On Everything

Juli 30, 2007

The Great Conversation

Filed under: Tentang Pendidikan — Oni Suryaman @ 10:50 am
Tags: , ,

Robert Hutchinsdisadur bebas dari The Great Conversation

oleh Robert Maynard Hutchins

Badan kita membutuhkan makan, minum, tidur, sandang, pangan dan tempat berteduh. Kebutuhan ini mutlak untuk bertahan hidup. Kebutuhan akan mereka bukan saja krusial untuk hidup melainkan juga sumber dari kenikmatan.

Jiwa kita membutuhkan informasi, pengetahuan, pengertian dan kebijaksanaan. Kita mencarinya bukan untuk hidup saja melainkan untuk hidup lebih baik. Memilikinya membawa kita melewati batas kebinatangan dan membuat kita menjadi sungguh-sungguh manusia.

Bila dengan makan dan minum kita membangun badan, dan dengan berolah raga kita melatihnya, apa yang harus dilakukan untuk jiwa? Jiwa diberi makanan dengan membaca, dan dilatih dengan refleksi dan diskusi. Membaca kelihatannya sepele, karena kita tentunya membaca setiap hari: iklan, koran, majalah, teks di televisi, buku sekolah, dll. Tentu saja yang dimaksud dengan membaca di sini adalah bacaan yang benar-benar mengisi jiwa dengan “makanan” yang sehat. Tidak semua buku memenuhi kriteria ini. Setiap tahun mungkin hanya kurang dari seratus buku diterbitkan yang benar-benar layak dibaca untuk mengisi jiwa.

Untuk itulah dipandang perlu untuk melihat buku-buku apakah yang penting untuk dibaca, karena kita tentu saja tidak bisa membaca semua buku yang ada. Mortimer J. Adler mengeluarkan ide “Great Books” sebagai buku yang layak untuk dibaca. Di dalam daftar yang disusunnya ini terdapat judul-judul buku dan nama-nama penulis yang membentuk peradaban barat itu sendiri. Di sana kita temui Sokrates, Plato, Thomas Aquinas, William Shakespeare, David Hume, Karl Marx, dan sederetan nama-nama besar lainnya, baik sastrawan, filsuf maupun saintis.

Buku-buku yang dibaca adalah buku-buku yang tak lekang oleh jaman, karena ide-idenya begitu menyentuh jati diri kemanusiaan itu sendiri. Dengan sendirinya seorang terpelajar adalah seorang yang telah terlatih dalam sebuah percakapan besar, baik dengan tokoh-tokoh besar di jamannya maupun jaman sebelumnya. Ia turut serta dalam sejarah umat manusia dan diharapkan mampu meneruskan tongkat estafet untuk dibawa ke masa depan.

Spesialiasi di jaman ini telah melupakan semangat ini, dengan menganggap ide-ide di jaman dulu kuno, dan tidak perlu dipelajari lagi. Buku-buku besar ini tertinggal di rak-rak perpustakaan yang hanya disentuh oleh pelajar filsafat, sastra dan sejarah, dan bisa saja sepeninggal mereka dari bangku kuliah, tidak pernah mereka sentuh-sentuh lagi. Keberadaan mereka bahkan banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat terpelajar sekalipun. Pendidikan modern memang telah menghadirkan banyak tenaga ahli yang jagoan dalam bidangnya, dan hidup layak dalam kemudahan-kemudahan yang memang ditawarkan jaman ini, namun miskin dalam moral, intelektual dan spiritual.

Sejak berdirinya universitas modern di Jerman dan dikeluarkannya gelar Ph.D., era spesialisasi dimulai. Para peneliti tidak lagi menulis bagi khalayak ramai untuk memberikan pencerahan. Mereka berkutat hanya di laboratorium (bidangnya sendiri), menulis jurnal untuk sesama rekan mereka. José Ortega y Gasset telah meramalkannya dalam The Revolt of Masses dengan istilah yang disebutnya “barbarisme spesialisasi”. Kecuali jika wabah ini dapat melewati dirinya sendiri, sukar untuk mengharapkan munculnya pemikiran-pemikiran besar di abad ini.

Pembakaran buku memang sudah tidak menjadi trend di jaman ini, namun pemberangusan ide secara halus nyata-nyata terjadi. Dunia spesialisasi membuat orang merasa tidak lagi membutuhkan untuk membaca buku-buku yang memuat ide-ide besar karena dianggap tidak relevan dengan kariernya. Pencucian otak ini terjadi secara sistematis yang mirisnya justru dilakukan oleh lembaga pendidikan, yang semestinya menjadi garda depan untuk menjaga peradaban manusia.

Di era yang belum terlalu lama, buku-buku pemikiran besar ini adalah yang dijadikan acuan dalam pendidikan di barat. Pendidikan model ini, yang dikenal dengan liberal arts, tidak menjadi hamba siapa-siapa kecuali membantu kita menjadi manusia, dan memimpin hidup manusia ke arah yang lebih baik. Tujuan dari pendidikan model ini adalah untuk mencapai kesempurnaan manusia, baik di wilayah privat maupun publik, dengan kata lain menjadikan manusia sebagai manusia dan manusia sebagai warga masyarakat dan warga dunia. Pendidikan di jaman ini lebih diarahkan untuk melatih manusia, baik menjadi tenaga ahli maupun pekerja, untuk menjalani hidup, bukan demi pendidikan itu sendiri.

Pendidikan liberal arts membawa manusia untuk melihat dunia sebagai satu keseluruhan, berkaitan satu-sama lain. Ia bisa saja ahli dalam suatu bidang tertentu tapi ia mempunyai pandangan yang luas akan seluruh aspek kemanusiaan. Ia tahu mengaitkan puisi dengan sejarah, politik dengan ekonomi, ilmu alam dengan filsafat.

Pendidikan dengan demikian benar-benar membawa misi pembebasan bagi manusia (makna liberal yang sesungguhnya di sini adalah pembebasan, bukan liberal sebagai sebuah aliran politik). Pendidikan membebaskan manusia dari ketidaktahuan, lebih tepatnya dari ketidakpedulian, tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Ia dengan demikian membuat manusia untuk menjadi seorang manusia yang utuh, yang tidak teralienasi dengan alam sekitarnya, dengan masyarakatnya, dan juga dengan dirinya sendiri.

Peradaban, khususnya di barat, tersusun dari sebuah dialog raksasa. Setiap orang bebas untuk mengemukakan pemikirannya dan pemikiran itu dikritisi oleh orang lain, dan begitu seterusnya. Pertukaran ide seperti ini merealisasikan seluruh potensi kemanusiaan. Dialog-dialog ini kemudian dijadikan sebuah tradisi tulisan, dan dapat dibaca oleh generasi-generasi sesudahnya. Tak satu pun ide yang berdiri sendiri, karena ia selalu adalah anak dari ide generasi sebelumnya. Hal ini dituliskan dengan indah oleh Newton dalam suratnya kepada Robert Hooke, “If I have seen further, it is by standing upon the shoulder of Giants.” Peradaban seperti ini kelihatannya agak redup sekarang, dan hanya bisa diterangi kembali oleh pribadi-pribadi bebas yang terdidik.

Kasus Indonesia sendiri

Bagi Indonesia sebagai negara berkembang, hal ini juga menjadi relevan. Untuk mengangkat sebuah bangsa dari sebuah keterpurukan dimulai dari mengangkat derajat kemanusiaan bangsa itu, yaitu dengan pendidikan. Sayangnya pendidikan di negeri kita ini sampai sekarang masih menjadi hamba dari pembangunan, dengan fokus untuk menciptakan tenaga ahli sebanyak-banyaknya, dan mengabaikan untuk mencetak pemikir-pemikir yang bisa merumuskan mau dibawa ke mana arah bangsa ini.

Pendidikan di negeri ini masih berkutat pada masalah pembiayaan, infrastruktur, buku sekolah, dan ujian nasional. Tak banyak yang berpikir tentang inti dari pendidikan itu sendiri. Untuk itu, sebuah ide yang ditawarkan oleh pendidikan liberal arts ini menjadi penting, untuk memberikan arah bagi pembangunan dunia pendidikan di Indonesia.

Bila Anda berpikir kalau ide ini terlalu besar dan butuh waktu terlalu lama untuk diwujudkan, tulisan ini saya tutup dengan sebuah cerita:

Ketika Marsekal Lyautey, seorang Residen Jendral di Maroko, menyuruh pembantunya untuk menanam sejenis pohon kesukaannya, pembantunya mengeluh bahwa pohon itu butuh waktu dua ratus tahun untuk tumbuh besar. Marsekal hanya menjawab, “Kalau begitu, tidak boleh buang-buang waktu, tanam hari ini juga.”

3 Komentar »

  1. then, it’s our time to begin!

    Komentar oleh krismariana — Juli 31, 2007 @ 2:57 am

  2. Pendidikan memang menjadi masalah besar yang perlu perhatian utama pemerintah. Bukan dengan UN yang bahkan tidak mampu mencatat tingkat pencapaian kurikulum yang sesungguhnya, melainkan dengan peningkatan fasilitas dan kesempatan belajar.

    Sekolah semakin mahal, sehingga tujuan belajar jadi bergeser ke arah pendidikan yang menghasilkan masa depan yang mampu membayar biaya yang sudah dikeluarkan. Lembaga pendidikan juga berubah orientasi dari mendidik menjadi bisnis. Ini masalah nyata di Indonesia yang tidak bisa hapus tanpa campur tangan APBN ke dalam porsi pendidikan.

    Komentar oleh Retty — Agustus 14, 2007 @ 10:18 am

  3. saya setuju dengan komentar Hutchins, tapi bukankah hal itu lebih baik diletakkan di pendidikan dasar, bukan di kampus. orang yang masuk kampus sudah pasti mengadopsi gaya belajar dari dasar. Dasar adalah pondasi seseorang untuk belajar. Bagaimanapun pola pikir, sikap, mental, dan karakternya, merupakan suatu bentukan dari pendidikan dasar. lebih baik dalam menerapkan liberal arts itu dari sekolah dasar. tetapi harus diperkuat dengan tenaga guru yang kompeten dan fasilitas negara yang memadai dan tidak memperumit pelajaran yang pada akhirnya membuat murid stess sehingga sering mengambil jalan pintas, dimana hasil adalah nomor satu dari segala-galanya.

    Komentar oleh rossa — Maret 27, 2008 @ 12:05 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: