On Everything

Oktober 1, 2007

Manusia Insinyur Pertama

Filed under: Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 4:21 pm
Tags: , ,

bob_builder-thumb.JPGPertanian telah membawa manusia kepada revolusi pertama. Pertanian memungkinkan manusia untuk mengontrol alam, yang semula tidak dimungkinkan dengan gaya hidup berburu dan meramu. Pertanian memungkinkan manusia untuk mengusahakan tanah secara intensif, tidak lagi tergantung dari musim. Inilah untuk pertama kalinya manusia memiliki surplus dari pencarian makanan. Manusia tidak lagi harus berburu setiap hari untuk makan. Ia hanya perlu bekerja keras untuk bercocok tanam, dan setelah menuai hasilnya ia tinggal bersantai menikmati hasilnya. Berburu di satu pihak memang lebih menyenangkan, karena hanya perlu bekerja 4-5 jam sehari dan setelah itu bersantai. Pertanian di pihak lain melelahkan dan lebih panjang waktu kerjanya, mencangkul, menggemburkan tanah, menanam benih, menyiangi cukup membuat punggung kaku dan tangan kelu, serta tidak ada faktor hiburannya seperti berburu. Tetapi hasil dari pertanian jelas, tidak seperti berburu yang kadang seperti taruhan. Dan manusia mulai berkelimpahan.

Manusia sejak era keberlimpahan ini telah melakukan sebuah perjalanan baru dalam sejarahnya. Mereka mulai tinggal menetap. Mereka juga mampu memberi makan lebih banyak anggota keluarga dibandingkan dengan hanya berburu saja. Jumlah penduduk pun meledak karena daya dukung tanah bertambah. Hasil yang berlimpah memungkinkan ada anggota yang tidak harus bekerja di sektor pertanian. Dari sinilah kelas-kelas baru muncul dalam struktur masyarakatnya: kelas petukang (tools maker), kelas birokrat dan kelas tentara. Meraka tidak perlu Bagian ini akan dikhususkan pada kelas petukang, insinyur-insinyur awal umat manusia.

Batu dan Kayu

Batu telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia sejak awal mula. Homo habilis telah mulai memakai kapak batu. Homo erectus bahkan mampu membuat kapak batu yang cukup halus. Kapak batu yang sudah cukup bagus tidak hanya dipakai untuk merobek daging tapi juga dapat dipakai untuk menebang dahan-dahan. Dengan demikian kayu mulai dapat dimanfaat. Manusia Neanderthal dan Cro-Magnon telah mampu membuat tombak yang dibuat dari kayu dengan ujung batu tajam atau tulang.

Batu digunakan sampai kurun waktu yang cukup panjang. Dari mulai paling tidak dua juta tahun yang lalu sampai awal peradaban pertanian 12.000 tahun yang lalu. Perubahan besar baru mulai terjadi setelah manusia mulai mengenal api 400.000 tahun yang lalu. Ini karena api adalah kekuatan pengubah yang luar biasa, ia bisa membakar kayu dan meluluhkan logam.

Batu selain dipakai sebagai alat juga dipakai untuk bangunan sejak awal. Ia dipakai untuk membuat kuburan dan tugu. Peninggalan-peninggalan jaman ini kadang kala membingungkan kita saat ini karena mereka belum mengenal tulisan. Patung-patung raksasa di Pulau Paskah dan Stone Hedge di Inggris sampai saat ini masih diselubungi misteri karena kita belum bisa menjelaskan secara meyakinkan kegunaannya.

Teknologi pengolahan batu ini pada peradaban yang maju sudah mencapai tingkatan yang sangat maju. Seperti halnya di Inca, mereka mampu memotong batu sehingga kalau disusun tidak menyisakan celah.

Teknologi pengolahan kayu tidaklah serumit pengolahan batu. Meskipun demikian teknologi perkayuan berkembang seiring dengan teknologi logam yang memungkinkan untuk membentuk kayu secara lebih halus.

Manusia Gua?

Para insinyur awal ini bukan hanya membuat alat-alat. Mereka juga mendirikan tempat tinggal. Berlawanan dengan pandangan umum, bahwa manusia mulanya tinggal di gua-gua, mereka sudah cukup mampu membuat tempat berlindung. Rumah dari jerami sudah dikenal sejak awal sekali, umumnya di Afrika, yang tidak memiliki banyak kayu namun banyak batang rumput di padang. Rumput-rumput tersebut diikat sehingga berbentuk gelondongan yang nantinya dibentuk menjadi rumah.

Di daerah dingin umumnya rumah dibentuk dari bulu kulit binatang, mamoth misalnya. Tulang dan gading mamoth juga digunakan menggantikan kayu sebagai tiang rumah. Bulu binatang yang tebal tersebut bisa menjadi insulator yang baik sehingga suku di dalam rumah menjadi cukup hangat.

Di daerah yang memiliki kayu lebih banyak memakai kayu-kayu kecil yang diikat sehingga membentuk dinding. Untuk menutupi celah-celah antara kayu tersebut digunakan lumpur. Cara ini sampai sekarang masih dipakai di pedalaman Amerika Latin.

Kota

Kemampuan membangun tempat tinggal kecil tidak akan berkembang tanpa sebuah kebutuhan akibat berkembangnya populasi. Rumah harus dapat dibangun lebih kuat dan lebih tahan lama. Ukuran rumah juga harus semakin besar untuk memuat jumlah orang yang lebih banyak. Pilihan yang ada umumnya terbatas. Daerah tropis yang cenderung banyak ditumbuhi pohon-pohon besar akan menggunakannya untuk membangun. Di daerah subtropis yang lebih sedikit memiliki kayu mengembangkan apa yang kita sekarang sebut bata. Bata mulanya dibuat dari semacam tanah liat yang kalau dijemur akan menjadi kuat.

Di dalam kota, jalan juga menjadi sebuah hal yang penting. Meskipun demikian teknologi jalan ini baru mulai berkembang menjelang awal Masehi. Sebelumnya jalan hanyalah tanah lapang yang berdebu di musim kemarau dan becek di musim hujan.

Semakin besarnya kota membawa pada perkembangan yang lebih rumit yaitu pembuatan benteng. Sebelum ditemukannya semen beberapa perekat alami dipakai untuk merekatkan bata ataupun batu: rendaman ketan atau kapur. Pembangunan dalam skala besar juga berarti pembagian tenaga kerja yang lebih spesifik. Di samping pekerja pembangun harus ada tenaga ahli yang memastikan semua bata dan batu dapat dipasang dengan tepat sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Perkembangan lebih lanjut adalah pembangunan sarana-sarana lain seperti saluran air dan saluran irigasi. Untuk peradaban yang bergantung pada pertanian, kanal adalah bangunan yang diutamakan. Namun sebagian besar peradaban memusatkan pembangunan pada pembuatan tempat pemujaan: kuil, candi atau sejenisnya. Nampaknya agama memegang posisi kunci pada peradaban sehingga mereka mau mengorbankan banyak materi dan tenaga demi sebuah tempat pemujaan.

Pembangunan seperti ini bisa disebut mencapai puncaknya pada era Romawi Kuno. Kota Roma dibangun dengan jalan yang rapi berlapis batu, kuil yang megah, dan saluran air yang mengalirkan air bersih ke seluruh kota. Jembatan-jembatan lengkung melewati sungai-sungai dengan jaringan jalan raya diseluruh wilayah kekaisaran untuk mempercepat mobilisasi pasukan. Kota Roma pada saat itu bisa menampung lebih dari satu juta manusia, sebuah prestasi yang baru bisa dicapai London satu milenium kemudian.

Logam

Kebersamaan manusia dengan logam membawa perubahan yang besar bagi umat manusia. Penemuan logam sendiri nampaknya adalah sesuatu yang tidak disengaja. Tembaga pertama kali ditemukan sekitar 5000 SM di Persia dan Afganistan. Tembaga dapat dihasilkan dari malachite, batuan yang berwarna hijau, yang kalau dibakar akan meleleh menjadi merah. Lelehan merah tersebut adalah tembaga. Tembaga, sayangnya adalah logam yang lunak sehingga tidak banyak berguna selain untuk ornamen.

Pemanfaatan logam pertama yang benar-benar berguna adalah perunggu, yaitu paduan tembaga dan timah. Bagaimana mereka tahu bahwa paduan dua logam yang “lembek” seperti tembaga dan timah dapat menghasilkan paduan yang lebih keras? Kebetulan, tak lebih dari itu! Bijih timah memang biasanya ditemukan bersamaan dengan bijih tembaga, dan tentunya selalu ada kemungkinan mereka dilebur bersamaan secara tidak sengaja, dan sebagai hasilnya diperoleh paduan yang lebih keras. Paduan yang lebih keras ini adalah karena susunan kristal yang tidak sempurna akibat ukuran atom yang berbeda, sehingga mereka akan saling menyekat gerakan atom yang satu dengan yang lain.

Teknologi perunggu ini berkembang pesat di Cina, mungkin mereka mengimpornya dari tetangga mereka, Persia. Di Cina-lah perunggu digunakan sampai bentuk tercanggihnya di jaman itu dari mulai patung sampai senjata. Mereka menguasai teknik untuk mencapai tingkat kekerasan tertinggi yaitu dengan mencampurkan 15% timah dengan 85% tembaga. Teknologi pembakarannya pun disempurnakan dengan tungku keramik mereka.

Senjata

Perunggu memang sudah bisa dijadikan senjata. Bangsa Yunani bahkan memanfaatkannya dengna membuat unit infanteri ringan berformasi rapat yang bersenjatakan tombak perunggu, hoplite, dan dengan itu memenangkan banyak peperangan. Namun teknologi persenjataan sesungguhnya baru mulai berkembang setelah pemakaian besi dan baja untuk membuat senjata.

Pengolahan besi tidaklah semudah pengolahan perunggu karena bijih besi baru meleleh pada 1500 derajat celcius, lima ratus derajat di atas titik leleh tembaga. Pada mulanya bijih besi diambil dari batu meteorit sehingga dikenal sebagai “logam dari surga” oleh bangsa Sumeria. Penggunaan besi sendiri sebagai baru dimulai sejak 1500 SM oleh bangsa Hittite. Lima ratus tahun kemudian bangsa India baru dapat membuat baja dengan mencampurkan besi dengan sedikit karbon.

Seperti halnya perunggu yang mencapai tingkat tertingginya di Cina, baja mencapai tingkat tertingginya di tangan para master pembuat samurai sekitar 800 M. Mereka mampu menggabungkan kekuatan besi dengan kelenturan yang luar biasa. Pencapaian ini luar biasa karena untuk mendapatkan kualitas seperti itu campuran karbon, panas api serta pendinginan harus sedemikian tepatnya. Di jaman yang belum memiliki alat pengukuran, dapat kita bayangkan betapa luar biasanya pencapaian itu.

Emas dan Batu Filosofi

Emas adalah logam yang lain dari pada yang lain. Ia tidak berkarat dan biarpun dilebur beberapa kali ia tetap mulia. Hal inilah yang membuat manusia tertarik padanya. Emas melambangkan keabadian. Keagungan emas ini membuat manusia untuk menemukan rahasianya, yaitu bagaimana mengubah batu menjadi emas, sebuah batu filosofi. Batu ini juga dihipotesiskan mampu membuat manusia panjang umur seperti halnya sifat emas.

Para petualang ini menamakan diri mereka para alkemis. Merekalah yang mendahului perkembangan ilmu kimia. Memang sampai saat ini rahasia itu belum terungkap (atau masih tersingkap), namun usaha mereka telah memberikan kemajuan yang luar biasa. Dari situ mereka menemukan sulfur dan air raksa. Mereka juga mencoba segala macam cara untuk mengolah logam dan mencatatnya.

Pencapaian alkimia ini juga memiliki efek samping yang tak terduga yaitu perkembangan ilmu pengobatan. Beberapa logam rupanya dapat menyembuhkan penyakit. Kita tentunya tahu tentang yodium yang dapat dipakai sebagai antiseptik. Air raksa juga dapat dipakai sebagai penyembuh sipilis.

Akhir Cerita

Pencapaian para ahli batu, kayu dan logam telah sedemikian tingginya sehingga baru pada era modern kita dapat melebihi pencapaian mereka. Penemuan seperti komposit adalah pencapaian abad ke-20. Kita bahkan mungkin kesulitan untuk membuat bangunan semonumental piramida dan Angkor Wat walaupun memakai alat-alat modern. Kita masih akan terkagum-kagum melihat Katedral Notre Dame dengan motif Gotik-nya. Kiranya kita belum terlalu jauh beranjak dalam sejarah umat manusia.

2 Komentar »

  1. kalau putra indonesia dapat mengubah batu jadi logam tembaga,pastilah dapt tux kemakmuran indonesia tanpa bantuan asing.

    Komentar oleh bambang — Juli 20, 2008 @ 8:02 pm

  2. wah keabadian

    Komentar oleh arif budi santoso (be_es) — Maret 16, 2009 @ 4:10 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: