On Everything

September 12, 2007

Pidato Wisuda President Hutchins, University of Chicago, 1935

Filed under: Tentang Pendidikan — Oni Suryaman @ 3:38 am
Tags: , ,

chicago.gifKepada Wisudawan Angkatan 1935

Sudah hampir lima belas tahun aku berada di posisi kalian sekarang. Maka aku dapat memberi nasihat bagi kalian tentang bahaya dan kesulitan yang akan kalian hadapi di depan. Masalahnya terutama, menurut pendapatku, bukanlah masalah ekonomi atau keuangan. Umumnya sebagian orang Amerika selalu bisa mendapat penghasilan; dan umumnya lulusan dari universitas terkenal bisa seperti itu. Kalian mempunyai keunggulan dibandingkan dengan saudaramu setanah air yang lain. Kalian sudah belajar bagaimana bekerja; kalian telah berpengalaman bekerja dengan banyak orang; kalian punya guru-guru yang baik dan telah membaca banyak buku bagus; kalian telah diterangi oleh akumulasi pengetahuan manusia. Jika ada orang yang bisa bertahan hidup, kalianlah orangnya.

Aku tidak kuatir tentang masa depan ekonomi kalian. Yang paling kukuatirkan adalah moral kalian. Pengalaman dan pengamatanku telah membuatku melihat untuk mengingatkanmu bahwa bahaya yang paling besar, menggoda, melumpuhkan, yang akan kalian hadapi adalah kerusakan moral. Waktu akan merusakmu. Teman-temanmu, istri atau suamimu, rekan kerja dan seprofesimu; ambisi sosial, politik dan finansialmu akan merusakmu. Hal yang paling buruk di dalam hidup adalah keruntuhan moral.

Sistem Amerika adalah sebuah sistem yang memberikan insentif besar bagi inisiatif. Sistem ini didasarkan pada usaha individu. Jalan menuju ke atas terbuka bagi siapa saja, tak peduli dari mana dia mulai. Paradoks yang paling mengejutkan dari kehidupan Amerika ini adalah bahwa sistem ini, yang bertumpu pada perbedaan individu, menghasilkan dorongan yang paling kuat menuju penyeragaman. Fakta bahwa anak mana pun bisa menjadi Presiden, ketimbang membuat setiap anak menjadi seorang individu, membuatnya cenderung untuk menjadi sebuah replika dari semua yang lain.

Keikutsertaan adalah bagian dari aspirasi Amerika. Dan di sinilah kerusakannya terjadi; cara untuk ikut serta adalah dengan ambil jalan “aman”, dapat diterima, kompromistis, tidak konfrontatif, tidak memiliki pandangan yang tidak disetujui oleh banyak orang, oleh atasanmu, atau kelompokmu. Kita percaya bahwa dengan mengenal orang yang tepat, memakai pakaian yang tepat, memegang pendapat yang tepat, berpikir dengan tepat, kita bisa ikut bermain; kita bisa ikut serta dalam suatu gambaran surga yang dipenuhi mobil bagus, minuman dingin, dan wanita yang mengagumkan. Begitu menggugahnya gambaran ini sehingga kita bisa melihat bahwa para politikus selama kampanye berusaha sebisa mungkin untuk tidak berkata apa-apa; kita tahu bahwa orang di kalangan atas melakukan penipuan dan korupsi dan tidak enak untuk mengkritik mereka; dan kita tahu, yang kutakutkan, kalau rektor universitas membatasi ucapannya di muka publik untuk berkata yang datar-datar saja. Ketidakberanian ini menjadi kebiasaan, dan ke-konservatif-an ini menjadi salah satu karakteristik dari era kita ini.

Tekanan menuju penyeragaman semakin kuat sekarang. Metode yang lebih efektif untuk mencapainya makin banyak muncul. Perkembangan periklanan sekarang membuat setiap warga Amerika mesti kelihatan, bertindak, dan berpikir seperti tetangganya, dan harus memakai perabot dan alat yang sama. Menjadi nomor dua, adalah yang ditakutkan semua orang sekarang. Ini semua terefleksi dari histeria bentuk opini, yang menekankan kebebasan berbicara bagi mereka sendiri, meskipun tidak ada yang mau mengambil itu dari mereka, dan pada saat yang sama mau mengambilnya dari orang lain. Ini terefleksi dari kembalinya pemaksaan ke dalam politik. Ini terefleksi dari penolakan umum atas kebenaran yang tidak mengenakkan. Ini terefleksi dari mundurnya rasio nasional. Anda hampir tidak bisa menanyakan sekarang tentang sebuah rancangan undang-undang atau usulan apapun apakah ia cukup bijak, adil dan bertanggung jawab. Pertanyaannya adalah betapa kuat tekanan di balik itu dan betapa kuat kepentingan yang ada di belakangnya.

Ketakutan ini juga terefleksi pada serangan pada institusi perguruan tinggi. Dari satu sisi, serangan ini dapat dibenarkan. Dari sisi lain bagi mereka yang berpikir bahwa surga adalah sebuah country club, universitas adalah sesuatu yang berbahaya. Jika kamu mengingankan sesuatu yang rata-rata, jika kamu ingin sebuah negara yang terdiri dari kembar identik semua, tanpa inisiatif, intelektualiatas, atau ide, kamu harus takut kepada universitas. Dari sudut pandang ini universitas adalah subversif. Mereka mencoba membuat mahasiswa mereka berpikir; mereka tidak ingin memproduksi automaton yang serupa. Dengan membantu mahasiswanya berpikir, universitas membuat mereka lebih resisten terhadap tekanan, propaganda, bahkan imbalan. Universitas membuat mereka tidak puas, jika tidak ada ketidakpuasan, tidak akan ada kemajuan dan universitas membuat mereka lebih ingin membuat sesuatu untuk memperbaiki kondisi hidup masyarakat. Universitas membuat mereka menjadi seorang individu, dan invidualitas adalah sebuah impian Amerika, tidak hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi hidup untuk sesamanya.

Betapa kontras dan tajam perbedaan antara atmosfer Amerika dan tujuan universitas ini, di mana orang takut untuk berpikir sendiri dan universitas tidak berbuat apa-apa kecuali membuat orang berpikir, sehingga dari satu sisi universitas bisa dituduh untuk tidak mempersiapkan mahasiswanya untuk hidup di masyarakat. Lulusan mereka tidak bisa diterima. Universitas mungkin bahkan tidak tertarik untuk itu. Tetapi kamu akan melihat bahwa keutamaan yang dicoba ditanamkan oleh sebuah universitas adalah bentuk dicari oleh pemerintahan kita dan tanpa itu kita tidak akan bisa bertahan. Dengan mengalahkan ketidakpedulian, penghakiman, ketidakadilan, keseragaman, pemerataan, kemudahpuasan, dan kebodohan dan memajukan kecerdasan dan kemerdekaan, universitas melakukan sebuah pelayanan yang esensial untuk demokrasi. Demokrasi bertumpu, pertama pada pemahaman di tingkat universitas, yang disebarkan melalui pendidikan para guru untuk sekolah umum dan melalui penemuan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan. Demokrasi bertumpu, kedua pada kepentingan individual, tidak harus politik, tetapi intelektual dan spiritual juga. Dengan ini universitas memberi kontribusi melalui kerja keras para profesor dan para lulusannya. Seperti yang diimpikan Thomas Jefferson ketika ia mendirikan University of Virginia, pelayanan ini harus selalu ada untuk demokrasi. Tetapi para pendiri republik in hampir tidak mungkin memperkirakan betapa akutnya kebutuhan akan itu di saat ini. Mereka tidak bisa mengantisipasi kekuatan propaganda dalam setiap sektor kehidupan yang menyelimuti masyarakat saat ini. Mereka tidak bisa membayangkan sebuah pemerintahan yang penuh dengan kelompok, yang mampu dan bisa melenyapkan kepentingan yang tidak sesuai dengan mereka. Mereka tidak bisa membayangkan suatu hari ketika individualisme akan berarti: “Berbuatlah untuk kepentingan dirimu sendiri.” Jika mereka telah memperkirakan ini, mereka akan lebih meninggalkan pesan yang kuat disertai doa bagi saudara sebangsa setanah air mereka untuk lebih memajukan dan menguatkan institusi pendidikan tinggi.

Jadi aku kuatir tentang moral kalian. Universitas ini tidak akan bisa menyelesaikan seluruh kewajibannya terhadap negara jika kamu ikut arus dalam hidup yang biasa-biasa saja. Percayalah, kalian sekarang lebih dekat dengan kebenaran dari pada di masa akan datang nantinya. Jangan biarkan orang-orang “praktis” mengatakan kepadamu bahwa kamu harus menyerahkan idealismu karena tidak praktis. Jangan berkompromi dengan ketidakjujuran, ketidakpatutan, dan kebrutalan. Dengan berlalunya waktu, bertahanlah terhadap kerusakan yang akan datang kepadamu. Ambil posisimu sekarang sebelum waktu merusakmu. Sebelum kalian sadar, semua sudah terlambat. Keberanian, menahan diri, kehormatan, keadilan, kebijaksanaan harus ditempatkan pertama. Di dalam keutamaan intelektual inilah universitas telah mendidikmu. Hidupmu di sini akan membantumu hidup di masyarakat nanti. Jika kamu memegangnya, kamu menghargai dirimu sendiri dan universitas, dan menjadi pelayan bagi negaramu.

1 Komentar »

  1. di amerika aja kaya gitu. gimana kalo di indonesia ya?

    Komentar oleh kris — September 12, 2007 @ 6:46 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: