On Everything

September 4, 2007

Genesis

Filed under: Tentang Agama — Oni Suryaman @ 3:36 am
Tags: , , ,

Creation by MichaelangeloGenesis atau Kitab Kejadian – kitab pertama dalam urutan resmi Alkitab – sering menimbulkan kontroversi, terutama antara ilmuwan dan teologian. Kasus yang paling terkenal[1] adalah kasus John Thomas Scopes (1925) yang diadili di pengadilan negara bagian Tennesse karena mengajarkan teori evolusi di sekolah. Pada saat itu, masyarakat umum masih percaya bahwa bumi diciptakan dalam enam hari sekitar 6000 tahun yang lalu[2]. Gagasan ini tentunya diambil dari interpretasi Genesis yang dihitung secara “akurat” oleh beberapa ahli kitab suci.

Sering dengan majunya ilmu pengetahuan, Genesis memang memicu banyak pertanyaan. Di antaranya adalah:

  • Apakah benar dunia diciptakan dalam enam hari?
  • Benarkah Adam adalah manusia pertama?
  • Benarkah Hawa[3] diciptakan dari rusuk Adam?

Sebelum kita masuk lebih dalam, ada baiknya kita lihat beberapa latar belakang di balik kitab ini.

Berlawanan dengan pendapat umum, Genesis – yang merupakan bagian dari Taurat – bukanlah ditulis oleh Musa. Berdasarkan pendapat beberapa kritikus[4], setidaknya ada tiga orang penulis Genesis berdasarkan komposisi kitab tersebut. Genesis sendiri mulai dibukukan sekitar abad ke-10 atau ke-9 sebelum Masehi, di masa Daud dan Sulaiman menjadi raja orang Yahudi. Sebelumnya Genesis adalah tradisi lisan dan tulisan yang berserakan, yang kemudian dikompilasi menjadi sebuah urutan yang teratur dan tetap.

Tradisi lisan Genesis sendiri tidaklah asli berasal dari kaum Yahudi. Beberapa bagian dapat dilihat dengan jelas paralel dengan mitologi dari bangsa lain. Di antaranya:

  • Banjir besar Nuh yang juga dapat dijumpai dalam epik Gilgamesh
  • Malaikat penjaga surga Kerubim[5] yang dapat dijumpai dalam mitologi Persia
  • Kisah Kain dan Habel yang merupakan mitologi suku nomad Kenite

Tradisi-tradisi bangsa lain yang hidup dekat dengan bangsa Yahudi nampaknya diserap menjadi mitologi mereka dan diteruskan turun temurun sebagai sebuah tradisi lisan.

Kejadian seperti ini sangatlah biasa, meskipun sering tidak dihiraukan orang. Agama Kristen sendiri tidaklah dikembangkan murni dari ajaran Yesus melainkan hasil sintesa dengan berbagai budaya lain seperti Yunani dan Romawi.

Ini dapat dilihat dari:

  • Devosi pada Maria yang menyerupai devosi pada Diana, yang disembah di kuil Artemis[6] di Efesus sebagai ibu yang memberi kehidupan
  • Perayaan Natal sendiri merupakan modifikasi dari perayaan winter solstice pada tanggal 22 Desember yang merayakan kembalinya matahari yang ditandai dengan hari yang semakin panjang

Jadi dapat dilihat bahwa sesungguhnya Genesis bukanlah sebuah kitab sejarah melainkan kumpulan mitologi yang memiliki makna tersembunyi sebagaimana mitologi-mitologi lainnya.

Sayangnya semua catatan di atas sempat “hilang” dari sejarah karena usaha-usaha yang dilakukan pada abad ke-3 untuk memurnikan ajaran Kristen dan secara langsung menginterpretasikan teks kitab suci sebagai teks sejarah. Aliran-aliran lain yang bertentangan dengan ini – seperti paham Gnostik – dibasmi secara sistematis. Dan selama lima belas abad lamanya semua rahasia ini terpendam kecuali bagi sedikit orang. Dan semuanya itu diperburuk dengan penerjemahan ke dalam bahasa lain[7] yang banyak sekali menghilangkan keterangan berharga, sebagaimana yang akan kita lihat di bagian berikutnya.

Tapi sebelumnya mari kita lihat beberapa kontradiksi yang terjadi bila kita menerjemahkan Genesis secara literal.

  • Tuhan Maha Kuasa yang membuat kesalahan (Gen 6:6)[8]

Tentunya ini sangat sulit dimengerti, bahwa Ia yang Maha Kuasa ternyata berbuat kesalahan, dan menyesal seperti halnya manusia.

  • Tuhan bertanggung jawab atas perpecahan manusia (Gen 7)

Dalam kisah Menara Babel, manusia diserakkan, dan dikacaukan bahasanya, lalu disebarkan ke seluruh bumi. Tuhan yang semacam ini adalah Tuhan yang mendukung perang dan perselisihan sesama umat manusia.

  • Umat manusia dilahirkan melalui incest.

Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan ajaran agama mana pun di dunia. Bagaimana ini bisa dijelaskan kalau semua manusia dilahirkan dari hanya dari sepasang manusia.

Sekarang marilah kita kaji Genesis, khususnya kisah penciptaan lebih lanjut.

Penciptaan Langit dan Bumi

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Gen 1:1)

Seorang yang terpelajar tentunya tahu penciptaan tak sesederhana itu. Ayat di atas adalah penyederhanaan dari sebuah makna yang lebih dalam. Lebih tepatnya: “Dari ketakhinggaan TUHAN menciptakan roh dan materi.”[9] Dalam mitologi kuno langit berkonotasi dengan dunia atas, yaitu roh dan bumi dengan dunia bawah yaitu materi. Terjemahan ini tentunya bisa lebih dimengerti. Hal pertama yang harus dilakukan untuk menciptakan sebuah KEHIDUPAN adalah roh dan materi karena kehidupan sendiri adalah penyatuan kedua aspek tersebut. Peristiwa ini disebut juga bifurkasi, yaitu pembelahan menjadi dua aspek.

Kiranya jelas bahwa makna dari ayat tersebut adalah peristiwa awal pembelahan dari ketunggalan dalam ketidakhinggaan menjadi bipolar. Kehidupan tercipta dari dua polaritas ini, dan ini tergambar dalam banyak mitologi lainnya: seperti Yin dan Yang, positif dan negatif. Ayat tersebut tidak bisa diartikan secara harfiah sebagai langit dan bumi tempat kita tinggal, melainkan sebuah alegori tersembunyi yang dimengerti oleh penulisnya, namun sayangnya kehilangan maknanya berabad-abad kemudian.

Elohim dan Yahwe

Adalah kenyataan yang mungkin akan mengejutkan bagi pemeluk agama Kristen biasa kalau mereka tahu bahwa TUHAN yang ditulis pada Gen 1:1 di atas mungkin bukan TUHAN yang seperti mereka kira. Dalam bahasa aslinya, kata yang dipakai adalah “Elohim. Akhiran –im dalam bahasa Yahudi memiliki arti jamak, bukan tunggal. Ini adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh penerjemah Alkitab, dengan menerjemahkannya sebagai TUHAN (tunggal). Hal ini lebih jelas lagi terungkap pada Gen 1:26[10]. Namun dari tata bahasa terungkap hal yang lebih mengejutkan, yaitu Elohim bermakna feminin, bukan maskulin! Mereka (jamak) adalah energi alam semesta, ibu yang mengandung semesta ini.

Siapakah Mereka? Mereka adalah energi primordial alam semesta dan dari merekalah lahir kehidupan. Elohim juga terdapat dalam beberapa mitologi lain. Dalam mitologi Babilonia mereka adalah: Bel, Ea, Rimmon, Nebo, Marduk, Nerra and Ninib. Di Persia mereka dikenal sebagai: Azazel, Amazarak, Armers, Barkayel, Akabeel, Tamiel and Azaradel. Pada Kristen awal dan Gnostik mereka dikenal sebagai: Michael (the Sun), Gabriel (Moon), Samael (Mars), Anael (Venus), Raphael (Mercury), Zachariel (Jupiter), and Orifiel (Saturn). Dan dalam Kabalah Yahudi mereka adalah: Ildabaoth, Jehovah, Sabaoth, Adonai, Eloeus, Oreus and Astanphaios.

Nama-nama tersebut cukup dikenal oleh penganut Kristen umumnya, seperti Jehovah dan Sabaoth. Mereka adalah pelayan dari YANG MAHA TINGGI, yang sering disebut MALAIKAT AGUNG. Dalam teologi Kristen mereka disalahartikan sebagai nama lain dari TUHAN.

Dan Jehovah dalam bentuk terakhirnya adalah Adam – Hawa, penyatuan kembali dua kutub yang berpisah sebelumnya, melahirkan kehidupan baru, penciptaan terus-menerus.

Adam dan Hawa

Jehovah

Pada bab ke-2, Genesis memuat kisah penciptaan manusia, yang dinamainya Adam dan Hawa. Kisah penciptaan manusia sebenarnya juga ada di bab ke-1, namun hanya satu ayat (Gen 1:27)[11]. Ada perbedaan yang mencolok antara keduanya, yaitu: pada bab ke-1, TUHAN menciptakan keduanya sekaligus, dan pada bab ke-2, laki-laki diciptakan terlebih dahulu, lalu perempuan diciptakan dari laki-laki. Namun sebenarnya ada lagi yang lebih mencolok, yaitu penggunaan nama TUHAN yang berbeda. Pada bab ke-1 dipakai Elohim dan pada bab ke-2 Jehovah. Para kritikus kitab suci setuju bahwa sesungguhnya kedua bab ini ditulis orang yang berbeda[12], dan tentunya menceritakan dua hal yang berbeda.

Pada bab ini Jehovah digambarkan menciptakan manusia, laki-dan perempuan. Dari analisis bahasa JEHOVAH sendiri berasal dari kata maskulin YAH (Je, Ja, Jao, Iah, Yah) dan kata feminin HOVAH (Havah, Chavvak, Khefa, Eve). Dan Jehovah sendiri bermakna feminin. Adam (maskulin) yang diciptakan terlebih dahulu melambangkan kesadaran. Kemudian Hawa (feminin) yang melambangkan badan materi. Dan kehidupan berkembang dari penyatuan keduanya, kesadaran dan badan materi. Roh butuh materi untuk bisa memanifestasikan dirinya dalam kehidupan. Materi adalah ibu. Ini bisa dilihat dari akar katanya. MATTER dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin MATER yang berarti ibu. Ini juga kita temui dalam bahasa lain: Meter, Mutter, Moder, Madre, Mere, dll.

Taman Eden (Genesis 2:8-25)

Penyatuan aspek maskulin dan feminin digambarkan terjadi di Taman Eden. Ini terjadi sebelum “kejatuhan” manusia yang akan digambarkan dalam bab ke-3 Genesis. Taman Eden ini menggambarkan kehidupan pada level yang lebih tinggi dari level materi. Adam adalah prototype manusia yang tercipta di level immateri, yang kelak akan termaterialisasi dan menjadi padat ketika menempati bumi setelah diusir dari Taman Eden.

Pada mulanya Adam sendirian saja. Adam di sini belum mempunyai bentuk fisik dan belum “padat”. Adam sendiri belum terbagi menjadi dua jenis kelamin, dan reproduksi terjadi secara spontan. Dorongan seks belumlah ada. Manusia pun berkembang biak seperti halnya tumbuhan yang tumbuh dari setiap benih yang ditebar.

Peristiwa berikutnya menggambarkan penciptaan Hawa, dari rusuk Adam. Mulanya Adam tertidur. Ini adalah alegori yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan dari satu fase ke fase berikutnya, dari satu siklus ke siklus berikutnya. Pada saat Adam tidur, salah satu rusuknya diambil dan dari rusuk itu dibuatlah Hawa sebgai pendampingnya. Rusuk[13] dalam bahasa Inggris kuno adalah rif. Kata ini berasal dari kata rift yang berarti membelah. Kiranya jelas bahwa yang dimaksud adalah bifurkasi, pembelahan dari aspek yang tunggal menjadi dua, maskulin dan feminin, laki-laki dan perempuan. Peristiwa ini menggambarkan pemisahan seks pertama kalinya. Manusia tidak lagi satu, melainkan dua. Dan selanjutnya berkembang biak dengan penyatuan kedua seks. Maka lengkaplah sudah perangkat fisik manusia dan siap untuk masuk ke evolusi tahap berikutnya.

Manusia Jatuh ke Dalam Dosa (Genesis 3)

Pada bab berikutnya digambarkan Sang Ular yang menggoda Hawa lalu yang menjadi simbol kejatuhan manusia ke dalam dosa. Cerita ini mengalami distorsi yang luar biasa sehingga mengundang banyak pertanyaan. Pertama, semua orang akan menyalahkan Adam, karena kalau ia tidak tergoda maka semua manusia akan hidup di surga. Kedua, kaum Adam pun menyalahkan Hawa yang mula-mula jatuh ke dalam godaan. Ketiga, dan ujung-ujungnya semua orang menyalahkan sang ular, perlambang setan yang menggoda manusia. Ini bisa teruskan lagi menjadi yang keempat yaitu menyalahkan TUHAN karena membiarkan setan menggoda manusia. Bukankah Ia Maha Kuasa?

Mari kita lihat faktor pertama: ULAR. Dalam mitologi ular tidak selalu menjadi perlambang kejahatan. Ada AGATHODAEMON, ular yang baik, dan KAKODAEMON, ular yang jahat. Seperti halnya dengan simbol-simbol yang lain, mereka berdua pada mulanya adalah satu kemudian mengalami bifurkasi menjadi dua: baik dan buruk, kebajikan dan kejahatan. Ular yang baik dalam mitologi umumnya melambangkan hukum siklus, yang digambarkan dengan ular melingkar yang memakan ekornya sendiri (ouroboros).

Faktor kedua: GODAAN. Kesalahan ini terjadi karena penerjemahan yang kurang tepat. Godaan yang dimaksudkan di sini adalah tento, dari kata Latin tang berarti mencoba, atau tentationem, yang artinya pencobaan. Kata Inggris yang lebih mengena adalah tentation ketimbang temptation. Kenapa manusia harus dicoba? Manusia yang mulanya makhluk spiritual murni dipancing untuk “jatuh” ke dunia di bawahnya yaitu mental (MIND), perasaan (EMOTION), dan bentuk fisik. Peristiwa ini memang direncanakan dan merupakan sebuah rencana besar yang Maha Misterius. Dalam Kabala, ular di sini disebut Inversa Sephira, yang menaungi empat aspek: mental, emosi, ether dan fisik. Lalu mengapa Jehovah melarang manusia untuk makan buah pengetahuan dan mengatakan bahwa mereka akan mati kalau memakannya?

Jehovah sendiri adalah gabungan roh-materi yang menciptakan manusia. Mereka tidak memiliki kapasitas untuk memberikan intelegensia, yang akan membawa manusia ke tahap berikutnya. Dan kesalahan penerjemahan membuat makna yang semakin kabur, karena “mati” dalam mitologi kerap kali berarti “kelahiran kembali”, atau inkarnasi atau juga involusi. Dan kini tampaklah jelas bahwa manusia memang harus “jatuh” untuk memenuhi RENCANA BESAR yang telah disusun oleh YANG MAHA TINGGI.

Setelah memakan buah itu, manusia pun tahu bahwa dirinya “telanjang”. Dalam mitologi, ketelanjangan berarti melepaskan pakaian. Melepaskan pakaian di sini dapat digambarkan sebagai kehilangan bentuk roh karena jatuh ke dalam bentuk baru yang lebih padat. Dan mereka merasakan ada sesuatu yang hilang dan mereka “malu”, karena pakaian spiritual mereka telah dilepaskan. Bukankah sebelumnya mereka juga telanjang, namun mereka tidak malu!

Yang ketiga: POHON PENGETAHUAN. Buah dari pohon ini adalah perbatasan dari roh dan materi. Dengan memakan buah itu, manusia mengafirmasi involusinya, kejatuhan dari roh ke materi. Memang kejatuhan ini membawa resiko yang sangat besar karena membawanya menjadi menyerupai TUHAN atau jatuh ke dalam nafsu setan. Namun bagaimana pun, involusi ini harus ada demi hukum siklus yang menjadi hukum semesta. Manusia harus “jatuh” supaya dapat “bangkit”. Manusia harus jatuh ke dalam alam fisik untuk dapat kembali ke alam roh.

Hal ini diperjelas oleh tradisi Yahudi yang menceritakan bahwa pohon yang sama akan dipakai untuk menyalibkan Mesias yang melambangkan kebangkitan dari kematian[14]. Dan nantinya pohon yang sama akan menjadi pohon kehidupan di surga[15] (Rev 2:2).

Dari penjelasan di atas yang tentunya masih jauh dari sempurna dapat kita lihat bahwa kitab Genesis sebenarnya menceritakan lebih banyak dari pada yang diketahui oleh umum. Kunci untuk memahaminya adalah dengan perbandingan agama dan perbandingan mitologi sekaligus. Dalam terang budi dan pikiran tentunya kita dapat melihat betapa agungnya proses penciptaan, melebihi apa yang dapat kita cakup dalam pikiran kita.


[1] lebih dikenal sebagai the monkey trial karena mempersoalkan apakah manusia berasal dari kera

[2] James Ussher, seorang uskup kepala gereja Irlandia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada hari Kamis sore 4004 SM.

[3] Inggris: Eve

[4] Friedman, Richard E., Who Wrote the Bible? (Prentice-Hall 1987)

[5] Inggris: Cherub

[6] yang dihancurkan oleh penganut Kristen dan dari batunya di buat gereja

[7] khususnya bahasa Inggris, King James Bible

[8] maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya

[9] Inggris: spirit and matter

[10] Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”.

[11] Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan.

[12] Friedman, Richard E., Who Wrote the Bible? (Prentice-Hall 1987)

[13] Inggris: rib

[14] Kaliyuga, masa paling gelap, tahap paling bawah dari seluruh lingkaran evolusi,

[15] Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: