*Berdasarkan tulisan Jürgen Habermas: Religion in the Public Sphere yang dipresentasikan pada Seminar Holberg Prize pada tanggal 29 November 2005
Modernisme yang meramalkan semakin berkurangnya pengaruh agama dalam kehidupan manusia tidak terbukti. Agama masih segar bugar bahkan telah menunjukkan kebangkitannya terutama sejak abad ke-20. Gerakan fundamentalisme dan bangkitnya pemahaman ortodoks menjadi gejala di mana-mana. Agama pun makin menunjukkan pengaruhnya di dalam ruang politik. Isu-isu agama bisa menentukan presiden atau walikota mana yang terpilih, undang-undang mana yang disahkan, bahkan sampai pada konstitusi negara, dan ini tidak terbatas pada negara yang berwujud teokrasi. Meskipun demikian, kadang sulit untuk melihat apakah agama menjadi semakin berpengaruh secara substantif atau sekedar menjadi alat politik untuk mencapai kekuasaan. Dengan melihat hal di atas, sulit untuk mengabaikan agama di dalam membahas ruang publik.
Bagaimana lalu agama dapat hidup dalam sebuah negara modern yang menganut paham liberal. Agama tidak lagi menjadi pusat dari segala sesuatu termasuk justifikasi politik dan moral seperti halnya pada abad pertengahan Eropa. Agama telah digeser dari panggung pertunjukan utama menuju sudut panggung, meskipun belum lenyap sama sekali bahkan menunjukkan suara yang makin lama makin nyaring. Bagaimana agama dapat hidup dalam premis-premis negara liberal dengan kesetaraan dan rasionalitas. Bagaimana pula agama dapat hidup dalam keputusan-keputusan politis yang diambil dengan pertimbangan logis dan saintifik tanpa menyertakan nilai-nilai agama dalam pengambilan keputusannya. (lagi…)
Manhattan Project adalah sebuah proyek yang diinisiasi oleh pemerintahan Franklin Roosevelt dalam menghadapi tantangan Perang Dunia II. Eskalasi dalam Perang Dunia Kedua menimbulkan sebuah kebutuhan akan senjata pamungkas pengakhir perang, ditambah dengan ketakutan kalau senjata pamungkas ini dibuat terlebih dahulu oleh pihak lawan. Proyek ini dipicu oleh sebuah surat yang ditulis oleh Szilard dan Einstein, yang mengungkapkan sebuah kemungkinan akan senjata nuklir, yang memanfaatkan tenaga tersembunyi di dalam atom. Proyek ini pun dimulai di bawah manajer seorang kolonel bernama Leslie Richard Groves, dan dikepalai oleh seorang ilmuwan yang mumpuni, Robert Oppenheimer. Sekumpulan ilmuwan dan insinyur dari berbagai bidang pun dikumpulkan di beberapa kompleks, yang salah satunya bertempat di Los Alamos, New Mexico.
Masalah pengetahuan a priori adalah salah satu tema besar dalam epistemologi. Tema ini pertama kali diusung oleh Immanuel Kant di dalam The Introduction to the Critique of Pure Reason. Di sana ia mengenalkan kerangka konseptual melalui tiga distingsi. Distingsi tersebut adalah (1) distingsi epistemik antara pengetahuan a priori dan pengetahuan empiris, (2) distingsi metafisis antara proposisi niscaya dan kontingen, dan (3) distingsi semantik antara pernyataan analitik dan sintetik. Dalam kerangka itu Kant mengajukan empat pertanyaan:
Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan seorang anak sekalipun bisa menangkap makna sebuah metafora. Namun hal yang biasa ini menjadi semacam hantu bagi para ahli linguistik karena ia menjadi sebuah misteri untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, namun makna kiasan di dalam metafora sungguh sulit untuk dijelaskan. Tidak terlalu berlebihan kalau Lycan (2000) memberi judul “The Dark Side” pada bagian yang menjelaskan tentang metafora ini.
Beberapa agama dan aliran kepercayaan memiliki aliran asketik. Asketisme juga mendapatkan tempat yang tinggi sehingga menjadi semacam hidup yang ideal. Kecenderungan ini dapat dilihat misalnya dengan penempatan para askese di tempat yang tinggi di dalam masyarakat. Para askese juga dianggap lebih dengan dengan yang ilahi. Dengan demikian ia menjadi semacam hidup ideal untuk mencapai kesempurnaan, sebagai sebuah jalan menuju nirvana.