Teknologi telah membawa kerumitan sendiri dalam hubungan etis antar manusia. Ia membawa manusia ke dalam sebuah tatanan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh etika tradisional. Perang Dunia II memberikan sebuah impuls baru bagi filsafat, karena ia telah dianggap gagal untuk mencegah sebuah kengerian yang luar biasa di dalam kehidupan umat manusia. Dalam situasi yang baru ini, para filsuf pun bereaksi. Dua di antaranya yang akan dibicarakan di sini adalah Emmanuel Lévinas dan Hans Jonas, dua-duanya filsuf keturunan Yahudi.
Lévinas
Lévinas mulanya lebih dikenal di kalangan berbahasa Prancis, walaupun ia sempat studi di Jerman di bawah bimbingan Husserl dan Heidegger. Perang Dunia II, yang banyak mempengaruhinya hidupnya, membuatnya hijrah ke Prancis dan masuk tentara di sana. Seluruh keluarganya yang tinggal di Lithuania dibunuh oleh tentara pendudukan Jerman.
Kekejaman perang yang dialaminya mau tidak mau membuatnya untuk melihat filsafat secara khas. Ia melihat etika sebagai filsafat pertama, yang mendahului filsafat-filsafat yang lain. Namun ia tetap berangkat dari gurunya, para fenomonolog. Ia memakai fenomenologi dengan cara yang khas untuk menjelaskan filsafatnya sendiri. (lagi…)
Paul Karl Feyerabend
MEREKA yang mengira bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah akan segera menyadari betapa rumitnya jika mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari sastra dan bentuk tulisan lainnya.
Salah satu arus besar dari filsafat kontinental adalah hermeneutika. Kata hermeneutika sendiri sering kita dengar dalam studi sastra dan teologi. Di dalam Kamus Webster’s Third New International Dictionary hermeneutika didefinisikan: “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi biblika.” Terlihat dari definisi tersebut bahwa kata hermeneutika lebih banyak dipakai di seputar tafsir kitab suci.