On Everything

Mei 24, 2007

Atas Nama Cinta

Filed under: Tentang Cinta — Oni Suryaman @ 1:36 am
Tags: , , , , ,

unicorn.jpgCinta adalah sebuah hal yang paling misterius. Di dalamnya terdapat banyak paradoks. Banyak orang yang mengaku pernah mengalami cinta, namun sesungguhnya sangat sedikit orang yang betul-betul pernah mengalami cinta. Bahkan pasangan yang mengaku hidup berbahagia selama bertahun-tahun pun belum tentu pernah mengalami cinta. Banyak orang yang mengaku tahu apa itu cinta, namun sesungguhnya sangat sedikit orang yang betul-betul tahu apa itu cinta. Begitu banyak karya seni yang diabadikan atas nama cinta. Namun ini pun tidak banyak menolong. Kita tetap buta akan cinta.

Marilah kita lihat pertama dari asal katanya. Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang miskin dalam menggambarkan cinta. Kata yang ada hanya “cinta”, “kasih” dan “sayang”, atau juga “kasih sayang”, “belas kasih” dan “cinta kasih”. Perbedaan di antaranya tidaklah terlalu jelas dan sering dapat dipertukarkan.

Dalam bahasa Inggris bisa dibedakan dengan sedikit lebih baik:

· love, dari lēof (Ing. Kuno), yang berarti terkasih, berharga, bernilai; luba (Jer. Tinggi Kuno) yang berarti cinta; libēre, lubēre (Lat.) yang berarti menyenangkan, mengasihi; dipakai secara umum untuk menggambarkan cinta

· charity dari caritas (Lat.), yang berarti cinta akan kemanusiaan

· compassion, dari compati (Lat.) yang berasal dari com- (dengan, bersama) + pati (menderita), yang bisa berarti menderita bersama, bersimpati, mengasihi

· sympathy dari sympathia (Lat.) atau sympatheia (Yun.) berasal dari syn- (bersama) + pathos (menderita, mengalami, merasakan), berarti menderita bersama, mengalami bersama; bersinomim dengan compassion

· affection­ dari afficere (Lat.) yang berarti mempengaruhi, berakibat; bisa dipakai untuk menggambarkan kondisi emosi subjektif yang terpengaruh, ikatan emosional

· affinity dari affinis (Lat.) berasal dari ad- (menuju) + finis (ujung, batas), yang berarti tertarik

· devotion dari ­devotus (Lat.) berarti penyerahan diri secara utuh atau mengikatkan diri, dari de- (jatuh) + vovēre (kaul)

Dalam bahasa Yunani bisa lebih diperjelas lagi[1]:

· eros: cinta seksual, cinta fisik yang dipuaskan dengan hubungan seksual

· philae dari philos (teman): cinta keluarga, cinta sesama manusia, di dalamnya termasuk juga persaudaraan dan persahabatan

· agape: cinta spiritual, cinta akan yang Abadi dan Mutlak

Tujuh Tahapan Cinta

Untuk mempermudah kita memahami tentang cinta, tulisan ini mencoba membagi cinta dalam tingkatan-tingkatan[2], yang satu merupakan tahapan yang lebih rendah dan merupakan selubung bagi tahapan yang lebih tinggi.

1. Cinta sebagai Ketertarikan

Cinta pada tahap ini berarti affinity, ketertarikan satu akan yang lain. Ketertarikan ini biasanya tak dapat dihindari, karena merupakan keniscayaan hukum alam. Positif selalu tertarik ke negatif, benda selalu jatuh ke bawah, air selalu mengalir ke yang lebih rendah. Pada tumbuhan juga demikian, daun mencari matahari, akar menghunjam bumi. Pada hewan sedikit lebih lebih maju karena hewan memiliki kebebasan yang lebih dibandingkan dengan tumbuhan. Pada manusia tentunya lebih rumit lagi. Daya tarik seksual contohnya, yang bervariasi dari heteroseksual murni sampai homoseksual murni. Umumnya hal ini bekerja secara instingtif. Kebutuhan akan makan dan minum contohnya.

Cinta ini terlihat paling jelas pada libido (Lat.: nafsu, diturunkan dari libēre) atau hasrat seksual. Kiranya Freud tidak terlalu salah dengan mengatakan bahwa yang menggerakkan seluruh hidup manusia adalah libido. Libido menjadi sebuah dorongan yang tak tertahankan, yang memastikan keberlangsungan suatu species. Pada beberapa species laba-laba menjadi sangat ekstrim, yaitu ketika laba-laba jantan menjadikan dirinya menjadi mangsa sang betina setelah kawin, demi sebuah prokreasi. Dorongan ini bisa dijelaskan dengan proses kimiawi hormonal pada tataran fisik. Freud di sini memperluas libido bukan hanya pada kelamin melainkan pada seluruh tubuh. Libido dilihat sebagai sebuah pemuasan yang menyenangkan. Lidah di sini juga merupakan pemuasan libido akan lezatnya makanan.[3]

Cinta ini adalah bentuk cinta yang paling kasar, namun dibutuhkan demi kelangsungan hidup. Yang menjadi pusat adalah diri, demi kelangsungan hidup diri. Yang berada di luar diri dianggap semata-mata objek. Cinta pada tahap ini tidak selalu berarti jelek, malah diperlukan. Hanya saja pada level yang ekstrim bisa membawa pada pemusnahan bagi yang lain, seperti pada pengrusakan alam, perbudakan, dan penjajahan.

2. Cinta sebagai Mutualisme

Pada tahap ini diri sudah melakukan relasi dengan yang lain. Pada tahap ini sudah dimulai adanya manipulasi. Yang lain dicintai selama memberikan keuntungan. Kepentingan bersama dan saling menguntungkan adalah kata kuncinya. Manipulasi tidak selalu berarti buruk. Domestikasi hewan ternak misalnya, dengan memanipulasi sifat alamiah hewan sehingga menguntungkan bagi manusia. Begitu pula pada stratifikasi dalam kemasyarakatan; ada birokrat yang berkuasa, ada rakyat jelata.

Plato menerangkan ini dengan jelas pada Lysis. Di sini ia melihat bahwa ada hubungan timbal balik antar manusia. Bila mereka berkarakter hampir sama maka akan ada kecocokan; bila berbeda akan saling melengkapi dan karena itu saling membutuhkan.

Pada tahap ini objek tidak lagi semata-mata objek melainkan objek yang harus dijaga, selama menguntungkan tentunya. Pada level yang ekstrim memang menjadi manipulatif, pada pembagian kelas misalnya. Begitu pula pada birokrasi cenderung menjadi sebuah kleptokrasi.

3. Cinta sebagai Kekeluargaan

Pada tahap ini cinta dirasakan sebagai sebuah ikatan, sebuah kebersamaan, sebuah tanggung jawab bersama, senasib sepenanggungan. Cinta keluarga dan cinta tanah air contohnya. Yang satu merasa bertanggung jawab akan yang lain. Ini merupakan kemajuan dari tahap sebelumnya, karena kelangsungan hidup mulai dirasakan sebagai buah dari kebersamaan. Bersatu kita teguh, seperti kata pepatah. Aku dan kamu sudah melebur menjadi kita. Batas-batas individu menjadi hilang.

Cinta ini dijelaskan juga oleh Plato dalam Republic. Republic digambarkan sebagai sebuah komunitas yang dipersatukan oleh cinta persaudaraan. Pada satuan yang paling kecil adalah keluarga, cinta familial. Cinta ini dipersatukan oleh suatu ikatan, baik biologis maupun sosial.

Pada level ekstrim cinta ini dapat menjadi chauvinisme atau ultra nasionalisme. Cinta keluarga yang berlebihan dapat berarti mengganggu keluarga lain, seperti para robber-baron[4] pada abad kegelapan.

4. Cinta sebagai Romantisme

Pada tahap ini muncul sesuatu yang baru yaitu idealisasi. Yang lain dianggap sebagai sebuah kesempurnaan bagi dirinya. Hal ini banyak dieksplorasi dalam dialog-dialog Plato tentang eros, khususnya dalam Symposium. Eros digambarkan sebagai ketertarikan akan yang baik dan yang indah. Pada Symposium Socrates menjelaskan bahwa ­eros merasa dirinya tidak lengkap, sehingga mencari dirinya di luar. Ia baru merasa lengkap setelah menemukan kepingan dirinya yang akan membuatnya utuh. Ia ingin memiliki (secara eksklusif) kepingin itu menjadi hanya miliknya seorang dan terus menjaganya untuk selamanya.

Eros sebenarnya bermakna sangat dalam. Dalam Symposium dikatakan bahwa eros adalah daimon, yang ada di antara yang ilahi dan manusia. Perasaan ketidakutuhan ini sebenarnya menggambarkan kerinduan akan yang ilahi. Manusia sebenarnya telah merasakan adanya sepercik pancaran ilahi dalam dirinya, seperti sungai yang rindu untuk kembali ke lautan. Namun perasaan ini disalahmengertikan sebagai keinginan untuk mencari bagian dirinya yang hilang, pada lawan jenis umumnya. Perasaan ini sering menipu, sehingga merasakan bahwa pengalaman jatuh cinta, yaitu pengalaman peleburan dinding pembatas dua individu, sebagai sebuah ekstasi karena telah menemukan keutuhan. Nyatanya setelah peleburan itu terjadi, perasaan itu tidak akan bertahan lama, karena memang keutuhan itu adalah semu belaka, sehingga ia akan terus-menerus mencari lagi yang lain untuk mengulangi lagi perasaan ekstasi tadi[5].

Selain itu daimon juga berarti di antara yang abadi dan fana. ­Eros juga memberikan rasa kerinduan akan keabadian. Kerinduan ini dicoba untuk dipenuhi dengan prokreasi, membiarkan sebagian dari dirinya untuk hidup terus. Prokreasi di sini bukan hanya prokreasi fisik melainkan juga karya seni dan ilmu. Sebuah karya adalah juga “anak” dari penciptanya yang mencoba mengabadikan sebagian dari dirinya.

Cinta model ini disebut juga courtly love, yang dipopulerkan oleh para troubadour pada abad pertengahan. Mereka menyadari bahwa cinta adalah hubungan antar individu, sebuah hubungan yang personal. Eros dan agape bukanlah hubungan yang personal. Eros adalah semata-mata kebutuhan biologis, tidak peduli dengan siapa; agape mencintai semua manusia sama, tidak peduli siapa. Untuk menjembataninya dibutuhkan Amor.[6]

Cinta ini adalah titik tengah dari keseluruhan tahap cinta. Ia menjadi bentuk yang paling personal dibandingkan dengan yang lain. Ia juga merupakan batas antara wilayah fisikal dan spiritual.

5. Cinta sebagai Penyatuan

Cinta pada tahap ini sering digambarkan sebagai perkawinan. Perkawinan sendiri adalah sebuah simbolisasi, yang meskipun tidak sempurna namun dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang ideal. Perkawinan adalah sebuah gambaran tak utuh dari penyatuan Ilahi dan manusia.

Cinta ini adalah cerminan dari cinta yang ketiga, cinta kekeluargaan. Manusia meninggalkan keluarganya, ayah ibunya, untuk menjalin ikatan dengan kekasihnya. Ikatan tidak perlu ada, melainkan diciptakan. Cinta menjadi sesuatu aktif, bukan ditakdirkan. Keputusan dan komitmen menjadi elemen yang penting di sini.

Dalam agama-agama kuno pra-monoteisme, hubungan seks mempunyai peranan yang sangat sentral karena disitulah dilambangkan penyatuan fisikal dan spiritual. Dalam ajaran Hindu, adalah penyatuan Shiva (kesadaran) dan Shakti (kekuatan). Dalam ajaran Buddha Tibet, bahkan bodhisatva memiliki pasangan feminin yaitu dakini sebagai sumber energinya.[7] Hal ini sedikit membias setelah era monoteisme, meskipun tidak hilang seluruhnya. Perkawinan dalam ajaran Kristen juga melambangkan penyatuan antara umat Tuhan dan Tuhan sendiri. Muhammad sendiri menganjurkan pernikahan. Dalam ajaran Gnostik, hal ini disimbolkan dalam diri Maria Magdalena yang mempunyai hubungan yang sangat khusus dengan Yesus. Yesus bahkan dikatakan mencintainya lebih dari semua muridnya yang lain.[8]

6. Cinta sebagai Kemanusiaan

Tahap ini disebut caritas (Lat.) atau agape (Yun.). Diri merasa sebagai sebuah bagian yang utuh dari kemanusiaan. Orang lain adalah dirinya juga, sehingga ia tidak akan menyakiti orang lain karena itu akan berarti menyakiti dirinya sendiri. Ajaran ini adalah inti dari banyak ajaran agama, seperti pada hukum cinta kasih yang diajarkan Yesus misalnya.

Cinta ini sebenarnya adalah cerminan dari cinta yang kedua, cinta berdasarkan mutualisme. Ia adalah bentuk yang lebih luhur dengan melupakan diri. Cinta pada tahap ini tidak lagi mementingkan diri sendiri. Yang lain adalah sama penting dengan diri sendiri karena sesungguhnya tidak ada pembatas di antaranya. Cinta bukanlah lagi perasaan melainkan perbuatan. Cinta menjadi sesuatu yang membangun ke arah yang lebih baik untuk kesejahteraan bersama.

7. Cinta sebagai Kesatuan

Tahap ini sering dikatakan sebagai ­devotion, meskipun sebenarnya kurang tepat. Pada tahap ini diri sudah melebur ke dalam Ilahi, Sang Sumber Hidup, menjadi satu dengannya. Inilah tujuan akhir dari setiap manusia.

Cinta ini adalah cerminan dari cinta yang pertama. Ia menjadi penyatuan yang terakhir, yang sempurna.

Scala Amoris Plato

Hal yang sama juga dapat dijumpai di scala amoris-nya Plato dalam Symposium, dalam dialognya Socrates yang menyampaikan kepada pendengar ajaran gurunya tentang cinta, Diotima. Cinta pada dasarnya adalah ketertarikan pada yang indah dan yang baik. Ia dimulai dari hal yang paling kasar yaitu fisik sampai pada yang paling halus yaitu spiritual. Untuk lengkapnya dapat dilihat sebagai berikut:

1. Cinta akan tubuh, berarti cinta seksual yang secara instingtif dibutuhkan untuk prokreasi. Cinta ini adalah selubung yang paling kasar dari keinginan manusia akan yang abadi dan yang baik dan indah. Ia ingin ada bagian dari dirinya yang terus hidup dan ia ingin anaknya sebagai ciptaan yang indah dan baik.

2. Cinta akan bentuk, ia akan menyukai bentuk-bentuk yang indah dan baik. Di dalamnya ia seakan menemukan pelepasan dahaganya akan keindahan. Dengan ini lahirlah para tukang, pemahat dan pekerja lainnya. Manusia menuangkan hasratnya dalam bentuk yang indah dan baik dan berharap itu adalah bagian dari dirinya yang akan terus abadi.

3. Cinta akan pemikiran adalah tahap selanjutnya. Ia akan berpikir bahwa pikiran yang baik lebih abadi karena bentuk tidaklah abadi. Hanya bentuk dalam pikiran yang akan terus bertahan. Manusia mulai berpikir dan merenungkan apa-apa yang indah dan yang baik. Seni mulai muncul.

4. Cinta akan hukum dan institusi mengikuti tahap berikutnya. Pemikiran memang lebih abadi, namun pemikiran yang kacau dan tak teratur bukanlah apa-apa. Manusia mulai mencoba menemukan keteraturan dalam berpikir. Ia mulai mendisiplinkan pikirannya. Pikiran diuji dan diperdebatkan. Yang paling indah dan paling baiklah yang akan terus bertahan dan abadi. Retorika mulai muncul di sini.

5. Cinta akan pengetahuan adalah kelanjutannya. Manusia mulai memahami bahwa sesungguhnya seluruh hidup ini adalah sebuah keteraturan. Ia mulai menyadari bahwa seluruh hidup ini adalah indah dan baik adanya. Filsafat dan ilmu mulai muncul.

6. Cinta akan kebijaksanaan akan menaunginya. Pengetahuan akan yang baik akan membawa manusia untuk membawa manusia mencari keharmonisan, sebuah kebijaksanaan akan lahir. Ia tidak lagi mencari pembenaran melainkan keselarasan. Ajaran-ajaran kebijaksanaan mulai bermunculan seperti yang diajarkan Buddha, Yesus, Kong Hu Chu, Lao Tze, dan Muhammad.

7. Cinta akan Yang Absolut akan menjadi tahap tertinggi. Ia akan menyadari bahwa semuanya itu akan membawanya kembali kepada Sang Abadi yang selalu ada.

Satu atau Tujuh

Cinta terlihat begitu luas dan bergradasi dari yang paling primitif sampai pada yang paling ilahiah. Apakah mereka semua berbeda atau satu? Dari semua yang telah dijelaskan di atas sebenarnya dapat ditarik beberapa kata kunci:

· adanya ketertarikan: mulai dari yang paling fisikal sampai pada spiritual

· adanya sesuatu yang berharga: yang dicintai selalulah yang bernilai dan berharga

· adanya keinginan untuk bersatu: pengalaman akan penyatuan merupakan sebuah ekstasi yang luar biasa, seolah ia merasa menemukan dirinya yang utuh kembali

· adanya keinginan akan keabadian: manusia menyadari bahwa hidupnya tidaklah abadi dan ia akan melakukan segalanya demi sebuah keabadian

Nampaklah bahwa kesemuanya tidaklah terlampau berbeda, berbeda hanyalah dalam kedalamannya. Mungkin bahasa Inggris dan Jerman malah tepat hanya memakai satu kata untuk cinta: love dan liebe.

Daftar Pustaka

, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, CD-Rom Edition

, The Gospel of Philip, The Nagh Hammadi Library, The Gnostic Society Library, www.gnosis.org/naghamm/gop.html

Algeo, John , The Theosophist, September 2003

Campbell, Joseph , The Power of Myth, Doubleday, 1988

Codd, Clara M. , Trust Yourself to Life, The Theosophical Publishing House, 1984

Fromm, Erich , The Art of Loving, Fresh Book, 2002

Husain, Shahrukh , The Goddess, Duncan Baird Publishers, 1997

Plato , Lysis, Library of the Future, CD-ROM 4th Edition

_______________ , Republic, Library of the Future, CD-ROM 4th Edition

_______________ , Symposium, Library of the Future, CD-ROM 4th Edition

Santas, Gerasimos , Plato dan Freud: Dua Teori tentang Cinta, LPBAJ, 2002


[1] Trust Yourself to Life, Clara Codd, hal 85

[2] berdasarkan The Seven Loves, John Algeo, hal 446-453

[3] Plato dan Freud, Dua Teori tentang Cinta; bahasan tentang The Three Essays on the Theory of Sexuality, Sigmund Freud

[4] orang yang menjadi kaya dan terhormat bahkan bangsawan dengan merampok dan mengeksploitasi orang lain

[5] ­­The Art of Loving, Erich Fromm, hal 87-85

[6] The Power of Myth, Joseph Campbell, hal 185-187

[7] The Goddess, Shahrukh Hussain, hal 95

[8] Gospel of Philip

2 Komentar »

  1. Mana Derrida-nya, Mas?

    maksud saya tulisan anda yang derrida banget mas. saya sendiri belum baca si derrida ngomong apa tentang cinta.

    Komentar oleh gentole — Januari 16, 2009 @ 2:36 pm

  2. Cinta bisa dinamakan sebagai dasar keimanan seseorang, apabila dilandasi dengan kecintaan kepada Allah SWT. Ada hadis yg mengatakan: “Iman sejati adalah mencintai semata-mata karena Allah, menjadikan kekasih Allah sebagai kekasihnya, dan membenci sesuatu yang dibenci-Nya”.

    Komentar oleh stainless tanks — Oktober 13, 2009 @ 5:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: