On Everything

Juli 28, 2009

Ilusi Kedamaian dari Pengejaran Kekayaan

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat, Tentang Ilmu Sosial — Oni Suryaman @ 4:03 am
Tags: ,

bankerSepanjang sejarah pemikiran umat manusia, persoalan nafsu telah menjadi pokok bahasan. Para pemikir Yunani Kuno sampai gereja menunjukkan bahwa nafsu adalah sesuatu yang harus dikendalikan. Plato menunjukkan bahwa nafsu harus ditundukkan dengan rasio dengan mengatakan di dalam Republic IV ,meminjam lidah Sokrates:

Bukankah tugas untuk mengendalikan (seluruh jiwa) jatuh kepada rasio, yang bijak dan melihat ke depan mengatasi seluruh jiwa yang lain…[1]

Aristoteles menempuh jalan yang sedikit berbeda, yaitu dengan melatih nafsu supaya terbiasa dengan hal-hal yang bajik (virtue) dengan melatih diri melalui kontemplasi akan hal-hal yang baik, sebagaimana yang ia tunjukkan di dalam Nicomachean Ethics X:

Jika kebahagiaan adalah kegiatan yang berhubungan kesempurnaan, … Dan kegiatan ini adalah bersifat kontemplatif.[2] (lagi…)

Juli 15, 2009

Sejarah Indonesia, 1200-2008, Sebuah Buku

Diarsipkan di bawah: Resensi Buku, Tentang Indonesia — Oni Suryaman @ 3:47 am
Tags: , ,

ricklefsApa yang anda bayangkan sewaktu mendengar kata “pelajaran sejarah”? Sebagian besar orang akan membayangkan sebuah pelajaran membosankan di mana kita harus menghafalkan nama tempat dan tahun. Dan kalau aku bertanya tentang apa yang tersisa di benak anda mengenai pelajaran sejarah, umumnya yang orang ingat hanya Perang Diponegoro dari tahun 1825-1830. Tetapi kalau aku bertanya tentang apa signifikansi Perang Diponegoro bagi perjalanan sejarah Indonesia, hampir pasti tidak ada yang bisa berpendapat, bahkan sekedar pendapat pribadi sekalipun. Jadi apa gunanya pelajaran sejarah kita di sekolah? Apakah sekedar untuk ikut kuis “Are You Smarter than a Fifth Grader?” Sepertinya sih iya. Jangan harap kalau pendidikan sejarah memberi lebih dari itu.

Salah satu penyebab dari hal di atas adalah buruknya mutu buku pendidikan sejarah di sekolah kita. Aku sebagai seorang pelajar angkatan 80-an, adalah “korban” dari doktrinasi sejarah, bukan pendidikan sejarah. Seperti yang kita tahu, pelajaran sejarah, baik di Orde Lama dan khusunya Orde Baru adalah alat untuk indoktrinasi massa, bukan untuk sebuah pembelajaran. Untuk itulah, kehadiran buku-buku sejarah yang baik menjadi sangat dibutuhkan, baik untuk dipakai di sekolah khususnya, atau untuk dibaca masyarakat awam umumnya. Sebuah buku sejarah karangan Ricklefs, seorang dosen di National University Singapore yang dulu juga pernah mengajar di Monash University dan Australia National University, dengan judul SEJARAH INDONESIA MODERN, 1200-2008, yang diterbitkan oleh Serambi bisa dihadirkan untuk memenuhi kekosongan ini. (lagi…)

Juni 24, 2009

Antara Lévinas dan Jonas: Tanggung Jawab akan Masa Depan

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat, Tentang Peradaban — Oni Suryaman @ 1:27 am
Tags: , , ,

Teknologi telah membawa kerumitan sendiri dalam hubungan etis antar manusia. Ia membawa manusia ke dalam sebuah tatanan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh etika tradisional. Perang Dunia II memberikan sebuah impuls baru bagi filsafat, karena ia telah dianggap gagal untuk mencegah sebuah kengerian yang luar biasa di dalam kehidupan umat manusia. Dalam situasi yang baru ini, para filsuf pun bereaksi. Dua di antaranya yang akan dibicarakan di sini adalah Emmanuel Lévinas dan Hans Jonas, dua-duanya filsuf keturunan Yahudi.

LevinasLévinas

Lévinas mulanya lebih dikenal di kalangan berbahasa Prancis, walaupun ia sempat studi di Jerman di bawah bimbingan Husserl dan Heidegger. Perang Dunia II, yang banyak mempengaruhinya hidupnya, membuatnya hijrah ke Prancis dan masuk tentara di sana. Seluruh keluarganya yang tinggal di Lithuania dibunuh oleh tentara pendudukan Jerman.

Kekejaman perang yang dialaminya mau tidak mau membuatnya untuk melihat filsafat secara khas. Ia melihat etika sebagai filsafat pertama, yang mendahului filsafat-filsafat yang lain. Namun ia tetap berangkat dari gurunya, para fenomonolog. Ia memakai fenomenologi dengan cara yang khas untuk menjelaskan filsafatnya sendiri. (lagi…)

Juni 7, 2009

Signifikansi Jumlah Anggota Masyarakat dalam Relasionisme Simmel

Diarsipkan di bawah: Tentang Budaya, Tentang Filsafat, Tentang Ilmu Sosial — Oni Suryaman @ 4:43 am
Tags: , , ,

kata kunci: Simmel, relasionisme, determinisme kuantitatif, masyarakat, kelompok, jumlah anggota, karakteristik masyarakat

Abstrak

Fenomena budaya pop menjadi sesuatu yang sangat kentara dewasa ini. Begitu pula dengan gejala fundamentalisme. Beberapa studi menunjukkan bahwa ini adalah gejala yang disebabkan oleh modernitas, baik yang melawan modernitas atau menjalankannya sampai ke titik ujung. Di pihak lain kaum moralis agamis mengatakan bahwa dunia menuju keruntuhan karena dunia semakin tidak bermoral dengan melihat gejala-gejala tersebut di atas. Tulisan ini mencoba untuk berargumen secara ilmiah, bukan secara etis, dalam melihat gejala-gejala ini. Pendekatan yang diambil adalah menggunakan satu faktor yang menentukan karakteristik masyarakat yaitu jumlah anggota. Simmel sebagai seorang sosiolog yang banyak menulis tentang masyarakat, bisa berbicara banyak dalam hal ini.


Masyarakat adalah sebuah struktur yang kompleks. Di dalamnya terdapat banyak fenomena. Fenomena-fenomena tersebut di satu pihak menarik untuk sekedar dipaparkan secara deskriptif, di pihak lain menuntut sebuah penjelasan secara argumentatif. Tulisan ini berada pada posisi kedua, yaitu mencoba menjelaskan apa yang ada di balik struktur masyarakat tersebut, dengan mengikuti pemikiran Simmel. (lagi…)

Mei 31, 2009

Membela Pendekatan Anarkistik Feyerabend untuk Mencapai Kebenaran

Diarsipkan di bawah: Tentang Filsafat, Tentang Ilmu Alam — Oni Suryaman @ 2:59 am
Tags: , ,

feyerabendPaul Karl Feyerabend lahir di Wina, Austria pada tahun 1924. Pada masa mudanya ia tertarik untuk belajar ilmu pasti. Menjelang Perang Dunia II di saat Austria diduduki Nazi Jerman, ia ditarik sebagai tenaga kerja bagi The Third Reich dan sempat menjadi tentara di front Rusia. Sekembalinya ia dari perang, ia belajar filsafat di Wina. Di sana ia sempat belajar dari Berthold Brecht. Kemudian ia pindah ke Cambridge karena tertarik untuk berguru pada Wittgenstein. Sepeninggal Wittgenstein, ia pindah ke London School of Economics dan di sana ia berguru pada Karl Popper. Setelah sebelumnya menganut falsifikasi Popper, ia kemudian menyusun pemikirannya sendiri yang melawan pemikiran Popper. Ia kemudian mengajar di beberapa tempat seperti University of California-Berkeley, Yale dan Minnesota.

Feyerabend adalah seorang filsuf ilmu pengetahuan yang cukup kontroversial. Di kalangan tertentu ia dianggap sebagai musuh ilmu pengetahuan karena mengadvokasi sisi non-ilmiah untuk mencapai kebenaran. Ia juga dituduh sebagai anti rasionalitas karena mengadvokasi sisi intuitif manusia. Untuk tidak jatuh ke dalam pendapat umum, maka ada baiknya untuk melihat terlebih dahulu apa sebenarnya proyek yang ingin dikerjakan oleh Feyerabend. (lagi…)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.