On Everything

Juli 8, 2010

Metafora

Filed under: Tentang Bahasa — Oni Suryaman @ 7:18 am
Tags: ,

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan seorang anak sekalipun bisa menangkap makna sebuah metafora. Namun hal yang biasa ini menjadi semacam hantu bagi para ahli linguistik karena ia menjadi sebuah misteri untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, namun makna kiasan di dalam metafora sungguh sulit untuk dijelaskan. Tidak terlalu berlebihan kalau Lycan (2000) memberi judul “The Dark Side” pada bagian yang menjelaskan tentang metafora ini.

Metafora juga menjadi bagian yang sangat penting dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Makna kata yang sesuai dengan makna kamus disebut dengan makna leksikal. Hampir semua kata yang memiliki makna leksikal tersebut bisa dipakai secara metaforis. Bahkan dalam perkembangan waktu, makna metaforis mampu mengambil alih makna leksikal sehingga ia lebih dikenal dengan makna metaforisnya ketimbang makna leksikalnya, sehingga makna yang mulanya metaforis menjadi makna leksikal yang baru. (more…)

Iklan

Maret 31, 2009

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sebuah Tirani Bahasa?

Filed under: Tentang Bahasa,Tentang Budaya,Tentang Indonesia — Oni Suryaman @ 4:52 am
Tags: ,

Aku tergelitik untuk menulis ini untuk menanggapi resensi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 4 yang tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, di Majalah Tempo edisi 30 Maret 2009.

bisa diklik di sini

Lengkapnya saya kutipkan di sini:

Kamus Besar yang Agak Terlalu Sempurna

Nikolaos van Dam
Duta Besar Belanda untuk Indonesia

kkbi-3MEREKA yang mengira bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah akan segera menyadari betapa rumitnya jika mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari sastra dan bentuk tulisan lainnya.

Salah satu hambatan bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia adalah luasnya kosakatanya. Kenyataan bahwa bahasa ini memiliki 20 ribu kata serapan dari berbagai bahasa, yang tersusun dalam Loan-Words in Indonesian and Malay (2008) karya Russell Jones, bisa mengarah pada kesimpulan yang salah, seolah-olah bahasa Indonesia adalah bahasa yang relatif miskin dengan kosakata asli yang agak terbatas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) dengan 90 ribu butir masukan dan subbutir masukan jelas memperlihatkan justru sebaliknya, dan menggarisbawahi kekayaan linguistik dan budaya bahasa Indonesia. (more…)

Desember 4, 2008

Pierre Bourdieu: Bahasa dan Kekuasaan Simbolik

bourdieuBahasa adalah sebuah produk budaya, dan oleh karena itu tidak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya. Di dalam buku Languange and Symbolic Power, ia mengkritik adanya bahasa formal atau bahasa murni. Ia keberatan, misalnya, dengan pemisahan antara langue dan parole yang dilakukan oleh Saussure. Bahasa formal itu menurutnya tidak pernah ada. Ia selalu merupakan proses sosial yang kompleks, yang terkait dengan sejarah dan proses sosial setempat.[1]

Pertukaran linguistik, yang adalah sebuah relasi komunikasi antara pengirim dan penerima pesan, karena ia adalah sebuah konteks sosial, adalah juga sebuah pertukaran ekonomi. Di dalamnya berlaku juga logika ekonomi seperti produsen dan konsumen, modal linguistik, dan pasar di mana orang bisa memperoleh keuntungan baik material maupun simbolik. Dengan kata lain, ujaran tidak hanya untuk dimengerti, melainkan juga adalah sebuah tanda kekayaan (sign of wealth) dan tanda kekuasaan (sign of authority), yang bisa memaksakan sebuah dominasi. Dalam kenyataannya sehari-hari, bahasa jarang dipakai hanya sebagai sebuah alat komunikasi. Di dalam usaha komunikasi tersebut bahkan sering terjadi pertentangan kepentingan antara penyampaian informasi dengan keinginan untuk mendapatkan keuntungan simbolik.[2] (more…)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.