On Everything

Agustus 4, 2010

Refleksi tentang Manhattan Project dalam Kerangka Konstitutif dan Konstruktif Sains

Filed under: Tentang Filsafat,Tentang Ilmu Alam — Oni Suryaman @ 7:26 am
Tags: ,

Manhattan Project adalah sebuah proyek yang diinisiasi oleh pemerintahan Franklin Roosevelt dalam menghadapi tantangan Perang Dunia II. Eskalasi dalam Perang Dunia Kedua menimbulkan sebuah kebutuhan akan senjata pamungkas pengakhir perang, ditambah dengan ketakutan kalau senjata pamungkas ini dibuat terlebih dahulu oleh pihak lawan. Proyek ini dipicu oleh sebuah surat yang ditulis oleh Szilard dan Einstein, yang mengungkapkan sebuah kemungkinan akan senjata nuklir, yang memanfaatkan tenaga tersembunyi di dalam atom. Proyek ini pun dimulai di bawah manajer seorang kolonel bernama Leslie Richard Groves, dan dikepalai oleh seorang ilmuwan yang mumpuni, Robert Oppenheimer. Sekumpulan ilmuwan dan insinyur dari berbagai bidang pun dikumpulkan di beberapa kompleks, yang salah satunya bertempat di Los Alamos, New Mexico.

Ada dua hal yang bisa dicermati dalam pembentukan proyek ini. Pertama, ia diinisiasi oleh sebuah tindakan politik dalam situasi perang. Ia menjadi alat pemenangan sebuah perang, dan juga sebuah alat dengan alasan kemanusiaan untuk mencegah perang berkepanjangan yang menghabiskan nyawa banyak prajurit, atau kemungkinan terburuk yaitu menangnya pihak lawan yaitu Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang. Tanpa adanya tekanan dari sebuah perang, proyek yang membutuhkan banyak sumberdaya ini mungkin tidak akan terwujud, paling tidak mustahil terwujud dalam waktu singkat. Kedua, dunia ilmu fisika memang telah berkembang sedemikian rupa sehingga semua kerangka teoretis dan praktis telah mengarah pada sebuah kemungkinan untuk menciptakan senjata atom. Tanpa perkembangan ini, kemungkinan pembuatan sebuah senjata atom adalah tentulah mustahil. Kedua hal ini dalam bahasa Longino disebut dimensi kontekstual, yaitu tindakan politik yang menginisiasi proyek ini, dan dimensi konstitutif, yaitu perkembangan ilmu fisika atom. (more…)

Iklan

Juli 21, 2010

Adakah Pengetahuan A Priori?

Filed under: Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 7:19 am
Tags: ,

Masalah pengetahuan a priori adalah salah satu tema besar dalam epistemologi. Tema ini pertama kali diusung oleh Immanuel Kant di dalam The Introduction to the Critique of Pure Reason. Di sana ia mengenalkan kerangka konseptual melalui tiga distingsi. Distingsi tersebut adalah (1) distingsi epistemik antara pengetahuan a priori dan pengetahuan empiris, (2) distingsi metafisis antara proposisi niscaya dan kontingen, dan (3) distingsi semantik antara pernyataan analitik dan sintetik. Dalam kerangka itu Kant mengajukan empat pertanyaan:[1]

  1. Apakah pengetahuan a priori itu?
  2. Adakah pengetahuan a priori?
  3. Apakah hubungan antara yang a priori dan yang niscaya?
  4. Adakah pengetahuan sintetik a priori?

Kant menyatakan bahwa pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang tidak tergantung dari pengalaman. Kant tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep pengetahuan a priori ini melainkan langsung menunjukkan bahwa ada pengetahuan yang memenuhi kondisi ini di dalam analisisnya. Kant menawarkan dua kriteria analisis, yaitu keniscayaan dan universalitas, yang ia klaim tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebagai contoh ia mengemukakan pernyataan matematis yang adalah niscaya, dan kita tahu bahwa pernyataan matematis seperti itu ada, maka pengetahuan a priori ada.[2]

Untuk menjelaskan hubungan antara keniscayaan dan pengetahuan a priori, Kant mengemukakan tesis berikut:[3]

  1. Semua pengetahuan tentang pernyataan niscaya adalah a priori
  2. Semua pernyataan yang diketahui secara a priori adalah niscaya (more…)

Januari 5, 2009

Newton dan Leibniz, dan Konstruksi Baru Sains

newton_by_blake

Perseteruan antara Newton dan Leibniz telah sering diceritakan di dalam banyak buku teks maupun buku-buku ilmiah populer lainnya. Yang dibahas di dalamnya biasanya adalah mengenai klaim penciptaan kalkulus. Sebuah perdebatan lain sering kali lolos dari perhatian banyak orang, dan perdebatan inilah yang diangkat oleh Cassirer di dalam sebuah tulisannya di dalam Jurnal The Philosophical Review. Perdebatan ini adalah mengenai posisi epistemologis kedua raksasa filsafat ini dalam melihat ilmu alam atau—di dalam bahasa yang dipakai di zaman itu—filsafat alam.

Untuk melihat perbedaan yang mendasar di antara kedua filsuf alam tersebut bukanlah sebuah perkara yang mudah. Sentimen-sentimen yang menyertai perdebatan tersebut mengaburkan esensi dari perdebatan itu sendiri. Surat menyurat yang terjadi di tahun 1715 dan 1716 antara Leibniz dan Samuel Clarke yang membela Newton juga tidak banyak membantu untuk melihat masalah ini lebih jelas. Bahkan tuduhan-tuduhan yang saling dilontarkan satu sama lain malah melebar pada masalah agama. Untuk itu kita perlu masuk ke dalam pemikiran kedua filsuf ini secara mendasar supaya bisa memahami betul inti perdebatan mereka.[1] (more…)

Blog di WordPress.com.