On Everything

Agustus 23, 2010

Agama di dalam Ruang Publik*

Filed under: Tentang Agama,Tentang Filsafat,Tentang Politik — Oni Suryaman @ 12:58 am
Tags: , , ,

*Berdasarkan tulisan Jürgen Habermas: Religion in the Public Sphere yang dipresentasikan pada Seminar Holberg Prize pada tanggal 29 November 2005

Modernisme yang meramalkan semakin berkurangnya pengaruh agama dalam kehidupan manusia  tidak terbukti. Agama masih segar bugar bahkan telah menunjukkan kebangkitannya terutama sejak abad ke-20. Gerakan fundamentalisme dan bangkitnya pemahaman ortodoks menjadi gejala di mana-mana. Agama pun makin menunjukkan pengaruhnya di dalam ruang politik. Isu-isu agama bisa menentukan presiden atau walikota mana yang terpilih, undang-undang mana yang disahkan, bahkan sampai pada konstitusi negara, dan ini tidak terbatas pada negara yang berwujud teokrasi. Meskipun demikian, kadang sulit untuk melihat apakah agama menjadi semakin berpengaruh secara substantif atau sekedar menjadi alat politik untuk mencapai kekuasaan. Dengan melihat hal di atas, sulit untuk mengabaikan agama di dalam membahas ruang publik.

Bagaimana lalu agama dapat hidup dalam sebuah negara modern yang menganut paham liberal. Agama tidak lagi menjadi pusat dari segala sesuatu termasuk justifikasi politik dan moral seperti halnya pada abad pertengahan Eropa. Agama telah digeser dari panggung pertunjukan utama menuju sudut panggung, meskipun belum lenyap sama sekali bahkan menunjukkan suara yang makin lama makin nyaring. Bagaimana agama dapat hidup dalam premis-premis negara liberal dengan kesetaraan dan rasionalitas. Bagaimana pula agama dapat hidup dalam keputusan-keputusan politis yang diambil dengan pertimbangan logis dan saintifik tanpa menyertakan nilai-nilai agama dalam pengambilan keputusannya. (more…)

Iklan

Agustus 4, 2010

Refleksi tentang Manhattan Project dalam Kerangka Konstitutif dan Konstruktif Sains

Filed under: Tentang Filsafat,Tentang Ilmu Alam — Oni Suryaman @ 7:26 am
Tags: ,

Manhattan Project adalah sebuah proyek yang diinisiasi oleh pemerintahan Franklin Roosevelt dalam menghadapi tantangan Perang Dunia II. Eskalasi dalam Perang Dunia Kedua menimbulkan sebuah kebutuhan akan senjata pamungkas pengakhir perang, ditambah dengan ketakutan kalau senjata pamungkas ini dibuat terlebih dahulu oleh pihak lawan. Proyek ini dipicu oleh sebuah surat yang ditulis oleh Szilard dan Einstein, yang mengungkapkan sebuah kemungkinan akan senjata nuklir, yang memanfaatkan tenaga tersembunyi di dalam atom. Proyek ini pun dimulai di bawah manajer seorang kolonel bernama Leslie Richard Groves, dan dikepalai oleh seorang ilmuwan yang mumpuni, Robert Oppenheimer. Sekumpulan ilmuwan dan insinyur dari berbagai bidang pun dikumpulkan di beberapa kompleks, yang salah satunya bertempat di Los Alamos, New Mexico.

Ada dua hal yang bisa dicermati dalam pembentukan proyek ini. Pertama, ia diinisiasi oleh sebuah tindakan politik dalam situasi perang. Ia menjadi alat pemenangan sebuah perang, dan juga sebuah alat dengan alasan kemanusiaan untuk mencegah perang berkepanjangan yang menghabiskan nyawa banyak prajurit, atau kemungkinan terburuk yaitu menangnya pihak lawan yaitu Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang. Tanpa adanya tekanan dari sebuah perang, proyek yang membutuhkan banyak sumberdaya ini mungkin tidak akan terwujud, paling tidak mustahil terwujud dalam waktu singkat. Kedua, dunia ilmu fisika memang telah berkembang sedemikian rupa sehingga semua kerangka teoretis dan praktis telah mengarah pada sebuah kemungkinan untuk menciptakan senjata atom. Tanpa perkembangan ini, kemungkinan pembuatan sebuah senjata atom adalah tentulah mustahil. Kedua hal ini dalam bahasa Longino disebut dimensi kontekstual, yaitu tindakan politik yang menginisiasi proyek ini, dan dimensi konstitutif, yaitu perkembangan ilmu fisika atom. (more…)

Juli 21, 2010

Adakah Pengetahuan A Priori?

Filed under: Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 7:19 am
Tags: ,

Masalah pengetahuan a priori adalah salah satu tema besar dalam epistemologi. Tema ini pertama kali diusung oleh Immanuel Kant di dalam The Introduction to the Critique of Pure Reason. Di sana ia mengenalkan kerangka konseptual melalui tiga distingsi. Distingsi tersebut adalah (1) distingsi epistemik antara pengetahuan a priori dan pengetahuan empiris, (2) distingsi metafisis antara proposisi niscaya dan kontingen, dan (3) distingsi semantik antara pernyataan analitik dan sintetik. Dalam kerangka itu Kant mengajukan empat pertanyaan:[1]

  1. Apakah pengetahuan a priori itu?
  2. Adakah pengetahuan a priori?
  3. Apakah hubungan antara yang a priori dan yang niscaya?
  4. Adakah pengetahuan sintetik a priori?

Kant menyatakan bahwa pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang tidak tergantung dari pengalaman. Kant tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep pengetahuan a priori ini melainkan langsung menunjukkan bahwa ada pengetahuan yang memenuhi kondisi ini di dalam analisisnya. Kant menawarkan dua kriteria analisis, yaitu keniscayaan dan universalitas, yang ia klaim tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebagai contoh ia mengemukakan pernyataan matematis yang adalah niscaya, dan kita tahu bahwa pernyataan matematis seperti itu ada, maka pengetahuan a priori ada.[2]

Untuk menjelaskan hubungan antara keniscayaan dan pengetahuan a priori, Kant mengemukakan tesis berikut:[3]

  1. Semua pengetahuan tentang pernyataan niscaya adalah a priori
  2. Semua pernyataan yang diketahui secara a priori adalah niscaya (more…)

Juli 8, 2010

Metafora

Filed under: Tentang Bahasa — Oni Suryaman @ 7:18 am
Tags: ,

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan seorang anak sekalipun bisa menangkap makna sebuah metafora. Namun hal yang biasa ini menjadi semacam hantu bagi para ahli linguistik karena ia menjadi sebuah misteri untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, namun makna kiasan di dalam metafora sungguh sulit untuk dijelaskan. Tidak terlalu berlebihan kalau Lycan (2000) memberi judul “The Dark Side” pada bagian yang menjelaskan tentang metafora ini.

Metafora juga menjadi bagian yang sangat penting dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Makna kata yang sesuai dengan makna kamus disebut dengan makna leksikal. Hampir semua kata yang memiliki makna leksikal tersebut bisa dipakai secara metaforis. Bahkan dalam perkembangan waktu, makna metaforis mampu mengambil alih makna leksikal sehingga ia lebih dikenal dengan makna metaforisnya ketimbang makna leksikalnya, sehingga makna yang mulanya metaforis menjadi makna leksikal yang baru. (more…)

Januari 21, 2010

Bhagavad Gita sebagai Petunjuk Hidup dalam Dunia Ramai

Filed under: Tentang Agama,Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 3:23 am
Tags: ,

Beberapa agama dan aliran kepercayaan memiliki aliran asketik. Asketisme juga mendapatkan tempat yang tinggi sehingga menjadi semacam hidup yang ideal. Kecenderungan ini dapat dilihat misalnya dengan penempatan para askese di tempat yang tinggi di dalam masyarakat. Para askese juga dianggap lebih dengan dengan yang ilahi. Dengan demikian ia menjadi semacam hidup ideal untuk mencapai kesempurnaan, sebagai sebuah jalan menuju nirvana.

Namun ada semacam kontradiksi yang antara hidup bermasyarakat dan hidup asketik. Jika ia adalah sebuah gambaran hidup yang paling ideal, bukankah dengan demikian lebih baik semua orang menjadi asketik saja. Apakah kehidupan di dunia ini bisa berjalan bila semua orang menjadi pertapa? Nampaknya sulit. Lalu apakah jalan menuju surga dengan demikian tidak mungkin untuk orang biasa? Jawaban atas pertanyaan inilah yang ditawarkan oleh Bhagavad Gita. (more…)

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.