On Everything

Juli 28, 2009

Ilusi Kedamaian dari Pengejaran Kekayaan

Filed under: Tentang Filsafat,Tentang Ilmu Sosial — Oni Suryaman @ 4:03 am
Tags: ,

bankerSepanjang sejarah pemikiran umat manusia, persoalan nafsu telah menjadi pokok bahasan. Para pemikir Yunani Kuno sampai gereja menunjukkan bahwa nafsu adalah sesuatu yang harus dikendalikan. Plato menunjukkan bahwa nafsu harus ditundukkan dengan rasio dengan mengatakan di dalam Republic IV ,meminjam lidah Sokrates:

Bukankah tugas untuk mengendalikan (seluruh jiwa) jatuh kepada rasio, yang bijak dan melihat ke depan mengatasi seluruh jiwa yang lain…[1]

Aristoteles menempuh jalan yang sedikit berbeda, yaitu dengan melatih nafsu supaya terbiasa dengan hal-hal yang bajik (virtue) dengan melatih diri melalui kontemplasi akan hal-hal yang baik, sebagaimana yang ia tunjukkan di dalam Nicomachean Ethics X:

Jika kebahagiaan adalah kegiatan yang berhubungan kesempurnaan, … Dan kegiatan ini adalah bersifat kontemplatif.[2]

Pemikir-pemikir Yunani klasik lainnya juga tidak berbeda jauh. Epikurus, yang menganut hedonisme, melihat bahwa meskipun manusia cenderung mencari kenikmatan sebagai pemuasan nafsunya, kenikmatan sejati justru dapat dirasakan bila kita tidak tergantung, nikmat yang hanya tergantung dari diri sendiri, bukan akibat dari luar.[3] Pemikir Kristen seperti Agustinus lebih keras lagi dengan mengatakan bahwa keinginan tubuh adalah jahat.[4] Oleh karena itu yang harus dijalankan adalah keinginan roh untuk bersatu dengan Tuhan.[5]

Namun sejarah berkata lain. Sejarah telah membuktikan segala skema untuk menundukkan nafsu baik dengan rasio menurut Plato, atau kebajikan menurut Aristoteles tidak membuahkan hasil, begitu pula dengan pengendalian hawa nafsu ala iman kristiani. Nafsu masih gagal untuk ditundukkan. Perang masih merajalela dan ketidakadilan ada di mana-mana. Arus sejarah pemikiran terutama di Barat kemudian mencoba pendekatan lain. Ini dimulai dengan Machiavelli yang mengatakan bahwa para filsuf sebelumnya hanyalah melihat manusia sebagai normatif bukan sebagaimana apa adanya.[6] Ia melihat titik terang bahwa nafsu hanya bisa ditundukkan dengan nafsu lain.[7] Bagi Machiavelli, nafsu yang bisa menundukkan nafsu yang lain adalah nafsu akan kemuliaan rajawi. Seorang pangeran yang mencari kemuliaan rajawi akan menundukkan nafsu-nafsu buruknya yang lain, karena tanpa dengan menundukkan nafsu-nafsu rendahnya, ia tidak akan bisa mencapai kemuliaan rajawi. Machiavelli telah memulai sebuah jalan baru, yaitu ketimbang menundukkan nafsu dengan rasio atau kehendak ilahi, satu nafsu diadu dengan nafsu lainnya. Jalan yang mulanya dipakai untuk sebuah solusi politik pun dipakai untuk bidang kehidupan yang lain.

Sejak itu upaya untuk menundukkan nafsu diberikan kepada nafsu yang lain yang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari nafsu lain. Solusi ini nampaknya lebih manusiawi dan masuk akal, karena yang dilakukan adalah menundukkan nafsu ketimbang memadamkannya.[8]

Salah satu dari upaya ini adalah dengan menjadikan nafsu akan akumulasi kekayaan sebagai nafsu yang dapat menguasai nafsu lain. Usaha untuk menghasilkan uang pun dianggap sebuah nafsu yang lebih tenang (calm), yang lebih bisa dikendalikan, dan mengendalikan nafsu-nafsu lain yang lebih jahat (avarice). Hutcheson misalnya membedakan antara nafsu untuk kekayaan dengan nafsu lain yang merusak. Ia melihat bahwa nafsu untuk mencari kekayaan dapat membuat seseorang bertindak dengan penuh perhitungan dan rasional, mau melakukan pengorbanan dengan keuntungan yang lebih besar.[9] Hal yang sama dikemukakan oleh Hume juga membedakan nafsu antara yang tenang (calm) dan yang kasar (violent). Ia mengatakan bahwa dengan melakukan usaha perdagangan, nafsu akan akumulasi kekayaan mengalahkan nafsu untuk mengejar kenikmatan.[10] Locke secara tidak langsung di dalam esainya On Property juga menyarankan untuk menumpuk kekayaan karena dengan menumpuk kekayaan karena ia tidak dapat lenyap karena alam dan dapat dipertukarkan untuk apa saja.[11]

Satu hal yang kurang mendapat perhatian dari para pemikir ini adalah tentang sifat uang itu sendiri. Uang bukan hanya sesuatu yang menjadi alat saja melainkan ia juga mengubah cara pandang manusia. Masalah ini dilihat oleh Simmel. Pertam-tama ia membedakan tujuan jangka pendek (immediate goal) dan tujuan jangka panjang atau tujuan akhir (ultimate goal) dari sebuah tindakan. Manusia mengalami kesulitan untuk mengarahkan dirinya pada tujuan akhir karena tujuan akhir hanya bisa dicapai dengan serangkaian tindakan, yang masing-masing menghasilkan tujuan jangka pendek, yang tidak bisa dirasakan secara langsung dan dalam jangka waktu yang pendek.[12]

Kepentingan diri, untuk mencapai kebahagiaan misalnya, adalah sebuah tujuan jangka panjang, sementara memperoleh uang adalah tujuan jangka pendek. Seperti halnya tujuan jangka panjang yang lain, kita sering kali lupa bahwa tindakan kita diarahkan untuknya, melainkan kita hanya memperhatikan tujuan jangka pendeknya saja.

Uang memiliki karakteristik yang menarik sebagai sebuah tujuan antara. Sebelum adanya uang, perdagangan hanya bisa dilakukan bisa ada saling keterbutuhan komoditas yang diperdagangkan antara dua pihak. Dengan adanya uang, saling butuh ini bisa ditiadakan karena ia bisa dimediasi dengan uang, dan selanjutnya uang bisa ditukarkan dengan apa pun yang ia butuhkan. Kemudahan uang untuk dikonversi menjadi tujuan apa pun, membuatnya terangkat menjadi lebih tinggi dari tujuan antara yang lain.[13] Manusia pun lupa bahwa ia hanyalah sebuah tujuan antara. Uang hanyalah alat untuk tujuan lain, kebahagiaan misalnya. Uang bisa menjadi sarana untuk menuju kebahagiaan namun ia tidak identik dengan kebahagiaan dan jelas tidak bisa menggantikan kebahagiaan.

Simmel membedakan antara manusia primitif yang tidak mampu melihat tujuan jangka panjang, dan manusia yang telah berkembang yang mampu melihat tujuan jangka panjang sebagai serangkaian dari tujuan-tujuan tak langsung.[14] Kita dapat melihat bahwa Simmel nampaknya mengikuti etika teleologis Yunani klasik dengan melihat bahwa manusia yang menggunakan rasionya mampu melihat lebih dari sekedar tujuan jangka pendek, melainkan mencari kebahagiaan.

Uang juga bisa diakumulasi dan disimpan. Sifat ini ditambah dengan sifatnya yang pertama yaitu konversi universal membuat ia benar-benar menjadi sebuah tujuan yang tangguh. Kemampuan uang untuk diakumulasi yang memberikan kepuasan tersendiri menjadikan akumulasi kekayaan sebagai tujuannya sendiri, bukan lagi sebuah tujuan antara.[15] Akumulasi dan kemampuan untuk disimpan membuat ia “seolah” bisa mencapai tujuan yang lebih besar, jika ia diakumulasikan. Manusia lupa bahwa akumulasi tidak otomatis membawa ke tujuan yang diinginkan.

Uang di satu pihak memang memenangkan diri dari nafsu-nafsu rendah yang lain seperti perang dan ketamakan. Untuk itulah dikenal istilah le doux commerce atau perdagangan yang damai. Uang seperti memajukan sikap hemat, menahan diri dan saling percaya. Namun yang dilupakan adalah bahwa uang hanya menunda nafsu-nafsu yang seolah kalah darinya. Nafsu-nafsu tersebut memang perlu dikekang untuk memajukan perdagangan dan mengumpulkan uang. Namun setelah uang terkumpul, uang kemudian bisa dipakai untuk melaksanakan nafsu apa pun termasuk perang dan ketamakan.

Uang adalah sebuah penemuan manusia, dan seperti halnya penemuan manusia yang lain, ia tidak bernilai moral pada dirinya sendiri. Pisau tidak otomatis bernilai moral buruk, kecuali jika digunakan untuk membunuh manusia misalnya. Begitu pula dengan uang, ia tidak bernilai buruk pada dirinya sendiri, melainkan pada untuk apa uang itu diberlakukan. Argumen Locke yang menjadikan pengumpulan uang sebagai tujuan gagal di sini, karena ia ibarat memberikan sebuah cek kosong pada semua keinginan manusia, karena uang bisa dikonversi menjadi keinginan apa pun.

Untuk menuduh para pemikir bahwa mereka gagal melihat ini mungkin kurang tepat. Mereka hidup pada zaman di mana politik menjadi panglima, di mana nafsu yang menguasai adalah nafsu akan kekuasaan dan wilayah. Perang merajalela di mana-mana. Mereka mengajukan sebuah kekuatan penyeimbang lain yaitu perdagangan justru untuk membuat sebuah dunia yang lebih baik. Perdagangan ini mereka lihat mampu membawa kedamaian, karena bangsa-bangsa hanya dapat berdamai kalau mereka mau memajukan perdagangan. Mereka tidak menyangka bahwa apa yang mereka lahirkan sebagai sebuah penyeimbang di dalam perkembangannya justru menjadi sebuah panglima yang baru. Jika akumulasi kekayaan menjadi sebuah tujuan akhir, maka perang pun dapat dijadikan sarana untuk mengakumulasi kekayaan.

Mereka juga tidak melihat kolonialisme di belahan dunia lain karena mereka terkungkung hidupnya di dalam benua Eropa.[16] Yang disebut dengan le doux commerce hanya berlaku untuk perdagangan antar negara- negara merdeka. Marx juga melihat bagaimana perdagangan yang damai ini dengan akumulasi modalnya melahirkan pemerasan terhadap kaum buruh.[17]

Uang ternyata hanyalah menunda nafsu-nafsu buruk yang hendak dikekangnya. Dan bukan saja menunda, ia mengakumulasi dan mengamplifikasi nafsu-nafsu buruk itu karena sifat akumulatif dan ketersimpanan uang. Jika kita memiliki maksud jahat terhadap seseorang misalnya, jika kita bertindak langsung kita hanya akan memberikan kerugian kecil. Namun jika kita menunggu dan mengakumulasi uang, dengan itu kita bisa mengakibatkan kerugian yang lebih besar dari pada jika bertindak langsung. Sebuah peperangan antara suku yang tidak mengenal uang hanyalah sekian besarnya, namun pertempuran antara dua kelompok yang dapat mengakumulasi uang dapat memperbesar baik skala maupun jangka waktu pertempuran.

Argumen Simmel juga bisa dilihat secara berbeda. Uang bukan hanya sebagai alat atau tujuan antara melainkan juga dapat menutupi tujuan sesungguhnya. Tujuan sesungguhnya yang secara moral buruk bisa saja ditutupi, karena kegiatan untuk memperoleh uang adalah sesuatu yang netral. Mencari uang yang sekarang telah dianggap sebuah hal yang halal dapat menjadi kedok untuk apa saja, baik itu altruisme atau pun kejahatan yang besar.

Simmel dengan demikian secara tepat menunjukkan lubang dalam argumen bahwa nafsu untuk akumulasi kekayaan dapat meredam nafsu lain, karena di dalam argumen ini, sifat-sifat dari uang, atau lebih tepatnya bagaimana uang mengubah manunia belum dipertimbangkan. Dengan demikian pertanyaan bahwa apakah nafsu dapat ditundukkan oleh nafsu lain tetap menjadi sebuah pertanyaan terbuka.

Daftar Pustaka

_________________. Alkitab Terjemahan Baru. LAI, 1974

Agustinus. On Christian Doctrine. Dalam Rogers, Kelly (ed.) Self Interest. New York: Routledge, 1997

Aristoteles. Nicomachean Ethics. Dalam Rogers, Kelly (ed.) Self Interest. New York: Routledge, 1997

Hirschman, Albert O. The Passions and the Interests. New Jersey: Princeton University Press, 1977

Locke, John. Concerning Civil Government, 1690. Dalam e-text World Library, 1996

Plato. Republic. Dalam Rogers, Kelly (ed.) Self Interest. New York: Routledge, 1997

Simmel, Georg. On the Psychology of Money. Dalam Frisby, David (ed.) Simmel on Culture. London: Sage Publications, 1997

Simmel, Georg. The Philosophy of Money. London: Routledge, 1978


[1] Plato, Republic IV, di dalam Rogers, Self Interest, h.18

[2] Aristoteles, Nicomachean Ethics X, di dalam Rogers, Self Interest, h.24

[3] Epikurus, Letter to Meneoceus, di dalam Rogers, Self Interest, h.34

[4] Pemikiran ini sejalan dengan kitab suci, khususnya dari Surat Paulus kepada Jemaat Roma, 8:5-6,

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

[5] Agustinus, On Christian Doctrine, di dalam Rogers, Self Interest, h.55

[6] Hirschman, The Passions and The Self Interests, h.13

[7] Ibid., h.33,41

[8] Ibid., h.16

[9] Ibid., h.65

[10] Ibid. h.66

[11] Locke, On Property, di dalam Civil Government Second Essay, no.49

[12] Simmel, On the Psychology of Money, di dalam Frisby, Simmel on Culture, h.233-234

[13] Ibid., h.213-214

[14] Ibid., h.233-234

[15] Simmel, The Philosophy of Money, h.232

[16] Kondisinya akan berbeda misalnya seperti penulis George Orwell yang setelah ditugaskan di Birma, salah satu koloni Inggris, melihat bagaimana penduduk setempat dijajah dan ditekan.

[17] Hirschman, The Passions and The Self Interests, h.62

7 Komentar »

  1. Tujuan antara, media yang akhirnya menjadi tujuan sesungguhnya. yah memang ironis. Konon di beberapa negara di beberapa wilayah Amerika karena Krismon kini juga mulai barter lagi karena dianggap lebih langsung. Agak lupa-lupa inget aku. Menurut anda, apakah barter itu baik di saat seperti ini ???

    untuk saat ini, uang belum menjadi masalah, baru kredit yang menjadi masalah (bukan tidak mungkin di masa depan, dolar anjlok beneran, karena orang tidak percaya lagi dengan pemerintah amerika serikat). jika uang gagal, barter adalah solusinya.
    tapi mari kita lihat kerugiannnya:
    1) Sulit mencari 2 orang yang bisa saling membutuhkan sehingga mereka bisa barter. Misal, aku punya beras butuh telor, dan bisa ketemu dengan orang yang punya telur dan butuh beras. Dengan uang kita bisa tukarkan dengan uang dulu, yang nantinya kita tukarkan dengan yang kita butuhkan.
    2) Pertukaran dengan barter sulit dipecah. Kalau punya kambing satu, sedangkan orang yang butuh daging kambing 1 kilo saja akan sulit barter dengan kita. Dengan uang semuanya ini tentu mudah diselesaikan dengan menukar uang kecil.
    Uang sebagai media tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah uang bisa ditumpuk, sementara barang tidak. Apalagi sekarang dengan uang digital, yang bisa ditumpuk tanpa makan tempat.
    Untuk segala komplikasi soal uang ini akan kubahas di tulisan lain.

    Komentar oleh lovepassword — Juli 28, 2009 @ 11:14 am

  2. tulisan Oni selalu TOP MARKOTOP!

    makasih mas… sudah menyambangi tulisan saya. silakan kasih masukan dan kritik.

    Komentar oleh didik — Juli 29, 2009 @ 3:06 am

  3. Terima kasih atas artikelnya. Saya seperti membaca ringkas kisah sejarah filsafat barat mengenai nafsu manusia akan barang duniawi.

    Hanya saja, ide utama tulisan ini baru saya temukan pada paragraf ke-8. Pada paragraf2 awal, sembari saya melirik judul tulisan ini, saya tidak dapat menangkap dengan segera apa yang hendak Anda sampaikan.😦 Saya sempat bertanya2, “Apa hubungannya antara nafsu manusia dan ilusi kedamaian dari pengejaran kekayaan??”

    Saran saya: tambahkan pengantar to-the-point pada paragraf pertama, lalu flash-back ke ulasan mengenai filsuf2 Yunani kuno, baru kemudian kembali pada topik utama…🙂

    Salam kenal.
    http://hirekaeric.wordpress.com


    terima kasih atas sarannya. aku pikir juga begitu. nanti akan kuubah dengan menambahkan satu paragraf sebagai pengantar. itulah repotnya menulis filsafat, kadang kala kita merasa orang lain pasti bisa mengerti apa yang ada di kepala kita padahal belum tentu. hehe…
    sebenarnya tulisan ini masih jauh dari maksimal. aku harus melengkapinya dengan membaca On Property-nya John Locke. dan penjelasan tentang la doux commerce juga perlu tempat lebih banyak. panjang esai ini paling tidak masih bisa diperpanjang sampai dua kali dari tulisan ini.

    Komentar oleh Hireka — Juli 29, 2009 @ 9:01 am

  4. Definisi nafsu sendiri sepertinya memang harus diperdebatkan. Apakah jahat, apakah baik, apakah netral?

    wah panjang ceritanya…
    hanya saja dalam sejarah umat manusia, nafsu selalu gagal ditundukkan rasio. bahkan agama pun bisa dilihat sebagai nafsu, nafsu masuk surga…
    dan di jaman sekarang nafsu yang dianggap baik adalah keserakahan. semua sendi hidup kita dipenuhi dengan motif ekonomi. semua diukur dengan keberhasilan ekonomi. teologi pun jadi teologi sukses… jadi kaya pun ada cara syariah…

    Komentar oleh Budaya Pop — Agustus 3, 2009 @ 8:38 am

  5. Saya memahami nafsu dan rasio sebagai 2 wajah/ aspek yang berbeda dari 1 hal yang sama, yaitu minda (mind). Minda yang tidak terkendali layaknya kuda liar, bukannya membuat hidup manusia lebih mudah (sebagai alat transportasi di zaman dulu misalnya), salah-salah membuat orang cedera.

    Sedang uang bersifat netral dalam pandangan saya. Yang bisa menentukan peran uang dalam hidup tiap individual adalah sikap (kemelekatan) orang tersebut terhadap uang (materi) itu sendiri.

    Kalau soal nafsu dan rasio, aku tidak sependapat dengan anda. Nafsu menurutkan adalah impuls dari badan kasar kita, yang biasanya dipicu oleh kebutuhan2 dasariah: makan, seks, takut, survival, dll.
    Lalu bagaimana dengan nafsu2 lain seperti nafsu akan kuasa, uang, dll. Bukankah itu bukan lagi terkait dengan impuls dari badan kasar. Masih terkait, karena itu adalah turunan dari kebutuhan2 dasariah kita. Nafsu akan kuasa adalah nafsu untuk menguasai, yang turun dari nafsu agresi pada setiap makhluk hidup demi kelangsungan hidupnya. Ia mampu bertransformasi dalam bentuk yang lebih rumit karena manusia punya akal.
    Pikiran sendiri, adalah kemampuan manusia melihat kaitan logis dan abstrak antara entitas-entitas di dalam kehidupan. Ia membuat kita bisa menyambungkan satu peristiwa dengan yang lain, satu benda dengan yang lain. Ia adalah kemampuan berabstraksi. Ia membuat kita bisa merencanakan masa depan, dan merenungi masa lampau.
    Soal uang aku pada umumnya sependapat. Hanya saja, uang pada saat ini telah menjadi sebuah berhala yang melebihi berhala2 yang pernah ada di jaman dulunya. Ia adalah sebuah berhala universal. Keuniversalannya inilah yang membuatnya unik, dan membuat ia sulit untuk dilawan, kecuali oleh mereka yang kuat hatinya.

    Komentar oleh illuminationis — September 8, 2009 @ 11:56 pm

  6. tercerahkan sekali, kami yg awam sama filsafat ini, mas oni. terimakasih banyak. salam sama kris ya….

    wah. terima kasih bang sudah mau “bersusah-susah” menelan tulisanku. kuusahakan bahasa dan idenya semudah mungkin, tanpa menghilangkan esensi. mudah2an bisa dinikmati, sukur2 memberi sumbangan ide. kalau mencerahkan, aku belum berani mengklaim sejauh itu. buat sekedar senam otak saja.

    Komentar oleh papa amartya siadari — September 9, 2009 @ 9:04 am

  7. MET Tahun Baru Pak

    Komentar oleh lovepassword — Desember 31, 2009 @ 10:06 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: