On Everything

Juli 8, 2010

Metafora

Filed under: Tentang Bahasa — Oni Suryaman @ 7:18 am
Tags: ,

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan seorang anak sekalipun bisa menangkap makna sebuah metafora. Namun hal yang biasa ini menjadi semacam hantu bagi para ahli linguistik karena ia menjadi sebuah misteri untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, namun makna kiasan di dalam metafora sungguh sulit untuk dijelaskan. Tidak terlalu berlebihan kalau Lycan (2000) memberi judul “The Dark Side” pada bagian yang menjelaskan tentang metafora ini.

Metafora juga menjadi bagian yang sangat penting dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Makna kata yang sesuai dengan makna kamus disebut dengan makna leksikal. Hampir semua kata yang memiliki makna leksikal tersebut bisa dipakai secara metaforis. Bahkan dalam perkembangan waktu, makna metaforis mampu mengambil alih makna leksikal sehingga ia lebih dikenal dengan makna metaforisnya ketimbang makna leksikalnya, sehingga makna yang mulanya metaforis menjadi makna leksikal yang baru.

Apa itu metafor. Sebuah definisi yang meskipun tidak sempurna bisa kita pakai sekedar sebagai sebuah petunjuk:

Metafor adalah penggunaan bahasa secara non-literal, yang di dalamnya mengandung perbandingan atau identifikasi.[1]

Kata metafor sendiri berasal dari kata Yunani: meta dan phor. Meta adalah prefiks yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan, sedangkan kata phor berasal dari kata pherein yang berarti membawa. Dengan demikan arti kata metafor bisa diartikan sebagai membawa perubahan makna.[2]

Metafora sebagai Perluasan Makna dari Makna Referensial

Makna kata paling mudah untuk dijelaskan dengan cara menunjuk sebuah referensi. Kata “kursi” memiliki makna karena ia menunjuk pada sebuah referen yang kita sebut kursi, yaitu sebuah alat buatan manusia yang diperuntukkan untuk duduk. Makna referensial ini hanya bisa memiliki makna bila ada intersubjektivitas. Kata yang dipakai untuk suatu referen tertentu harus mendapat persetujuan oleh para pemakai bahasa yang lain. Kalau tidak, kata tersebut hanya akan bermakna bagi orang yang mengucapkannya, dan tidak mempunyai makna bagi pendengarnya. Ia akan menjadi bahasa seorang solipsis, yang bertentangan dengan maksud bahasa itu sendiri, karena bahasa adalah sebuah modus komunikasi.

Meciptakan kata baru dengan menggunakan makna referensial tidaklah mudah. Beberapa masalahnya adalah:

  1. Jika kita harus menciptakan setiap kata untuk sebuah referen, kita akan berhadapan dengan jumlah kata yang tidak terbatas, karena referen juga tidak terbatas. Masalah ini disederhanakan dengan generalisasi referen. Kita dengan demikian tidak menciptakan kata untuk seluruh referen yang ada. Penyederhanaan seperti ini juga sebuah pemiskinan pengalaman, karena dengan demikian kata tidak bisa menjelaskan seluruh realitas yang ada. Contohnya adalah bahasa yang dipakai suku primitif yang hanya punya kata untuk satu dan dua; tiga diucapkan dengan “dua satu”, dan empat diucapkan sebagai “dua dua”. Jika ia ingin mengatakan sesuatu yang berjumlah lebih dari empat, ia menggunakan sebuah kata “banyak”.
  2. Menciptakan kata baru untuk sebuah referen baru bukanlah sebuah perkara yang mudah. Selain berhadapan dengan masalah penciptaan kata, kriteria intersubjektivitas membuat kata baru tidak mudah untuk diterima. Kata baru selalu datang dan punah karena tidak diterima oleh pemakainya.

Metafora dapat dihadirkan untuk mengatasi kekurangan ini. Pertama, simili yang mirip dengan metafor dapat dihadirkan. Simili adalah membandingkan sebuah referen dengan kalimat yang memiliki makna yang mirip dengan memakai kata sambung seperti “bagaikan” dan “seperti”. Kita bisa memakai sebuah simili, dengan mengatakan dua orang yang mirip dengan “bagaikan pinang dibelah dunia misalnya.” Ada beberapa simili yang sudah menjadi bentuk baku dan diketahui semua orang dan sudah menjadi konvensi, yang di dalam bahasa Indonesia kerap disebut sebagai peribahasa. Ada pula simili yang dapat diciptakan oleh sembarang pemakai bahasa, dan pendengar diharapkan mampu menebak makna berdasarkan konteks yang ada. Misalnya kita berada di dalam situasi macet luar biasa, dan kita mengatakan “seperti antrian kurban saja”. Kata seperti ini mungkin jarang dipakai, namun karena pendengar tahu bagaimana situasi antrian kurban pada saat lebaran haji, ia bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah macet luar biasa tidak bisa bergerak karena semua ingin berebut jalan terlebih dahulu.[3]

Yang kedua adalah metonimi. Metonimi adalah sebuah kata atau frase yang dipakai untuk menggambarkan kata yang lain. Kata yang dipakai tidak harus sesuatu yang berhubungan secara langsung, namun bisa hanya berhubungan sebagian saja.[4] Metonimi lebih sulit untuk dimengerti tanpa penjelasan lebih jauh daripada simili. Contohnya adalah kata “motor” untuk menggambarkan sebuah kendaraan roda dua yang digerakkan dengan motor. Motor hanyalah sebuah bagian yang menjadi penggerak, namun ia dipakai untuk menggambarkan seluruh kendaraan. Beberapa metonimi bahkan menggantikan arti aslinya. Kata “politik” misalnya, arti aslinya adalah “berhubungan dengan polis (kota)”. Sekarang kata politik hampir tidak pernah dipakai dengan arti aslinya, yang mungkin  hanya dipakai pada kajian filsafat Yunani dan filsafat politik, melainkan dengan makna metoniminya yaitu berhubungan dengan kekuasaan.

Memahami Metafora

Manusia dari sejak masa kanak-kanak mampu menerima arti kiasan. Kemampuan ini umumnya berkembang mulai usia lima sampai enam tahun, dan mencapai kematangan pada usia sepuluh sampai duabelas tahun.[5] Penelitian otak dan neurologi telah menunjukkan bahwa beberapa bagian otak mempunyai fungsi tertentu. Anak-anak pada usia tertentu nampaknya telah mengembangkan kawasan otak tersebut sehingga mampu menerima makna kiasan. Meskipun penelitian belum konklusif, namun anak yang sudah mencapai usia untuk memahami metafor dan belum bisa memahaminya, umumnya berkaitan dengan kerusakan otak pada kawasan tertentu.

Secara linguistik, metafor juga bisa didekati dengan memakai teori relevansi Grice. Grice mengatakan bahwa makna bisa dipahami karena manusia adalah makhluk yang selalu mencari relavansi. Oleh karena itu, bila prinsip-prinsip kooperatif dipenuhi dalam sebuah percakapan, maka ia dapat dipahami oleh pendengar.[6]

Sperber dan Wilson kemudian mengembangkan teori relevansi Grice lebih lanjut untuk memahami metafor. Bila dalam sebuah percakapan seseorang memakai kalimat yang tidak bisa dipahami secara literal, dan dengan memahami konteks pembicaraan yang ada, maka bisa dipastikan kata itu dipakai secara metafor, karena ia tidak akan masuk akan jika dipahami secara literal.[7] Contohnya adalah seperti ini:

A: Apakah kamu yakin bisa menyelesaikan seluruh laporan keuangan itu nanti malam?

B: Bagaimana pun laporan itu harus selesai walaupun aku harus memanggil 1000 jinnya Bandung Bondowoso.

Metafora sebagai Sebuah Modus Berbahasa

Mengapa manusia memakai metafor? Manusia sulit untuk memakai sebuah kata baru. Ini karena manusia selalu mencari relevansi seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.[8]

George Lakoff, seorang murid dari Noam Chompsky, mengatakan bahwa metafor adalah bagian dari sistem kognisi kita sebagai manusia, ia adalah modus kita dalam berpikir dan bertindak.[9] Manusia berpikir dengan melihat kemiripan satu pengalaman dengan yang lain. Fenomena metafor dalam bahasa dengan demikian adalah salah satu cara berpikir manusia. Bahkan metafor bisa memberikan sumbangan balik kepada pengalaman, dengan menggunakan bantuan bahasa untuk menjelaskan sebuah pengamalan yang sulit untuk dijelaskan tanpa menggunakan metafor.

Pengalaman literer telah menunjukkan bahwa makna puitis lebih kaya dari makna literal. Ia bisa menjangkau sebuah kebenaran mitologis yang tidak lekang oleh jaman. Mungkin karena itulah ayat di dalam kitab suci ditulis secara puitis, dengan memanfaatkan metafora.

Secara khusus metofora sendiri bisa memberikan sumbangan banyak untuk penciptaan kata baru. Sebuah kata yang sungguh baru, biasanya sulit untuk diterima oleh masyarakat. Ini dikarenakan kita gagal melihat relevansi kata baru itu dengan kata-kata lain yang telah ada. Metafora dengan demikian mempermudah kita untuk menggambarkan realitas yang baru tersebut. Lagipula menciptakan kata yang benar-benar baru lebih sulit dibandingkan dengan memulung kata-kata lama dan memberinya makna baru. Kata seperti ikon, yang sebenarnya sudah hampir punah makna literalnya yaitu patung suci, bangkit lagi dan menjadi pemakaian umum berkat metafor yang digunakan pada ilmu komputer.

Metafor adalah sebuah modus utama dalam menciptakan kata baru. Ini terutama terlihat dari timbul dan tenggelamnya kata-kata. Pada mulanya sebuah kata dipakai secara literal. Makna literal adalah makna yang memiliki referen.[10] Referen yang ada adalah sesuatu yang kontekstual. Ia bisa jadi muncul dan tenggelam. Jika konteks yang berhubungan dengan referen tersebut berubah seiring dengan jaman, kata tersebut pun akan semakin jarang dipakai. Seperti halnya kata ikon pada contoh sebelumnya, kata tersebut menjadi jarang dipakai karena jaman yang berubah, seiring dengan modernisme yang menggantikan kehidupan beragama yang sebelumnya menjadi modus utama kehidupan jaman itu. Jika kata tersebut tidak memiliki pemakaian secara kiasan, kata tersebut menuju pada kematian.

Sering kali orang sudah melupakan bahwa kata yang dipakai adalah metafor. Ini disebut sebagai sebuah metafor yang mati. Misalnya kata “scavanger” dalam bahasa Inggris, yang makna aslinya adalah pajak kota yang diberikan kepada orang yang mengumpulkan sampah. Begitu peraturan tersebut diubah, maka relevansi pemakaian kata tersebut juga menjadi tidak ada. Makna tersebut sudah hilang, namun ia berganti dengan makna metafornya, yaitu binatang yang mencari makan dengan mengais sampah, atau pengumpul sampah. Saat ini hampir tidak ada orang yang mengetahui makna aslinya, kecuali para linguis dan ahli etimologi atau awam yang memang tertarik dengan etimologi. Dengan demikian metafora telah memperkaya dan memperkenalkan kata baru.

Bagi beberapa bahasa, metafora bahkan memiliki tempat utama. Bahasa seperti Jerman dan Sansekerta menaruh metafora sebagai modus utama penciptaan kata baru. Ketimbang menciptakan kata baru, atau memakai serapan asing,  mereka kerap menggunakan kata lama untuk menggambarkan sebuah makna baru. Misalnya kata “fernseher” dalam bahasa Jerman.yang berarti televisi. Ia menggabungkan dua kata: fern yang berarti jauh, dan sehen yang berarti melihat. Begitu pula dengan kata “dwipangga” dalam bahasa Sansekerta yang berarti gajah. Kata ini berasal dari kata dwi yangberarti dua, dan pangga yang berarti minum. Kata ini merupakan metafora dari gajah karena gajah minum dua kali, pertama dari belalainya, kemudian dimasukkan ke mulutnya.

Tantangan bagi metafora dalam pembentukan kata baru dalam abad globalisasi terutama datang dari kata serapan asing. Kita sering “malas” untuk memakai metafora untuk menelurkan kata baru, karena kata asing telah tersedia dengan mudahnya, dan media masssa mempopulerkan kata tersebut tanpa batas geografis. Bahasa Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Meskipun demikian, kata asing yang dipakai sebagai pengganti, pada awalnya juga sebuah metafora. Televisi misalnya, yang berasal dari kata tele yang berarti jauh, dan vision yang berarti penglihatan, juga adalah sebuah metafora. Dengan demikian, kita hampir tidak bisa lari dari metafora untuk menciptakan sebuah kata baru.

Daftar Pustaka

Knowles, Murray dan Moon, Rosamund. Introducing Metaphor. London: Routledge, 2006.

Lycan, William G. Philosophy of Languange. Edisi kedua. London: Routledge, 2008.

Pinker, Steven. The Stuff of Thought. New York: Penguin Books, 2008.


[1] Knowles dan Moon, Introducing Metaphor, 2006, h.5

[2] Ibid., h.51

[3] Bdk. Ibid., h.4-5

[4] Ibid., 2006, h.37

[5] Ibid., h.49

[6] Lycan, Philosophy of Language, 2008, h.166

[7] Knowles dan Moon, 2006, h.4-5

[8] Para pengajar bahasa selalu menganjurkan supaya para pelajar menghafalkan beberap kosa kata yang relevan sekaligus, bukan dengan menghafalkan kamus secara alfabetis, atau secara acak.

[9] Pinker, Stuff of Thought, 2008, h.245

[10] Di luar kata-kata lain yang tidak memiliki referen seperti misalnya kata sambung dan kata keterangan

4 Komentar »

  1. Saya sedang mengerjakan tesis tentang metafora. Tapi, sulit menemukan referensi dalam bahasa Indonesia. Apakah ada buku yang direkomendasikan?

    Komentar oleh beina — September 17, 2010 @ 9:49 am

  2. wah sulit juga, referensi saya bahasa inggris semua

    Komentar oleh Oni Suryaman — September 21, 2010 @ 1:32 am

  3. metafora…kata biasa bermakna luar biasa..satu kata berjuta makna sesuai pengguanan dan rangkaian kalimatnya….????

    Komentar oleh annisa zahra — April 2, 2011 @ 12:48 am

  4. ‘Mungkin’ saya juga adalah penganut Metafora….
    terlepas dari masuk atau tidaknya dengan konteks diatas.

    http://blushonme.blogspot.com/2011/06/titip-pesan-ini-untuk.html

    Komentar oleh keke — Juni 26, 2011 @ 11:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: