekarang.

Ketiga, akses ilmu yang semakin formal. Ilmu dulu bisa bertukar dari orang ke orang secara langsung. Transfer ilmu bisa terjadi di rumah, di pasar atau di bengkel. Cara-cara tradisional yang murah meriah ini diberangus oleh apa yang namanya sertifikasi. Seorang yang belajar langsung dari seorang montir belum tentu bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah karena ia tidak memiliki sertifikat montir. Memang mengajarkan ilmu tidak dilarang, namun bila Anda belajar di tempat tidak resmi dengan bayaran mahal, keahlian Anda semata-mata tidak diakui.

Tidak dilarang? Oh, nampaknya saya salah. Beberapa perkembangan terakhir malah telah mematenkan ilmu-ilmu tertentu. Ini membuat Anda harus membayar kepada orang yang mematenkan ilmu tersebut sebelum bisa mengajarkan ilmu itu kepada orang lain.

Inilah wajah pendidikan kita saat ini, yang merupakan sebuah feudalisme baru, dengan seminari di universitas-universitas, dengan kardinal berupa profesor-profesor, dan para direktur perusahaan sebagai pangeran-pangerannya. Sistem ini tidak ada bedanya dengan sistem feudalisme dulu, sama-sama menindas. Bedanya caranya sudah jauh lebih halus. Kita bahkan tidak sadar kalau kita ditindas. Orang dengan senang (atau meringis) membayar uang sekolah supaya mereka bisa masuk ke dalam sistem, karena tanpa sekolah harapan mereka untuk hidup layak menjadi kecil.

Seperti halnya feudalisme yang dulu sudah tumbang, begitu pula feudalisme sekarang akan tumbang. Caranya persis sama. Buka akses ilmu pengetahuan seluas-luasnya dan semurah-murahnya. Ilmu adalah ibarat udara, yang bebas dihirup siapa saja tanpa bayar dan segala tetek-bengek lainnya. Yang agak sulit mungkin adalah bagaimana meyakinkan dunia usaha untuk mau menerima pekerja secara lebih bijak, bukan menggunakan kriteria pendidikan formal sebagai saringan manusia. Dengan perubahan sikap seperti ini mudah-mudahan orang mau kembali ke makna sekolah yang sesungguhnya, di mana sekolah adalah tempat menuntut ilmu, bukan tempat untuk mencari prasyarat sebelum melamar sebuah pekerjaan. Yang juga tidak kalah sulit adalah menumbangkan katedral ilmu pengetahuan yang sombong yaitu universitas sebagai sebuah klaim kebenaran. Mudah-mudahan kebenaran akan berbicara dengan sendirinya, tak peduli ia keluar dari mulut seorang profesor atau dari mulut seorang tukang kayu. Akses buku yang mudah di perpustakaan umum maupun melalui internet mampu membuat siapa saja yang mau belajar mampu belajar sendiri tanpa harus tunduk kepada siapa pun. Benar tidaknya sebuah ilmu ditentukan oleh dialektika ilmiah, bukan oleh kesombongan ilmiah.

Entah kapan ini bisa terjadi melihat kecenderungan untuk semakin mengekalkan sistem in justru semakin menjadi. Satu-satunya berita baik adalah dari berkembangnya Internet dan berkembangnya komunitas Open Source. Kelompok yang dipelopori oleh para ahli komputer ini benar-benar membuka peluang untuk membagikan ilmu secara gratis, sesuatu yang bisa dianggap melanggar hukum dengan peraturan masa kini. Paradigma copyleft membuat kita boleh memperbanyak suatu karya intelektual tanpa melanggar hak cipta. Komunitas seperti Wikipedia pun membuat ensiklopedia gratis yang bisa diakses oleh siapa saja tanpa membayar sepeserpun. Di Wikipedia siapapun bisa menjadi kontributor. Benar salahnya ditentukan oleh kesepakatan, bukan oleh tangan besi. Bahkan ada entri yang masih tidak ada kata sepakat sehingga kita bisa melihat dualitas di sana, tanpa salah satu memaksakan kepada pihak lain. Wikipedia sekarang berkembang juga menjadi Wikibooks yang menyediakan buku gratis dalam bidang ilmu apa pun. Siapa pun juga bisa menjadi kontributor di sana. Ada pula Project Gutenberg yang sudah mendigitalisasikan ribuan buku supaya bisa diakses gratis di Internet. Semuanya ini ibarat fajar menyingsing di tengah kegelapan. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama, akan muncul kampus-kampus Open Source tempat orang belajar secara bebas tanpa ikatan dan tanpa biaya, dan mengambalikan ilmu pengetahuan ke singgasananya yang terhormat.

<!–[if !supportFootnotes]–>


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Feudalisme dalam arti sesungguhnya adalah suatu sistem kekuasaan yang terdiri dari penguasa yang memberikan kuasa kepada raja-raja kecil di bawah perlindungannya, dan sebagai gantinya mereka mendapatkan perlindungan politik dan militer. Feudalisme dalam tulisan ini mengacu pada makna sehari-hari, yaitu suatu sistem bangsawan-jelata, priyayi-kawula, atasan-bawahan yang biasanya terjadi dalam sistem pemerintahan monarki.

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> William Tyndale, salah seorang penerjemah Kitab Suci ke dalam Bahasa Inggris mengakhiri hidupnya dibakar di tiang pancang pada tanggal 6 Oktober 1536

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Sebelumnya sudah ada beberapa upaya untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa ibu, seperti Wycliffe yang menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Terjemahannya beredar secara diam-diam. Namun baru Martin Luther yang terang-terangan menentang otoritas gereja sebagai penafsir tunggal Kitab Suci terjadi gerakan Reformasi.

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Contohnya, kampus lebih suka membuat varietas padi tahan suatu pestisida tertentu, karena disponsori oleh penjual pestisidanya, dari pada mengembangkan varietas padi tahan kekeringan yang akan bermanfaat banyak bagi petani

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: