On Everything

Januari 21, 2010

Bhagavad Gita sebagai Petunjuk Hidup dalam Dunia Ramai

Filed under: Tentang Agama,Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 3:23 am
Tags: ,

Beberapa agama dan aliran kepercayaan memiliki aliran asketik. Asketisme juga mendapatkan tempat yang tinggi sehingga menjadi semacam hidup yang ideal. Kecenderungan ini dapat dilihat misalnya dengan penempatan para askese di tempat yang tinggi di dalam masyarakat. Para askese juga dianggap lebih dengan dengan yang ilahi. Dengan demikian ia menjadi semacam hidup ideal untuk mencapai kesempurnaan, sebagai sebuah jalan menuju nirvana.

Namun ada semacam kontradiksi yang antara hidup bermasyarakat dan hidup asketik. Jika ia adalah sebuah gambaran hidup yang paling ideal, bukankah dengan demikian lebih baik semua orang menjadi asketik saja. Apakah kehidupan di dunia ini bisa berjalan bila semua orang menjadi pertapa? Nampaknya sulit. Lalu apakah jalan menuju surga dengan demikian tidak mungkin untuk orang biasa? Jawaban atas pertanyaan inilah yang ditawarkan oleh Bhagavad Gita.

Gita sebagai petunjuk bagi Arjuna

Arjuna adalah seorang satria. Ia bukan seorang pertapa yang meninggalkan dunia untuk mencari kesempurnaan hidup. Ia adalah seorang “man of action”. Arjuna adalah gambaran dari kita semua, yang masih terlibat di dalam dunia. Krsna menunjukkan, bahwa walaupun kita terlibat penuh di dalam dunia, kita tetap bisa mencapai kesempurnaan hidup.

Gita dengan demikian adalah petunjuk hidup bagi mereka yang masih bergulat di dalam dunia ramai, yaitu petunjuk bagi sebagian besar orang. Ia menolak untuk mengatakan bahwa jalan hidup yang terbaik adalah jalan asketik. Manusia juga bisa mencapai kesempurnaan dan pembebasan melalui jalan hidup sehari-hari.

Dharma dan Karma

Pemahaman akan konsep dharma dan karma adalah sesuatu yang penting untuk memahami Bhagavad Gita. Karma dan dharma sendiri adalah sebuah konsep yang berkembang di India, yang tidak terbatas pada ajaran agama baik Hindu atau pun Buddha. Ia bukan milik khas agama manapun.

Dharma adalah sebuah kata yang sulit untuk diterjemahkan.[1] Secara sempit ia bisa diterjemahkan sebagai kewajiban. Ia adalah semacam tatanan kehidupan, yang merupakan hukum universal yang mengatur seluruh alam semesta, bahkan sebelum penciptaan. Contohnya, adalah dharma seekor kerbau untuk memamah biak, adalah dharma seekor ular untuk menjadi pemangsa. Kehidupan di dunia ini berjalan bila masing-masing makhluk, baik yang hidup atau yang mati, menjalankan dharma-nya. Secara lebih spesifik, dharma dalam tradisi veda berarti penerapan dari dharma yang universal itu sendiri, yaitu segala macam kewajiban hidup yang sesuai dengan hukum universal. Dalam penerapannya di dalam masyarakat India, masyarakat dikategorikan ke dalam beberapa kelas sesuai dengan kewajibannya, yang dikenal dengan istilah kasta atau varna.[2]

Karma dalam arti aslinya adalah persembahan atau pengorbanan, dan akibat atau efek dari persembahan yang dilakukan, yang merupakan hukum yang tidak terbantahkan. Dalam tradisi veda, misalnya kita mendambakan surga, maka kita harus melakukan persembahan agnistoma. Mendapatkan surga adalah sesuatu yang otomatis bagi orang yang melakukan persembahan itu, sebagai sebuah hukum yang tidak terbantahkan. Bahkan tidak ada perantara antara persembahan dan efeknya, ia adalah sesuatu yang niscaya.[3]

Dengan berkembangnya Upanisad sebagai sebuah kritik terhadap tradisi persembahan dalam veda, makna karma mengalami perubahan. Upanisad mengkritik bahwa persembahan yang dilakukan menurut tradisi veda tidak mampu menyelamatkan manusia dari lingkaran penderitaan siklus kehidupan (samsara). Upanisad memperkenalkan makna karma yang lebih luas untuk menjelaskan ini, dengan memanfaatkan akar kata dari karma sendiri, yaitu kr, yang berarti tindakan. Karma sekarang diartikan sebagai seluruh tindakan manusia, beserta dengan akibatnya. Sebuah tindakan tidak hanya berakibat bagi dunia sekitarnya, melainkan juga berakibat pada sang pelaku tindakan. Tindakan yang baik menghasilkan akibat yang baik bagi sang pelaku, dan demikian juga sebaliknya, tindakan yang buruk berakibat buruk bagi sang pelaku.[4]

Pengertian karma jika disandingkan dengan paham reinkarnasi yang juga dianut dalam tradisi Hindu memiliki konsekuensi yang lebih luas. Dikatakan bahwa jika seorang melakukan karma baik, ia akan dilahirkan dalam kasta yang lebih tinggi pada kehidupan berikutnya, atau malah menjadi dewa. Demikian juga sebaliknya, karma buruk akan membuat seseorang dilahirkan dalam kasta yang lebih rendah, atau malah menjadi binatang atau masuk ke dalam neraka.[5]

Dilema Arjuna

Kehidupan di dunia seolah memberikan posisi pemain kepada kita di dalam panggung sandiwara. Ada yang menjadi raja, ada yang menjadi pelayan, ada yang menjadi pedagang dan ada yang menjadi prajurit. Semuanya terhubung dalam rantai kehidupan. Namun kita selaku pelaku di dalam sandiwara ini sering berkonflik satu sama lain. Yang satu hidup dengan menindas bahkan memakan yang lain. Hal yang sama di alami oleh Arjuna. Ia tahu bahwa membunuh adalah perbuatan yang tercela. Tetapi apabila ia berhadapan dengan kejahatan, dalam hal ini diwakili oleh para Kurava, apakah membunuh dibolehkan atau tidak. Ia menghadapi dilema. Dharma Arjuna sebagai satria (ksatriyadharma) mengharuskan dia untuk menegakkan keadilan, dan demikian membunuh Kurava. Namun dharma Arjuna sebagai sanak saudara (kuladharma) bagi Kurava mengharuskan ia untuk mengasihi mereka. Dengan kata lain satu dharma bertentangan dengan yang lainnya.[6] Dalam kutipan Bhagavad Gita digambarkan sebagai berikut:

Dan aku melihat pertanda buruk, O Kesava, dan aku juga tidak melihat sesuatu yang baik dengan membunuh sanak saudaraku sendiri dalam pertempuran.

Aku tidak mendambakan kemenangan, O Krsna, tidak juga kerajaan, tidak juga kenikmatan. Apa gunanya kerajaan bagi kita, O Krsna, atau kenikmatan atau bahkan hidup?

Mereka yang menginginkan kerajaan, kenikmatan dan kesenangan, mereka berdiri di medan perang, menyangkal hidup mereka dan harta mereka.

Guru, ayah, anak dan juga kakek; paman dan mertua, cucu dan ipar dan saudara yang lain.

Kenikmatan apa yang dapat kita peroleh, O Krsna, setelah kita membantai putra-putra Dhrtarastra? Hanya dosa yang kita perbuat jika kita membunuh orang-orang jahat ini. (Bhagavad Gita I: 31-36)[7]

Sebuah hal yang menarik dapat ditarik dalam dilema Arjuna ini. Dilema ini tidak dihadapi oleh Duryadana, di pihak Kurava. Duryudana tidak mengalami kebimbangan, ia yakin bahwa perang yang ada di hadapannya adalah sebuah perang yang benar, untuk memperebutkan tahta kerajaan Astina. Ia hanya melihat satu dharma baginya, yaitu dharma seorang raja.[8] Ini adalah sebuah simbolisme yang menarik. Di saat kita mengalami konflik di dalam hidup, itu justru adalah sebuah pertanda yang baik. Itu berarti sebuah ujian bagi kita yang menjadi kesempatan diri bagi kita untuk dapat melihat hukum mana yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kisah Duryudana tersebut bisa diparalelkan dengan seorang manajer misalnya, yang tanpa ragu membuat keputusan untuk memecat karyawannya karena perusahaan mengalami kerugian. Ia hanya melayani satu kepentingan yaitu kepentingan pemilik perusahaan.

Arjuna sebaliknya mengalami konflik batin yang sangat hebat. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan Bhagavad Gita:

Ia diselimuti dengan rasa kasihan dan mengatakan ini dengan sedih;

Ketika aku melihat kaumku berjejer dan tak sabar untuk bertarung O Krsna,

Kaki tanganku gemetar, mulutku kering, tubuhku terguncang dan bulu kudukku berdiri.

Gandiva (busur) terlepas dari genggamanku dan kulitku terbakar di mana-mana. Aku tak mampu lagi berdiri. Pikiranku bingung. (Bhagavad Gita I: 28-30)[9]

Ia melihat bahwa pertarungan perebutan tahta tersebut tidak benar pada dirinya sendiri, bahkan sebagai sesuatu yang kotor bersimbah darah. Arjuna hanya melihat satu jalan untuk mengatasi dilema ini yaitu keluar dari tanggung jawab untuk memimpin perang. Ia lebih baik mengalah dibandingkan dengan membunuh sanak saudara sendiri. Dalam kutipan Bhagavad Gita ia berkata:

Oh, betapa besar dosa yang kita lakukan dengan membunuh kaum kita sendiri karena nafsu akan tahta kerajaan!

Lebih baik bagiku jika putra-putra Dhrtarastra, dengan senjata di tangan, membunuhku di medan peperangan, sementara aku tidak melawan dan tidak bersenjata. (Bhagavad Gita I:45-46)[10]

Dilema justru sesuatu yang baik. Ia tengah mengalami perang di dalam dirinya, dan jika ia berhasil memenangkan perang tersebut, maka ia akan menjadi seorang manusia yang lebih baik. Untuk inilah Bhagavad Gita dibuat, untuk kita yang terjun di dalam dunia sehari-hari yang penuh dengan konflik.

Arjuna hanya melihat satu jalan keluar dari dilema ini yaitu menyangkal dirinya dan lari dari tanggung jawabnya sebagai satria dan menjadi pertapa, dan hidup dari meminta-minta Dengan itu ia dapat menghindari dilema ini dan menjadi seorang askese. Arjuna melihat kehidupan asketik sebagai sesuatu yang baik, dan ia juga dapat menghindari karma buruk akibat membunuh saudara sendiri. Di dalam Bhagavad Gita ia berkata:

Bagaimana mungkin aku harus membunuh Bhisma dan Drona, yang layak aku sembah, O Madhusudana, dengan panah di medan perang, O Arisudana?

Lebih baik aku hidup di dunia ini dengan mengemis dari pada membunuh guru yang terhormat. Meskipun mereka sadar akan pilihan mereka, mereka adalah guru-guruku dan dengan membunuh mereka, aku hanya akan mendapatkan kenikmatan dunia yang dinodai darah. (Bhagavad Gita II:4-5).[11]

Dengan melarikan diri dari tanggung jawab sebagai seorang satria, Arjuna mengira ia dapat membebaskan diri dari karma buruk yang akan ditanggungnya jika ia tetap maju ke medan perang. [12] Kesemuanya ini memberikan dilema yang berat bagi Arjuna, yang membuat dia tidak dapat melanjutkan untuk maju ke medan perang. Di titik inilah ia minta bantuan kepada Krsna, penasehatnya, sekaligus kusirnya di medan perang.

Solusi Krsna

Krsna menggugat paham Arjuna yang melihat bahwa melarikan diri dari tindakan adalah solusi dari dilemanya. Tidak bertindak (non-action) bukanlah solusi. Yang harus dilakukan adalah tidak mengharapkan buah dari tindakan kita. Krsna dengan ini juga menggugat tradisi yang biasa dikenal dalam veda, yang mengharapkan buah baik dari perbuatan, baik itu kenikmatan, ketentraman, kekuatan, atau bahkan surga. Hanya dengan membebaskan diri dari karma, baik karma baik maupun karma buruk, seorang dapat mencapai pembebasan dari samsara.[13]

Krsna kemudian dengan panjang lebar menjelaskan bahwa ketiadaan tindakan adalah sesuatu yang tidak mungkin selama kita masih terikat dengan dunia materi. Kita butuh makan, minum dan bekerja, supaya bisa tetap hidup. Di dalam Bhagavad Gita dituliskan seperti ini:

Tidak ada seorang pun yang dapat hidup bahkan dalam sekejap tanpa melakukan tindakan; setiap orang tidak dapat menahan dorongan alam untuk bertindak. (Bhagavad Gita III:5)[14]

Orang umumnya hanya menghindarkan diri dari tindakan yang buruk untuk menghindarkan karma baik. Namun ajaran Bhagavad Gita berangkat lebih jauh. Orang yang berbuat baik dan mengharapkan karma baik, juga terikat dengan karma baik. Ia harus terlahir kembali untuk menerima buah baik dari tindakannya. Hanya dengan melepaskan diri dari keinginan untuk mendapatkan buah dari tindakan, seorang bisa membebaskan diri dari karma, dan dengan demikian membebaskan diri dari samsara.

Tugas manusia yang masih hidup, dan terikat dengan dunia materi adalah menjalankan pemeliharaan dunia (lokasamgraha), dengan melakukan siklus pengorbanan (yajna). Hanya meletakkan perbuatan kita pada pemeliharaan dunia, kita dapat membebaskan diri dari karma perbuatan kita. Inilah tujuan kita hidup di dunia, yaitu ikut serta dalam proses penyelenggaraan dunia itu sendiri.[15]

Di dalam simbolisme, ini digambarkan dengan Krsna yang menjadi kusir bagi Arjuna. Arjuan, atau jiwa manusia, adalah sang penumpang dari kereta. Kereta sendiri adalah gambaran dari tubuh manusia. Tanpa kereta tersebut kita tidak dapat bertindak. Kereta itu ditarik oleh lima ekor kuda yaitu nafsu-nafsu indrawi manusia. Tanpa kuda, kereta juga tidak dapat bergerak. Adalah tugas dari Krsna sebagai kusir kereta untuk mengekang kuda supaya tidak berjalan sesuka hatinya. Kusirlah yang mengarahkan kereta supaya berjalan sesuai dengan arah yang diinginkan. Manusia sebagai penumpang dari kereta haruslah menyerahkan dirinya pada kusir supaya menuntun keretanya ke jalan yang benar, bukan mengikuti kehendak kuda yang mengarahkan keretanya. Di dalam Bhagavad Gita dituliskan seperti ini:

Oleh karena itu, O yang terbaik dari Bharata, kendalikanlah indramu dari semula dan bunuhlah pendosa yang merusak kebijaksanaan dan diskriminasi. (Bhagavad Gita III:41)[16]

Inilah solusi yang diberikan Krsna kepada Arjuna. Ini adalah solusi bagi semua orang yang masih bergulat di dunia untuk membebaskan diri dari samsara. Yang kita lakukan bukanlah berhenti dari pekerjaan kita dan menjadi pertapa. Lakukanlah pekerjaan kita dengan seluruh kesungguhan, namun tidak berharap hasil dari pekerjaan itu sendiri. Dengan menjalankan dharma kita sebaik-baiknya, kita hanya menjadi alat bagi roda dunia yang berputar, dan oleh karena itu kita tidak menanggung akibatnya.

Daftar Pustaka

Klostermaier, Klaus K. Hinduism. Oxford: One World Publication, 1998.

Malinar, Angelika. The Bhagavad Gita. Cambridge: Cambridge University Press, 2007.

Radakrishnan, S. The Bhagavad Gita. London: George Allen  Unwin Ltd, 1948.


[1] Agama Hindu sendiri menyebut dirinya sebagai Sanatana Dharma, yang artinya hukum yang abadi. Namun pengertian dharma di sini tidak sama persis dengan agama dalam pengertian agama Barat.

[2] Klostermaier, Hinduism, 1998, h.5

[3] Ibid., h.40

[4] Ibid., h.40-41

[5] Ibid., h.41

[6] Bdk. Malinar, The Bhagavad Gita, 2007, h.227

[7] Radhakrishnan,  The Bhagavad Gita, 1948, h.90-91

[8] Malinar, 2007, h.227

[9] Radhakrishnan, 1948, h.89-90

[10] Ibid., h.94

[11] Ibid., h.99

[12] Malinar, 2007, h.228

[13] Ibid., h.229

[14] Radhakrishnan, 1948, h.133

[15] Malinar, 2007, h.230

[16] Radhakrishnan, 1948, h.149

1 Komentar »

  1. […] : https://onisur.wordpress.com/2010/01/21/bhagavad-gita/ Daftar Pustaka Klostermaier, Klaus K. Hinduism. Oxford: One World Publication, […]

    Ping balik oleh Bhagavad Gita sebagai Petunjuk Hidup dalam Dunia Ramai : CANANGSARI — Maret 31, 2010 @ 5:50 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: