On Everything

Juni 24, 2009

Antara Lévinas dan Jonas: Tanggung Jawab akan Masa Depan

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat, Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 1:27 am
Tags: , , ,

Teknologi telah membawa kerumitan sendiri dalam hubungan etis antar manusia. Ia membawa manusia ke dalam sebuah tatanan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh etika tradisional. Perang Dunia II memberikan sebuah impuls baru bagi filsafat, karena ia telah dianggap gagal untuk mencegah sebuah kengerian yang luar biasa di dalam kehidupan umat manusia. Dalam situasi yang baru ini, para filsuf pun bereaksi. Dua di antaranya yang akan dibicarakan di sini adalah Emmanuel Lévinas dan Hans Jonas, dua-duanya filsuf keturunan Yahudi.

LevinasLévinas

Lévinas mulanya lebih dikenal di kalangan berbahasa Prancis, walaupun ia sempat studi di Jerman di bawah bimbingan Husserl dan Heidegger. Perang Dunia II, yang banyak mempengaruhinya hidupnya, membuatnya hijrah ke Prancis dan masuk tentara di sana. Seluruh keluarganya yang tinggal di Lithuania dibunuh oleh tentara pendudukan Jerman.

Kekejaman perang yang dialaminya mau tidak mau membuatnya untuk melihat filsafat secara khas. Ia melihat etika sebagai filsafat pertama, yang mendahului filsafat-filsafat yang lain. Namun ia tetap berangkat dari gurunya, para fenomonolog. Ia memakai fenomenologi dengan cara yang khas untuk menjelaskan filsafatnya sendiri. (lagi…)

Juni 7, 2009

Signifikansi Jumlah Anggota Masyarakat dalam Relasionisme Simmel

Diarsipkan di bawah: Tentang Budaya, Tentang Filsafat, Tentang Ilmu Sosial — Oni Suryaman @ 4:43 am
Tags: , , ,

kata kunci: Simmel, relasionisme, determinisme kuantitatif, masyarakat, kelompok, jumlah anggota, karakteristik masyarakat

Abstrak

Fenomena budaya pop menjadi sesuatu yang sangat kentara dewasa ini. Begitu pula dengan gejala fundamentalisme. Beberapa studi menunjukkan bahwa ini adalah gejala yang disebabkan oleh modernitas, baik yang melawan modernitas atau menjalankannya sampai ke titik ujung. Di pihak lain kaum moralis agamis mengatakan bahwa dunia menuju keruntuhan karena dunia semakin tidak bermoral dengan melihat gejala-gejala tersebut di atas. Tulisan ini mencoba untuk berargumen secara ilmiah, bukan secara etis, dalam melihat gejala-gejala ini. Pendekatan yang diambil adalah menggunakan satu faktor yang menentukan karakteristik masyarakat yaitu jumlah anggota. Simmel sebagai seorang sosiolog yang banyak menulis tentang masyarakat, bisa berbicara banyak dalam hal ini.


Masyarakat adalah sebuah struktur yang kompleks. Di dalamnya terdapat banyak fenomena. Fenomena-fenomena tersebut di satu pihak menarik untuk sekedar dipaparkan secara deskriptif, di pihak lain menuntut sebuah penjelasan secara argumentatif. Tulisan ini berada pada posisi kedua, yaitu mencoba menjelaskan apa yang ada di balik struktur masyarakat tersebut, dengan mengikuti pemikiran Simmel. (lagi…)

Mei 31, 2009

Membela Pendekatan Anarkistik Feyerabend untuk Mencapai Kebenaran

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat, Tentang Ilmu Alam — Oni Suryaman @ 2:59 am
Tags: , ,

feyerabendPaul Karl Feyerabend lahir di Wina, Austria pada tahun 1924. Pada masa mudanya ia tertarik untuk belajar ilmu pasti. Menjelang Perang Dunia II di saat Austria diduduki Nazi Jerman, ia ditarik sebagai tenaga kerja bagi The Third Reich dan sempat menjadi tentara di front Rusia. Sekembalinya ia dari perang, ia belajar filsafat di Wina. Di sana ia sempat belajar dari Berthold Brecht. Kemudian ia pindah ke Cambridge karena tertarik untuk berguru pada Wittgenstein. Sepeninggal Wittgenstein, ia pindah ke London School of Economics dan di sana ia berguru pada Karl Popper. Setelah sebelumnya menganut falsifikasi Popper, ia kemudian menyusun pemikirannya sendiri yang melawan pemikiran Popper. Ia kemudian mengajar di beberapa tempat seperti University of California-Berkeley, Yale dan Minnesota.

Feyerabend adalah seorang filsuf ilmu pengetahuan yang cukup kontroversial. Di kalangan tertentu ia dianggap sebagai musuh ilmu pengetahuan karena mengadvokasi sisi non-ilmiah untuk mencapai kebenaran. Ia juga dituduh sebagai anti rasionalitas karena mengadvokasi sisi intuitif manusia. Untuk tidak jatuh ke dalam pendapat umum, maka ada baiknya untuk melihat terlebih dahulu apa sebenarnya proyek yang ingin dikerjakan oleh Feyerabend. (lagi…)

Maret 31, 2009

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sebuah Tirani Bahasa?

Diarsipkan di bawah: Tentang Bahasa, Tentang Budaya, Tentang Indonesia — Oni Suryaman @ 4:52 am
Tags: ,

Aku tergelitik untuk menulis ini untuk menanggapi resensi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 4 yang tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, di Majalah Tempo edisi 30 Maret 2009.

bisa diklik di sini

Lengkapnya saya kutipkan di sini:

Kamus Besar yang Agak Terlalu Sempurna

Nikolaos van Dam
Duta Besar Belanda untuk Indonesia

kkbi-3MEREKA yang mengira bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah akan segera menyadari betapa rumitnya jika mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari sastra dan bentuk tulisan lainnya.

Salah satu hambatan bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia adalah luasnya kosakatanya. Kenyataan bahwa bahasa ini memiliki 20 ribu kata serapan dari berbagai bahasa, yang tersusun dalam Loan-Words in Indonesian and Malay (2008) karya Russell Jones, bisa mengarah pada kesimpulan yang salah, seolah-olah bahasa Indonesia adalah bahasa yang relatif miskin dengan kosakata asli yang agak terbatas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) dengan 90 ribu butir masukan dan subbutir masukan jelas memperlihatkan justru sebaliknya, dan menggarisbawahi kekayaan linguistik dan budaya bahasa Indonesia. (lagi…)

Februari 5, 2009

Hermeneutika, Sekilas Pandang

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat — Oni Suryaman @ 3:32 pm
Tags: ,

hermesSalah satu arus besar dari filsafat kontinental adalah hermeneutika. Kata hermeneutika sendiri sering kita dengar dalam studi sastra dan teologi. Di dalam Kamus Webster’s Third New International Dictionary hermeneutika didefinisikan: “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi biblika.” Terlihat dari definisi tersebut bahwa kata hermeneutika lebih banyak dipakai di seputar tafsir kitab suci.

Di dalam tradisinya, hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani, Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa, mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan, sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios, yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut. (lagi…)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.