On Everything

Mei 31, 2009

Membela Pendekatan Anarkistik Feyerabend untuk Mencapai Kebenaran

Filed under: Tentang Filsafat,Tentang Ilmu Alam — Oni Suryaman @ 2:59 am
Tags: , ,

feyerabendPaul Karl Feyerabend lahir di Wina, Austria pada tahun 1924. Pada masa mudanya ia tertarik untuk belajar ilmu pasti. Menjelang Perang Dunia II di saat Austria diduduki Nazi Jerman, ia ditarik sebagai tenaga kerja bagi The Third Reich dan sempat menjadi tentara di front Rusia. Sekembalinya ia dari perang, ia belajar filsafat di Wina. Di sana ia sempat belajar dari Berthold Brecht. Kemudian ia pindah ke Cambridge karena tertarik untuk berguru pada Wittgenstein. Sepeninggal Wittgenstein, ia pindah ke London School of Economics dan di sana ia berguru pada Karl Popper. Setelah sebelumnya menganut falsifikasi Popper, ia kemudian menyusun pemikirannya sendiri yang melawan pemikiran Popper. Ia kemudian mengajar di beberapa tempat seperti University of California-Berkeley, Yale dan Minnesota.

Feyerabend adalah seorang filsuf ilmu pengetahuan yang cukup kontroversial. Di kalangan tertentu ia dianggap sebagai musuh ilmu pengetahuan karena mengadvokasi sisi non-ilmiah untuk mencapai kebenaran. Ia juga dituduh sebagai anti rasionalitas karena mengadvokasi sisi intuitif manusia. Untuk tidak jatuh ke dalam pendapat umum, maka ada baiknya untuk melihat terlebih dahulu apa sebenarnya proyek yang ingin dikerjakan oleh Feyerabend.

Feyerabend, sebagaimana Thomas Kuhn, mewarnai filsafat ilmu pengetahuan abad ke-20 dengan melihat sejarah ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang sentral di dalam filsafat ilmu pengetahuan. Melalui analisis sejarah ilmu pengetahuan, ia melihat bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin salah. Sepanjang sejarah ilmu umat manusia, setiap teori selalu digagalkan oleh teori yang berikutnya. Karena itu bagi Feyerabend tidak ada yang sakral tentang teori itu sendiri, seperti halnya klaim ilmu pengetahuan pada umumnya. Kita hanya bisa sekedar puas kalau teori ini benar pada batas tertentu dan pada waktu tertentu.

Ia juga sependapat dengan Kuhn tentang ketidakterbandingan (incommensurability) antara dua paradigma ilmu yang berbeda. Artinya dua teori yang berbeda tidak bisa diukur dengan standar yang sama. Ia menolak bahwa pengamatan adalah standar yang bisa dipakai untuk melihat apakah sebuah teori terbukti atau tidak. Benar tidaknya sebuah pengamatan ditentukan oleh kerangka teorinya.[1] Contoh yang bisa kita pakai misalnya adalah konsep “panjang” dalam fisika Newtonian dan fisika relativistik. Dalam fisika Newtonian, “panjang” adalah sebuah entitas yang independen terhadap kecepatan benda, kecepatan pengamat dan medan gravitasi, namun dalam fisika relativistik “panjang” tidaklah independen terhadap kecepatan benda, kecepatan pengamat dan medan gravitasi.[2] Dengan kata lain “panjang” dalam fisika Newtonian adalah mutlak, sedangkan dalam fisika relativistik adalah relatif.

Feyerabend lalu melakukan serangan melalui bukunya Against Method. Seperti yang diungkapkan dengan judulnya, Feyerabend melawan positivisme yang mengatakan bahwa kebenaran hanya bisa dicapai melalui metode ilmiah. Positivisme di dalam ilmu pengetahuan mengatakan bahwa kebenaran hanya bisa dicapai melalui pengamatan. Pengamatan menurut penganut positivisme adalah sesuatu yang betul-betul bebas nilai dan oleh karena itu objektif. Feyerabend menolak klaim ini. Ia berpendapat bahwa pengamatan tidaklah bebas nilai, melainkan terkandung di dalamnya metode yang dipakai (theory laden).[3] Dengan kata lain, metodologi yang berbeda akan menghasilkan pengamatan yang berbeda, oleh sebab itu pengamatan sama sekali tidak objektif.

Seperti halnya Kuhn, Feyerabend justru melihat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, atau bahasa Kuhn perubahan paradigma, justru terjadi disaat metodologi ilmu pengetahuan dilanggar. Contohnya adalah pada kasus Galileo. Pembelaannya pada heliosentrisme justru dilakukan dengan melanggar standar ilmu pengetahuan Aristotelian yang berlaku pada waktu itu. Ini bisa terjadi karena realitas sesungguhnya jauh lebih kaya daripada apa yang bisa dijangkau oleh metode ilmiah,[4] secanggih apa pun metode ilmiah tersebut. Karena itulah Feyerabend mengambil jalan anarkistik untuk mencapai kebenaran di dalam ilmu pengetahuan, atau dengan kata lain “anything goes”.[5] Inilah yang membuat ia dipandang sebagai seorang anarkis ilmu pengetahuan.

Namun apa yang sesungguhnya ingin dicapai oleh Feyerabend? Untuk itu ia kembali merujuk pada sejarah. Ia melihat sesuatu yang menakutkan di dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan karena sesungguhnya ilmu pengetahuan, yang di dalam sejarahnya lahir untuk melawan metafisika khususnya metafisika agama, telah menjelma menjadi sebuah agama baru. Seperti halnya agama yang mempunyai klaim otoritatif yang tidak bisa diganggu gugat karena klaim ilahiah, ilmu pengetahuan pun mulai mencapai status “ilahiah”-nya melalui klaim metode ilmiah yang tidak bisa dibantah.[6] Ia telah menjadi metafisika yang telah dilawannya sendiri. Feyerabend melihat ini sebagai sesuatu yang tidak menggembirakan, karena seperti telah dijelaskan di depan, perkembangan ilmu pengetahuan terjadi justru karena penumbangan satu metode oleh metode yang lain. Jika suatu metode ilmiah tidak ditumbangkan, yang terjadi adalah kemandegan ilmu pengetahuan, karena metodologi menciptakan kebenarannya sendiri.

Feyerabend kemudian merunut sejarah untuk melihat mengapa ini terjadi. Ia mengacu pada pernyataan Protagoras:

Kamu dan saya, para dokter, seniman, dan pengrajin, tahu tentang banyak hal dan kita hidup karena mereka memiliki pengetahuan itu. Sekarang mereka yang menamakan diri mereka filsuf mengatakan bahwa pengetahuan kita hanyalah sekedar pendapat umum yang berdasarkan pada pengalaman yang tidak tetap dan membedakan kita “yang banyak” dengan “yang sedikit”, yang telah tercerahkan, yaitu mereka dan teori-teori aneh mereka.[7]

Protagoras dengan ini ingin melawan pendapat Plato yang menganggap bahwa para filsuf tahu lebih baik tentang realitas dibandingkan dengan para praktisi sehari-hari. Menurut Plato, para praktisi ini sering kali membuat reduksi untuk bisa menjelaskan fenomena sesuai dengan bidang keahlian mereka. Dengan demikian mereka hanya memiliki kebenaran di dalam wilayahnya masing masing. Untuk bisa sampai kepada pengetahuan sejati, kepingan-kepingan pengetahuan ini haruslah disatukan supaya menjadi sebuah kebenaran yang utuh. Tugas untuk menyatukan kepingan-kepingan yang terpisah ini jatuh kepada filsuf.[8]

Pandangan Plato ini sebenarnya juga tidak salah, jika filsuf dilihat secara sejajar dengan yang lain, atau menjadi sekedar moderator di dalam perdebatan di dalam mencari kebenaran. Protagoras tidak menyangkal bahwa keberadaan orang-orang bijak, seperti filsuf, dibutuhkan. Bahkan ia mengatakan bahwa perubahan hanyalah bisa dilakukan oleh orang-orang bijak ini, mungkin karena mereka memiliki pandangan lebih luas dari orang pada umumnya. Namun, dengan mengacu pada kehidupan polis di Yunani terutama di Athena, Protagoras mengatakan bahwa keputusan untuk melakukan perubahan, dalam hal ini perubahan politis, tetap ada di tangan warga masyarakat banyak. Kapasitas filsuf adalah sebagai penasihat, bukanlah sebagai diktator. Protagoras memperingatkan bahwa jika para filsuf ini diberikan hak untuk menentukan masyarakat, mereka cenderung akan mengubah masyarakat menjadi sesuai dengan apa yang mereka anggap benar, bukan untuk semakin mendekati kebenaran hakiki.[9] Menurut Feyerabend, ini adalah awal dari otoritarianisme ilmu pengetahuan, dan proyek yang ingin dilakukan oleh Feyerabend adalah meruntuhkan otoritarianisme ini.

Feyerabend juga menunjukkan bahwa usaha pengetahuan untuk membuat klaim kebenaran tunggal pun sebenarnya adalah sia-sia. Ia mengambil contoh dengan ilmu fisika sebagai ilmu yang paling eksak dibandingkan dengan ilmu yang lain. Dengan merujuk pada perkembangan ilmu pengetahuan, sampai saat ini tidak ada satu kesetujuan pandangan mengenai konsep ruang dan waktu di dalam ilmu fisika.[10] Yang ada satu teori yang bertentangan dengan teori yang lain.

Lalu apa yang ditawarkan oleh Feyerabend untuk mencapai kebenaran? Feyerabend mengidealkan situasi di zaman Yunani Kuno. Kebenaran di zaman itu dipraktekkan dalam kehidupan di polis, di mana keputusan diambil di dalam rapat warga. Kebenaran, di dalam hal ini keputusan politik, di ambil dalam sebuah debat terbuka yang melihatkan orang-orang biasa warga polis. Semua suara berhak didengarkan. Setiap orang memiliki hak suara yang sama, tidak peduli ia seorang ahli atau bukan. Jika dinyatakan dalam sebuah proposisinya, bunyinya kurang lebih seperti ini:

Warga masyarakatlah, bukan sekelompok tertentu yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang berguna dan apa yang tidak berguna untuk masyarakat mereka sendiri.[11]

Feyerabend menamakan ini sebagai relativisme demokratis (democratic relativism).

Ini bukan berarti seorang ahli sama sekali tidak memiliki tempat dalam menentukan kebenaran. Seorang ahli tetap dapat dipanggil untuk memberikan pendapatnya, tetapi ia tidak memiliki semacam hak veto untuk menentukan apa yang salah dan apa yang benar. Ini selaras dengan logika Aristoteles yang mengatakan bahwa kebenaran yang dikatakan seseorang tidaklah ditentukan oleh siapa orang itu, apa jabatannya, atau apa kompetensinya (ad hominem), melainkan oleh apa yang dikatakannya.

Kebenaran yang dicapai dalam konsensus secara demokratis tentu saja tidak memberikan jaminan sama sekali bahwa itu adalah kebenaran yang sejati. Tetapi jika kebenaran yang diambil itu terbukti salah kemudian, ia akan menjadi sebuah pembelajaran yang baik bagi mereka yang telah mengambil keputusan yang salah. Dengan membuat kesalahan mereka akan menjadi semakin bijak untuk mengambil keputusan di kemudian hari.[12] Ini berbeda dengan keputusan yang diambil oleh elit. Masyarakat umum tetap harus menderita kalau keputusan yang diambil elit salah. Sementara itu karena keputusan diambil oleh elit secara tertutup, masyarakat tidak dapat melihat kompleksitas persoalan yang diputuskan. Dan dengan demikian elit pengambil keputusan dapat dengan mudah membelokkan kenyataan bahwa mereka telah salah mengambil keputusan dengan menutupinya, karena toh masyarakat tidak memiliki akses.

Feyerabend justru melihat jalan inilah, yaitu relativisme demokratis, yang tidak menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Tujuan Feyerabend meruntuhkan kedigjayaan ilmu pengetahuan dengan klaim absolutnya justru adalah untuk memajukan ilmu pengetahuan. Ia ingin menyelamatkan ilmu pengetahuan dari kemandegannya sendiri. Ia mencoba menyadarkan bahwa secanggih apapun sebuah metodologi, ia masih memiliki kekurangan. Metodologi absolut yang menjadi impian kaum positivistik, alih-alih mencapai kebenaran justru akan menciptakan kebenarannya sendiri yang justru menghambat kemajuan ilmu pengetahuan.[13]

Feyerabend bahkan berani selangkah lebih maju untuk membela apa yang sering dicibir para ilmuwan sebagai tidak ilmiah seperti voodoo atau firasat. Feyerabend melihat bahwa hal-hal yang sering diklaim tidak ilmiah tidaklah otomatis tidak benar, melainkan sekedar tidak bisa dimasukkan ke dalam kerangka metodologis ilmu pengetahuan yang berlaku di saat itu.

Feyerabend menolak untuk mengatakan bahwa pendekatan-pendekatan yang tidak ilmiah ini sebagai tidak rasional. Ia justru mempertanyakan definisi rasionalitas yang terlalu sempit.[14] Pandangan rasionalitas yang sempit sebagaimana yang didefinikan kaum positivistik, yaitu logis dan empiris, tidak dapat menangkap seluruh kekayaan dari realitas, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Namun ini tidak berarti kita bisa dengan semena-mena memasukkan pandangan-pandangan ke dalam ilmu pengetahuan. Feyerabend justru mengharuskan kebenaran ilmu pengetahuan untuk diuji, bukan hanya sekedar sesuatu yang dipercaya begitu saja.

Ia menolak klaim bahwa dunia barat lebih unggul dibandingkan dengan tradisi lainnya. Ia menyarankan studi perbandingan untuk membandingkan dunia dunia yang berbeda tersebut dan tidak langsung mengatakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lain. Pengobatan tradisional Cina misalnya, yang menurut ilmu pengobatan barat tidak bisa dipertanggungjawabkan, adalah efektif bagi ahli pengobatan Cina. Keduanya tidak terbandingkan karena menganut metodologi yang berbeda.

Namun ketidakterbandingan dua teori yang berbeda tidaklah membuat tidak ada dialog di antara kedua ilmu tersebut. Lagi pula ketidakterbandingan adalah masalah para filsuf, menurut Feyerabend.[15] Dalam ranah praktek, pembandingan antara dua teori yang berbeda tetap dapat dilakukan. Pendekatan yang dipakainya sama dengan pendekatan yang diusulkan oleh Protagoras, yaitu pendekatan rekayasa atau pragmatis.[16] Pendekatan seperti inilah yang disebut Feyerabend sebagaimana seorang empiris yang baik atau seorang metafisikus yang kritis:

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merumuskan asumsi yang cukup umum namun tidak dihubungkan secara langsung dengan pengamatan; ini berarti langkah pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan sebuah metafisika baru. Kemudian metafisika baru ini harus diuraikan secara mendetail untuk bisa berhadapan dengan teori yang ingin diuji, sehubungan dengan generalitas, detail dari prediksi, keakuratan perumusan … Pembuangan semua metafisika, alih-alih meningkatkan muatan empirik dari teori tersebut, justru membuat teori tersebut menjadi sebuah dogma.[17]

Dengan demikian cukup jelas bahwa apa yang dilawan oleh Feyerabend bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan “fundamentalisme” ilmu pengetahuan. Yang dibela oleh Feyerabend bukalah sekedar “kemajuan” ilmu pengetahuan, tapi manusia itu sendiri. Sudah terlihat dari sejarah umat manusia, bahwa klaim universal ilmu pengetahuan telah menimbulkan penindasan dari satu kelompok manusia kepada kelompok manusia lain. Feyerabend ingin membela manusia, bahwa sekecil apapun suaranya ia tidak diabaikan.

Pembelaan Feyerabend terhadap ilmu pengetahuan yang humanis dan pluralis ini mungkin bisa diringkas dengan sebuah kutipan darinya:

Ilmu pengetahuan adalah salah satu ciptaan dari pikiran manusia yang paling menakjubkan … melawan ideologi yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan untuk membunuh kebudayaan.[18]


Daftar Pustaka

________________,   The Philosophy of Science, An Encyclopedia. New York: Routledge, 2006

Feyerabend, P.K., Notes on Relativism. Dalam Medina, José dan Wood, David (ed). Truth: Engagements Across Philosophical Traditions. Massachusetts: Blackwell, 2005

Verhaak, C. dan Iman, R. Haryono. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia, 1989


[1] Verhaak dan Iman, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 1989, h.167-168

[2] Feyerabend, Paul Karl, dalam The Philosophy of Science, An Encyclopedia – Routledge, 2006, h.306

[3] Ibid., h.305-306

[4] Ibid., h.307

[5] Verhaak dan Imam, 1989, h.166

[6] Ibid., h.167

[7] Feyerabend, Notes on Relativism, 1987, sebagaimana di dalam Medina dan Wood, 2005, h.147

[8] Ibid., h.150-151

[9] Ibid., h.147-148

[10] Ibid., h.148

[11] Ibid., h.152

[12] Ibid., h.152

[13] Feyerabend, Paul Karl, dalam The Philosophy of Science, An Encyclopedia – Routledge, 2006, h.306

[14] Ibid., h.309

[15] Ibid., h.309

[16] Feyerabend, 1987, h.148

[17] Feyerabend, Paul Karl, dalam The Philosophy of Science, An Encyclopedia – Routledge, 2006, h.306

[18] Ibid., h.308

2 Komentar »

  1. fayerebend…
    inspiratif

    Komentar oleh edi purwanto — Juni 1, 2009 @ 6:35 am

  2. saya rasa feyerabend juga seorang nihilisme yang futuristik,
    pertannyaan saya: mengapa di negara2 yang justru dilahirkan dari kebergaman metode seperti di Asia misalnya yang memiliki kekayaan budaya berpikir lokal, sekarang justru lebih enthusias untuk mengembangkan grand theory, sementara di Barat yang justru tempat lahirnya pemikiran tersebut seperti lahirnya positivisme, kesadaran lain justru lahir dari seorang Feyerabend.
    saya rasa barat dan timur tidak cukup terjadi komunikasi yang seimbang, karena yang terjadi justru mengekor satu dengan yang lain bukan simbiosis mutualisme yang seimbang..


    mungkin kita lagi gagap aja mas. sementara barat udah bosen sama positivisme, kita yang baru kenal sains justru menggebu2. di saat klaim kekuasaan tradisional sudah melemah, kita mencari klaim kekuasaan baru, dan salah satunya adalah dengan penguasaan sains yang positivistik.
    saya setuju kalau komunikasi barat dan timur tidak seimbang. barat masih menjadi paradigma dalam dialog antara barat-timur. dalam hal ini aku setuju dengan feyerabend yang menawarkan sebuah metafisika baru.

    Komentar oleh lukman hakim — Juni 24, 2009 @ 2:39 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: