On Everything

Februari 5, 2009

Hermeneutika, Sekilas Pandang

Filed under: Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 3:32 pm
Tags: ,

hermesSalah satu arus besar dari filsafat kontinental adalah hermeneutika. Kata hermeneutika sendiri sering kita dengar dalam studi sastra dan teologi. Di dalam Kamus Webster’s Third New International Dictionary hermeneutika didefinisikan: “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi biblika.” Terlihat dari definisi tersebut bahwa kata hermeneutika lebih banyak dipakai di seputar tafsir kitab suci.

Di dalam tradisinya, hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani, Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa, mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan, sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios, yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut.

Tradisi hermeneutika sekuler sendiri bisa dilihat sebagai sebuah perkembangan pasca Kantian yang berusaha memahami dan menginterpretasi karya-karya manusia seperti karya seni, literatur, hukum, simbol, dan lain-lain. Hermeneutika memberikan sumbangan kepada filsafat kontinental dengan memaparkan kompleksitas dari pengalaman manusia, mempelajari signifikansi dari historisitas dan temporalitas dari pemahaman manusia, mengeksplorasi lingkaran hermeneutik, mengindikasikan beberapa perbedaan krusial antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu manusia, menunjukkan latar belakang asumsi yang bekerja dalam semua bentuk pemahaman manusia.

Hermeneutika, bersama-sama dengan fenomenologi dan eksistensialisme mengeksplorasi kekayaan dari pengalaman, dengan segala kompleksitasnya. Hermeneutika menunjukkan bahwa pengalaman lebih kaya daripada yang digambarkan oleh para teoritikus yang mencoba menggambarkannya dengan segala abstraksi dan reduksinya. Pengalaman selalu lolos dari teori mana pun; ia selalu unik.

Hermeneutika sendiri memberikan sumbangan dalam menggambarkan pengalaman ini dengan mengajukan dua hal: historisitas dan temporalitas. Pengalaman selalu masuk di dalam era tertentu yang memiliki situasi yang tertentu yang menuntut pemahaman tertentu. Hal seperti ini mengkondisikan dan membatasi pengalaman seseorang. Jarak temporal selalu memberikan pengaruh pada setiap interpretasi historis karena makna pada periode sejarah tertentu berbeda dengan makna sebagaimana dipahami oleh penafsir pada masa sekarang. Pengalaman juga selalu ada di dalam aliran temporal, yang mengacu pada suatu masa depan tertentu, dibayangi oleh masa lalu, dan menghadapi tantangan masa kini. Manusia sebagai makhluk temporal selalu berubah, menyesuaikan diri dengan tantangan yang sedang dihadapinya, memodifikasi tujuannya di masa depan, serta memberi makna baru pada masa lalunya.

Hermeneutika juga memperkenalkan apa yang disebut dengan lingkaran hermeneutik. Lingkaran hermeneutik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam setiap proses interprestasi. Untuk bisa memahami satu bagian dari teks yang diinterpretasi, kita harus memahami teks secara keseluruhan supaya bisa menempatkan bagian teks tersebut ke dalam konteksnya. Namun untuk memahami keseluruhan isi teks tentu saja dibutuhkan pemahaman dari seluruh bagian-bagiannya. Ini terlihat seperti sebuah paradoks, namun tidak begitu kenyataannya. Lingkaran hermeneutik ini tetap perlu dimasuki pada titik tertentu dengan hipotesis tertentu dengan pemahaman yang belum sempurna, yang akan terus-menerus diuji dengan keseluruhan isi teks untuk melihat apakah ia bisa dipertahankan atau tidak.
Hermeneutika kemudian membuat sebuah terobosan baru dalam memahami ilmu-ilmu. Beberapa pemikir hermeneutik mulai melihat bahwa ilmu-ilmu manusia atau sosial berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu sosial tidak dapat diturunkan metologinya dari ilmu-ilmu alam. Hermeneutik melihat bahwa ilmu-ilmu sosial tidak dapat seperti ilmu alam yang dapat mereduksi gejala-gejala alam menjadi sebuah hukum umum yang dapat menerangkannya (erklären). Ilmu sosial hanya boleh melihat gejala dan mencoba memahaminya (verstehen).

Beberapa pemikir hermeneutik juga percaya bahwa manusia memiliki sifat yang sama sehingga dimungkinkan untuk saling memahami antara manusia yang berbeda era maupun kulturnya. Hermeneutika mengakui pentingnya sejarah dengan menekankan pentingnya akar seseorang pada tradisi sejarahnya. Hermeneutika juga mengakui pentingnya pengetahuan sosial dalam melakukan interpretasi. Kesemuanya ini disebut sebagai sebuah prapemahaman atau horizon pemahaman. Tanpa latar belakang ini sulit untuk melakukan sebuah proses interpretasi.

Di dalam perkembangan hermeneutika modern, terdapat dua tradisi hermeneutika. Yang pertama adalah hermeneutika tradisional, yang dimulai dengan mengamati objek interpretasi tertentu seperti teks, hukum, maupun karya seni, dan mencoba memformulasikan hukum-hukum untuk melakukan interpretasi. Yang kedua adalah hermeneutika filosofis, yang dimulai dengan menganalisis apa yang dimaksud dengan pemahaman dan menentukan implikasi dari bermacam-macam cara interpretasi. Kedua tradisi ini bisa dilihat dari beberapa tokoh hermeneutika yang dipaparkan berikut ini. Schleiermacher, Dilthey dan Betti mewakili kelompok yang pertama, Heidegger dan Gadamer mewakili kelompok yang kedua.

friedrich_daniel_ernst_schleiermacherSchleiermacher
Friedrich Ernst Schleiermacher adalah orang yang memulai tradisi hermeneutika modern. Ia sendiri dipengaruhi oleh dua pemikir pendahulunya yaitu Friedrich Ast and Friedrich August Wolf. Dari Ast ia mengambil ide tentang lingkaran hermeneutika. Ast juga mengatakan bahwa setiap teks memiliki dua dimensi yaitu dimensi linguistik dan dimensi historis. Ast juga melihat bahwa untuk bisa menafsirkan sebuah teks, sang penafsir harus menyamakan horizon pemikirannya dengan horizon pemikiran sang pengarang teks yang akan ia tafsirkan. Dari Wolf ia mengambil ide bahwa bisa didapatkan prinsip-prinsip umum untuk menafsirkan suatu teks.

Bagi Schleiermacher, tujuan utama dari interpretasi adalah bukan apa isi teks tersebut, melainkan apa yang ada di belakang motivasi penulis untuk menuliskan teks tersebut. Proses ini adalah seperti membuka selubung makna teks tersebut, yang bisa jadi terjadi di bawah sadar sang penulis. Yang dicari adalah apa ide di belakang yang mengorganisasi seluruh isi teks.
Schleiermacher melihat bahwa interpretasi terbagi atas dua dimensi: dimensi sang pengarang yaitu dimensi psikologis, dan dimensi teks itu sendiri yaitu dimensi gramatik. Keduanya diperlukan untuk melakukan interpretasi terhadap teks. Dimensi gramatik bisa melihat lebih dalam mengenai gaya bahasa yang dipakai pada era tertentu sesuai dengan makna gramatikal di saat itu. Dimensi psikologis menyelami apa yang ada dibalik pemikiran sang penulis saat menulis karya tersebut.

Dengan ini Scleiermacher melakukan lompatan besar dengan memperlakukan teks sebagai teks, dan ini adalah sebuah pergeseran tradisi dari hermeneutika sebelumnya yang merupakan bagian dari teologi. Ini membuka jalan bagi hermeneutika untuk masuk ke dalam filsafat, sekaligus demitologisasi dan desakralisasi teks.

dilthey1Dilthey
Wilhelm Dilthey memberi sumbangan kepada hermeneutika dengan membedakan ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu manusia. Ia mengatakan bahwa untuk mendalami ilmu manusia diperlukan cara yang berbeda dengan metode yang dikembangkan ilmu-ilmu alam. Cara tersebut ia sebut dengan “memahami”, yang dikontraskan dengan “menjelaskan” di dalam ilmu-ilmu alam.
Dilthey memperlakukan teks tertulis di hadapannya sebagai sebuah objek interpretasi. Ia melihat teks sebagai ekspresi dari sang pengarang dan interpretasi adalah sebuah upaya untuk memahami maksud dari pengarang tersebut. Ia percaya bahwa dengan menyelami teks kita dapat menemukan intensi dari pengarang tersebut, dan dapat ditemukan metode untuk menyelami teks tersebut.

Ia juga menganut bahwa manusia mesti memiliki kesamaan meskipun berbeda secara kultur dan sejarah. Untuk mempertahankan ini Dilthey menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam dunia material yang sama sehingga mereka niscaya mengembangkan cara yang sama untuk memahaminya. Perbedaan kultur terjadi karena masing-masing budaya memberikan tekanan yang berbeda pada fungsi mental tertentu. Misalnya kultur tertentu lebih menekankan persepsi, yang lain imajinasi, atau emosi, atau berpikir abstrak.

Dilthey menyatakan bahwa meskipun manusia hidup di dalam alam, prinsip-prinsip hukum alam tidak dapat diterapkan secara langsung pada ilmu-ilmu manusia. Keduanya berbeda secara prinsipil. Ilmu alam mencoba mereduksi gejala yang partikular ke dalam hukum yang universal, tetapi ilmu manusia ingin memahami sebuah gejala dengan segala kompleksitasnya. Ilmu manusia juga dapat dipahami tanpa bantuan sains, karena manusia telah mampu hidup dan memahami lingkungan sosialnya jauh sebelum sains ada. Ilmu manusia pun harus dipahami sebagai sebuah kesatuan organik (gestalt) di mana unsur-unsur di dalamnya berhubungan secara internal.

heideggerHeidegger
Martin Heidegger memberikan arah baru dalam perkembangan hermeneutika. Hermeneutika tidak lagi sekedar sebuah prinsip umum untuk melakukan interpretasi teks, melainkan hermeneutika adalah cara berada manusia. Ia mengubah hermeneutika tradisional menjadi sebuah filsafat, sebuah hermeneutika ontologis. Interpretasi bagi Heidegger adalah salah satu dari cara mengada manusia (yang lain adalah mood dan diskursus).

Memahami (understanding) umumnya dilihat sebagai mengetahui atau kognisi. Heidegger menolak ini; memahami baginya adalah bagaimana manusia mengalami sebuah situasi dan bagaimana ia siap untuk menghadapi situasi tersebut. Semakin seseorang bisa menghadapi sebuah situasi, semakin ia “memahami” situasi tersebut, semakin ia mampu bertindak, dan ia semakin bereksistensi.

Interpretasi adalah salah satu cara untuk mengartikulasikan pemahaman ini. Ia melihat kemungkinan-kemungkinan dari sebuah situasi. Ia hadir dalam setiap situasi dan mencari jalan untuk menghadapi situasi tersebut. Interpretasi tidak harus dalam bentuk verbal atau linguistik, atau dalam bentuk sebuah proposisi. Ia juga bisa berbentuk sebuah aksi.
Heidegger lebih melihat proses pemahaman sebagai sebuah aksi ketimbang proses teoretisasi. Memahami adalah cara praktis manusia bergaul dengan dunianya. Teori hanyalah sebuah bentuk praktis. Interpretasi hanyalah salah satu modus dari pemahaman. Dan pada akhirnya interpretasi dalam bentuk bahasa hanyalah salah satu bentuk dari interpretasi. Bahasa hanyalah sebuah instrumen dari pengertian.

Heidegger juga memperkenalkan lingkaran hermeneutik yang baru: sebuah pertanyaan selalu dibentuk oleh ekspektasi sebelumnya yang akan menentukan jawaban yang metode yang akan didapatkan. Hal ini seperti halnya pada lingkaran hermeneutik tradisional terlihat seperti sebuah paradoks. Namun Heidegger tidak menutup kemungkinan untuk melakukan interpretasi. Yang dibutuhkan adalah dialog antara teks dan sang penafsir sehingga teks semakin membuka dirinya untuk ditafsirkan.

gadamerGadamer
Hans Georg Gadamer sebagai seorang murid dari Heidegger meneruskan tradisi hermeneutika ontologis yang telah dimulai oleh Heidegger. Gadamer melihat teori interpretasi sebelumnya telah mencoba meniadakan ketergantungan pada latar belakang sebuah teks untuk mendapatkan objektivitas dari teks tersebut. Ia menolak ini dengan mengatakan bahwa teks dan penafsir memiliki otoritas yang sama atas interpretasi, tidak satu pun bisa mendominasi yang lain. Ia ingin penafsir tetap terbuka terhadap teks. Ketika sang penafsir tidak memaksakan keinginan mereka untuk mendapatkan tafsir yang objektif ia dapat mengalami teks secara lebih penuh. Diubah oleh teks adalah tujuan dari seorang penafsir yang sejati.

Gadamer, mengikui tradisi Heidegger dan Nietzsche, melihat bahwa tradisi yang dibawa oleh masing-masing penafsir perlu dan tidak bisa diabaikan. Ia tidak sepakat dengan hermeneutika tradisional yang menganggap bahwa tradisi sang penafsir bisa mengaburkan penafsiran. Seorang penafsir tidak bisa lolos dari itu, karena ia sebagaimana juga teks yang akan ia tafsirkan, tersituasikan oleh sejarah. Proses penafsiran adalah fusi horizon dari kedua eleman ini, penafsir dan teks yang akan ditafsirkan. Keduanya bergantian saling menginterogasi. Gadamer melihat ini sebagai sebuah proses tanpa akhir, yang ada hanya pengertian baru yang diperoleh.

Di dalam teori Gadamer, dialog dipakai di dalam seluruh proses interpretasi. Di dalam dialog inilah selubung makna menjadi terbuka. Gadamer melihat bahwa hukum-hukum interpretasi yang kaku akan menghilangkan dialog ini. Dengan ini ia menantang hermeneutika tradisional dengan pendekatan deskripsi fenomenologis dari pengalaman interpretatif dan meninggalkan mimpi untuk mendapatkan pengetahuan absolut.

Betti
Emilio Betti mengkritik pendekatan Gadamer dan ingin kembali kepada tradisi yang telah dibangun oleh Schleiermacher. Kritik Betti adalah Gadamer telah mengabaikan perbedaan antara teks dengan signifikansi dari teks bagi penafsir. Ia menunjukkan kadang kala seorang pembaca bisa merasakan emosi yang luar biasa terhadap sebuah teks, tetapi ini bisa saja terjadi karena salah memahami teks tersebut. Betti tetap menekankan pemahaman terhadap teks secara keseluruhan. Perasaan yang kuat terhadap sebuah teks bisa saja menjadi sebuah hipotesis awal yang baik, tetapi ia tidak menjamin sebagai sebuah interpretasi yang memadai.

Kritik Betti yang kedua adalah pendekatan Gadamer tidak mengijinkan teks untuk berbeda dengan kepercayaan sang penafsir, karena ia menekankan pada integrasi antara penafsir dan teks. Baginya Gadamer dengan demikian memaksakan posisi sang penafsir kepada teks. Teks baginya harus tetap terpisah dari sang penafsir, supaya tafsir tetap dapat objektif.

Betti juga melihat faktor historis dan kontekstual perlu dipisahkan satu sama lain. Faktor kontekstual bisa mengkondisikan makna historis, namun ia bisa jadi tidak relevan. Sebuah interpretasi historis hendaknya menemukan makna pada konteks dirinya sendiri, lepas dari makna kontekstual.

Betti sepakat dengan Gadamer bahwa sang penafsir harus bersikap terbuka terhadap teks, namun ia tetap bersikukuh bahwa penafsir mesti mengalaminya dari teks itu sendiri, bukan mengalami fantasi yang direkonstruksi diri sendiri. Penafsir harus menangkap makna objektif dari teks tersebut, dan membiarkan teks mengubah dirinya, setelah ia menangkap maknanya. Jika diperlukan penafsir bisa menggunakan konteks yang relevan untuk memahami teks seperti karya lain dari sang penulis, kisah hidupnya, dan sejarah di masanya. Di dalam hal ini terlihat bahwa Betti sebenarnya ingin mengintegrasikan pemikiran Gadamer dengan Dilthey, dengan mempertahankan subjektivisme Gadamer dan objektivisme Dilthey.

Hermeneutika telah menawarkan sebuah pendekatan dalam memahami karya-karya manusia. Namun hermeneutika filosofis, karena ia melihat bentuk pemahaman yang selalu berlaku pada berbagai kondisi, umumnya gagal memahami bentuk karya yang paling rumit. Hermeneutika tradisional juga gagal untuk menyatukan teori-teori interpretasi yang spesifik: literatur, sejarah, maupun individu. Di dalam prakteknya, hermeneutika adalah sesuatu yang memang rumit dan terus berkembang.

Pemahaman dan interpretasi bukanlah satu-satunya cara untuk mengerti tentang dunia. Deskripsi dan intuisi langsung adalah cara lain. Cara mana yang dipakai sangat bergantung pada situasi. Hermeneutika tidak selalu lebih baik dari deskripsi atau intuisi langsung. Hermeneutika hanyalah salah satu cara manusia untuk berhubungan dengan sekitarnya.

Daftar Pustaka
Palmer, Richard E. Hermeneutika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Schroeder, William R. Continental Philosophy, A Critical Approach. Oxford: Blackwell Publishing, 2005.

4 Komentar »

  1. Bersamaan dengan Gadamer bukankah ada Derrida dengan dekonstruksinya.
    Yah, they’re not at the same league, tapi semangat menakar teks dan kontekstualisasinya dengan realitas memiliki kesamaan semangat…

    Komentar oleh Ardyan M. Erlangga — Maret 6, 2009 @ 2:06 pm

  2. muat donk tentang pengartian penafsiran secara historis kritis, langkah-langkah penafsiran historis kritis,unsur-unsurnya,dan perkembangannya….thanks..GBU

    Komentar oleh parda — Agustus 29, 2009 @ 2:26 pm

  3. artikel ini sangat bagus untuk pemula seperti saya,karena sangat membantu sekali ketika saya di tanya oleh seseorang saya bisa memjawab pertanyaannya.
    kemudian saya mohon izin kiranya penulis artikel ini bersedia untuk di copy untuk di sebar luaskan lagi ke berbagai media yang ada

    Komentar oleh m wahdi — Januari 30, 2010 @ 1:45 pm

  4. silahkan dicopy, asal menyertakan sumber tulisannya dan dilink ke blog ini.

    Komentar oleh Oni Suryaman — Februari 4, 2010 @ 11:35 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: