On Everything

November 12, 2007

Pendidikan Bukanlah Investasi

Filed under: Tentang Pendidikan — Oni Suryaman @ 7:44 am
Tags: , , ,

money.jpgAnda pasti sering melihat iklan asuransi atau tabungan pendidikan di TV. Pendidikan sekarang memang mahal sehingga orang sudah harus mulai menabung untuk pendidikan anaknya sejak masih dari kandungan. Orangtua-orangtua tersebut dengan penuh harap mengorbankan uangnya sedikit demi sedikit supaya anaknya nanti dapat mengecap pendidikan yang terbaik.

Kelihatannya tidak ada yang salah dengan pemikiran di atas. Mari kita lihat lebih jelas. Jika kita mengasumsikan bahwa biaya pendidikan adalah pengorbanan yang kita lakukan di awal dan kita mengharapkan pengembalian di akhir yang tentu saja lebih besar dari pengorbanan, maka pendidikan dapat kita kategorikan sebagai investasi. Logika yang dipakai dalam pendidikan dengan demikian akan menjadi logika investasi. Benarkah demikian?

Logika ini sering dipakai oleh orang yang berada dalam kelas sosial yang lebih rendah. Pendidikan dipakai sebagai alat untuk menaikkan kelas sosial. Orangtua rela berhemat-hemat supaya anaknya dapat sekolah di sekolah yang baik, dan nantinya diharapkan tidak seperti orang tuanya, yang hanya petani atau buruh, tapi bisa menjadi pegawai kantoran, bankir, dokter, insinyur, pengacara dan sederet pekerjaan terhormat lainnya.

Apakah itu memang tujuan pendidikan sehingga orang harus berinvestasi guna mendapatkan hidup yang lebih baik di masa depan?

Marilah kita lihat lebih detil yang pertama, logika investasi. Pertama, investasi mengharapkan pengembalian. Logika ini akan membuat kelas terdidik pertama kali berpikir untuk mengembalikan investasi yang telah mereka keluarkan. Mereka akan mencari pekerjaan yang menghasilkan paling banyak uang. Logika ini adalah logika yang salah karena banyak tidaknya uang yang dihasilkan tidaklah sama dengan latar belakang pendidikan seseorang. Uang, sebagai hasil akhir, tergantung dari seberapa besar kontribusi seseorang, yang tidak ditentukan oleh latar belakang pendidikan seseorang. Memang, seberapa besar seseorang dapat memberikan kontribusi bisa ditentukan oleh latar belakang pendidikannya. Misalnya untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan tentunya pendidikan sebagai seorang dokter sangat membantu. Tetapi dengan menyelesaikan sekolah kedokteran tidak berarti otomotis seseorang berharap ia akan dibayar tinggi sebagai seorang dokter. Besar tidaknya bayarannya seharusnya sebanding dengan kontribusinya.

Logika ini melahirkan lingkaran setan yang membuat biaya pendidikan untuk bidang tertentu yang dianggap menghasilkan banyak uang makin melambung. Dengan logika investasi tentunya wajar bagi lembaga pendidikan untuk menaikkan biaya pendidikan profesi tertentu yang menjanjikan penghasilan lebih besar. Logika pasar pun bermain di sini, karena semakin banyak orang yang ingin berpenghasilan tinggi, semakin mereka akan tertarik untuk masuk ke sekolah yang mengacu pada profesi yang berpenghasilan tinggi. Akibatnya permintaan akan sekolah tersebut pun meningkat, dan walhasil pihak penyedia memiliki posisi tawar yang lebih tinggi, yang bisa memberi mereka kesempatan untuk menaikkan biaya pendidikan.

Logika investasi sangat berbahaya karena membuat orang lebih peduli dengan dirinya sendiri, dari pada pada masyarakat sekitarnya. Karena ia disibukkan untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan, dia akan menjadikan pengabdian masyarakat—sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab seorang terdidik—menjadi urutan kesekian dalam hidupnya. Yang penting balik modal dulu.

Bayangkan jika logika ini dibalik. Sekolah kedokteran dibuat murah karena disubsidi oleh pemerintah (seperti yang terjadi di Kuba, di mana sekolah kedokteran gratis!). Orang yang masuk di sana paling tidak tidak tertekan untuk mengembalikan modal yang telah mereka korbankan karena pengorbanan mereka untuk masuk ke sana tidak besar. Memang ini tidak otomatis membuat dokter-dokternya tidak kemaruk.

Logika yang kedua, pendidikan dipakai sebagai sebuah alat untuk menaikkan kelas sosial. Pemikiran seperti ini memiliki asumsi dasar bahwa beberapa profesi memiliki kelas sosial yang lebih rendah dari yang lain. Petani, nelayan, buruh itu rendah. Insinyur, akuntan, dokter, pengacara itu tinggi. Petani, nelayan, buruh sudah selayaknya dibayar rendah karena mereka tidak sekolah. Insinyur, akuntan, dokter, pengacara sudah selayaknya dibayar tinggi karena mereka sekolah. Logika seperti ini menciptakan pertentangan kelas, kelas yang di atas menindas kelas yang dibawahnya. Pendidikan dipakai sebagai gerbang di dalam masyarakat untuk “naik kelas”. Biaya pendidikan ibarat uang tol yang harus dibayar untuk menyeberang dari sisi orang-orang kere ke sisi orang-orang terhormat. Yang paling diuntungkan tentu saja penjaga pintunya, alias institusi pendidikan. Tak aneh bila biaya pendidikan semakin mahal saja.

Apakah itu tujuan pendidikan? Menciptakan pertentangan kelas? Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membebaskan manusia. Siapa bilang petani lebih rendah dari akuntan? Siapa bilang buruh lebih rendah dari insinyur? Siapa bilang nelayan lebih rendah dari pengacara? Beras yang kita makan, ikan di piring lauk pauk kita, dan sepatu Adidas yang kita pakai adalah jerih payah keringat mereka yang kita anggap rendah. Pendidikan seharusnya justru memecahkan tembok yang membatasi nelayan-petani-buruh dengan dokter-akuntan-insinyur. Pendidikan adalah untuk mengubah paradigma cara berpikir, bukan untuk mengubah seorang dari petani menjadi dokter. Pendidikan bertujuan untuk membuat seorang petani menjadi petani yang baik, seorang dokter menjadi dokter yang baik.

Sudah saatnya kita berhenti memakai logika kolonial imperialis. Pendidikan kita adalah pendidikan orang merdeka, pendidikan yang membebaskan diri kita untuk menjadi orang tertindas maupun orang yang menindas. Dan itulah satu-satunya investasi yang perlu kita buat, untuk menghasilkan dunia masa depan yang lebih baik bagi kita semua. Sebuah masyarakat yang tidak lagi saling menindas. Dunia di mana petani dapat hidup layak seperti halnya seorang dokter. Dunia di mana seorang buruh dipandang setara dengan seorang insinyur. Aku ingin hidup dalam dunia seperti itu, maukah Anda?


“The old general rule was that educated people did not perform manual labor. They managed to eat their bread, leaving the toil of producing it to the uneducated. This was not an insupportable evil to the working bees, so long as the class of drones remained very small. But now, especially in these free States, nearly all are educated–quite too nearly all, to leave the labor of the uneducated, in any wise adequate to the support of the whole. It follows from this that henceforth educated people must labor. Otherwise, education itself would become a positive and intolerable evil. No country can sustain, in idleness, more than a small percentage of its numbers. The great majority must labor at something productive.”

Abraham Lincoln, Address before the Wisconsin State Agricultural Society

9 Komentar »

  1. Yang perlu dikoreksi adalah pendidikan itu berbeda dengan sekolah. Pendidikan berlaku bagi setiap manusia, sedangkan sekolah hanya berlaku (paling tidak untuk konteks Indonesia) hanya untuk jenis manusia tertentu.
    Manusia tertentu itu tentu saja yang punya duit. Kalo tidak punya duit ya tidak ada sekolah. Sampe2 orang2 djogja bikin pasemon (sindiran): “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH”, “ORANG MISKIN DILARANG SAKIT”. Bahkan Roem Topatimasang menyindir dalam bukunya “SEKOLAH ITU CANDU”. Dikatakannya, sekolah hanya mencetak orang untuk dihormati, sekolah untuk mencetak orang jadi pejabat dan juga penjahat.
    Negara adalah pelopor paling konkrit melalui STPDN yang didirikannya. Dan out putnya bukanlah manusia berkepribadian luhur, rendah hati dan
    berperikemanusiaan. Sebaliknya, praja2 STPDN telah menjadi spesies baru yang gila hormat dan anti kemanusiaan. Karenanya STPDN lebih tepat disebut SEKOLAH TINGGI PREMAN DIBIAYAI NEGARA. Ini jelas bukan dunia manusia perpendidikan, tetapi dunia preman yang diproduk dari sebuah institusi bernama sekolah.
    Saat ini telah byk orang2 yang berpikiran maju yang berusaha keluar dari atau melawan mainstream sekolah konvensional yang mulai mencekik leher masyarakat. Di beberapa tempat mulai dikembangkan semacam sekolah alternatif yang menyediakan ruang bagi anak2 terutama bagi masyarakat kurang mampu agar mendapat kesempatan sekolah. Di sebuah kota kecil Salatiga – Jawa Tengah,
    misalnya, telah berdiri SLTP alternatif berbiaya murah (dan sangat murah). Dan out putnya ternyata luar biasa, dalam arti prestasi akademik yang tak kalah
    dengan sekolah konvensional. Prinsipnya sederhana, yakni menciptakan suasana senang pada anak dalam kegiatan belajar. Dalam sekolah tidak ada guru yang
    marah, menekan atau menteror anak didik, karena guru adalah partner belajar anak. Tidak ada kekerasan dalam sekolah, karena tradisi kekerasan dalam sekolah sebenarnya bermula dari guru yang mempengaruhi perilaku mereka. Ini terbukti semangat kerjasama antar peserta didik terbangun begitu kuat dan bahkan tidak ada persaingan atau kelompok geng dalam sekolah mereka, yang belakangan ini menggejala kuat di sekolah-sekolah konvensional.

    Komentar oleh Akbar — November 13, 2007 @ 10:56 am

  2. woey, tulisannya keren atuh. saya guru jg lho,buakan karena saya goblog ato memang mau jadi guru. ceritanya panjang dah, ntar kalao blog saya dah jadi, kuceritain yach🙂

    Komentar oleh sari — November 13, 2007 @ 12:46 pm

  3. Good point, Kang Oni! Meski mungkin bukan seperti itu yang dimaksud dengan menyatakan bahwa pendidikan itu investasi untuk masa depan. Jika kita melihatnya dari perspektif materialisme maka apa yang Anda kuatirkan memang nampak demikian. Tapi kalau kita melihatnya sebagai tabungan masa depan yang tidak selalu dalam bentuk materi maka mungkin perspektifnya berbeda.
    Salam
    Satria

    Komentar oleh Satria Dharma — November 14, 2007 @ 2:29 am

  4. Artikel yang mencerahkan salam kenal …kasih komen ke artikel kami ya
    http://jepits.wordpress.com/2007/11/12/membiasakan-chindogu-di-kampus-teknologi/

    Komentar oleh jepits — November 21, 2007 @ 12:26 am

  5. Seru juga permainan logikanya!

    Salam kenal, Mas!

    Komentar oleh Roy Thaniago — Desember 13, 2007 @ 2:08 pm

  6. Pendidikan ; apakah berpihak kepada rakyat kecil?
    ketika pendidikan di-komersialisasi, semakin lengkap sudah derita si miskin,
    apakah kemiskinan sebuah pilihan yang tidak terelakkan ?
    saya pikir kemiskinan adalah konsekuensi logis dari ketidakberdayaan sistem republik ini, ketidakberdayaan sistem ekonomi yang selalu tunduk kepada aturan IMF, WorldBank, G-8, ketidaberdayaan sistem politik yang meletakkan kehausan akan kekuasaan diatas segalanya, rakyat bukannya melek politik akan tetapi dibodohi secara sistemik…

    imbasnya apa? pendidikan mahal, akibatnya rakyat bodoh dan semakin bodoh, dengan rakyat yang ga bisa mikir ini, tentunya sangat gampang untuk dikuasai global agenda’ers….ahhh…kapan terjadi revolusi di negara ini?

    Komentar oleh sattabi — Maret 3, 2008 @ 10:07 am

  7. betul mas, kurikulum pendidikan kita, mencetak robot bernyawa alias pekerja bukan pemberi kerja. selesai sekolah ujng-ujungnya duit untuk ngidupin anak orang,
    makasih,
    salam kenal

    Komentar oleh evanghozali — Maret 3, 2008 @ 12:40 pm

  8. saya berpikir klo sebenarnya kita itu engga punya kurikulum malahan…

    jangankan kurikulum yang baik dan tepat sasaran, justru pendidikan sekarang lebih cenderung memeberikan peluang bagi anak didik untuk belajar dengan metode mereka sendiri2…
    baik memang, tapi kok terkesan pemerintah (baca: pengambil kebijakan) lebih senang dengan kejadian seperti itu…
    mau jadi apa bangsa ini klo tetap engga terdidik secara baik dan dewasa…

    kebangkitan nasional sekarang ini hanya terkesan visi saja…
    pendidikan tetap engga bangkit2…

    keep on moving deh…

    Komentar oleh schape — Mei 19, 2008 @ 5:30 am

  9. bagus artikelnya

    Komentar oleh upjakarta — Juli 22, 2010 @ 6:23 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: