On Everything

Juni 24, 2009

Antara Lévinas dan Jonas: Tanggung Jawab akan Masa Depan

Filed under: Tentang Filsafat,Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 1:27 am
Tags: , , ,

Teknologi telah membawa kerumitan sendiri dalam hubungan etis antar manusia. Ia membawa manusia ke dalam sebuah tatanan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh etika tradisional. Perang Dunia II memberikan sebuah impuls baru bagi filsafat, karena ia telah dianggap gagal untuk mencegah sebuah kengerian yang luar biasa di dalam kehidupan umat manusia. Dalam situasi yang baru ini, para filsuf pun bereaksi. Dua di antaranya yang akan dibicarakan di sini adalah Emmanuel Lévinas dan Hans Jonas, dua-duanya filsuf keturunan Yahudi.

LevinasLévinas

Lévinas mulanya lebih dikenal di kalangan berbahasa Prancis, walaupun ia sempat studi di Jerman di bawah bimbingan Husserl dan Heidegger. Perang Dunia II, yang banyak mempengaruhinya hidupnya, membuatnya hijrah ke Prancis dan masuk tentara di sana. Seluruh keluarganya yang tinggal di Lithuania dibunuh oleh tentara pendudukan Jerman.

Kekejaman perang yang dialaminya mau tidak mau membuatnya untuk melihat filsafat secara khas. Ia melihat etika sebagai filsafat pertama, yang mendahului filsafat-filsafat yang lain. Namun ia tetap berangkat dari gurunya, para fenomonolog. Ia memakai fenomenologi dengan cara yang khas untuk menjelaskan filsafatnya sendiri.

Ia mulai dengan mengkritik Husserl yang masih terjebak pada struktur kesadaran saja. Karena itu Husserl berhenti pada kerangka subjek-objek saja. Objek tetap ditindas oleh subjek, sebagai sesuatu yang diketahui oleh subjek. Kedirian orang lain menjadi hilang, ia tidak diakui sebagai dirinya sendiri. Dan ini menurut Lévinas adalah penindasam, yang kemudian melahirkan totalitarianisme.[1]

Heidegger yang juga menjadi gurunya tidak lepas dari kritiknya. Perhatian Heidegger terhadap cakrawala kemengadaan membuat ia lupa pada etika. Heidegger menganggap sebuah etika eksplisit tidak diperlukan karena dengan ingat akan Sang Mengada, dengan sendirinya akan bersikap mengurus (besorgend) lingkungan dan memelihara (fürsorgen) manusia lain. Ini tidak terjadi menurut Lévinas. Konsepsi Heidegger yang melihat cakrawala kemengadaaan justru melupakan manusia, manusia hanyalah salah satu pengada di antara pengada-pengada yang lain. Dan kegagalan Heidegger merumuskan etika terlihat dari dukungannya terhadap ideologi Nazi di Jerman.[2]

Dalam kutipan sebagaimana di dalam Bertens (1996) dikatakan bahwa filsafat Heidegger adalah belum selesai:

Pada mulanya refleksi-refleksi kami ini sebagian besar menimba inspirasinya dari filsafat Martin Heidegger. Di situ ditemukan suatu konsepsi tentang ontologi dan tentang hubungan yang dijalin manusia dengan Ada. Tetapi refleksi-refleksi kami ini ditandai juga oleh kebutuhan untuk meninggalkan suasana Heidegger ini, biarpun tetap yakin bahwa pemikirannya tidak mungkin ditinggalkan untuk beralih ke suatu filsafat pra-Heideggerian. Rupanya pengertian dominan yang menguasai interpretasi Heidegger tentang eksistensi manusia adalah eksistensi dipahami sebagai ekstasis. Hal ini hanya mungkin sebagai ekstasis sampai titik penghabisannya,[3]

dan ia bermaksud untuk menyelesaikannya. Kritik berikutnya pada Heidegger tidak lagi berkaitan dengan fenomenologi sehingga buku Totalitas dan Tak Berhingga pernah dicap sebagai anti-Heidegger. Intinya kurang lebih bahwa Ada pada Heidegger terlalu anonim.[4]

Lévinas kemudian merumuskan filsafatnya sendiri bertolak dari fenomenologi, dengan meminjam dari Husserl dan Heidegger. Dari Husserl ia meminjam fenomenologi itu sendiri, dengan menggunakan filsafat untuk menunjukkan sesuatu, bukan memikirkan sesuatu. Dari Heidegger ia meminjam ketajaman fenomenologis untuk membongkar kerangka subjek-objek. Dari situ ia melakukan pengamatan fenomenologis terhadap data yang paling mendasar dari pengalaman manusia, yaitu munculnya orang lain di hadapan kita.[5]

Munculnya orang lain di hadapan kita digambarkan Lévinas sebagai sebuah muka[6] (visage) dalam totalitas. Dalam muka, orang lain tampil di hadapan kita sebagai orang tertentu, ia yang lain, sebagai sebuah penampakan (epiphanie).[7] Ia selalu hadir sebagai sebuah totalitas, yang mempertahankan keseluruhannya, ia tidak dapat dimasukkan ke dalam keseluruhan. Kita tidak dapat mengintegrasikannya ke dalam kerangka yang lebih luas. Ia selalu sendiri, mempertahankan otonominya. Untuk mengenal orang lain, kita harus keluar dari kita, karena ia adalah sebuah eksterioritas, ia adalah sesuatu yang sungguh-sungguh asing. Ia bukanlah sebuah alter ego, aku yang lain. Ia adalah sungguh-sungguh lain, seorang Pendatang, Seorang Asing (l’Etranger).[8]

Muka hadir sebagai muka yang telanjang, muka yang begitu saja (la visage nu). Begitu ia tampil, ia tidak bisa diabaikan. Ia hadir begitu saja sebagai sebuah imbauan kepada kita untuk bertanggung jawab terhadap dirinya. Dalam hal ini kita sama sekali pasif, bakhan pasivitas yang paling pasif, karena ia mendahului kita untuk bereaksi atau berefleksi. Saya disandera olehnya. Kebebasan kita dirangsang, antara memilih untuk membunuhnya, mengacuhkannya atau bertanggung jawab atas dirinya. Inilah etika menurut Lévinas.[9]

Pertemuan dengan orang lain ini adalah data paling primordial yang dapat dikenakan kepada saya. Dengan bertemu dengan orang lain, saya baru menemukan identitas saya. Dengan bertanggung jawab, aku menjadi diriku. Filsafat yang paling primordial dengan demikan adalah etika, dengan bertanggung jawab terhadap yang lain.[10] Kehadiran orang lain di depan saya menuntut saya untuk bertanggung jawab atas dirinya, dan ini tidak memerlukan pemikiran. Etika tanggung jawab adalah pra-refleksi.

JonasJonas

Hans Jonas, juga seorang keturunan Yahudi, sempat studi di bawah bimbingan Husserl, Heidegger dan Bultman. Sewaktu Hitler berkuasa di Jerman, ia hijrah ke Palestina. Ia sempat tertarik pada gerakan Zionis, tetapi kemudian meninggalkannya. Ia kemudian mengajar di Montreal dan Ottawa di Kanada, lalu di New York, Amerika Serikat.

Jonas mengembangkan etikanya dengan melihat seluruh sejarah filsafat barat sebagai berikut:

  1. Keadaan manusia, ditentukan oleh kodrat manusia dan kodrat realitas, pada hakikatnya tetap untuk selama-lamanya.
  2. Atas dasar itu, apa yang baik bagi manusia dapat ditentukan dengan gampang dan jelas.
  3. Jangkauan tindakan manusia, dan karena itu tanggung jawab manusia, amat terbatas.

Menurut Jonas, pengandaian-pengandaian ini tidak berlaku ladi di masa ini, dan oleh karena itu kita membutuhkan sebuah etika yang baru.[11]

Jonas melihat bahwa etika tradisional tidak lagi mencukupi untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan di mana teknologi menjadi suatu bagian yang sangat menentukan kehidupan manusia. Teknologi telah mengamplifikasi semua perbuatan manusia yang belum pernah dibayangkan oleh etika tradisional. Teknologi memperluas pengaruh dan juga jangka waktu dari perbuatan manusia. Apa yang selama ini menjadi perhatian etika yaitu dampak langsung dari perbuatan menjadi tidak memadai.[12]

Teknologi telah membuka semacam sebuah kotak pandora kensekuensi perbuatan manusia. Revolusi Industri tidak bisa melihat efek pencemaran lingkungan yang akan disebabkan olehnya sebagai akumulasi beberapa abad kemudian. Kemajuan teknologi pengobatan juga tidak bisa melihat akibat ledakan penduduk karena membaiknya angka harapan hidup. Teknologi pertanian yang menaikkan produktivitas pangan telah membawa masalah bagi kesehatan umat manusia. Sistem finansial yang membawa pada kemakmuran ternyata sangat rentan dan memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat terutama yang paling miskin. Kita hidup di dalam sebuah dunia baru, oleh karena itu kita membutuhkan sebuah etika yang baru, yang menuntut tanggung jawab akan masa depan.

Etika ini melawan etika deontologis yang menjamin selama kita mendasarkan tindakan kita pada prinsip-prinsip etis, maksud baik misalnya yang akan menjamin kebaikan. Jonas melihat bahwa ini tidak memadai, maksud baik tidak menjamin kebaikan di masa datang, karena manusia tidak sempurna, ia tidak bisa memahami seluruh konsekuensi dari tindakannya, baik dalam skala ruang maupun waktu.[13]

Titik tolak dari etika Jonas adalah heuristika ketakutan. Heuristika ketakutan adalah membayangkan sebuah konsekuensi di masa depan, seraya menumbuhkan perasaan sesuai dengan yang kita bayangkan tersebut. Hanya dengan cara seperti ini, menurut Jonas, kita bisa menghadirkan sebuah etika di dalam dunia sekarang ini.[14]

Untuk itu ia merinci empat prinsip umum etikanya:

  1. Bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat-akibat tindakanmu dapat diperdamaikan dengan kelestarian kehidupan manusiawi sejati di bumi.
  2. Bertindaklah sedemikan rupa sehingga akibat-akibat tindakanmu tidak sampai merusak kemungkinan-kemungkinan kehidupan seperti itu tadi di masa depan.
  3. Jangan membahayakan syarat-syarat kelestarian kehidupan tak terbatas umat manusia di bumi.
  4. Dalam pilihanmu sekarang, keutuhan manusia mendatang harus menjadi bagian dan tujuan kehendakmu.[15]

Dengan demikian, ramalan negatif akan masa depan yang buruk harus didahulukan., meskipun ramalan itu belum pasti. Kita bisa hidup jika ramalan yang baik tidak terwujud, namun kita jelas tidak bisa hidup kalau ramalan yang buruk terjadi, sekecil apa pun probabilitasnya. Mendahulukan ramalan yang baik dengan mengesampingkan ramalan yang buruk, apalagi yang mempertaruhkan seluruh umat manusia, secara etis tidak dapat dibenarkan. Manusia dapat hidup tanpa keuntungan tertinggi, tetapi tidak dengan keburukan tertinggi.[16] Ini bisa digambarkan dengan permainan russian roulette. Meskipun kemungkinan kita untuk menang dan selamat tetap hidup adalah 5/6, lebih besar dari kemungkinan mati yang hanya 1/6, kita tidak bisa mempertaruhkan nyawa kita dengan uang banyak sebagai imbalan, karena kehilangan nyawa adalah sesuatu yang absolut, yang tidak bisa dihitung untung ruginya.

Uraian ini tentu cocok dengan kejadian di dunia ini sekarang yang ditimpa krisis pemanasan global. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa bisa jadi pemanasan global terjadi bukan karena ulah manusia. Tetapi dengan menggunakan prinsip Jonas, kita tidak bisa bertaruh dengan tetap memenuhi atmosfer dengan gas rumah kaca, meskipun memang ada kemungkinan bahwa ini tidak akan berakibat pada pemanasan global, karena akibatnya terlalu mengerikan yaitu kelangsungan species manusia itu sendiri.

Jonas kemudian menunjukkan bahwa etika tradisional juga belum mencukupi untuk membela kepentingan umat manusia di masa datang. Yang pertama, di dalam etika tradisional, kita bertanggung jawab terhadap subjek yang ada, tetapi terhadap subjek yang belum hadir, etika diam. Etika masa depan justru menuntuk kita juga untuk bertanggung jawab atas subjek yang belum hadir itu. Yang kedua adalah prinsip timbal balik dalam keadilan berdasarkan persamaan hak yang biasa berlaku dalam etika tradisional. Ia juga tidak berlaku di sini. Tidak ada timbal balik dalam hal tanggung jawab akan masa depan. Masa depan tidak bisa membalas kebaikan masa lalu, mereka hanya merasakan akibat darinya. Jonas menunjukkan bahwa ini justru adalah kekuatan etika tanggung jawab, yaitu ia tidak bersifat timbal balik.

Untuk bisa memahami pembelaan Jonas terhadap masa depan, kita harus memahaminya dari sebuah kalimat bahwa “apa yang ada, memang sebaiknya ada.” Ini mengacu pada kehidupan. Karena kehidupan itu ada, maka ia harus dipertahankan. Untuk menyadari bahwa sesuatu itu ada dibutuhkan suatu refleksi, dan dari seluruh makhluk hidup hanya manusialah yang sudah sampai pada titik ini. Oleh karena ia telah sadar bahwa kehidupan itu ada, maka tanggung jawab untuk melestarikan seluruh kehidupan jatuh kepadanya.[17]

Jonas dengan menggunakan teori evolusi menjelaskan bahwa kehidupan adalah sebuah puncak dari evolusi anorganik. Karena kehidupan telah hadir maka ia harus dipertahankan. Begitu kehidupan hadir, ia lahir dengan dorongan untuk mempertahankan dirinya. Dorongan ini begitu primordial bagi kehidupan dan mewarnainya. Keanekaragaman alam yang merupakan proses evolusi juga menunjukkan bahwa keanekaragaman kehidupan itu memang ada, dan ia juga harus dipertahankan.

Jonas kemudian melihat adanya keterarahan dalam evolusi, dengan manusia sebagai hasil evolusi tertinggi. Kesadaran, buah evolusi dalam manusia yang adalah puncak dari evolusi juga harus dipertahankan. Kesadaran ini menuntut tanggung jawab, dengan pengandaian, semakin tinggi derajat di dalam ekosistem, semakin besar tanggung jawabnya. Alam yang tidak berdaya tidak membalas perbuatan kita, justru itu ia semakin menuntut kita untuk bertanggung jawab kepadanya.[18]

Namun etika Jonas bukannya tidak bermasalah. Ia meninggalkan sebuah pekerjaan rumah, yaitu bagaimana manusia menjalankan tanggung jawabnya tersebut. Pertanyaan ini sulit untuk dijawab karena manusia berada pada tingkat moralitas yang berbeda, kalau kita meminjam istilah Kohlberg.[19] Usulan Jonas akan sebuah sistem diktator yang baik mungkin lebih mirip dengan pengharapan seorang Mesias, tanpa membawa-bawa agama. Jonas sadar bahwa mengharapkan sebuah konsensus bersama dari seluruh umat manusia untuk mau menurunkan tingkat konsumsinya misalnya, berdasarkan heuristika ketakutan yang dirumuskannya adalah sia-sia. Hal ini bisa dianggap bertentangan dengan prinsip keadilan; penduduk di negara-negara miskin tidak punya kesempatan untuk menaikkan taraf hidupnya setara dengan penduduk negara-negara kaya. Oleh karena itulah jalan keluarnya adalah sebuah kediktatoran.

Tanggung Jawab akan Masa Depan

Lévinas telah merumuskan sangat baik mengapa kita harus bertanggung jawab pada orang lain. Ia mengacu pada pengalaman primordial. Ia berhenti di situ dan tidak bisa menjelaskan keadilan. Keadilan yang adalah sebuah ide hasil refleksi seperti berada di luar jangkau Lévinas, karena ia berhubungan dengan “banyak” yang lain. Tetapi bukan itu yang akan dibahas oleh tulisan ini. Ada sebuah lubang di dalam etika Lévinas yang juga menarik dan ini ditunjukkan oleh Jonas.

Lubang itu adalah etika tanggung jawab Lévinas berhenti pada orang lain yang muncul di hadapan kita. Jonas memperlihatkan bahwa ini pun belum cukup. Tanggung jawab tidak berhenti di situ. Ia juga meluas pada subjek di masa depan yang belum lahir. Untuk itu Hans Jonas memperluas etika tanggung jawab dari Lévinas dengan bukan saja menjadikan pertemuan kita dengan orang lain sebagai tanggung jawab. Ia menjadikan pertemuan dengan “orang lain yang belum lahir” juga sebagai tanggung jawab kita. Tanggung jawab kita bukan hanya pada orang lain secara langsung, melainkan tanggung jawab kita akan kelestarian seluruh spesies umat manusia. Subjek masa depan ini malah lebih tidak berdaya dari muka telanjang yang hadir di muka kita. Ia memanggil kita untuk tidak mengacuhkannya apalagi membunuhnya; ia memanggil kita untuk bertanggung jawab atas mereka.[20]

Di pihak lain ia juga memperkuat etika tanggung jawab Lévinas dalam hal ketimbalbalikan. Ia menunjukkan bahwa kekuatan etika tanggung jawab justru adalah di saat ia tidak timbal balik. Kehadiran subjek di hadapan kita yang menuntut tanggung jawab, menuntut kita tanpa untuk berpikir akan adanya timbal balik.

Ia juga memperluas etika tanggung jawab Lévinas tidak hanya pada yang lain sebagai manusia melainkan seluruh alam. Alam hadir di hadapan kita juga sebagai yang lain dan yang total. Ia tidak berdaya, dan kita bisa membunuhnya. Ia hadir juga menuntut supaya kita bertanggung jawab atas dirinya, sama seperti kita bertanggung jawab terhadap manusia yang lain.

Namun solusi yang diajukan Jonas, yaitu sebuah kediktatoran, bermasalah jika dihadapkan pada Lévinas. Kediktatoran, yang adalah sebuah hasil refleksi walaupun ia adalah sebuah kediktatoran yang baik, telah melampaui pengalaman fenomenologis, yang menuntut kita untuk tidak membunuhnya dan memperlakukan ia sebagai totalitas. Di dalam kediktatoran, yang lain tidak lagi menjadi sebuah totalitas, melainkan objek. Diktator menuntut kita untuk bertindak keras terhadap yang lain, jika kita melihat bahwa mereka membahayakan seluruh umat manusia. Di sini kita berhadapan dengan prinsip keadilan. Terlihat bahwa Lévinas dan Jonas, kedua-duanya bermasalah jika dihadapkan pada masalah keadilan. Etika tanggung jawab nampaknya membutuhkan lahirnya seorang filsuf baru untuk menjawab tantangan yang diajukan oleh prinsip keadilan yang telah diabaikannya.

Daftar Pustaka

Magnis-Suseno, Franz. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta:Kanisius, 2000

Bertens, K. Filsafat barat Kontemporer Prancis. Jakarta:Gramedia, 1996


[1] Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, h.89-90

[2] Ibid. h.90-91

[3] Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, h.317-318

[4] Ibid. h.318

[5] Magnis Suseno, h.91

[6] Terjemahan mengikuti Magnis-Suseno

[7] Ibid. h.96-97

[8] Bertens, h.320-321

[9] Magnis Suseno, h.98-99

[10] Ibid., h.99-100

[11] Ibid., h.171

[12] Ibid., h.172

[13] Ibid., h.174

[14] Ibid., h.174-175

[15] Ibid., h.176

[16] Ibid., h.177-178

[17] Ibid., h.180-181

[18] Ibid., h.181-182

[19] bdk. Ibid., h.157-161

[20] Ibid., h.179

6 Komentar »

  1. kalau demikian pendapat jonas, dari segi moral apoa sebenarnya yan hendak ia perjuankan terhadapat lingkungan, manusia.
    apa yang ia kritik dan siapa yang mempengaruhinya

    thanks

    kalau dijelaskan secara singkat, ia mengkritik ilmu pengetahuan dan teknologi yang nampaknya sudah di luar kendali manusia. dibutuhkan sebuah etika baru untuk berhadapan dengan kemajuan ilmu dan teknologi. ia melihat kemajuan sebagai sebuah ancaman buat kelangsungan umat manusia itu sendiri.
    ia sendiri adalah murid heidegger, husserl dan bultman. namun ia sendiri lebih dikenal sebagai seorang sarjana teks gnostik di luar lingkungan filsafat.

    Komentar oleh ferre situmorang — Juli 23, 2009 @ 4:38 am

  2. kalau gagasan jonas tentang tanggungjawab ini hendak dibuat menjadi skipsi dari mana hendaknya dimulai?

    benernya saya juga bukan ahlinya jonas. untuk intro tentang jonas, bisa baca di buku etika abad-20 karangan magnis suseno. dan kalau bisa tentu baca buku jonas yang asli.

    Komentar oleh ferre — Juli 28, 2009 @ 4:00 am

  3. pak, apa sebenarnya etika tradisional yang dimaksud hans jonas ?

    Komentar oleh jameslim — September 8, 2009 @ 2:18 am

  4. pak, apa sebenarnya etika tradisional yang dimaksud hans jonas ?

    istilah etika tradisional adalah sebuah istilah generik yang dipakai jonas untuk menggambarkan seluruh etika sebelum dia, yang berpusat pada saat ini, dan orang di hadapan kita. ini menurutnya belumlah cukup karena tidak melingkupi tanggung jawab terhadap masa depan, alias anak cucu kita yang belum hadir di hadapan kita

    Komentar oleh servastampubolon — September 8, 2009 @ 2:34 am

  5. etika tradisional yang sudah usang itu apa ?
    dan yangmana sebenarnya yang dia katakan itu ?
    kami tau etika itu semua sebelum dia

    silakan cek di catatan kaki. itu saya kutip dari buku Franz Magnis-Suseno. Ia sendiri mengambil sumber dari buku Jonas yang dalam bahasa Jerman, yang diluar jangkauan saya pribadi.

    Komentar oleh servastampubolon — September 10, 2009 @ 2:11 am

  6. pa, mengapa yang primordial bagi Levinas adalah bertanggungjawab terhadap yang lain, dan mengapa bukan bertanggung jawab terhadap diriku, bukankah saya juga adalah ephiphani bagi diriku?

    Komentar oleh Fr_e Kung — Januari 17, 2010 @ 12:16 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: