On Everything

Juli 6, 2007

Andai di Sini ada Kuil Shaolin

Filed under: Tentang Agama — Oni Suryaman @ 6:43 am
Tags: , , ,

shaolin.jpegSejak kecil aku suka nonton film kungfu. Waktu itu tentu saja nontonnya di video Betamax, bajakan pula. Kwe Cheng, Yo Ko, Tio Bu Ki menjadi teman akrab sehari-hari. Lagi pula di jaman itu TV belumlah menjadi saran hiburan utama. Paling-paling untuk nonton Unyil di Minggu pagi dan Minggu siangnya nonton “The Little House on the Praire” yang menurutku sangat membosankan. Acara malam hari sangat tidak berpihak pada penonton karena harus menonton siaran yang sangat membosankan terlebih dahulu, apalagi kalau ada laporan khusus peresmian apa atau kelompen capir di mana, sebelum acara film dimulai. Untuk ukuran anak-anak itu sesuatu yang sangat sulit dan biasanya aku selalu ketiduran karena tidak kuat menunggu. Jadilah video menjadi sarana hiburan utama. Waktu itu belum banyak keluarga yang punya pemutar video dan TV berwarna, jadi acara nontonnya pasti rame-rame. Kami sekitar sepuluh anak berkumpul di rumah salah satu dari kami yang kebetulan punya pemutar video di rumahnya.

Karena kebiasaan nonton film kungfu tersebut, idolaku hampir pasti salah satu tokoh di film tersebut. Entah mengapa aku selalu ngefans bukan pada jagoannya tetapi pada tokoh biksu, apalagi kalau biksunya biksu pengambara. Hanya berbekal sebuah tongkat dan sebuntel pakaian, tidak butuh apa-apa. Dengan hanya senjata tongkat ia bisa mengalahkan musuh yang bersenjata tajam. Hebat! Tapi yang membuatku paling tertarik dengan tokoh biksu adalah karena ia tidak pernah menderita karena cinta, sedangkan tokoh jagoannya selalu jungkir balik kalau sudah berhadapan dengan wanita. Sejago apa pun ilmunya, kalau kena urusan sama yang namanya perempuan, kalah total! Biksu hampir pasti imun dengan urusan demikian. Sampai pernah aku berangan-angan menjadi seorang biksu jago kungfu, ah cuma sebuah angan-angan anak kecil.

Setelah aku beranjak remaja, meskipun tidak lagi bercita-cita jadi biksu Shaolin melainkan jadi tukang insinyur, impian tersebut tidak pernah pudar, melainkan menyublim menjadi sebuah keinginan untuk lari dari dunia. Bagaimana pun aku harus mengakui, ketenangan dunia asketik[1] telah mempesona diriku. Dunia ini terlalu ribut dan bisa membuat kita pusing tujuh keliling. Aku tidak mau terhanyut di dalamnya. Aku harus tetap tegar menuju arah yang kutuju meskipun arus deras melawanku. Dan asketisme memperlihatkan ketegaran itu. Aku sangat menyukai cerita-cerita orang kudus, yaitu cerita orang-orang tegar yang melawan arus. Salah satu favoritku adalah St. Maximilianus Maria Kolbe[2], sebuah nama yang sulit untuk diingat, namun karena saking nge-fansnya nama itu lekat sampai saat ini. Idolaku rada berbeda dengan teman-teman sebayaku, mereka saat itu mengidolakan New Kids on the Block[3], aku mengidolakan para martir. Jangankan tahu riwayat hidup mereka, namanya pun asing bagi mereka. Bagi mereka santo-santa hanyalah sebatas nama permandian: Yohanes, Yakobus, Petrus, Paulus, Yosef, Maria, Martha, Theresia, Veronika, dan sederet nama lainnya. Bahkan nama permandian tersebut lebih cenderung dinilai dari bagus tidaknya ketimbang kisah pemilik namanya. Sayangnya di jaman sekarang, kesempatan menjadi martir sudah tidak begitu besar.[4] Sepertinya aku hanya bisa menjalani hidup seperti mereka kalau aku masuk biara. Pilihan seperti tidaklah mudah bagi seorang remaja beranjak dewasa karena sangat bertentangan dengan arus umum, yang mau menjadi dokter, insinyur, dan profesi lainnya. Aku sendiri bahkan rasanya belum rela melepaskan keinginan untuk menjadi seorang insinyur. Aku sering bertanya kepada pastor paroki kami apakah dimungkinkan seorang insinyur menjadi imam, atau malah sebaliknya seorang imam menjadi insinyur. Ia bercerita bahwa ia punya seorang teman sesama pastor yang kebetulan juga insinyur perminyakan. Cerita itu sangat membesarkan hati, meskipun kemudian aku tahu bahwa cerita sesungguhnya tidaklah sesederhana itu.

Keinginan ini makin diperkuat dengan pergaulanku dengan pastor paroki kami yang juga seorang misionaris. Ia pernah bertugas di Indocina di masa bergolaknya perang Vietnam. Di sela-sela berkelakar dengannya, ia sering bercerita tentang pengalamannya di sana, tentang perjalanannya yang jauh ke stasi-stasi terpencil yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Ia mengaku bahwa ia juga bukan seorang pemberani, dan ia berdoa rosario sepanjang perjalanan, belajar dari kebiasaan ibu-ibu di sana yang selalu berdoa rosario kalau menempuh perjalanan jauh. Aku pun mencoba kebiasaan itu dan aku akui bahwa aku mendapatkan penghiburan. Yang paling mengagumkan kami selaku anak kecil yang senang mendengar dongeng adalah kisahnya sewaktu ditahan komunis di sana. Di penjara setiap malam selalu datang seekor kucing yang mengantarkan tikus kepadanya. Mendengar cerita itu aku benar-benar kagum dan 100% percaya kalau kita menyerahkan diri sepenuhnya untuk Tuhan, kita tak perlu kuatir tentang apapun tentang hidup kita.[5]

Kedekatanku dengannya membawa aku untuk semakin mesra dengan gereja bahkan sebelum aku dibaptis. Pada suatu hari Misa yang sepi, dan misdinar yang seharusnya bertugas tidak datang, dan aku diminta untuk melayaninya. Dadaku langsung menggembung, seolah-olah Yesus sendiri yang memanggilku untuk melayaniNya. Tawaran itu kuterima dengan takut, karena belum tahu bagaimana seharusnya melayani Misa, dan sekaligus rindu bercampur bangga karena disapa secara sangat pribadi. Bisa melayani imam sebelum dibaptis sungguh merupakan sesuatu yang tak terkatakan, karena menjadi misdinar adalah sebuah kemesraan luar biasa untuk bisa dekat dengan Sakramen Mahakudus. Anda yang pernah pacaran tentu paham apa yang aku maksud. Meskipun tentu saja ada keuntungan lain menjadi misdinar yang disadari atau tidak disadari penting bagi seorang remaja. Yang pertama adalah kebanggaan untuk tampil di depan umum, spesial dibandingkan umat biasa. Hal seperti ini sangat penting bagi remaja yang umumnya memang sedang mencari identitas. Yang kedua adalah kesempatan untuk mengabsen semua cewek cantik yang hadir di Misa malam minggu. Hanya dengan jadi misdinar di depan kita bisa melihat semua umat yang hadir. Dan yang paling penting adalah kesempatan menyalami semua cewek cantik (lagi) sesudah Misa Natal dan Paskah. Meskipun demikian, menjadi misdinar nampaknya tidak cukup untuk membawa orang untuk menuju sebuah kesalehan. Banyak sekali teman-teman sejawat misdinar yang sama sekali tidak menaruh perhatian mendalam tentang kesalehan. Misdinar menjadi sebatas seremonial dan kesempatan gagah-gagahan di depan umum. Aku tidak paham mengapa mereka tidak bisa merasakan kemesraan seperti yang aku rasakan. Bisa jadi karena kerinduan itu sudah aku rasakan bahkan jauh sebelum aku dibaptis. Lagi-lagi aku teringat dengan ayat yang mengatakan bahwa kita sudah disapa bahkan sebelum kita lahir.[6]

Kenapa juga sih aku tertarik dengan asketisme? Apakah kilaunya dunia ini tidak cukup menarik perhatianku? Aku justru melihat sebaliknya, kenapa orang begitu tertarik dengan kemilau dunia. Ajaran kristen sangat menekankan bahaya kemilau dunia. Kisah Yesus yang digoda di padang gurun misalnya,[7] juga perumpamaan anak yang hilang[8], dan masih banyak lagi. Tetapi kenapa cerita-cerita tersebut tidak merasuk ke dalam hati pembacanya. Apakah karena cerita tersebut hanyalah sekedar hafalan yang harus dijawab ketika ujian calon baptis atau ujian pelajaran agama di sekolah. Salah siapa ini, salah guru agama, salah gereja, atau salah kita sendiri?

Coba Anda tanya seorang kristen, baik baru masuk atau yang veteran, tentang apa kewajiban seorang kristen. Sebagian menjawab ke gereja, sebagian lagi yang “lebih canggih” menjawab mengasihi sesama, dan sangat sedikit yang menjawab mengikuti Yesus. Jawaban ini menggelitikku untuk secara nakal bertanya, apa sih sebetulnya arti menjadi seorang kristen. Untuk menjawab pertanyaan itu marilah kita buka katekismus Baltimore (1884).

Tanya : Apakah tugas dari orang beriman?

Jawab : Tugas orang beriman adalah menerima kebenaran yang diajarkan, menerima sakramen-sakramen, dan untuk menyelamatkan jiwa mereka berdoa, berbuat baik dan berbuat amal

Bagaimana dengan perumpamaan tentang cerita anak muda yang kaya yang menghadap Yesus dan ingin mengikutinya?[9] Semangat ini sangat berpengaruh pada St. Fransiskus Asisi dan akhirnya mengilhami berdirinya ordo Fransiskan. Tapi lagi-lagi mengapa semangat ini nampaknya jauh sekali dari kehidupan awam sehari-hari, dan hanya dipraktekkan oleh imam, biarawan-biarawati, ordo ketiga dan selibat awam.

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa mengikut Yesus tidak menjadi sentral utama dari ajaran gereja. Mengapa ketaatan untuk mengikuti Yesus, meskipun tidak dilarang, tidak dianjurkan. Untuk itu kita harus melihat sosok Yesus sendiri. Kalau kita mau jujur, kelakuan Yesus di jamannya lebih mirip seorang pemimpin ajaran sesat dari pada seorang pemimpin agama. Tindakan-tindakan yang ia lakukan sangatlah radikal. Apakah gereja mengkuatirkan kalau seorang menjadi pengikut Yesus ia akan menjadi seorang radikal alias seorang trouble maker, dan mengganggu kemapanan yang sudah ada. Hal yang sama terjadi dengan St. Fransiskus Asisi, di mana ia sendiri dianggap mengganggu kemapanan gereja dengan memproklamirkan gereja untuk kaum miskin.

Nampaknya untuk bisa menjelaskan fenomena ini mau tidak mau aku harus menggunakan pendekatan ilmu sosial. Sebuah entitas sosial, baik itu agama, negara, atau apa pun pada akhirnya akan tunduk pada hukum-hukum sosial. Setiap entitas sosial akan cenderung untuk mempertahankan dirinya dan mengembangkan diri seluas-luasnya. Teori ini adalah teori seleksi alam yang berasal dari bidang biologi yang nampaknya juga dapat diterapkan ke dalam ilmu sosial. Terlihat jelas bahwa agama mainstream apa pun telah berevolusi menjadi sebuah entitas sosial. Sebuah entitas sosial yang sudah mapan akan cenderung tidak mau berubah dan terus mempertahankan kemapanannya. Gereja pun seperti demikian. Memang dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi perubahan besar dalam tubuh gereja yang dipicu oleh Konsili Vatikan II, namun pada kenyataannya tidaklah segampang itu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Gereja Katolik adalah organisasi yang paling masif di dunia ini. Semakin masif, ia akan semakin sukar untuk berubah.

Kemapanan telah menjadi tujuan utama, diakui maupun tidak diakui. Oleh sebab itu gereja tidak pernah menyarankan, meskipun juga tidak melarang secara resmi, bagi umatnya untuk mencari Tuhan secara pribadi. Pencarian Tuhan secara pribadi ini adalah cara yang lumrah ditempuh oleh para mistikus, termasuk di antaranya para mistikus gereja: Theresa Avilla, Johanes Salib, Meister Eckhart, dan masih banyak lagi. Cara-cara mereka tidak pernah diajarkan secara terbuka, bahkan cerita tentang hidup mereka tidak pernah menjadi sorotan utama dalam pengajaran agama di sekolah. Selama pelajaran agama yang menjadi fokus selalu adalah katekismus, dan pergulatan jiwa mencari Tuhan selalu dianggap sepi.

Mengapa demikian? Karena jika semua orang mencari Tuhan dengan caranya sendiri-sendiri, gereja akan kehilangan otoritas. Dan kehilangan otoritas adalah hal yang sangat ditakuti, apalagi oleh sebuah lembaga besar seperti gereja. Ia ibarat seorang tua yang takut terkena post power syndrome. Hal ini akan membawa kita pada sebuah paradoks. Di satu sisi gereja (atau agama apa pun) mengajak kita untuk menuju Tuhan. Di pihak lain perjalanan menuju Tuhan adalah jalan yang sangat pribadi yang tidak bisa dibagikan ke orang lain, karena masing-masing orang punya jalan tersendiri. Persoalan inilah yang telah menjadi ketegangan berabad-abad sejak lahirnya agama, yang membawa korban tak sedikit. Dalam sejarah Kristen entah berapa orang dihukum mati oleh Inkuisisi Spanyol karena dituduh bidaah. Dalam sejarah Islam orang tentunya mengenal Al Hallaj dan khususnya di Indonesia mengenak Syekh Siti Jenar. Bahkan seorang Joan d’Arc, santa pelindung Prancis yang baru dikanonisasikan dan otomatis terehabilitasi lima abad setelah kematiannya dibakar di atas api dengan tuduhan bidaah. Sejarah penuh dengan catatan-catatan seperti itu.

Kenyataannya adalah, dunia ini sebagai sebuah ajang power play, antara yang berkuasa dan tidak berkuasa. Dan disadari maupun tidak disadari kita tergencet di dalamnya. Kita punya beberapa pilihan: ikut arus alias cari aman, tidak peduli, atau memilih jalan sendiri.

Banyak orang memilih jalan asketisme. Mungkin Anda bingung mengapa mereka memilih menyepi dari dunia yang ramai dan nyaman ini. Mereka telah melihat kenyataan bahwa dunia ini tak lebih dari sebuah ajang, entah itu ajang sandiwara atau pun ajang perebutan kekuasaan. Apa yang mereka lakukan adalah memilih untuk tidak memilih. Mereka mengurung diri untuk membebaskan diri mereka dari pilihan-pilihan itu. Mereka membentuk sebuah suaka, sebuah tempat yang terlindung, jauh dari keramaian dan pengaruh dunia. Mungkin Anda akan bilang bahwa mereka pengecut karena tidak berani terjun dan bertarung langsung di dunia. Aku berkata bahwa mereka cerdas, untuk tidak menghabiskan energi mereka secara tidak perlu. Mereka tidak sepenuhnya memutuskan hubungan dengan dunia ini. Mereka hanya melihat bahwa saatnya belum tiba, dan mereka dalam sepinya terus berdoa dan bekerja, menunggu saat yang tepat tiba.

Terserah Anda mau pilih jalan yang mana, kalau aku ingin memilih masuk kuil Shaolin saja, tapi sayangnya di sini tidak ada.


[1] Asketisme: sebuah bentuk disiplin diri, misalnya dengan menjauhkan diri dari masyarakat luas, mengurangi kenikmatan hidup, yang dijalani secara sukarela, untuk mencapai kemajuan spiritual

[2] Seorang pastor Fransiskan asal Polandia, yang mengorbankan dirinya untuk dihukum mati di jaman Perang Dunia II, menggantikan seorang bapak yang mempunyai keluarga

[3] Sering disebut boyband pertama, beredar di awal 90-an

[4] Sebuah perkataan yang nantinya akan aku ralat karena ternyata dunia masih butuh banyak martir

[5] bdk. Matius 6: 25-34, Lukas 12:22-31

[6]

[7] Matius 4:1-11, Lukas 4:1-13

[8] Lukas 15:11-32

[9] Matius 19:16-26, Markus 10:17-27, Lukas 18:18-27

2 Komentar »

  1. Mas Oni, aku melihat beberapa ajaran agama-agama yang ada terkesan hanya dongeng masa lalu. Seandainya agama-agama itu lahir pada zaman ini, kayaknya akan banyak perombakan-perombakan yang akan terjadi. Kalau memang seperti itu, bukankah agama itu layak untuk ditinggalkan?

    saya terus terang setuju dengan anda. mungkin tulisan saya di atas lebih merupakan reaksi atas kehilangan kesakralan dalam kehidupan modern sekarang ini. sementara modernitas belum mampu mengambil alih kebijakan tua dan melampauinya sehingga lebih baik.

    Komentar oleh msubhanzamzami — September 10, 2008 @ 12:00 pm

  2. Kuil Shaolin nggak ada di sini ? Hik Hik, ya anda buat kuil sendiri dong, nanti biar aku nunut berguru pada anda.🙂

    Masalah asketisme saya rasa ada di banyak agama. Ini sedikit banyak mungkin terkait dengan persaingan dua sisi dalam agama yaitu teologi penderitaan dan teologi kemenangan, konsep usaha vs takdir Tuhan, dan sejenisnya.

    Konsep Usaha membuat manusia lebih dinamis seperti ombak yang bergemuruh – ada dinamika di situ. Konsep Takdir cenderung lebih kalem seperti lautan yang tenang dan dalam.

    Ada sisi di mana manusia memang harus berusaha, tetapi ada sisi juga dimana manusia harus memasrahkan hasil usahanya tersebut.

    Dua sisi itu mungkin kelihatan saling bersaing. Tapi satu sisi tidak mungkin menghilangkan sisi yang lain. Sejarah membuktikan itu.

    Ketika ada tren teologi kemenangan lebih menang, atau agama dikaitkan dengan usaha semata-mata, maka beberapa saat kemudian akan ada tren balik : kegiatan mengurung diri, mencari Tuhan dalam renungan, dsb. Serta ada juga orang yang memilih keduanya atau tidak memilih keduanya.

    Bandul pendulum itu masih berayun. Kadang ke kanan kadang ke kiri kadang di tengah. Kadang berayun lamban kadang berayun lebih keras. Tetapi bagaimanapun ketika sudah mencapai puncak, saya rasa akan ada kecenderungan untuk pembalikan tren. Tren itu kan selalu ada, termasuk dalam beragama sekalipun.

    Komentar oleh lovepassword — September 13, 2008 @ 8:21 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: