On Everything

Desember 4, 2007

Parmenides

Filed under: Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 5:12 am
Tags: , ,

parmenides.jpgParmenides adalah seorang filsuf Yunani pra-Sokrates, yang merupakan metafisikawan pertama yang memikirkan tentang apa itu ADA. Ia hidup di Elea, lahir kurang lebih 515SM. Tulisan-tulisannya hanya tersisa dalam bentuk fragmen, yang dapat dilihat di sini. Tulisannya lebih seperti sebuah puisi ketimbang sebuah teks filsafat. Ia banyak dipengaruhi oleh Xenophanes, seorang yang dihormati di kotanya. Ia sendiri adalah pengikut aliran Pythagoras.

‘Tis necessary for thee to learn all things, both the abiding essence of persuasive truth, and men’s opinions in which rests no true belief. But nevertheless these things also thou shalt learn, since it is necessary to judge accurately the things that rest on opinion, passing all things carefully in review.

Pertama-tama harus dipahami bahwa pemahaman ini didasari bukan oleh pemahaman manusia biasa, melainkan melampaui semua itu, seperti yang dijelaskan pada proem tulisannya. Oleh karena itu pemakaian indrawi biasa dan pendapat (doxa) harus dihindari karena tidak membawa kepada pemahaman yang benar, melainkan hanya menggunakan penalaran murni (logos) kita bisa memahami ini.

The one way, assuming that being is and that it is impossible for it not to be, is the trustworthy path, for truth attends it. The other, that not-being is and that it necessarily is, I call a wholly incredible course, since thou canst not recognise not-being (for this is impossible), nor couldst thou speak of it, for thought and being are the same thing.

Maka dengan nalar murni, Parmenides mengatakan bahwa “Ada” itu ada dan tidak mungkin tiada, karena sesuatu yang tiada tidak mampu dikenal, dikatakan, atau dipikirkan.

It is necessary both to say and to think that being is; for it is possible that being is, and it is impossible that not-being is ; this is what I bid thee ponder. I restrain thee from this first course of investigation; and from that course also along which mortals knowing nothing wander aimlessly, since helplessness directs the roaming thought in their bosoms, and they are borne on deaf and like-wise blind, amazed, headstrong races, they who consider being and not-being as the same and not the same; and that all things follow a back-turning course.

Dan di sini Parmenides meneruskan dengan ”berbaik hati”, bahwa kita tidak perlu capek-capek memikirkannya, karena ia telah memikirkannya; kita tinggal menikmatinya saja, bahwa “Ada” memang ada, dan tidak mungkin tiada.

There is left but this single path to tell thee of: namely, that being is. And on this path there are many proofs that being is without beginning and indestructible; it is universal, existing alone, immovable and without end; nor ever was it nor will it be, since it now is, all together, one, and continuous.

“Ada” yang dimaksud di sini bukanlah ada seperti pengertian sehari-hari. “Ada” adalah esensi dari segala sesuatu dan sumber dari segala sesuatu. Ia tidak bisa diciptakan, karena kalau ia bisa diciptakan maka ia berhenti menjadi sumber dan esensi; segala sesuatu yang bisa diciptakan bukanlah sumber dan esensi. Ia juga tidak bisa dihancurkan karena dengan demikian, ia juga bukan esensi. Ia selalu ada, tidak pernah diciptakan, tidak pernah dihancurkan, dan akan selalu ada. Ia tidak berubah.

Ia universal karena “Ada” di sini sama dengan “Ada” di sana, sama di mana-mana. Jika berbeda, maka ia bukan “Ada”. Karena ia universal, maka hanya ada satu yang “Ada”, di luar itu tiada, dam tidak perlu dibahas.

Ia tidak berpindah atau bergerak, karena bila itu terjadi, kita bisa berkata ia ada di sini atau ia ada di sana. Bergerak mengasumsikan kalau di suatu tempat ia ada lalu menjadi tiada, atau tiada menjadi ada. Ia tidak berjarak, ia ada di mana-mana, dan di mana-mana sama.

It makes no difference to me at what point I begin, for I shall always come back again to this.

Tidak ada bedanya memulai argumen dari ada atau dari tiada karena ujungnya akan sama saja. Dengan membicarakan “tiada”, ia tidak mungkin ada, dan tidak akan pernah ada, sehingga yang tersisa adalah “Ada”.

But since there is a final limit, it is perfected on every side, like the mass of a rounded sphere, equally distant from the centre at every point. For it is necessary that it should neither be greater at all nor less anywhere, since there is no not-being which can prevent it from arriving at equality, nor is being such that there may ever be more than what is in one part and less in another, since the whole is inviolate. For if it is equal on all sides, it abides in equality within its limits.

Namun “Ada” ada batasnya, karena semua berbatas. Di luar itu tiada. “Ada” bisa dibayangkan sebagai sebuah bola, yang batasnya sempurna di semua sisi, dan jaraknya sama semua ke titik pusatnya. Karena ia sama di semua sisi, batasnya sama di mana-mana.

Men have determined in their minds to name two principles [lit. forms]; but one of these they ought not to name, and in so doing they have erred. They distinguish them as antithetic in character, and give them each character and attributes distinct from those of the other. On the one hand there is the aethereal flame of fire, fine, rarefied, everywhere identical with itself and not identical with its opposite; and on the other hand, opposed to the first, is the second principle, flameless darkness, dense and heavy in character. Of these two principles I declare to thee every arrangement as it appears to men, so that no knowledge among mortals may surpass thine.

Manusia gagal untuk mengenali “Ada” karena pikiran manusia selalu terbagi menjadi dua, sesuatu dan lawannya. Di satu sisi kita melihat kobaran cahaya, dan kita otomatis membandingkannya dengan kegelapan malam. Dua hal ini nyata dalam indra (doxa) menipu penalaran yang murni (logos). Keduanya sebenarnya sama, karena gelap hanyalah ketiadaan terang, dengan memberikan nama kepada gelap, manusia telah melakukan kesalahan.

 

Perbandingan dengan Brahman

Pandangan Parmenides tentang “Ada” ini mirip dengan Brahman dalam filsafat Hindu. Tetapi Brahman bahkan berani melampaui “Ada” karena Brahman, bukan lagi ada atau tiada. Ia melampaui keduanya. Ia adalah prinsip di belakang semua fenomena. Ia potensi di belakang ada dan tiada. Ia tidak perlu ada dan tiada karena ada dan tiada hanya ada dalam dunia yang sudah terkejawantahkan.

Dari Brahman, muncullah potensi alam semesta, yang digambarkan dengan Brahma, sang Dewa Pencipta. Begitu Brahma tercipta, lahirlah dunia fenomena, ia menciptakan “Ada”, dan di luar yang dia ciptakan adalah “Tiada”.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: