On Everything

Agustus 7, 2007

Manusia Terusir dari Firdaus

Filed under: Tentang Ilmu Alam,Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 3:43 am
Tags: , , ,

Firdaus

Adam and Eve Driven Out of EdenManusia mulanya hidup seperti halnya binatang, hidup dari alam. Alam yang berlimpah menyediakan semuanya. Seperti layaknya hewan ia tidak menanam. Ia pun tidak menimbun. Bila alam berkekurangan mereka pun akan kepayahan. Mereka hidup layaknya seperti di taman firdaus.

Manusia dari sejak awal mula memakai gaya hidup pendahulunya untuk bertahan hidup yaitu dengan mengumpulkan makanan dari alam. Pendahulu manusia pemakan daging pertama, Homo habilis, diduga awalnya bukan pemburu sejati melainkan pemakan bangkai. Mereka memakan sisa-sisa hasil buruan. Merekalah yang pertama menjadi pemakai alat batu pertama. Berbeda dengan sebelumnya mereka sudah mampu “mengasah” batu dengan batu sampai bisa digenggam dengan baik dan cukup tajam untuk memotong daging maupun memecahkan tulang untuk diambil sumsumnya. Lalu apakah yang membuat keturunan mereka mengubah gaya hidup mereka dari berburu?

Pertama-tama manusia sejak dari pendahulunya perlu dilihat sebagai makhluk teritorial. masing-masing hidup dalam kelompok yang dipimpin seorang “pejantan tangguh”[1]. Masing-masing kelompok akan mempertahankan daerahnya yang kaya akan makanan. Kadang-kadang terjadi persaingan yang menimbulkan perang antar kelompok. Kelompok yang kalah akan terusir ke daerah lain yang kurang baik. Dengan berkembang biak jumlah mereka akan bertambah dan secara otomatis luas daerah. Hal inilah yang memaksa Homo erectus untuk menyebar sampai keluar dari Afrika.

Hal di atas sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa tentang perkembangan manusia. Mestinya ada sebuah perubahan besar yang nantinya akan membuat sebuah loncatan besar. Penemuan besar itu ialah pemakaian api oleh Homo erectus. Api menjadikan malam ibarat siang. Ia juga mampu menghangatkan badan. Waktu efektif bagi mereka bertambah, karena malam tak lagi menakutkan. Penemuan api ini adalah sebuah proses yang panjang. Mungkin awalnya mereka mengambilnya dari bara bekas kebakaran hutan di terik matahari kemarau. Entah bagaimana sampai mereka dapat membuat api dengan menggosok dua buah kayu kering atau memakai batu api. Di duga akibat penemuan inilah manusia mulai memiliki waktu luang di malam hari. Di saat inilah mulai berkembang imajinasi yang pada akhirnya membentuk manusia sebagai makhluk yang berpikir.

Berkeringat

Penanda utama keluarnya manusia dari firdaus ialah pertanian. Di saat inilah pertama kalinya manusia mengolah alam, tidak lagi memakai hasil alam sebagaimana adanya. Ia tidak lagi tergantung total dari alam, melainkan dapat mengubahnya.

Pertanyaannya ialah bagaimana manusia mulai bertani. Menjawab pertanyaan ini lebih sulit dari yang kita duga. Jika Anda bertanya kepada tetangga mengapa ia bertani. Mungkin ia akan menjawab karena mengikuti orang tuanya, atau karena memang ingin menjadi petani. Jawaban seperti ini tidaklah dapat dipakai untuk kasus kita. Para petani pertama tidak mencontoh siapa-siapa. Untuk bisa menjawab pertanyaan ini kita harus mengubah sudut pandang kita menjadi sudut pandang orang yang hidup di jaman prasejarah. Sekarang dengan enaknya kita bisa menjawab bahwa pertanian lebih menguntungkan karena menghasilkan lebih banyak dari pada berburu. Orang di jaman itu tentunya tidak berpikir demikian. Mereka tidak bisa melihat hasil dari bertani karena memang tidak ada. Lagi pula hasil dari bertani tidak bisa terlihat langsung seperti halnya hasil buruan. Kita harus menunggu beberapa bulan bahkan tahun untuk bisa melihat hasil melimpah dari sebuah lahan pertanian.

Manusia tidak akan pernah mulai bertani bila tidak mengalami masalah kekurangan pangan dari “gaya hidup” berburu dan mengumpulkan makanan. Bertambahnya populasi berarti juga makin berkurangnya populasi hewan buruan. Hal ini terlihat jelas sekali pada penduduk di Polinesia yang baru mulai bertani setelah populasi moa berkurang drastis akibat perburuan. Hal yang sama terjadi di Selandia Baru, di mana penduduk baru mulai bertani setelah berkurangnya populasi anjing laut yang menjadi buruan mereka. Lambatnya perkembangan pertanian di Amerika Utara juga disebabkan karena melimpahnya populasi hewan buruan. Budaya setempat dengan banyak “tabu” sengaja yang diciptakan untuk menjaga jumlah populasi hewan buruan membuat “gaya hidup” berburu tetap bertahan sampai menjelang kolonisasi Eropa.

Perubahan iklim di akhir Pleistocene membuat melimpahnya tanaman sereal dan kacang-kacangan. Hal ini memungkinkan orang di jaman itu untuk mengumpulkan biji-bijian dan kacang-kacangan dalam jumlah besar sebagai makanan alternatif selain hasil buruan.

Lalu bagaimana mereka mulai bertani? Pertama-tama jangan kita bayangkan pertanian di jaman prasejarah sebagaimana pertanian jaman sekarang. Kebun mereka yang pertama kemungkinan besar adalah halaman belakang perkemahan mereka, yaitu tempat buang air besar. Biji-bijian yang mereka makan, beberapa di antaranya punya kulit biji yang kuat sehingga bertahan dari pencernaan, tumbuh di atas kotoran manusia. Mungkin juga ada beberapa orang iseng, yang dalam sejarah sering disebut penemu, mengumpulkan beberapa tanaman dan tanpa tujuan yang jelas menanamnya di sekitar perkemahan mereka. Mereka bisa jadi anak-anak, perempuan yang tidak berburu, atau orang yang punya waktu berlebih untuk main-main karena jumlah makanan yang terkumpul untuk keluarganya berlebih. Merekalah petani pertama. Setelah ratusan bahkan ribuan tahun pertanian mulai terlihat sebagai sebuah alternatif yang menghasilkan jumlah makanan lebih banyak dari pada berburu.

Mulanya pertanian hanyalah sebagai penghasil sumber makanan alternatif dari berburu. Seiring waktu terlihat bahwa hasil dari bertani memberikan hasil yang lebih pasti, sehingga menggantikan kegiatan berburu sebagai cara memperoleh makanan. Berburu berbalik menjadi alternatif dari bertani, yang memberikan protein lezat sewaktu-waktu sebagai selingan yang mengasyikkan.

Kapan manusia mulai beternak? Untuk itu kita perlu melihat ke belakang. Hewan pertama yang dijinakkan adalah anjing sewaktu manusia masih berburu. Konsep penjinakan atau domestikasi adalah membuat hewan menurut pada keinginan manusia. Beberapa hewan lebih mudah dijinakkan dari hewan lain. Hewan yang hidup bergerombol dan memiliki pemimpin cenderung lebih mudah dijinakkan. Seekor anak anjing liar (serigala) yang dipelihara sejak bayi akan menunjukkan kesetiaan seperti ia setia pada pemimpin gerombolannya. Anjing sebagai hewan domestik pertama sangatlah berguna, selain membantu berburu juga sebagai hewan penjaga rumah.

Pola yang sama diikuti untuk menjinakkan hewan lain, untuk berbagai keperluan. Salah satunya tentunya adalah sebagai makanan. Hewan tersebut harus menurut, mudah dipelihara, dan tentunya dagingnya cukup banyak. Bagaimana mulanya proses domestikasi dimulai? Satu hal yang sangat berpengaruh adalah kesukaan manusia akan hewan peliharaan. Mulanya tentu hewan-hewan tersebut lebih mirip binatang piaraan ketimbang ternak. Tetapi untuk dibiakkan dalam jumlah besar adalah masalah lain. Faktor yang harus dipertimbangkan tentunya adalah bagaimana cara menanganinya. Binatang itu harus cukup menurut, mudah dikawinkan, tidak mudah kabur dan tentunya tidak berbahaya. Dari semua binatang, hanya beberapa saja yang bisa memenuhi semua syarat di atas. Binatang tersebut adalah sapi, domba, onta, babi, kuda, llama, keledai dan kerbau. Binatang-binatang tersebut memenuhi semua kriteria di atas.

Beberapa binatang lain yang meskipun berguna sulit sekali dijinakkan. Beruang grizzly dengan berat 800 kilogram tentunya sangat berguna bila bisa dijinakkan. Daging yang banyak dan lezat tentunya membuatnya masuk sebagai pilihan. Namun bagaimana caranya menjinakkan beruang grizzly? Hal yang sama berlaku pada zebra. Zebra adalah binatang yang suka menggigit, sehingga korban gigitan zebra di kebun binatang lebih banyak dari pada cakaran harimau. Begitu juga kangguru, yang kalau mau diternakkan harus dibangunkan pagar setinggi tiga meter, supaya tidak kabur.

Kombinasi dari diet yang lebih baik dengan ternak sebagai sumber protein, and teknologi pertanian dengan memanfaat ternak sebagai pembajak, membuat populasi bertambah dengan pesat dan akan membawa pada konsekuensi lain.

 

Keberlimpahan

Berkembangnya pertanian memulai sebuah era baru yaitu era keberlimpahan. Untuk pertama kalinya manusia mampu menyimpan. Ini adalah loncatan besar dalam peradaban manusia di mana mereka sudah mampu merencanakan masa depan. Mereka pun mempunyai saat santai untuk menikmati hasil keringatnya.

Hal ini bahkan membawa kepada konsekuensi yang lebih besar yaitu pembagian kerja. Beberapa orang bahkan tak usah bekerja di ladang sama sekali, melainkan hanya bertukang membuat dan memperbaiki alat-alat pertanian. Merekalah cikal bakal para insinyur. Sebuah kelas baru muncul, yaitu tenaga ahli. Pertanian secara tidak langsung telah memicu berkembangnya teknologi pertama yaitu teknologi bertani. Manusia mulai membuat alat-alat sederhana untuk mengolah tanah, menuai dan juga merontokkan biji-bijian, serta gerabah untuk menyimpan makanan.

Bertani, tidak seperti pandangan umum, tidak langsung membuat manusia tinggal menetap. Beberapa suku di Papua mempunyai kebun pepaya yang mereka tanam lalu mereka tinggal untuk dilihat hasilnya berbulan-bulan kemudian. Suku Indian Apache juga bertani di musim semi dan pergi berburu ke tempat lain untuk berburu di musim dingin. Menetap adalah perkembangan berikut sehubungan dengan bertambahnya populasi yang makin mempersulit kehidupan berpindah-pindah. Teknologi juga menghasilkan banyak alat-alat yang menyulitkan untuk selalu dibawa-bawa sewaktu berpindah. Seiring meningkatnya hasil pertanian, panenan yang banyak juga membuat mereka enggan berpindah, dan memilih untuk menetap dan menjaga tanah bertani mereka dan juga hasil panennya.

Peternakan sangat cocok dengan pertanian yang telah dikembangkan sebelumnya. Kotoran hewan biasa dimanfaatkan sebagai pupuk yang meningkatkan hasil pertanian. Tenaganya bisa dipakai untuk membajak sehingga tanah yang sebelumnya tidak layak ditanam menjadi bisa ditanam. Walhasil tanah bertani semakin luas. Beberapa binatang bahkan memiliki nilai strategis yang bisa mengubah sejarah. Yang dimaksud adalah kuda yang dijadikan sarana militer, yang dipakai untuk menaklukkan peradaban lain. Kuda telah dipakai sejak 4000 SM sampai menjelang Perang Dunia I. Beberapa jendral sebelum Perang Dunia I malah berkeras bahwa kavaleri masih akan menjadi primadona dalam 50 tahun ke depan.

Secara berkesinambungan, pertanian, peternakan, pembagian kerja dan tinggal menetap saling memperkuat eksistensi manusia di muka bumi ini. Jumlah populasi yang mampu didukung dalam sebuah kelompok pun semakin besar. Pembagian kerja semakin kompleks. Sebagai gambaran dapat diberikan sebagai berikut: dengan berburu satu mil persegi hanya dapat memberi mencukupi kebutuhan dua orang saja, dengan bertani ia bisa menghidupi paling tidak dua puluh orang. Dengan peternakan dan pembagian kerja jumlah yang mampu didukung semakin besar.

Inilah awal dari apa yang kita sebut peradaban. Dari sinilah kelak muncul kota, birokrasi, tulisan, senjata, agama, dan ilmu pengetahuan. Selain itu juga mulai berkembang perang, wabah dan kerusakan alam.


[1] Dalam istilah teknis disebut sebagai alpha male

1 Komentar »

  1. eh ini yang kamu omongin ke aku kapan hari dulu itu kan?

    Komentar oleh krismariana — Agustus 28, 2007 @ 6:47 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: