On Everything

September 10, 2008

Ode untuk Alexandria

Filed under: Tentang Pendidikan,Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 5:55 am
Tags: , , ,

Tulisan ini bukanlah tentang “Alexandria”, sebuah film Indonesia dengan judul yang sama, yang popular dengan soundtrack-nya yang diisi Peter Pan, salah satu band papan atas di Indonesia. Alexandria (dalam ejaan Arab dan juga diadopsi oleh bahasa Indonesia adalah Iskandariyah) adalah sebuah kota di pantai utara Afrika, di delta Nil. Namanya diambil dari orang mendirikannya, Alexander Agung (atau dalam ejaan Arab Iskandar Agung). Ia didirikan tiga abad sebelum Masehi, dan masih berdiri sampai sekarang, berganti puluhan warna dan wajah.

Di sana juga pernah berdiri salah satu keajaiban dunia, Mercu Suar Alexandria, yang menyiratkan kehadiran kotanya dari kejauhan di tengah laut. Di sana pernah berdiri Emporium, sebuah pusat perdagangan berskala dunia di jaman antik. Di sana sudah ada Apostases, majalah berkala, berabad sebelum Masehi. Di sana juga pernah bersidang tujuhpuluh tua-tua Yahudi untuk menerjemahkan kitab suci mereka dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Dan di sana pernah berdiri Musaeum[1], tempat bersemayam Sembilan Muse[2] yang merasuki para pemikir dunia, yang mau menyinggahinya. Di dalam kompleks Musaeum inilah berdiri perpustakaan terbesar di dunia di jamannya, Perpustakaan Agung Alexandria, yang keharuman namanya tak lekang oleh sejarah.

Perpustakaan ini pernah menaungi pemikir-pemikir terbesar dalam sejarah peradaban manusia:

1.                  Erathosthenes, orang pertama yang melakukan pengukuran dengan skala astronomis, dengan mengukur keliling bumi dengan menggunakan bayangan tongkat dan ilmu trigonometri, membandingkan sudut yang dibentuk oleh dua buah tongkat di Syene (pos perbatasan selatan Mesir, dekat air terjun pertama di hulu sungai Nil, yang kebetulan tepat berada di garis balik utara) dengan Alexandria tepat waktu tengah hari pada solstice musim panas (kalau memakai penanggalan Masehi sekarang tanggal 21-22 Juli), matahari akan tepat di atas kepala di Syene, dan membentuk bayangan 7 derajat di Alexandria.

2.                  Aristarchus dari Samos, yang dua abad sebelum Masehi telah mengatakan bahwa mataharilah pusat peredaran planet-planet yang salah satunya adalah bumi.

3.                  Strabo, seorang ahli geografi yang menulis Geografi pada sekitar 25 SM, berdasarkan apa (yang tersisa setelah kebakaran pertama di masa Julius Caesar) yang ia lihat di perpustakaan ini.

4.                  Hipparchus, yang memetakan bintang dan memperkirakan kecemerlangan bintang-bintang tersebut.

5.                  Euclid, yang mensistematisasi geometri dan menuliskannya dalam Element, yang menjadi dasar geometri sampai dua setengah milenium setelah jamannya.

6.                  Herophilus, ahli faal pertama yang menegaskan bahwa otaklah pusat kecerdasan manusia, bukan jantung.

7.                  Dionysius dari Thrace yang melakukan telaah bahasa.

8.                  Heron dari Alexandria, penemu roda bergigi, dan mesin uap (dua milenium sebelum mesin uap modern diproduksi), pengarang Automata, risalah pertama tentang robotika.

9.                  Apollonius dari Perga, ahli matematika yang memperlihatkan perhitungan irisan kerucut, yang memungkinkan dua milenium kemudian Johannes Kepler menyempurnakan astronominya.

10.              Archimedes, jenius mekanika terbesar sebelum Leonardo da Vinci, yang menciptakan banyak mesin perang sewaktu kotanya Syracusa diserang, dan tentu saja paling terkenal dengan hukum Archimedes dalam hidrostatika.

11.              Ptolemesus, yang astronominya tidak tergoyahkan selama limabelas abad, yang walaupun salah namun terbukti keakuratannya.

Namun peradaban klasik yang menciptakannya dan kepicikan manusia jualah yang akhirnya menghancurkannya. Yang pertama adalah karena serbuan Julius Caesar dalam perang menduduki Alexandria tahun 48 SM. Seneca, seorang filsuf Romawi memperkirakan ada 40.000 koleksi buku yang terbakar. Sungguh sebuah tragedi dalam kemanusiaan. Koleksi yang dihasilkan dengan susah payah lenyap hanya karena nafsu perang menguasai manusia. Kehancuran kedua adalah oleh serbuan Kaisar Marcus Aurelius di abad ketiga Masehi sewaktu memadamkan pemberontakan oleh Ratu Zenobia dari Palmyra. Kembali kita harus berduka. Dan yang paling parah adalah perintah pembakaran semua bangunan kafir (termasuk perpustakaan) oleh Patriakh Theophilus dari Alexandria. Kepicikan akal budi manusia yang digelapkan oleh fanatisme agama telah menghancurkan karya peradaban yang paling berharga. Dan yang terakhir adalah penghancuran oleh serbuan bangsa Arab dalam permerintahan Kalifah Umar.[3] Menjelang abad ke delapan Masehi, boleh dibilang Perpustakaan Agung Alexandria telah musnah. Yang tersisa sampai sekarang hanya sebagian kecil dari koleksinya yang bisa diselamatkan. Sisanya tenggelam dalam sejarah entah di mana atau hilang untuk selama-lamanya.

Kehancuran perpustakaan ini adalah salah satu malapetaka yang paling menyedihkan bagi peradaban manusia mengingat kehancurannya bukan hanya kehancuran fisik, melainkan hilangnya ilmu pengetahuan yang telah terakumulasi berabad lamanya. Dari sisa-sisa tulisan Plato dan Aristoteles saja (yang masih banyak hilang tak tahu rimbanya) peradaban barat telah berkembang sedemikian luar biasa. Bisa dibayangkan bagaimana kalau tulisan-tulisan para filsuf di jaman itu ditemukan secara utuh! Dari sumber lain diketahui bahwa ada koleksi di perpustakaan ini yang ditulis oleh seorang pendeta Babilonia bernama Berossus, yang berisi tiga jilid sejarah dunia, yang membahas rentang antara Penciptaan sampai Banjir Besar, sebuah periode sepanjang 432.000 tahun atau seratus kali lebih panjang dari kronologi yang disusun dalam kitab Taurat! Belum lagi koleksi ilmu-ilmu lain seperti mekanika. Kapal-kapal yang berlabuh di Mediterania waktu itu sudah menggunakan lambung kapal streamline yang mampu membelah air dengan mudah, sebuah teknologi yang hilang dan baru diketemukan lagi pada abad pelayaran dua millennium kemudian. Di jaman kejayaannya, koleksinya mencapai sekitar setengah juta, sebuah jumlah yang fantastis di jaman itu, di mana belum ada teknologi percetakan dan semua ditulis tangan!

Manusia yang bisa cerdas luar biasa juga bisa bodoh luar biasa dengan menghancurkan dirinya sendiri. Sejarah dunia sendiri telah menjadi bukti yang paling otentik. Kehancuran Perpustakaan Alexandria bukan satu-satunya contoh, meskipun mungkin adalah yang paling tragis. Kaisar Chin Shih Huang Ti yang membuat tembok besar Cina juga pernah memerintahkan pembakaran buku-buku, yang membuat bangsa Cina dan juga dunia kehilangan pemikiran-pemikiran klasik Cina akumulasi pengetahuan berabad-abad, dengan alasan politis. Pemerintahan Nazi juga pernah melakukan yang sama.

Kita juga tidak lebih baik. Kondisi perpustakaan di Indonesia tidak kalah parah. Perpustakaan lebih seperti kuburan suasananya, buku-buku berdebu yang tak pernah disinggahi pembaca. Lihat saja koleksi sebagian besar universitas di Indonesia. Bangunan mereka boleh jadi mentereng dan sejuk dengan AC dan tiap kelas dihubungkan dengan internet dan memiliki proyektor yang puluhan juta rupiah harganya. Tapi coba tengok perpustakaan mereka, lihat berapa koleksinya, berapa anggaran yang mereka keluarkan sebulan untuk membeli buku (bukan untuk pemeliharaan), dan berapa besar jumlah mahasiswa yang mau meminjam buku. Sebagian besar isinya hanya buku-buku teks kuliah terbitan kalau tidak Prentice-Hall ya McGraw-Hill yang tiap tahun ganti edisi baru. Buku-buku penting yang mengisi peradaban dunia tidak pernah disentuh. Jangan aneh kalau anak jurusan ekonomi tidak pernah menyentuh (jangankan membaca) buku Wealth of Nation-nya Adam Smith, anak jurusan sosiologi yang tidak pernah menyentuh buku-buku Weber dan Marx, dan anak ilmu pasti yang jangankan menyentuh dan membaca, mendengar pun mungkin belum pernah tentang Principia-nya Newton.

Penerbitan buku di Indonesia juga sama saja. Risalah-risalah penting hampir tidak dapat dijumpai dalam bahasa Indonesia (untung saja sekarang ada internet, dengan modal bisa bahasa Inggris, hampir tidak ada batas dalam meraup ilmu). Para penerbit hanya sibuk meraup rupiah dengan menerbitkan buku yang menghibur, kalau tidak buku proyek dan buku pelajaran yang mutunya tidak jelas. Untuk membaca tentang sejarah Indonesia saja mungkin kita harus berkunjung ke Leiden Belanda.

Penerjemahan juga sama saja penyakitnya. Karya-karya penting dunia tidak banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Padahal penerjemahan adalah salah satu kunci majunya peradaban. Jepang di masa awal kebangkitannya menerjemahkan semua karya-karya penting ke dalam bahasa Jepang, dan penerjemah mendapatkan posisi yang penting di negara itu. Awal kebangkitan kembali Eropa juga seperti itu. Para sarjana Eropa belajar di Kordoba, Spanyol yang di waktu itu diduduki oleh Islam. Dari sana mereka menerjemahkan kembali karya-karya klasik yang telah hilang dan tidak mereka kenal ke dalam bahasa Latin dari bahasa Arab. Ada pula cerita di masa kejayaan Islam di Bagdad ketika penerjemah di jaman itu, seorang Kristen Nestorian bernama Hunayn ibn Ishaq yang dibayar dengan emas seberat naskah yang diterjemahkannya! Dialah yang menerjemahkan teks-teks Plato dan Aristoteles dari  bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, dan dengan demikian memicu perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Timur Tengah.

Di jaman jayanya Perpustakaan Alexandria konon ada cerita seperti ini:

Setiap kapal yang berlabuh di Navalia, pelabuhan Alexandria harus melewati pemeriksaan yang ketat. Bukan untuk dicari barang haramnya melainkan untuk mencari apakah mereka membawa buku. Jika ada, buku tersebut harus dikopi untuk menjadi koleksi Perpustakaan Alexandria.

Mudah-mudahan dunia belajar dari kesalahannya, dan kehausan ilmu di jaman itu akan terlahir kembali di jaman ini. Internet sekarang memungkinkan akumulasi ilmu yang tidak terbatas, seperti sebuah perpustakaan terbesar di dunia. Proyek Gutenberg telah mencoba mengumpulkan buku-buku dari berbagai belahan dunia dan bisa diakses dengan gratis. Beberapa website lain juga melakukan hal yang sama.

Kalau aku ada kesempatan kembali ke masa lampau, mungkin hanya satu yang aku mau, yaitu menjadi anggota perpustakaan Perpustakaan Agung Alexandria. Kiranya tidak terlalu berlebihan kata-kata dari seorang penulis kenamaan Argentina Jorge Luis Borges:

“Aku selalu membayangkan kalau surga itu semacam perpustakaan.”



[1] Yang menjadi akar kata museum seperti yang kita kenal sekarang.

[2] Para Muse yang berjumlah sembilan orang adalah dewi yang dianggap pemberi inspirasi para musisi, pemikir, filsuf, sejarawan, orator dalam mitologi Yunani. Mereka adalah Calliope (keindahan orasi, Clio (sejarah), Erato (puisi romantis), Euterpe (musik dan puisi liris),  Melpomene (drama tragedy), Polymnia (hymne dan kidung), Terpsichore (koor dan tarian), Thalia (komedi dan puisi alam), Uranis (astronomi).

[3] Kebenaran akan pembakaran ini menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, ada yang setuju dan ada yang mengatakannya sebagai mitos.

4 Komentar »

  1. Kalo bayangin surga versi pdf:mrgreen:

    Komentar oleh petak — September 10, 2008 @ 6:43 am

  2. Apakah kehancuran perpustakaan itu semacam Takdir Tuhan atau hasil usaha manusia ???

    apa itu takdir. andaikan kita bisa mewawancara Tuhan, maka kita bisa tahu bahwa itu adalah takdir. saya lebih suka kata momentum sejarah, alias sesuatu yang sudah menjadi keharusan sejarah, dan tidak bisa ditawar. kalau itu yang anda maksud, kupikir jawabannya adalah iya. hukum siklus tidak bisa diabaikan dari dulu sampai sekarang. kita sekarang juga mendekati momen penghancuran ilmu dengan lebih disukainya ilmu terapan dibandingkan dengan ilmu murni. lama2 ilmu dasar yang menjadi fondasi peradaban kita kita lupakan karena tidak ada lagi sarjana yang mau mempelajarinya.

    Komentar oleh lovepassword — September 13, 2008 @ 8:23 pm

  3. @kita sekarang juga mendekati momen penghancuran ilmu dengan lebih disukainya ilmu terapan dibandingkan dengan ilmu murni. lama2 ilmu dasar yang menjadi fondasi peradaban kita kita lupakan karena tidak ada lagi sarjana yang mau mempelajarinya.

    Saya agak tidak jelas maksud anda. bisa anda berikan contohnya ?

    yang saya maksud adalah beberapa fenomena di perguruan tinggi. saya tentunya tidak punya data lengkap kecenderungan dari seluruh dunia. di banyak perguruan tinggi di australia, contohnya RMIT, ilmu2 murni seperti fisika dan matematika telah di merger. kalau di indonesia seperti di Sanata Dharma Jogja, yang jurusan fisika murni dilebur ke dalam pendidikan fisika, dan sejarah kayaknya mau ditutup. sementara kita tahu bahwa dimana2 ilmu terapan seperti teknik, kedokteran, manajemen, akunting, tidak pernah kehilangan peminat. mengapa ini terjadi analisisnya panjang dan bisa jadi tulisan lain.

    Komentar oleh lovepassword — September 15, 2008 @ 10:15 am

  4. Mas Oni,
    Perpustakaan Alexandria memang masih ada hingga sekarang. Saya pernah berkunjung sekali ke sana. Jarak dari Kairo, kota yang saya diami sekarang, ke kota itu sekitar 200 km lebih. Bangunan perpustakaan itu sungguh megah dan koleksi buku-bukunya menarik. Ditambah lagi dengan indahnya pemandangan laut mediterania tak jauh dari bangunan itu. Sungguh indah.

    Komentar oleh M. Subhan Zamzami — Oktober 1, 2008 @ 3:38 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: