On Everything

Maret 31, 2009

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sebuah Tirani Bahasa?

Filed under: Tentang Bahasa,Tentang Budaya,Tentang Indonesia — Oni Suryaman @ 4:52 am
Tags: ,

Aku tergelitik untuk menulis ini untuk menanggapi resensi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 4 yang tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, di Majalah Tempo edisi 30 Maret 2009.

bisa diklik di sini

Lengkapnya saya kutipkan di sini:

Kamus Besar yang Agak Terlalu Sempurna

Nikolaos van Dam
Duta Besar Belanda untuk Indonesia

kkbi-3MEREKA yang mengira bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah akan segera menyadari betapa rumitnya jika mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari sastra dan bentuk tulisan lainnya.

Salah satu hambatan bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia adalah luasnya kosakatanya. Kenyataan bahwa bahasa ini memiliki 20 ribu kata serapan dari berbagai bahasa, yang tersusun dalam Loan-Words in Indonesian and Malay (2008) karya Russell Jones, bisa mengarah pada kesimpulan yang salah, seolah-olah bahasa Indonesia adalah bahasa yang relatif miskin dengan kosakata asli yang agak terbatas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) dengan 90 ribu butir masukan dan subbutir masukan jelas memperlihatkan justru sebaliknya, dan menggarisbawahi kekayaan linguistik dan budaya bahasa Indonesia.

Tetapi ada juga fenomena lain: Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak saja mencerminkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa hidup yang mampu beradaptasi dengan situasi baru. Kamus ini juga mencerminkan opini dan interpretasi tim penyusunnya tentang bagaimana bahasa Indonesia semestinya menurut tata bahasa yang resmi. Bahasa Indonesia seolah-olah merupakan bahasa yang dibuat berdasarkan keputusan (yang pada tingkatan tertentu bisa dikatakan benar sejak 1928) ketimbang bahasa yang diserap dari kenyataan linguistik sehari-hari.

Namun linguistik ”semestinya” ini tidak selalu mencerminkan keadaan linguistik sebenarnya. Oleh karena itu, kamus ini menggambarkan ragam bahasa Indonesia yang diputuskan dan disetujui oleh tim redaksi Pusat Bahasa di Jakarta setelah berbagai diskusi.

Jika kita ingin memperhatikan perkembangan linguistik dan pembahasan internal itu, adalah hal yang menarik untuk membandingkan Edisi Ketiga dan Keempat, tidak saja berkaitan dengan kosakata, tetapi juga dengan tata bahasa. Pandangan yang berbeda tentang asal muasal kata-kata tertentu dalam bahasa Indonesia mengarah pada pembentukan dan penyusunan lain dari berbagai butir masukan. Contohnya kata memperhatikan dan memerhatikan. Dalam Edisi Ketiga, perhati muncul sebagai akar kata, sedangkan kata turunannya adalah memerhatikan. Namun, dalam Edisi Keempat, yang menjadi akar kata adalah hati (dengan perhati sebagai subbutir masukannya), yang menurunkan kata kerja memperhatikan. Dalam Edisi Keempat, kata memerhatikan sama sekali tidak ada. Semua ini pasti merupakan hasil pembahasan linguistik di antara para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada perubahan dalam percakapan sehari-hari, karena memperhatikan tetap berlaku seperti sebelumnya.

Walaupun dianggap benar bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia mencakup bentuk yang mengikuti aturan tata bahasa yang resmi, menurut saya pribadi adalah suatu bentuk peniadaan bahwa di samping bentuk ini beberapa bentuk yang sebenarnya masih ada dan umumnya diterima dalam berbagai kasus tidak dimasukkan. Misalnya, di bawah kata pengaruh ada memengaruhi, tetapi tidak ada mempengaruhi yang memperlihatkan adanya pengecualian gramatikal namun tetap diterima.

Bahasa Indonesia ”gaul” umumnya tidak dimasukkan ke dalam kamus besar ini, walaupun butir masukan ketemu terdapat di bawah huruf ”K”, di mana kita dialihkan ke temu, yang di bawahnya tidak ditemukan kembali di sebelah bentuk yang lebih resmi, yaitu bertemu. Kata-kata turunan dari ketemu (mengetemui dan mengetemukan) yang tercantum dalam Edisi Ketiga tidak lagi dimasukkan ke dalam Edisi Keempat, mungkin karena kata-kata ini dinilai sebagai bahasa sehari-hari (kolokial).

Berbagai kata lain yang saya temukan misalnya di kamus telepon genggam saya, seperti tajir, dong, atau nggak, tidak muncul di kamus ini, mungkin karena dinilai sebagai bahasa gaul.

Beberapa kata yang umum dipakai, seperti bengkel (bahasa Belanda: winkel) atau perkedel (bahasa Belanda: frikandel) sebagai contoh, yang muncul dalam Edisi Ketiga, kini telah ditiadakan untuk alasan yang tidak jelas, sedangkan sejumlah kata yang tidak lumrah digunakan tetap dipertahankan. Pelopor (bahasa Belanda: voorloper) ditemukan, tetapi kata voorijder yang juga umum digunakan (bahasa Belanda: voorrijder) tidak ditemukan.

Dalam Edisi Ketiga Kamus Besar Bahasa Indonesia di bagian ”Kata dan Ungkapan Asing” terdapat formula minal ’aidin wal-faizin, yang banyak dipakai saat Idul Fitri, tetapi telah dihapus dari Edisi Keempat untuk alasan yang tidak jelas.

Sejumlah kata asing tertentu sedang mengalami proses asimilasi ke dalam bahasa Indonesia, walaupun kata-kata tersebut tidak sepenuhnya mengikuti aturan tata bahasa yang berlaku. Sukses, misalnya, awalnya diserap menjadi mensukseskan, kini diubah menjadi menyukseskan. Semakin banyak orang lebih senang memakai kata serapan semacam itu layaknya sebuah kata asli Indonesia, semakin banyak pula kata tersebut dipakai. Walaupun mensukseskan tetap umum dipakai, juga dalam pidato-pidato resmi, termasuk pidato kepresidenan, kamus besar ini hanya memasukkan bentuk tata bahasa yang ”benar”, yaitu menyukseskan, sehingga mengabaikan sebagian dari kenyataan linguistik bahasa Indonesia.

—————————————————————

Kamus Besar Bahasa Indonesia dikerjakan dengan cara yang berbeda dengan Kamus Bahasa Inggris yang kita kenal pada umumnya, seperti edisi Oxford atau Cambridge. Para ahli bahasa penyusun kamu di sana, mengamati pemakaian kata di dalam bahasa mereka dengan statistik yang ngejelimet. Mereka melihat frekuensi kata-kata yang muncul, khususnya dalam bahasa tulisan (karena terlalu sulit mengumpulkan data bahasa lisan). Data-data tersebutlah yang kemudian dikompilasi menjadi sebuah kamus. Ada kata baru yang muncul, dan ada pula kata yang punah karena jarang dipakai, atau malah tidak pernah dipakai sama sekali lagi. Ada pula makna baru yang muncul dari kata yang sudah dikenal. Mereka ibarat ahli biologi yang mengumpulkan species-species binatang yang ada, hanya saja dalam kasus ini binatangnya adalah kata-kata.

Hal yang berbeda terjadi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Para penyusun kamus ini tidak mendasarkan kamus pada kenyataan pemakaian sehari-hari bahasa Indonesia. Mereka, para ahli bahasa, melakukan perdebatan di antara mereka mengenai kata mana yang benar, sehingga masuk kamus, dan kata mana yang salah, sehingga ditendang keluar dari kamus. Inilah yang terjadi di negeri kita. Bahasa ditentukan oleh segelintir elit, bukan oleh pemakainya.

Namun yang terjadi malah ketidakkonsistenan. Kata yang sudah diterima dari satu edisi bisa ditolak di edisi lain, dan kata yang ditolak bisa jadi diterima di edisi lain. Aku tidak bisa membayangkan aturan bahasa yang plin-plan tergantung penguasanya. Bayangkan anda mengambil tes TOEFL; jawaban anda bisa salah sekarang, namun di masa depan bisa benar. Benar-benar membingungkan.

Apakah perlu penguasa Bahasa Indonesia kita kudeta saja. Misalkan semua penerbit media cetak dan juga media lain mengadakan konferensi yang melakukan pencatatan terhadap kegiatan berbahasa mereka dan dengan demikian menghasilankan sebuah “kamus” yang berisi semua kebiasaan berbahasa mereka. Kamus ini nantinya bisa menjadi sebuah kamus “swasta” yang menjadi alternatif dari KBBI.

Mungkin bahasa memang harus dikembalikan kepada pemilik sahnya, yaitu kita, selaku pengguna Bahasa Indonesia sehari-hari. Lagi pula, aku lebih suka menggunakan Kamus Indonesia – Inggris terbitan Mizan yang dibuat oleh University of Ohio. Lebih lengkap dan memuat banyak bahasa gaul. Apa kita harus menunggu Kamus Bahasa Indonesia terbitan Leiden Belanda?

10 Komentar »

  1. Apa ini terjadi akibat kebablasan berpolitik di Indonesia sejak jaman ORBA yg pengaruhnya terbawa-bawa ke penentuan berbahasa versi “pemerintah bahasa yang sah”?

    Mungkin untuk model tes TOEFL bhs Indonesia tidak terlalu kelihatan, tapi yang tak bisa kubayangkan adalah jawaban ujian tes bahasa Indonesia versi jaman SIPENMARU 1980-an, UMPTN 1990-an dan ujian masuk perguruan tinggi jaman sekarang untuk soal yang sama mungkin saja berbeda.
    Tak heran buku teks pelajaran untuk setiap tahun selalu berganti, toh kebenaran jg selalu berganti standarnya setiap tahun. Bisa jadi obyekan guru sekolah dan Bimbel nih. Jangan2 konspirasi:mrgreen:

    gak tau deh. bingung. apa sih yang di negeri ini yang gak bikin bingung

    Komentar oleh Ando-kun — Maret 31, 2009 @ 12:04 pm

  2. Bener. Masalah utama belajar bahasa Indonesia adalah soal plin plan ini. Hari ini yang dianggap benar seperti ini, besok bisa lain lagi. Dan perubahan itu jelas tidak penting dari sisi masyarakat. Ini menunjukkan pakar kurang kerjaan🙂😀 sehingga mencari acara agar mereka bisa sedikit kelihatan punya kerjaan.🙂 Mestinya yang namanya standard itu jangan diubah terlalu sering. Itu membuat bingung masyarakat. Kontribusi para pakar dalam menciptakan kekacauan berbahasa di Indonesia saya rasa cukup besar.

    emang nih. semua sektor kehidupan di indonesia kayaknya emang masih feodal. kita cuma demokrasi di atas kertas dan mulut. sampai bahasa pun belum menjadi milik masyarakat melainkan milik penguasa

    Komentar oleh lovepassword — April 4, 2009 @ 7:41 pm

  3. hmm….
    Pada dasarnya, orang Indonesia kurang bangga dengan bahasanya. Iya ngga sih? Banyak diantara kita tidak peduli dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berbicara, membaca, dan menulis dengan bahasa Indonesia yang tidak standar dan baku. Perlu ada sikap tegas dan campur tangan pemerintah niiih sepertinya.

    (jadi ingat seorang teman yang ikut diklat suatu lembaga tinggi negara, eh ujian bahasa Indonesianya tidak lulus dan harus diremedial…hmmm….)

    masalahnya yang menentukan standar atau baku itu siapa?

    Komentar oleh ikankering — April 7, 2009 @ 12:38 pm

  4. bahasa indonesia menurut pendapat saya adalah bahasa yang lugas dan bahsa yang baik di bandingkan bahasa yang lain, dalam variasi kata-kata yang mudah dalam pemakaian dan pembelajaran meski mungkin terlalu banyak kata serapan yang di ubah sesuai lidah indonesia dan dihakmiliki. kalau saja hal ini yang di permasalahkan itu bukanlah hal penting, dan ini sah-sah saja bukan???
    sekarang berbeda. misalkan kita berbicara tentang KBBI yang sedemikian rupa ingin dijadikan sempurna yang dilakukan kalangan elite “sang penguasa bahasa Indonesia”.
    bukankah ini konyol???
    mengapa harus ada perubahan yang saya rasa kurang brgitu berarti, apalagi setiap kali ada movement perubahan, kata-kata indonesia bisa bernilai benar dan salah. sungguh sangat membingungkan bahsa yang kita pakai.
    kalau saja hal ini terus menerus terjadi, bagaimana bisa pemuda dan kalangan di bawahnya bisa menguasai betul bahasa indonesia (sebagian besar dari mereka adalah pemakai bahsa gaul).
    lihat dan dengar saja sekarang pemakaian bahsa tidak sesuai dengan EYD marak, sudah tak bisa di sangkal negara ini memiliki bahsa yang tidak laku karena tidak terpakai secara utuh oleh pemakainya
    kalau saja hal ini merupakan keteledoran. maka apakah para penguasa elite yang karena kepandaiannya mengubah kata-kata indonesia, menilai dengan tak menentu benar dan salah suatu kata dalam waktu yang berbeda atau malah para manusianya yang tidak memakai utuh bahsa indonesia (yang karena perubahan zaman bahsa indonesia berevolusi menjadi bahsa “gaul”)

    persis. bahasa harus kita rebut kembali menjadi milik pemakainya…

    Komentar oleh affa — April 12, 2009 @ 9:57 am

  5. Kalau saya mah mending pake kosakata yang standar aja deh, yang penting masih sesuai EYD (eh…pedoman berbahasa Indonesia yg baik dan benar masih EYD kan?:-)) Toh yang penting tujuan berkomunikasi kita tercapai, walopun bahasanya ngga sophisticated…
    Buat saya biarlah urusan bahasa dan kosakata2 yang rumit jadi urusan para ahlinya…

    Komentar oleh soyjoy76 — April 15, 2009 @ 1:58 am

  6. bahasa indonesia bahasa yang plagiat.banyak sekali kata serapan dari bahasa india, belanda,arab,inggris,dll.ini terjadi juga karena mental bangsa indonesia yang suka meniru. saat hindu budha masuk banyak bahasa sansekerta yang juga masuk,begitu pula bahasa arab,n para penjajah juga nyumbang kosa kata. menurut ku bentar lagi bahasa sekitar asia timur juga akan masuk deh.

    bahasa mana yang gak plagiat mas🙂 bahasa inggris saja penuh dengan bahasa jerman lama, latin dan yunani. kalau mau bahasa asli mungkin kita harus balik pake bahasa sansekerta atau sekalian pakai mesir kuno dan huruf paku

    Komentar oleh rezha — April 17, 2009 @ 7:49 am

  7. aduhhh pussing

    yang tiap hari bekerja jadi editor dan translator lebih pusing lagi

    Komentar oleh afa — April 24, 2009 @ 3:23 am

  8. baca dulu, baru……….

    Komentar oleh tri — Mei 5, 2009 @ 2:40 am

  9. Memang penyusunan ini sangat dipengaruhi oleh klik-klik di antara para penguasa.

    Komentar oleh Bayu Probo — Juni 11, 2009 @ 10:34 am

  10. Barangkali masalahnya adalah KBBI itu mau dikemanakan? Ingin menjadi patokan bahasa Indonesia dengan segenap diskusi para pakar di dalamnya (yang siapa tahu “hanya” menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar di ruang kelas atau seminar), sehingga muncullah oligarki bahasa, lalu terjadi muncul ekslusif bahasa dan kaum-tak-paham-bahasa; atau KBBI ingin menjadi “log book” bagi perjalanan berbahasa bangsa kita ini. Masalahnya sepele: uang 300an ribu itu tidak sedikit. Rugi beli kamus yang ga sampai 10 tahun lagi sudah kedaluwarsa.

    Jika arah KBBI cenderung ke pilihan pertama, maka saya menyarankan jangan beli KBBI. Mari kita buat kamus sendiri yang lebih murah, gampang, dan patokannya jelas, serta tidak bergantung pada “teknokrat bahasa”. Jika pilihan jatuh yang kedua, berarti kita semua selurh warga negara Indonesia harus diberi tahu mekanisme penentuan penyusunan KBBI. Akan ada statistik yang rumit, survey tiada henti, dan perekaman media-media komunikasi di seluruh negeri. Tentu, setiap warga negara yang waras berhak terlibat dalam penyusunan “bahasa Indonesia kita” itu. Dengan begitu, KBBI mencerminkan bahasa standar dan baku yang bisa kita gunakan di Indonesia tanpa terlihat aneh.

    Masalahnya begini, tidak semua orang Indonesia berkomunikasi dengan “bahasa Indonesia’. Ada “bahasa daerah Jakarta”, ada “bahasa iklan”, “bahasa penyiar”, dsb, dsb, dsb. Belum lagi jika ditambah bahsa daerah. Lalu buat apa KBBI? Buku koleksi? Atau buat orang asing yang mau belajar bahasa Indonesia?

    Nah, ketimbang beli KBBI edisi paling tebal (ed. 4) yang berarti mengorbankan sebagian hutan kita, mendingan beli yang lainnya, sampai bapak-bapak dan ibu-ibu kaum cerdik pandai dan nan bijaksana penyusun KBBI sudah mantap dan konsisten serta tahu benar visi bahasa kita mau ke mana.

    Kalau saya sih sederhana saja. Bahasa itu anugerah. Berkata-kata itu hak asasi. Kamus, grammar, KBBI, konvensi, dsb, dsb, itu hanya regulasi. Regulasi itu membuat kita semakin berkomunikasi dengan benar atau tidak? Jika tidak ya nggak perlu dituruti. Apalagi jika dikait-kaitkan dengan “keamanan nasional”. Apalagi “persatuan” dalam ranah penyeragaman. Wuih. Kuno. Tetapi memang harus ada regulasi yang memfasilitasi (bukan mengatur) penggunaan bahasa yang kian berkembang. Apakah KBBI bisa? Jangan-jangan Mas Oni perlu turun tangan turun kaki bikin klub yang membuat KBBI tandingan berdasarkan pola kerja profesional tetapi egaliter dan berwawasan ke depan (tidak perlu ahli bahasa, tetapi praktisi bahasa, dan ahli statistik, serta surveyor).

    Wassalam.

    NB: sekadar opini saja, mungkin langkah pertama adalah menggolongkan bahasa komunikasi orang-orang Jakarta yang katanya “gaul”, dan tersebar ke seantero nusantara lewat media, sebagai “bahasa daerah Jakarta”, bukan bahasa Indonesia. Soalnya, di kampung saya jika ada orang bicara “elu-elu” dan “gue-gue”, maka ia dicap udik. “Dari kampung ya Mas? Kok belum bisa Bahasa Indonesia?”

    Komentar oleh noel — September 10, 2009 @ 3:58 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: