On Everything

Juni 7, 2009

Signifikansi Jumlah Anggota Masyarakat dalam Relasionisme Simmel


kata kunci: Simmel, relasionisme, determinisme kuantitatif, masyarakat, kelompok, jumlah anggota, karakteristik masyarakat

Abstrak

Fenomena budaya pop menjadi sesuatu yang sangat kentara dewasa ini. Begitu pula dengan gejala fundamentalisme. Beberapa studi menunjukkan bahwa ini adalah gejala yang disebabkan oleh modernitas, baik yang melawan modernitas atau menjalankannya sampai ke titik ujung. Di pihak lain kaum moralis agamis mengatakan bahwa dunia menuju keruntuhan karena dunia semakin tidak bermoral dengan melihat gejala-gejala tersebut di atas. Tulisan ini mencoba untuk berargumen secara ilmiah, bukan secara etis, dalam melihat gejala-gejala ini. Pendekatan yang diambil adalah menggunakan satu faktor yang menentukan karakteristik masyarakat yaitu jumlah anggota. Simmel sebagai seorang sosiolog yang banyak menulis tentang masyarakat, bisa berbicara banyak dalam hal ini.


Masyarakat adalah sebuah struktur yang kompleks. Di dalamnya terdapat banyak fenomena. Fenomena-fenomena tersebut di satu pihak menarik untuk sekedar dipaparkan secara deskriptif, di pihak lain menuntut sebuah penjelasan secara argumentatif. Tulisan ini berada pada posisi kedua, yaitu mencoba menjelaskan apa yang ada di balik struktur masyarakat tersebut, dengan mengikuti pemikiran Simmel.

Masyarakat bisa dilihat dari beberapa sisi, misalnya individualitas, kolektivitas, demografi, dan lain-lain. Di dalamnya juga terdapat banyak elemen-elemen yang menarik untuk diamati seperti ruang, gender, uang, agama, dan lain-lain. Simmel di dalam tulisan-tulisannya memberikan pembahasan cukup banyak terhadap elemen-elemen tersebut. Di dalam tulisan ini, akan dicoba untuk melihat satu elemen saja, yaitu jumlah anggota dalam masyarakat, sebagai penentu karakteristik masyarakat, ceteris paribus.

Sebelum masuk ke dalam permasalahan jumlah, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu beberapa konsep kunci dalam relasionisme Simmel.

Beberapa konsep kunci

Ada beberapa konsep kunci yang terlebih dahulu harus dibahas sebelum memasuki pembahasan khusus mengenai jumlah anggota. Konsep-konsep kunci tersebut adalah apriori-apriori yang ada dalam terbentuknya masyarakat:

  • Gambaran yang diperoleh seseorang tentang orang lain dari kontak personal ditentukan oleh distorsi-distorsi tertentu yang bukan merupakan sekedar penipuan dari pengamalan yang tidak lengkap, penglihatan yang tidak sempurna, prasangka yang baik maupun buruk.[1] Dengan kata lain, kita mengenal orang lain dengan melakukan generalisasi dan tipifikasi. Kita cenderung mengelompokkan orang, atau bergabung dengan suatu kelompok berdasarkan persepsi yang tidak sempurna.[2] Namun dengan persepsi yang tidak sempurna itulah ikatan dalam kelompok terbentuk.
  • Setiap elemen dari kelompok tidak tersosiasi seluruhnya, tetapi ada bagian yang lain.[3] Setiap anggota tidak bisa larut seluruhnya di dalam masyarakat. Walaupun mereka memiliki kesamaan, tetapi mereka juga memiliki perbedaan-perbedaan. Individu berada di dalam sekaligus di luar masyarakat. Bagian yang lain ini sama pentingnya dengan bagian yang sama di dalam menentukan karakteristik masyarakat.
  • Masyarakat adalah sebuah struktur dari elemen-elemen yang berbeda.[4] Ini mirip dengan pernyataan yang kedua. Kesamaan di dalam setiap masyarakat tidak pernah total, bahkan dalam kondisi yang ekstrim seperti sebuah masyarakat totalitarian murni. Kesamaan hanya bisa mencakup hal yang terlihat, tetapi tiap-tiap anggota masyarakat tetap memiliki ruang yang tersembunyi, paling tidak di dalam benaknya.[5]
  • Setiap individu secara otomatis mengacu pada posisinya yang telah ditentukan di dalam masyarakat.[6] Meskipun seorang individu masih mempertahankan karakter pribadinya, karakter sosialnyalah yang menjadi sebuah ideal bagi dirinya.
  • Konsep berikutnya ini berkaitan dengan teori evolusi. Simmel melihat bahwa meskipun manusia sudah mengembangkan rasionalitas, namun ia masih dikendalikan oleh naluri-naluri dasarnya. Memang secara eksplisit, Simmel tidak menyatakan ini, namun dari beberapa argumen Simmel di dalam tulisan-tulisannya, Simmel memakai logika evolusi untuk menjelaskan masyarakat.[7]

Kelima konsep kunci di atas akan dipakai untuk menjadi dasar analisis mengenai jumlah di dalam masyarakat.

Jumlah

Jumlah adalah sebuah tema yang memegang peranan tertentu di dalam sosiologi Simmel. Mengenai perkara jumlah sendiri, bisa dilihat paling tidak dalam dua hal. Pertama, jumlah yang menjadi jumlah subbagian dari kelompok yang lebih besar atau totalitas. Pembagian seperti ini terjadi biasanya pada saat jumlah kelompok sudah terlalu besar. Jumlah menjadi semacam fenomena antara yang menghubungkan individu dan totalitas.[8]

Batasan antara sedikit dan banyak dalam jumlah bukanlah suatu batasan yang jelas. Ini mirip dengan masalah seberapa banyak bulir beras dapat dianggap satu onggokan beras. Kita tidak bisa menentukan dengan tepat berapa bulir beras untuk membentuk satu onggokan beras, namun kita tahu persis apa yang dinamakan seonggok beras. Begitu pula halnya dengan jumlah.[9]

Yang kedua mengenai signifikansi jumlah anggota adalah munculnya sifat-sifat tertentu di dalam masyarakat di saat ia mencapai jumlah tertentu. Ini bisa dipandang dari dua sisi: yang pertama, ada karakteristik tertentu yang tidak bisa muncul jika jumlahnya tidak terpenuhi, entah jumlah maksimum atau jumlah minimun; yang kedua, karakteristik kelompok tertentu bisa dimodifikasi dengan mengubah jumlahnya, entah dengan menambah atau mengurangi.[10]

Untuk melihat karakteristik kelompok kita bisa memulainya dengan mengkaji beberapa jenis masyarakat baik dalam kelompok besar maupun kecil.

Kelompok dengan Jumlah Kecil

Simmel memberikan beberapa contoh dalam kajiannya tentang kelompok kecil, yaitu masyarakat sosialis, sekte religius dan aristokrasi.

Simmel melihat bahwa sosialisme, dalam arti sebuah masyarakat sosialis murni, adalah sesuatu yang tidak mungkin. Ia hanya mungkin dalam kelompok kecil. Kelompok kecil mampu saling mengamati anggotanya secara langsung. Distribusi dan juga pembagian hasil kerja terlihat secara langsung sehingga interaksi dapat terjadi, dan masyarakat dapat dipertahankan. Di dalam kelompok yang lebih besar, masyarakat hanya bisa dipertahankan dengan pembagian kerja yang jelas dan kompleks. Alasannya bukan sekedar alasan ekonomis, melainkan pembagian kerja adalah salah satu cara untuk mempertahankan interaksi dan ketergantungan antar anggota kelompok. Tetapi dengan semakin detailnya pembagian kerja, anggota menjadi semakin terindividualisasi. Semakin terindividualisasinya anggota akan menghancurkan sosialisme yang diinginkan dari semula.[11]

Contoh yang bisa dipakai untuk menjelaskan sekte agama adalah memakai contoh kelompok fundamentalis. Kelompok fundamentalis adalah sebuah masyarakat yang dibentuk sebagai sebuah reaksi atas perkembangan masyarakat pada umumnya. Ia dilahirkan dari sebuah definisi negatif atau sebuah negasi. Mereka mendefinisikan dirinya sebagai “yang lain” dari masyarakat di sekitarnya.[12] Makna yang “di sekitarnya” sendiri bisa diartikan dua macam: spasial, yaitu lain dari masyarakat yang bermukim di sekitarnya; dan temporal, yaitu memandang dirinya lain dari masyarakat yang hidup di zaman ini.

Ironisnya, kelompok fundamentalis hanya bisa hidup selama masyarakat yang mereka lawan tetap ada. Masyarakat yang mereka lawan adalah pembentuk identitas mereka, sekaligus menjadi penopang hal-hal yang tidak bisa mereka penuhi. Nigeria bisa dijadikan sebagai contoh. Di saat kelompok fundamentalis memenangkan kekuasaan politik di tahun 1999, mereka menjalankan syariat Islam secara ketat di sana. Negara ini sempat dikhawatirkan akan menjadi Taliban-nya Afrika. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Begitu mereka menjadi arus utama, mereka tidak lagi mendapatkan kekuatan dari apa yang mereka lawan. Pada tahun 2007, di saat seorang reporter New York Times berkunjung ke sana, syariat Islam telah berkembang ke arah yang lebih moderat. Hukuman seperti pemotongan tangan dan rajam telah berkurang drastis, walaupun hukuman cambuk masih sering terjadi. Milisi-milisi religius telah dilarang, dan penyokong syariat Islam yang terkemuka banyak yang dicap sebagai para hipokrit. Beberapa di antaranya tengah diselidiki karena memperkaya diri.[13]

Contoh yang lain adalah kelompok Mennonite atau yang lebih dikenal dengan sebutan masyarakat Amish. Mereka membedakan dirinya dengan pakaian, pekerjaan, dan gaya hidup yang berbeda. Kesamaan di antara mereka sekaligus menjadi pembeda dengan kelompok di luar mereka, dan demikian menjadi pengikat masyarakat. Namun keberadaan mereka bisa dipertahankan justru karena mereka secara ekonomis disokong oleh masyarakat di sekeitar mereka. Mereka bisa bertahan karena mereka punya fungsi (atau dalam bahasa Simmel: relasi) di dalam masyarakat yang lebih luas.[14]

Namun ada contoh lain yang sepertinya berlawanan dengan apa yang diungkapkan Simmel. Contoh itu adalah berkuasanya Taliban sampai pada tahap menguasai Afghanistan dari tahun 1997-2001. Jika kita mengikuti logika Simmel, begitu Taliban berkuasa, dan demikian jumlah anggotanya menjadi banyak, ia akan berubah menjadi semakin moderat. Kenyataannya kelompok Taliban tetap mempertahankan fundamentalismenya. Tetapi ini bisa dilihat dengan sedikit berbeda. Taliban dapat terus mempertahankan fundamentalismenya justru karena walaupun ia telah menguasai seluruh wilayah Afghanistan, ia tetap bisa mendefinisikan dirinya secara negatif terhadap sekitarnya, karena yang ia lawan adalah seluruh dunia barat. Ia bisa terus bertahan justru karena begitu kuatnya dunia barat yang menghegemoni. Andaikata pandangan dunia barat tidak begitu mendominasi, menurut logika Simmel, Taliban pun akan kehilangan pesonanya.

Aristokrasi adalah sebuah contoh lain yang unik untuk kelompok yang kecil. Aristokrasi bisa dipertahankan karena mereka dengan sengaja membuat sistem yang membatasi jumlah anggotanya. Pembatasan bisa dilakukan dengan perkawinan sedarah dan warisan aristokrat hanya pada anak pertama. Dengan jumlah yang sedikit, mereka bisa saling mengawasi, dan hubungan darah dapat ditelusuri dengan mudah, dan itu menjadi pengikat bagi kelompok mereka. Jika jumlah mereka menjadi terlalu besar, hak istimewa mereka menjadi hilang, dan keningratan mereka menjadi tidak bernilai.

Pada semua contoh di atas, jumlah kecil menjadi faktor penentu bagi masyarakat. Jika jumlah mereka bertambah, keistimewaan mereka yang memang dihasilkan dari jumlah yang kecil menjadi hilang.

Kelompok dengan Jumlah Besar

Dari penjelasan sebelumnya terlihat bahwa sebuah kelompok akan berkurang militansinya atau radikalismenya jika jumlahnya bertambah.[15] Namun ini seperti bertentangan dengan fenomena amuk massa misalnya. Untuk itu diperlukan penjelasan lain.

Unsur yang bisa menyatukan sebuah kelompok seperti pada penjelasan sebelumnya adalah unsur yang sama yang dimiliki oleh semua anggota kelompok. Seiring dengan membesarnya jumlah anggota, adalah sebuah kesimpulan logis kalau unsur yang sama adalah unsur yang paling sederhana.[16]

Ada dua faktor untuk menjelaskan unsur yang paling sederhana tersebut. Yang pertama adalah argumen evolusi yang melihat manusia dari perkembangan evolusinya. Yang kedua adalah dari kesimpulan logis bahwa lebih mudah untuk tidak setuju pada suatu hal daripada setuju pada suatu hal.

Faktor yang pertama: unsur yang paling sederhana dalam manusia adalah unsur yang paling mendasar dalam manusia itu sendiri. Dari sudut evolusionis, unsur tersebut adalah insting manusia untuk mempertahankan hidup. Unsur tersebut dapat muncul dalam dua bentuk: agresi dan aversi. bila ia melihat sesuatu yang mampu ia taklukkan, ia akan menyerang; bila ia tidak yakin menang, ia akan menghindar. Di dalam emosi, ia muncul sebagai rasa berani atau takut.

Faktor yang kedua: unsur yang bisa menyatukan kelompok adalah unsur negatif. Lebih mudah untuk mencari ketidaksetujuan, karena orang bisa tidak setuju dengan berbagai alasan. Misalnya dalam sebuah demonstrasi menolak pemerintahan yang otoriter, massa bisa disatukan dengan berbagai alasan yang berbeda: karena mereka tertindas, karena mereka adalah oportunis politik, karena mereka peduli dengan mereka yang tertindas, atau sekedar takut untuk tidak ikut serta.[17]

Kedua faktor tersebut bersifat saling menguatkan. Unsur negatif dan sederhana umumnya digerakkan oleh emosi yang paling mendasar dalam manusia, yaitu ketakutan dan amarah, karena itu ada pada setiap manusia. Sebuah pemikiran rasional tidak bisa menggerakkan dari profesor sampai pedagang asongan, tetapi bila ketakutan mereka dipicu, mereka menjadi sebuah kelompok yang satu.

Karakteristik Kelompok Seiring Pertambahan Jumlah

Jumlah adalah sebuah penentu yang mengubah karakteristik dari sebuah kumpulan. Jika ia sudah mencapai jumlah cukup untuk menjadi sebuah kelompok, karakteristik kumpulan orang-orang tersebut berubah. Jika hanya dua atau tiga orang saja berkumpul misalnya, ia belumlah menjadi sebuah kelompok, dan sifat-sifat yang biasanya muncul dalam kelompok belumlah muncul. Tetapi bila jumlahnya mulai mencapai katakanlah dua puluh atau tiga puluh orang, karakter dari sebuah kelompok mulai muncul. Di mana batas angka dari sekedar kumpulan individu atau sebuah kelompok bukanlah perkara mudah. Bila jumlahnya sudah mencukupi, muncullah sifat baru pada kelompok, yang sebelumnya tidak muncul pada sekedar kumpulan individu. Maka matematikanya adalah 1 + 1 + 1 + … + 1 tidaklah sama dengan jumlah aritmatikanya.

Contoh yang digunakan untuk menjelaskan ini ada tiga. Yang pertama jika di dalam satu orang miliuner di antara penduduk 10 ribu orang, ia tidak akan sekuat jika ada 50 miliuner di antara 500 ribu penduduk. Yang kedua adalah dalam kasus parlemen. Jika dalam sebuah partai beranggotakan dua puluh orang, dan empat diantaranya menyatakan mosi tidak setuju, ia akan kalah efektif dibandingkan dengan sepuluh orang yang tidak setuju di dalam lima puluh anggota partai. Yang ketiga adalah dalam ketentaraan. Jika katakanlah jumlah tentara adalah satu persen dari jumlah populasi, maka lebih mudah bagi 100 ribu tentara untuk mengendalikan 10 juta penduduk, dibandingkan dengan 1000 tentara untuk mengendalikan 100 ribu penduduk, atau satu tentara untuk mengendalikan seratus penduduk. Di dalam ketiga kasus di atas, walaupun secara rasio perbandingannya sama, namun jumlah yang lebih besar lebih efektif dibandingkan dengan jumlah yang lebih kecil.[18]

Penjelasannya adalah sebagai berikut. Begitu anggota mencapai jumlah tertentu, pembagian kerja dimungkinkan. Akibat dari pembagian kerja tersebut, efisiensi dalam pelaksanaan tugas meningkat. Di dalam ekonomi kita mengenal adanya pembagian kerja dan skala ekonomis yang mampu menaikkan jumlah produksi. Hal yang sama juga berlaku di dalam setiap masyarakat.[19]

Kohesi dalam kelompok besar dan kecil

Ada dua hal yang menentukan kohesi kelompok, yaitu kesamaan antar anggotanya, dan perbedaannya dengan anggota di luar kelompoknya. Kesamaan ini tidak perlu kesamaan secara persis, melainkan cukup dipersepsikan sama oleh para anggotanya (lihat konsep kunci pertama).

Semakin kecil jumlah anggota kelompok, semakin besar kesamaan antar anggota kelompok, ceteris paribus. Semakin besar  jumlah anggota kelompok, semakin besar perbedaan antar anggota kelompok. Jumlah yang kecil, karena persamaannya yang masih besar belum membentuk sebuah karakteristik baru, karena masih terlalu terpusat pada yang tunggal. Karakteristik yang muncul umumnya tidak jauh berbeda dengan karakter anggota penyusunnya.[20]

Setelah jumlah anggotanya bertambah, dan menunjukkan perbedaan yang semakin besar, karakteristik baru sebagai sebuah “masyarakat” muncul. Semakin besar sebuah kelompok, harus dicari sebuah pengikat yang semakin sederhana, “the lowest common denominator.” Tanpa itu kelompok tidak bisa dipertahankan. Tentu saja, dengan persamaan yang semakin sedikit dan sederhana, ini juga berarti perbedaan antar individu anggota kelompok semakin besar, dan ini justru membuat mereka menjadi sebuah masyarakat.

Kohesi pada kelompok kecil lebih mudah dipertahankan karena dalam jumlah anggota yang kecil, persamaan lebih mudah dicari. Kohesi kelompok menjadi isu yang lebih besar bagi kelompok besar dibandingkan pada kelompok yang kecil. Kelompok kecil lebih mudah mempertahankan keutuhan karena masing-masing anggota bisa melihat anggota yang lain dengan jelas. Pada kelompok yang besar, keutuhan itu tidak lagi terlihat dengan jelas, melainkan menjadi sesuatu yang lebih formal. Keutuhan bisa dilihat dari keanggotaan formal misalnya. Simmel memberikan contoh pada serikat buruh. Jika ada satu pekerja yang tidak menjadi anggota serikat buruh, itu bisa dilihat sebagai ancaman bagi kelompok, karena telah menodai keutuhan kelompok. Bisa jadi pekerja yang tidak ingin bergabung sebenarnya tidak tahu menahu dengan kepentingan kelompok buruh dan tidak bermaksud melawan mereka. Tetapi apa yang tampak dari luar adalah adanya ketidakutuhan, dan itu cukup untuk menjadi suatu tanda ketidakutuhan kelompok.[21]

Kohesi kelompok besar dan kecil juga bisa dilihat dari bentuk ikatannya. Ikatan ini bisa dilihat dari evolusinya. Di dalam masyarakat primordial, ikatan masyarakat biasanya dijalankan di dalam sebuah adat istiadat. Adat istiadat ini mencakup seluruh sektor kehidupan masyarakat dari perkawinan, masalah kriminal, keadilan sosial, dan lain-lain.

Dari titik ini masyarakat bisa menjadi semakin individual atau semakin kolektif. Pada masyarakat dengan jumlah yang besar, individu tidak bisa diharapkan bisa taat pada adat istiadat tanpa adanya sangsi yang lebih jelas dan tegas. Hukum yang jelas lebih mudah dilaksanakan sebagai alat pengawasan dan juga pengikat kelompok dalam jumlah yang besar. Di satu pihak, hukum adalah perangkat yang lebih sederhana dari adat istiadat, sehingga bisa menjadi pengikat kelompok yang lebih besar. Di lain pihak, hukum memberikan ruang lebih kepada individu untuk tampil secara berbeda, lebih longgar daripada aturan adat istiadat. Dengan demikian hukum mampu menjalankan fungsinya sebagai pengikat masyarakat dengan jumlah yang besar.[22]

Pada kelompok yang lebih kecil, individualitas lebih dihargai. Norma adat istiadat bergerak ke arah moralitas individual yang otonom. Moralitas lahir dari konfrontasi antar pribadi yang dimungkinkan di dalam kelompok kecil.[23] Adat istiadat menjadi terlalu kaku di dalam kelompok kecil ini, karena ia dengan mudah dapat diperbaharui dengan perjanjian baru antar anggotanya.

Dari sini terlihat ada sebuah paradoks. Di satu pihak massa dalam jumlah yang besar diikat oleh sesuatu yang sebenarnya tidak begitu bernilai. Sering kali ikatannya hanya ikatan emosional belaka. Namun mereka memiliki kekuatan yang besar karena mampu diikat oleh hal yang sederhana tersebut. Di lain pihak kelompok kecil memiliki militansi yang lebih tinggi karena mempunyai kesamaan yang lebih mendasar dari kelompok yang besar. Ikatan yang menyatukan mereka umumnya lebih bernilai, namun secara kekuatan mereka tidak berdaya dihadapan massa yang lebih besar.

Perilaku dan budaya massa dilihat dari kaca mata Simmel

Setelah melalui penjelasan di atas, kita bisa memakai Simmel untuk melihat perilaku massa dan budaya massa. Dengan memakai argumen Simmel, budaya massa dapat menjadi massal apabila ia:

(1) sederhana, bisa dimengerti oleh elemen masyarakat yang paling bawah,

(2) menyentuh insting manusia yang paling dasar seperti ketakutan dan amarah.

Perilaku massa adalah sesuatu yang unik, karena di dalamnya muncul karekteristik yang tidak muncul pada individu penyusunnya. Di dalam tawuran pelajar misalnya, perilaku individu pelakunya tidaklah mesti seorang anak yang bermasalah. Banyak di antaranya yang adalah anak baik-baik di rumahnya, namun berubah menjadi beringas di dalam kerumunan massa.

Salah satunya hal yang bisa dipakai untuk menjelaskan perilaku massa adalah dengan menghitung berat tidaknya tanggung jawab pribadi. Tanggung jawab pribadi adalah tanggung jawab atas suatu perbuatan dibagi dengan jumlah anggota yang terlibat. Pada sebuah tindakan massal ribuan orang, tanggung jawab pribadi menjadi nyaris nol. Dengan minimalnya tanggung jawab pribadi, segala macam tindakan kekerasan bisa saja terjadi tanpa kendali.[24]

Hal lain yang dapat dilihat dalam perilaku massa adalah larut dalam emosi. Yang bisa menyatukan massa dalam jumlah besar adalah emosi, tidak mungkin rasio. Emosi dalam hal ini tidaklah harus emosi destruktif, tetapi bisa juga kesedihan atau kepasrahan. Contohnya adalah peribadatan agama secara massal, yang mampu melarutkan seluruh pesertanya secara emosional. Ibadat yang diikuti massa dalam jumlah banyak tidak akan bisa disatukan dengan diskursus atau olah pikiran, karena tidak bisa terjangkau oleh seluruh peserta, yang paling mudah adalah menyatukan emosinya. Apalagi kalau emosi yang dimainkan adalah emosi yang paling mendasar seperti rasa takut. Dalam salah satu komentar Simmel tentang agama, ia malah mengatakan bahwa Tuhan hanya bisa dimengerti secara negatif, yang melarang ini dan melarang itu, ketimbang memberikan perintah.[25] Kembali kita melihat bahwa negativitas lebih bisa menyatukan kelompok massa yang besar.

Budaya massa, atau budaya pop adalah sebuah kebiasaan, perilaku atau gaya hidup yang berlaku secara luas di dalam masyarakat. Ia adalah sebuah fenomena yang paling  mudah diamati dewasa ini. Kita bisa melihat bagaimana budaya pop ini mencengkeram begitu dalam di masyarakat kita, dengan dimotori oleh media massa.

Salah satu budaya massa yang paling menjamur adalah kegemaran terhadap olahraga, terutama sepakbola. Hampir seluruh belahan dunia menyaksikan perebutan Piala Dunia sepakbola setiap empat tahun. Olahraga adalah sebuah sublimasi dari naluri agresi manusia menjadi sebuah bentuk yang lebih halus, tidak berdarah, dan bisa diterima oleh manusia beradab. Di dalam olahraga, manusia merayakan kekerasan yang terkendali. Agresi ini bukan saja dilakukan oleh pemain, melainkan juga oleh penonton. Dukungan berupa sorak-sorai dan segala macam aksi juga adalah sublimasi dari sifat agresif manusia. Olahraga seperti sepakbola juga begitu sederhana sehingga bisa dimengerti oleh masyarakat yang paling bawah; yang menang adalah yang berhasil memasukkan bola ke dalam gawang, dan tidak boleh menggunakan tangan. Sebagai kontras, sepakbola bisa dibandingkan dengan olahraga seperti catur yang penuh dengan strategi yang rumit dan tidak terlihat agresivitasnya. Catur dengan demikian sulit untuk menjadi sebuah budaya massa seperti halnya sepakbola.

Contoh budaya massa yang lain adalah televisi. Televisi menyajikan semua informasi secara “siap saji” di depan mata lengkap dengan gambar dan suara. Ia berbeda dengan buku misalnya, yang membutuhkan suatu tingkat pemahaman tertentu yang belum tentu dikuasai oleh masyarakat yang paling bawah. Saluran televisi yang paling mendapatkan peminat juga adalah saluran yang mengaduk-aduk emosi, bukan saluran yang menyajikan diskursus atau perdebatan. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa emosi lebih mampu menjadi pemersatu dibandingkan dengan rasionalitas.

Budaya idola adalah hal lain yang juga bisa dijelaskan. Manusia menurut evolusinya adalah “hewan” yang hidup berkelompok. Contoh yang bisa kita lihat adalah seperti kawanan serigala atau domba. Ini kontras dengan beberapa spesies soliter seperti kucing dan harimau. Hewan yang hidup berkelompok menunjukkan mentalitas kawanan yang tunduk pada satu pimpinan. Hal ini dimanipulasi manusia untuk menggembalakan ternak misalnya. Manusia pun belum lepas dari insting ini. Walau kita telah berkembang secara rasional, insting untuk tunduk pada pemimpin masih sering terlihat. Hal ini pulalah yang membuat kita bisa bermasyarakat. Namun dalam masyarakat modern ketundukan terhadap pemimpin umumnya telah berubah menjadi ketundukan terhadap sesuatu yang lebih abstrak yaitu hukum. Namun naluri kita untuk tunduk dan ikut pada “orang” dan bukan pada sesuatu yang abstrak masih ada. Naluri mendasar inilah yang membuat kita mampu hanyut oleh tokoh karismatis, pemain sepakbola terkenal, model atau bintang film yang cantik. Naluri ini melahirkan sebuah masyarakat tertentu, di dalam masyarakat formal. Dan di dalam kekuasaan ekonomi yang dahsyat, masyarakat imajiner ini mampu dilihat sebagai sebuah potensi ekonomi.

Epilog

Apakah dengan demikian kita pasrah menerima semua serbuan budaya massa tersebut. Simmel tidak memberikan solusi mengenai hal ini. Namun satu hal yang dapat dipastikan, kita dengan melakukan analisis ini telah menempuh sebuah langkah kecil untuk lebih memahami fenomena-fenomena di dalam masyarakat. Dan jika kita mengikuti amanat dari Francis Bacon: “Pengetahuan adalah kekuatan.”


Daftar Pustaka

Simmel, Georg. How is Society Possible? Dalam American Journal of Sociology vol.16. 1910-1911

____________. The Sociology of Georg Simmel. New York: Free Press, 1950

____________. Simmel on Culture. London: Sage Publication, 1997


[1] “The picture which one man gets of another from personal contact is determined by certain distortions which are not simple deceptions from incomplete experience, defective vision, sympathetic or antipathetic prejudice, …”, Simmel, How is Society Possible?

[2] “… each regards the other under the matter of course presupposition-this is a member of my group.”, Ibid.

[3]Each element of a group is not a societary part, but beyond that something else”, Ibid.

[4] “Society is a structure of unlike elements.”, Ibid.

[5] “And where, on the other hand, an enslaved population constitutes only a mass, as in the great oriental despotisms, this equality of each always concerns only certain sides of existence, say the political or the economic, but never the whole of the same, the transmitted qualities, of which, personal relationships, experiences, …”, Ibid.

[6] “… each individual, by virtue of his own quality, is automatically referred to a determined position within his social milieu,…”, Ibid.

[7] Bdk. Simmel, Simmel on Culture, h. 188-180, h.269

[8] Simmel, The Sociology of George Simmel, h.116

[9] Ibid., h.115

[10] Ibid. h.87

[11] Ibid. h.88

[12] Ibid. h. 90

[13] Zakaria, Learning to Live with Radical Islam, http://www.newsweek.com/id/187093/page/2, diunduh pada tanggal 20 Mei 2009

[14] Simmel, The Sociology of George Simmel, h.90

[15] Ibid., h.93

[16] Ibid., h.93

[17] Bdk. Ibid., h.396

[18] Simmel, The Sociology of George Simmel, h.98

[19] Bdk. Ibid. h.88

[20] Bdk. Ibid. h.112

[21] Ibid., h.95

[22] Ibid., h.102

[23] Ibid. h.99

[24] bdk. Ibid. h.94

[25] Ibid. h.398

1 Komentar »

  1. wah … enak ni baca2 baca gaya hidup …

    thanks udah ngunjingan. aku emang tertarik membahas gaya hidup. blog anda ok juga

    Komentar oleh ivenx oy'z — Juli 25, 2009 @ 4:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: